Namun samberan angin senjatanya itu lebih dulu membuat A Siu terbawa pergi beberapa kaki hingga sabetannya mengenai tempat kosong.
Tahu2 gadis itu telah melompat maju, dengan tangannya yang putih bersih bergelang keleningan, segera kebutnya Cu Hong-tin kena ditangkapnya.
Maka seketika kedua orang saling tarik menarik mengadu tenaga dalam, banyak orang yang kuatirkan A Siu yang bertubuh lemah itu takkan tahan, maka orang2 Biau sama bersorak membantu suara.
Sebaliknya bagi penglihatan Ti Put-cian, ia sudah menduga Siau-yau ih-su pasti akan kalah.
Kalau ia tahu diri mau turun panggung masih mendingan, tapi kalau mengadu tenaga dalam demikian, walaupun A Siu tidak ada niat arah jiwanya, sedikitnya akan terluka parah.
Tadinya ia memperhitungkan tiada orang lain lagi yang bisa menandingi Cu Hong- tin, sebaliknya ia sendiri menaksir dengan mudah sanggup mengalahkannya.
Siapa tahu ilmu silat A Siu bisa begini lihay, tampaknya tidak mudah jika bertanding dengan dia.
Sementara itu diatas panggung Cu Hong-tin masih berkutetan dengan A Siu, meski ber-ulang2 ia kerahkan tenaga dalamnya, tapi selalu tak berhasil menarik kembali kebutnya.
Maafkan ! tiba2 A Siu tersenyum, segera Cu Hong-tin merasa suatu tenaga yang kuat sekali menumbuk kembali dari kebutnya hingga dadanya serasa sesak.
Hampir2 darah menyembur keluar dari tenggorokannya.
Terpaksa ia lepaskan kebutnya dan melompat kebelakang turun dari panggung, menyusul pandangan menjadi silau, kebutnya sudah dilemparkan A Siu kearahnya.
Masih tak berani ia menyambutnya, melainkan melompat kesamping, tak terduga sekali ini A Siu memang benar2 hendak mengembalikan senjatanya itu, maka tidak menggunakan tenaga, dengan enteng kebut itu jatuh ditanah, cepat Cu Hong-tin menjemputnya.
Sejak Cu Hong-tin malang melintang dikang ouw, belum pernah ia dikalahkan seperti sekarang ini, keruan ia gemas bukan kepalang kepada A Siu, tanpa menoleh lagi ia berlari pergi.
Sesudah kalahkan Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin, lalu dengan senyum simpul A Siu berkata kepada para hadirin .
Masih ada orang gagah manakah yang sudi naik kemari memberi pelajaran ? Ia ulangi beberapa kali tantangannya itu, tapi tiada seorangpun yang tampak berani maju.
Ti Put-cian pikir telah tiba saatnya, ia memberi pesan pada Jun-yan tentang bantuan orang aneh itu, lalu berdiri dan berseru .
Aku yang rendah mohon petunjuk pada nona ! Lalu dengan jalan berlenggang ia mendekati panggung batu, sekali enjot, dengan enteng ia sudah melompat keatas.
Kau ? dengan wajah merah A Siu menegasi, ia tidak percaya kalau pemuda itu juga hendak bertarung padanya.
Benar aku, petunjuk apakah yang hendak nona berikan ? sahut Ti Put-cian dengan lagak tengik.
A Siu tudingi jari satu2nya Ti Put-cian, lalu tunjuk pergelangan tangannya sendiri dengan wajah merah jengah.
Ti Put-cian menjadi ingat godaannya tempo hari digardu tepi jalan itu, nyata si gadis ini telah jatuh hati padanya.
Jika seorang gadis Biau sudah jatuh cinta pada seseorang, ia rela berkorban untuk segalanya, apalagi hanya kedudukan Seng-co.
Memang dugaan Ti Put-cian tidak salah, diam2 A Siu memang sudah jatuh cinta padanya.
