Aku panggil nona Suhu dan nona sebut aku Toute.
Mau tak mau Tiat-pi Hwesio garuk2 kepala, sebab ia sendiri merasa sulit juga untuk menerangkan.
Lalu Suhu mengajarkan kepandaian kepada toute dan toute akan menurut segala perkataan Suhu.
Suhu suruh toute melakukan apa, toute lantas menurut, sahutnya kemudian.
A Siu menjadi gembira.
Ya, tahulah aku sekarang.
Baiklah, aku menjadi suhumu! katanya tertawa.
Tanpa disuruh lagi Tiat-pi Hwesio terus menjura memberi hormat sambil memanggil Suhu.
Kedua orang ini yang satu adalah Hwesio tolol, yang lain adalah nona cilik yang kekanak-kanakan, maka tidak heran apapun dapat terjadi.
Namun demikian ada baiknya juga bagi Tiat-pi Hwesio hingga kelak ia dapat mempelajari ilmu Lwekang yang tinggi dari A Siu.
Toute, daripada kita nganggur, marilah kita pergi mencari Jing-koh, kata A Siu kemudian.
Sudah tentu Tiat-pi Hwesio mengia.
Segera mereka berdua kembali kejalan pegunungan itu.
Sedapat mungkin A Siu ingin meng-ingat2 masa dahulu ketika dirinya dipanggul dipundak ayahnya pergi mencari obat bersama Jing-koh dan tempat mana yang telah didatanginya.
Namun ia tidak ingat lagi, hanya samar2 masih ingat pernah meng-uber2 kelinci hingga akhirnya ditolong Lo-liong-thau ketika seorang lelaki hendak mencelakai dirinya.
Begitulah mereka terus menjelajahi lereng pegunungan itu hingga dua hari, tapi tiada sesuatu yang mereka ketemukan, tapi sudah dekat dengan gua tempat tinggal Lo-liong-thau itu, A Siu pikir kenapa tidak pulang dulu untuk menanyakan orang aneh itu, mungkin ia masih ingat cara bagaimana dahulu menemukan dirinya.
Sesudah ambil keputusan, segera Tiat-pi Hwesio diajaknya kesana.
Dari jauh sudah tampak Lo-liong-thau lagi duduk didepan gua sambil melongak-longok, dan begitu melihat A Siu segera orang tua itu berteriak aneh .
A Siu, kemana saja kau ngelayap sampai hari ini baru pulang? Sudah tentu Tiat-pi Hwesio tidak paham apa yang dimaksudkan kata2 orang dalam bahasa Biau yang ngawur itu, ia menyangka A Siu sedang dimaki, maka dengan mata mendelik ia membentak.
Hai, kau setan alas ini, berani kurang ajar pada Suhuku ! tanpa pikir lagi ia mendekati dengan langkah lebar, begitu tongkatnya diangkat, mendadak ia mengemplang kepala orang.
Tapi Lo-liong-thau seperti tidak menghiraukannya, masih katanya dengan gusar .
A Siu, siapakah orang ini ? Kenapa kau membawa kemari ? Habis itu, baru cepat ia mengulur tangannya memapak tongkat sihwesio yang sementara itu sudah hampir berkenalan dengan kepalanya.
Sekali tangkap dan ditarik, tahu2 tubuh Tiat-pi Hwesio menyelonong kedepan.
Karena inilah baru Hwesio tolol itu insyaf orang Biau yang aneh ini ternyata jauh lebih lihay daripada si A Siu, lekas2 ia kendorkan cekalannya dan menyusul terdengarlah suara krak , tongkatnya telah patah ditekuk orang aneh itu.
Saking terkejutnya sampai Tiat-pi Hwesio mencelat mundur pula setengah mengumpet dibelakang A Siu.
Cepat A Siu mendekati Lo-liong-thau, Tiat pi hendak ikut maju, tapi mendadak terasa suatu tenaga maha besar telah mendorongnya dibarengi dengan bentakan Lo-liong- thau .
Kau enyah keluar sana ! seketika tubuh Tiat-pi Hwesio ter-huyung2 mundur setombak lebih.
Toute jangan takut, memang beginilah watak Lo-liong-thau, kau tunggu dulu diluar situ, kata A Siu.
Sudah tentu Tiat-pi Hwesio tak berani membantah, dengan mata membelalak heran ia mundur lagi beberapa tindak.
Selama dua belas tahun ini, sudah tentu kepandaian Lo-liong-thau bertambah tinggi lagi daripada dulu.
Sekali tangannya menahan ditanah segera tubuhnya menerobos kedalam gua dan disusul A Siu dengan cepat.
Tapi A Siu menjadi heran ketika sudah berada didalam gua, ternyata disitu sudah bertambah seorang nenek.
Siapakah dia, Lo-liong-thau ? He, kenapa orang sendiri kau tak kenal lagi! ujar Lo-liong-thau dengan tertawa.
Tiba2 nenek itu berbangkit sambil mengamati-amati A Siu.
Ai, kau benar2 A Siu, betapa rindunya ibumu akan dirimu, serunya dengan girang.
Nenek, kau.
......
