Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 31

NIC

Dengan tipu Tok-jiau-kim-liong atau cakar tunggal menawan naga, tujuan Thio Jiang ialah hendak mengarah mutiara dileher orang, tapi karena tangkisan A Siu itu, maka cengkeramannya itu menjadi kena ditangan si gadis.

Melihat A Siu kecil mungil, lengannya kecil bagai batang kayu, sebaliknya lengannya Thio Jiang hitam lebat dengan bulunya yang panjang-panjang, pula besar kuat penuh otot, setiap jarinya saja hampir sebesar lengan si A Siu, kalau sampai kena dicengkeram, sungguh entah bagaimana jadinya ? Demikian pikir Tiat pi Siansu, maka ia merasa penasaran, segera berteriak .

Tok jiau say, jangan kau agulkan lenganmu yang lebih besar! A Siu tersenyum sambil melirik kearah Hwesio itu, ia pikir hati paderi dogol ini ternyata memang betul tidaklah jahat.

Pada saat itulah kelima jari tangan Thio Jiang sudah kontak dengan lengannya, cepat ia keluarkan tenaga dalamnya hingga Thio Jiang tergetar pergi seakan-akan kena aliran listerik.

Thio Jiang terkejut, ia bingung pula akan kepandaian A Siu itu, ia masih penasaran, sekali membentak, kembali ia mencengkeram lagi keatas kepala si gadis.

Diam2 A Siu mendongkol akan kebandelan lawan, sekali ini tak ia beri ampun lagi, sekonyong-konyong ia samber tangan orang terus disengkelit pergi hingga tubuh Thio Jiang yang besar terlempar keudara.

Melihat saudara mereka bakal kebanting mati, cepat2 Thio Sia dan Thio Seng berlari-lari hendak menyanggapi badannya Thio Jiang.

Di luar dugaan tenaga yang dipakai A Siu tampaknya enteng, tapi sebenarnya sangat besar, ketika tubuh Thio Jiang dapat mereka tangkap, mereka berdua ikut terguling juga ditanah.

Karuan yang paling geli adalah Tiat-pi Siansu, ia tepuk tangan bersorak tertawa.

Bagus, bagus, tiga ekor singa kalah dengan seekor kucing! serunya ter-bahak2.

Dan kau bagaimana, kau takluk padaku tidak? tanya A Siu mendadak kepada Tiat- pi Siansu dengan tertawa-tawa.

Tiat-pi Siansu melengak.

Takluk? ia menegas.

Tapi segera iapun geleng2 kepala .

Ah, tidak, tidak! Tiba2 A Siu menghampiri Tiat-pi Siansu hingga tubuh mereka satu sama lain seperti anak kecil berhadapan dengan raksasa saja.

Tanpa bicara A Siu terus ulur jari tengahnya menutuk pelahan ke Hoa-kap-hiat didada orang.

Ilmu kepandaian A Siu diperoleh dari menirukan gambar2 Siau-yang-chit-kay sebanyak tiga ratus empat puluh tiga jurus dalam gua itu, ia hanya tahu cara menggunakannya, tapi tidak mengerti bahwa Hoa-kap-hiat yang ditutuknya itu adalah salah satu jalan darah terpenting ditubuh manusia, dengan Lwekangnya, kalau sampai kena, dapat diduga Tiat-pi Siansu akan melayang jiwanya.

Tapi jelek2 Tiat-pi Siansu adalah keluaran Siau-lim-si, karena tololnya serta tak taat pada pantangan2 perguruan, maka ia diusir.

Sudah tentu dalam pengertian ilmu silat ia lebih paham daripada A Siu.

Ketika tiba2 merasa dadanya se-akan2 diseruduk suatu tenaga yang maha besar.

Karuan ia terkejut, cepat ia hendak berkelit, tapi sudah terlambat, terasa sebuah tulang iganya kena tertutuk patah hingga Tiat-pi Siansu terhuyung-huyung kebelakang dengan muka pucat.

Ah, Toahwesio telah terluka bukan? tanya A Siu cepat.

O, tak........tak apa, hanya luka sedikit, aku takluk sudah, sahut Tiat-pi Siansu dengan menahan sakit.

Menyaksikan itu, barulah sekarang Thiam lam-sam-say dan Im-su-siucay Swe Hiang-ang insyaf bahwa nona jelita yang mereka hadapi itu sebenarnya memiliki ilmu kepandaian luar biasa, tanpa bicara lagi, Thian-lam-sam-say yang lukanya enteng terus merangkak bangun dan kabur pergi.

Begitu pula Swe Hiang-ang, walaupun dengan rasa sayang, iapun larikan diri.