Kiranya pergaulan laki perempuan diantara suku Biau meski bebas, tapi se- kali2 tak boleh kedua badan saling sentuh, kecuali kalau sudah suka sama suka untuk mengikat menjadi suami isteri.
Ketika Ti Put-cian gunakan jarinya menggantol lengan A Siu digardu itu, kalau bukan ketampanan Ti Put-cian telah menggiurkan hati A Siu, tentu gadis itu sudah menghajarnya.
Kini sesudah berhadapan, A Siu menjadi ragu2, ber-kali2 Ti Put-cian mempersilahkannya bergebrak, ia hanya memandangi pujaan hatinya dengan mata mendelong.
Long-kun ( panggilan pada kekasih ), mana bisa aku menangkan kau, silahkan kau turun tangan saja ! Dasar orang Biau memang sangat jujur, karena menyangka Ti Put-cian sudah penuju padanya, maka tanpa tedeng aling2 lagi A Siu terus menyebut long-kun padanya.
Tentu saja diam2 Ti Put-cian bergirang, terus ia menutuk ke Ki-bun-hiat didada orang.
Sama sekali A Siu tidak menghindarinya, maka tutukan itu tepat kena tempatnya, sekali tubuhnya mendoyong kebelakang terus terperosot kebawah panggung.
Ketika hampir merosot kebawah, tiba2 telinga Ti put-cian mendengar gema suara yang lirih jelas.
Sampai ketemu besok malam dibawah bulan purnama, longkui.
Tampak bibir A Siu bergetar dan mengulum senyum, habis itu ia berjalan mendekati Tiat-hoa-popo.
Lalu terdengar Tiat-hoa-popo sedang berkata dalam bahasa Biau dengan suara keras seperti orang marah, begitu pula orang2 Biau lainnya sama berteriak merasa penasaran.
Namun A Siu tidak ambil pusing, ia tinggal memandang kearah Ti Put-cian diatas panggung itu dengan kesemsem.
Ketika keduanya diatas panggung, hakekatnya tidak sampai bergebrak, sebaliknya pasang omong dengan mesra, lalu sekali Ti Put-cian geraki tangannya, lantas A Siu turun panggung, terang se-akan2 keduanya sudah berunding secara baik2.
Tentu saja hal ini membikin Jun-yan naik darah, tanpa pikir lagi ia terus melompat keatas panggung.
Waktu itu Ti Put-ciang lagi senang2 karena merasa tiada orang lagi yang berani menantang dirinya.
Ketika tiba2 melihat Jun-yan melompat keatas, ia menjadi kaget, tegurnya .
Hai, Jun-yan, ada apa kau naik kemari ? Ti Put-cian, manusia rendah, kasak-kusuk apa yang kau lakukan dengan budak hina itu? damprat Jun-yan.
He, nona Lou, kenapa kau menjadi marah2 begini ? jengek Ti Put-cian.
Makin dipikir, makin gusar Jun-yan, tiba2 ia angkat tangannya terus menempiling kemuka orang.
Namun Ti Put-cian telah memapaki sekali menjentik dengan jari tunggalnya itu hingga setengah tubuh si gadis merasa kaku kesemutan.
Keruan Jun- yan semakin murka, teriaknya gusar .
Bagus kau, Ti Put-cian ! Sebenarnya kalau turuti tabiat Kanglam-it-ci-seng Ti Put-cian, perbuatannya akan jauh lebih keji dan ganas.
Sepanjang jalan ia begitu baik pada Lou Jun-yan, tujuannya tiada lain hanya bermaksud memperalat si gadis untuk merebut kedudukan Seng-co saja.
Kini kedudukan itu sudah terang dalam genggamannya, apa gunanya lagi seorang macam Lou Jun-yan.
Segera dengan tertawa dingin iapun menjawab .
Baiklah, jika sudah berani naik kepanggung, silahkan nona menyerang ! Habis berkata, selongsong emas dijarinya itu tiba2 mengkilat, tahu2 menjulur panjang terus menutuk ke tubuh si gadis, tanpa kenal ampun ia telah keluarkan kemahiran menutuk yang lihay itu.