Aku adalah Tiat-hoa-popo, masakan kau tidak ingat lagi ?'' potong nenek itu sebelum A Siu menanya.
Tapi sesungguhnya A Siu tidak ingat siapakah gerangan Tiat-hoa-popo ini, maka ia rada kesima.
Ibu Lo-liong-thau, nini Teng-kiu adalah adik perempuanku, waktu kau masih kecil, sering juga aku menggendong kau.
ujar nenek itu.
Samar2 A Siu coba mengingat masa dulu memang seperti ada seorang nenek seperti ini, maka dengan girang serunya .
Ah, tentunya ayah dan ibuku juga baik2 bukan? Aku tadinya hendak pulang menjenguk mereka, tapi sampai tengah jalan telah putar balik.......
Ai, ibumu saking berduka ditinggal pergi ayahmu, lalu jatuh sakit dan sudah meninggal tahun yang lalu, sela Tiat-hoa-popo dengan menghela napas.
Apa, ibuku sudah meninggal ? A Siu menegas dengan sedih.
Jika begitu, terang ayahku tidak pernah pulang? Tentu Jing-koh juga benar2 masih berada ditengah gunung! Jing-koh siapa ? tanya sinenek.
Ialah wanita yang minta ayahku membawanya kegunung dahulu itu, sahut A Siu.
Ya, ingatlah aku, kata Tiat-hoa-popo.
Gara2 kedua orang asing itu, sekeluargamu jadi morat-marit.
Sesudah suaminya ditinggal pergi dirumahmu dan memesan agar kain kerudung suaminya itu jangan dibuka.
Siapa duga, suatu kali ibumu kurang hati2 hingga menyingkap kainnya itu, ibumu berteriak kaget, sebab muka lelaki itu sudah tidak berwujut manusia lagi, tapi penuh dengan darah kering dan bernanah pula.
Mendengar jeritan ibumu, lelaki itupun terus meloncat bangun dan berlari pergi entah kemana.
Orang sama berkata bahwa kedua orang asing itu adalah siluman yang sengaja datang hendak mencelakai sekeluargamu.
A Siu ter-mangu2 sejenak, dalam hati ia pikir tidaklah mungkin orang baik seperti Jing-koh itu, tak nanti mencelakai keluarganya.
Kalau bukan Tiat-hoa-popo kesasar jalan digunung dan dapat kupergoki tanpa sengaja, mungkin kita belum lagi tahu bahwa pemilihan Seng-co dari tujuh puluh dua gua suku kita segera akan diadakan dua tahun yang akan datang, kata Lo-liong-thau kemudian.
A Siu terkesima tidak paham tentang Seng-co apa segala.
Maka Tiat-hoa-popo telah berkata lagi .
Ya, sekali ini mungkin bintang suku kita sudah mulai terang hingga terdapat dua orang kalian.
Dengan kepandaianmu, Lo-liong thau, rasanya kedudukan Seng-co kita takkan jatuh ditangan bangsa Han lagi! Tapi akupun takkan menjadi Seng-co, sahut Lo-liong-thau sesudah memikir sebentar.
Jika ingin kedudukan Seng-co tidak jatuh ditangan bangsa lain, rasanya A Siu yang dapat memenuhi kewajiban itu.
Sudah tentu A Siu tidak peduli tentang Seng-co apa segala dan betapa artinya kedudukan itu bagi bangsa mereka.
Ya, A Siu sibocah ini memang sejak semula orang menyangkanya punya rejeki besar, kini ternyata memiliki kepandaian tinggi, tentu saja kita sangat bersyukur, kata Tiat-hoa-popo kemudian.
Baiklah, dua tahun lagi, kalau waktunya sudah dekat, bolehlah kau kemari lagi, kata Lo-liong-thau.
Tiat-hoa-popo mengiakan dan sejak itu sering ia datang menjenguk Lo-liong-thau.
Cuma terhadap pertemuan mereka ini yang selamanya tak pernah diceritakannya kepada orang lain.
Sebaliknya Tiat-hoa-popo sendiri juga tidak sedikit memperoleh faedah dari Siau-yang chit-kay yang terukir didalam gua itu hingga menjadikannya diindahkan suku bangsanya serta diangkat se-akan2 pemimpin mereka.
A Siu, kata Lo-liong-thau kemudian, rasanya sudah tibalah waktunya kita menghadapi hari2 bahagia.
Sesudah kelak kau menjabat Seng-co, hendaklah datang membawa aku kembali kerumah.
Maka Hwesio gede tadi lekaslah kau enyahkan.
Lo-liong-thau, Toahwesio itu sudah mengangkat guru padaku, rasanya ia pasti akan turut perintahku, sahut A Siu, dan sesudah merandek sejenak, tiba2 ia menanya tentang kejadian dahulu dan tempat dimana ia diketemukan orang aneh itu.
Kejadian sebenarnya aku sendiri tidak tahu, ujar Lo-liong-thau, tapi tempat kutemukan kau adalah dibukit sebelah sana yang tidak jauh dari sini.
Tanpa bicara lagi segera A Siu berlari pergi sembari menteriaki Tiat-pi Hwesio.
Kemudian ia berpaling melambaikan tangan kepada Lo-liong-thau dan berseru .