A Siu tak urus mereka, sebaliknya ia merasa menyesal telah melukai sihwesio gede itu maka tanyanya .

Toahwesio, apakah lukamu parah ? Dasar wataknya Tiat-pi Hwesio memang tolol jujur, terhadap kepandaian A Siu, sekarang ia sudah menyerah benar2, sahutnya .

Ah, tidak, luka patah tulang ini sedikit hari saja akan baik.

Toahwesio, apakah orang2 tadi adalah kawanmu, kenapa mereka hendak merampas mutiaraku ini ? tanya A Siu tiba2 dengan heran.

Ya, mutiara mestika yang kau pakai itu sesungguhnya tak ternilai harganya, tapi bukan maksudku hendak mengincarnya, sahut Tiat-pi Siansu.

Aku hanya ingin mencari tahu jejak seseorang yang bernama Ang Jin-kin, yaitu pemilik asal dari mutiaramu itu.

Mendengar ini A Siu menjadi teringat pada peristiwa dua belas tahun yang lalu ketika Jing-koh memberikan kalung mutiara itu padanya, tatkala mana orang seperti perkenalkan diri bernama Ang Jing-kin, pantas ketika tadi mendengar nama itu disebut, ia merasa seperti sudah kenal.

Dan sekali ingat akan itu, segera ia menjadi ingat juga kejadian diwaktu kecilnya ketika kesasar dipergunungan itu.

Maka tuturnya kemudian .

Ya, benar, Toa hwesio, bibi yang memberi mutiara ini memang bernama Ang Jing-kin, ada apakah kau hendak mencarinya ? Ceritanya terlalu panjang, kata Tiat-pi Hwesio, orang Bu-lim yang hendak mencarinya bukan aku saja, tapi masih sangat banyak.

Dia bersama suaminya sudah menghilang dua belas tahun tapi dua macam pusaka dipuncak Kim-teng-san diwilayah Kuiciu diketahui dibawa oleh mereka suami isteri! A Siu menjadi bingung oleh cerita itu, ia menjadi ketarik dan menanya lebih jelas.

Tapi dasar Tiat-pi Siansu tidak pandai bicara, setelah melantur2 kalang kabut, akhirnya barulah A Siu dapat menangkap maksud kedatangan mereka berlima itu adalah karena ingin mencari jejaknya Bwe-hoa-siancu Ang Jing-kin bersama suaminya, Sam-siang- sin-tong Siang Hiap.

Kiranya pada dua belas tahun yang lalu pada saat Chit-bok-Lo-sat Ki Teng-nio lagi bersemedi, Ang Jin-kin dan Siang Hiap telah menggerayangi tempat kediamannya dan dapat menggondol lari dua macam pusaka.

Ki Teng-nio itu adalah tokoh terkemuka dari aliran sesat, baru saja ia selesai menjalankan tirakatnya lantas mengetahui pusakanya dicuri orang, akibatnya darah naik dan badan lumpuh, yaitu dalam istilah silat disebut Cau hwe-jip-mo atau api membakar diri sendiri.

Dengan badan lumpuh sudah tentu ia tak bisa menguber musuh, sampai siapa pencurinya ia pun tidak tahu.

Kemudian dikalangan Kangouw lantas tersiar kabar bahwa pernah orang melihat ada empat orang berkedok telah menguber Bwe-hoa-siancu dan Sam-siang-sin-tong berdua sampai kedaerah perbatasan diwilayah suku Biau.

Sejak itu pula empat orang berkedok dan suami istri Bwe-hoa-siancu menghilang juga.

Sedangkan diantara orang2 Kangouw yang terkenal dari lapisan Hek-to hanya tiga orang saja yang ikut lenyap, yaitu yang terkenal dengan Bong-san sam-sia atau tiga momok dari gunung Bong.

Karena itu, lantas orang menyangka Bong-san-samsia dapat mencium bau bahwa pada diri Bwe-hoa-siancu berdua ada menggondol pusaka orang maka mereka terus menguber dan akhirnya sama-sama lenyap didaerah Biau.

Namun orang2 berkedok itu seluruhnya ada empat orang, lalu kecuali Bong-san-sam-sia, siapa lagi yang seorang itu ? Sebenarnya ayahnya Bwe-hoa-siancu Ang Jing-kin adalah pendekar besar diwilayah barat Ohlam, pergaulannya luas dengan segala lapisan dan golongan.

Walaupun Sam-siang-sin-tong Siang Hiap resminya adalah anak menantunya tapi Siang Hiap sejak kecil sudah pintar dan cerdas luar biasa, makanya mendapat julukan Sin-tong atau anak sakti.

Tidak heran kalau sang mertua memandangnya bagai anak sendiri.