Cepat Jun-yan melompat mundur buat berkelit sambil mendamprat, tapi secepat kilat tutukan kedua Ti Put-cian sudah dilontarkan lagi.
Tampaknya sekali ini tenggorokan Jun-yan pasti akan terkena.
Tiba2 terdengar suara creng yang nyaring, entah dari mana datangnya sebutir batu, selongsong emas jarinya Ti Put-cian itu telah terbentur hingga lengannya tergetar kaku, seketika semper.
Kesempatan itu digunakan Jun-yan dengan baik, plak , kontan ia persen sekali tampar dimuka orang hingga merah bengkak.
Diam2 Ti Put-cian mengeluh, tentu batu tadi disambitkan si orang aneh itu, dalam seribu kerepotannya ia coba melirik kearah si orang aneh, tapi orang tertampak duduk anteng saja ditempatnya.
Sesudah memukul orang, Jun-yan menjadi menyesal malah, katanya.
Sudahlah, asal kau dapat memahami maksudku, marilah kita tinggalkan tempat ini! sambil berkata, tanpa berjaga-jaga ia terus mendekati orang.
Namun kekejaman Ti Put-cian sudah tidak kenal maksud baik Jun-yan, ia tunggu si gadis sudah mendekat, mendadak tangan kiri menggaplok dari samping, sedang jari tunggal tangan kanan terus menutuk ketengah jidat Jun-yan.
Serangan mendadak ini membikin Jun-yan tak berdaya sama sekali, dengan penasaran ia hanya bisa tunggu ajal saja sambil pejamkan mata.
Tapi mendadak terdengar Ti Put-cian berseru tertahan, ketika ia membuka mata, ia lihat orang berdiri kaku sambil tangan kiri lagi meraba pinggang, menyusul mana orangnya malah terus mendeprok jatuh diatas panggung.
Tanpa ayal lagi Jun-yan ayun kakinya menendang hingga tubuh Ti Put-cian tertendang kebawah panggung.
Sebenarnya tadi Ti Put-cian lagi menutuk dengan tipu it-liong-tam-cu atau sinaga mencakar mutiara, yaitu mengarah tengah2 batok kepala si gadis, tapi baru sampai tengah jalan tiba2 pinggangnya terasa pegal linu, ia insyaf terkena bokongan orang aneh itu lagi, lekas2 sebelah tangannya dipakai memijat tempat yang terasa pegal itu, tapi sudah terlambat, jalan darah itu telah tertutup dan badannya lemas terkulai hingga memberi kesempatan kepada Jun yan untuk menendangnya kebawah.
Baru saja Jun-yan hendak menyusul kebawah panggung untuk memberi penjelasan, ia lihat A Siu sudah keburu mendekati Ti Put-cian dan membangunkannya.
Malahan Ti Put-cian melotot dengan penuh kebencian kearahnya.
Jun-yan menjadi kesima, pikirnya, Ah, ia telah kena kutendang kebawah, terang takkan bisa menjadi kepala suku Biau, tentu ia akan membenci padaku, pelototan matanya tadi seakan mendekam kesumat tak terhingga padaku.
Sedang perasaannya diliputi sesal tak terkatakan, mendadak suara tabur dipukul ramai pula, seluruh orang Biau yang hadir disitu telah berlutut menyembah kearahnya, Tiat-hoa-popo juga mendekati panggung batu itu serta berseru keras2 .
Dengan hormat mohon tanya nama suci Seng-co kesembilan siapa ? Jun-yan menjadi bingung, tapi segera ia pun mengerti, kalau Ti Put-cian telah dapat dirobohkannya kebawah panggung dan tiada lagi yang berani naik menantang padanya, maka kedudukan Seng-co yang diperebutkan itu terang sudah jatuh atas dirinya.
Saat itu, sebenarnya Jun-yan sama sekali tidak ketarik oleh kedudukan Seng-co dari tujuh puluh dua gua suku Biau yang sangat diharapkan oleh orang2 Bu-lim itu.