Ketika mendengar puteri kesayangan dan menantunya itu lenyap berbareng, pernah juga orang tua itu mencarinya jauh ketanah Biau ini, tapi sayang hasilnya nihil, malahan setahun kemudian, seluruh isi keluarganya telah dibunuh musuh hingga bersih, hanya puteri satu2nya Ang Jing-kin yang nama kecilnya disebut Siau Yan yang berhasil lolos, tapi kemana perginya juga tidak diketahui.

Sedari itu, sang waktu lewat dengan cepatnya, sekejap saja dua belas tahun sudah lalu.

Namun orang2 Bu-lim masih belum melupakan dua macam pusaka milik Ki Teng- nio yang dibawa Ang Jing-kin itu, maka tidak pernah berhenti orang berusaha mencari jejaknya Ang Jing-kin, cuma semuanya harus pulang dengan kecewa atau mati menjadi korban binatang berbisa ditanah Biau ini.

Begitu pula maksud kedatangan Tiat-pi Siansu berlima itu, tiada lain juga serupa saja.

Nyata cerita ini serba baru semua bagi A Siu, sama sekali tak terduga olehnya bahwa di dunia ini masih begitu luas serta penuh manusia-manusia kejam.

Ia merenung sejenak, kemudian katanya .

Jika sejak masuk gunung, Jing-koh tak pernah keluar lagi, lalu bagaimana dengan suaminya ? Lapat2 aku masih ingat Jing-koh datang bersama seorang lelaki berkerudung katanya lelaki itu terluka, harus disembuhkan dengan dua macam obat apa yang aku tidak ingat lagi, mereka lantas berpisah sejak itu dan akupun terpencar dengan dia selama dua belas tahun tinggal dipegunungan.

Nona.......nona tinggal selama dua belas tahun didalam gunung, apakah tak pernah berjumpa pula dengan Ang Jin-kin? tanya Tiat-pi Hwesio ragu2, semula ia bermaksud menanya kepandaian A Siu dipelajari dari siapa, tapi tidak jadi.

Tidak, akupun tidak tahu kalau dia masih tertinggal digunung, tapi sekarang aku harus mencarinya, ujar A Siu.

Biar aku ikut, seru Tiat-pi Hwesio.

Tapi bagaimana dengan lukamu ? Asal nona suka menolong, sedikit turun tangan saja, pasti lukaku akan baik! Betul ? A Siu menegas dengan mata membelalak.

Ya, dengan Lwekangmu yang tinggi itu, tidak sulit rasanya lukaku hendak disembuhkan, kata Tiat-pi Hwesio.

Walaupun sebenarnya Lwekang A Siu sudah mencapai tingkatan jago kelas satu, tapi ia sendiri hakekatnya tidak mengerti.

Maka katanya .

Bagaimana caranya, coba kau ajarkan padaku! Tiat-pi Hwesio menjadi heran dan melongo oleh sahutan si gadis.

Ia tutuk punggungnya sendiri dan berkata .

Tempelkan telapak tanganmu disini dan kerahkan tenaga dalammu ! A Siu menurut.

Ketika tangannya menyentuh punggung Tiat-pi Hwesio dengan sendirinya timbul semacam tenaga perlawanan dari tubuhnya, sekejap saja beberapa jalan darahnya yang tadinya buntu kini tiba2 menjadi tembus.

Kiranya Tiat-pi Hwesio ini berhenti setengah jalan dan diusir dari Siau-lim-si, maka kepandaian yang masih dapat diandalkan olehnya adalah ilmu Gwakang, kini dengan bantuan A Siu, tanpa merasa tenaga dalamnya bertambah banyak hingga merupakan dasar latihan Lwekangnya dikemudian hari, karuan girangnya tidak kepalang sampai ia bersuara gembira.

Menyangka orang sudah sembuh seluruhnya, A Siu telah tarik kembali tangannya.

Tiba2 pikiran Tiat-pi Hwesio tergerak, mendadak ia menjura terus memberi sembah kepada A Siu dan katanya .

Nona, meski usiamu lebih muda dariku, tapi aku mohon kau suka menerima aku sebagai Toute (murid)! A Siu melengak, ia tidak paham maksud orang, tanyanya .

Apakah Toute itu ? Dengan ter-heran2, Tiat-pi Hwesio mendongak memandang si gadis, pikirnya, semua orang suka bilang aku tolol, tapi gadis ini ternyata lebih tolol dari padaku.

Namun begitu tak berani diucapkannya, hanya sahutnya .

Artinya aku mengangkat nona sebagai suhu! Tapi A Siu masih tidak paham apa Suhu, apa Toute segala.

Maka Tiat-pi Hwesio coba menerangkan .

Posting Komentar