Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 36

NIC

Ketika mereka berpaling, tiba2 terlihat Ki Teng-nio setengah bersandar pada dinding batu dengan muka pucat bagai mayat, kepalanya terkulai dengan mata meram.

Hai, Suhu, Suhu! Kenapa kau! teriak mereka beramai.

Melihat keadaan Ki Teng-nio rada tidak beres, cepat A Siu mendahului melesat keatas batu disudut empang itu, ia periksa pernapasan orang, ternyata sudah sangat lemah tinggal senen-kemis saja.

Ia menjadi tak enak sendiri kalau dirinya tidak datang merecoki, me -hwe-jip-mo atau api nyasar dan darah naik hingga badannya lumpuh, tapi rasanya takkan mati begitu cepat.

Tiba2 ia melihat Ki Teng-nio sedikit pentang matanya, ternyata sinar matanya sudah guram, katanya lemah dan hampir tak terdengar .

Kain......kain sutera.....merah,.....

tapi hanya sekian saja, ketika sekali napasnya sesak putuslah nyawanya ! Kiranya dalam keadaan lumpuh karena tenaga dalamnya yang dilatihnya nyasar ditubuhnya, pula tadi telah kerahkan seluruh tenaga murninya untuk mengeluarkan ilmu Ho-im-liap-hun , tapi tidak membawa hasil apa-apa, saking gusarnya hingga urat nadi sendiri tergetar putus.

Sebab itulah maka Ki Teng-nio bisa tewas begitu cepat.

Dan sebelum ajalnya ia hendak menuturkan rahasia yang meliputi pedang dan kain suteranya yang merah, namun sudah tak keburu lagi.

Hayo, kalian bertiga ada yang tahu rahasia Jin-kiam Ang-leng ( Pedang Hijau dan Kain Merah ) tidak ? tiba2 Tiat-pi Hwesio membentak Kim-teng-sam-sat.

Namun Nio Kiat bertiga hanya menggeleng kepala.

Sudahlah, Toute, yang mengetahui hanya Ki Teng-nio sendiri dan dia sudah mati, ujar A Siu.

Bagus, kini yang tahu rahasia pusaka2 itu mungkin sudah habis mati semua, baik malah, dari pada selalu dibuat rebutan melulu, teriak Tiat-pi.

A Siu menghela napas, segera Tiat-pi Hwesio diajaknya tinggalkan puncak gunung itu.

Karena tiada tempat tujuan, A Siu sengaja pesiar kesana kemari untuk menambah pengalaman.

Dasar otaknya cukup cerdik, maka perlahan2 mulailah ia kenal tulisan.

Sebenarnya ia pikir hendak pergi mencari Siau Yan, itu teman kecil yang pernah dikatakan Jin-koh, namun mengingat sang waktu tak mengijinkan, terpaksa ia tidak berani merantau terlalu jauh.

Tapi sejak insaf dirinya ternyata berilmu silat sangat tinggi, iapun tidak gegabah turun tangan lagi, wataknya menjadi peramah dan sabar.

Begitu pula Tiat-pi Hwesio yang dogol kasar itu banyak terpengaruh oleh kelakuan si A Siu, iapun banyak belajar intisari lwekang dari sang guru itu.

Ketika sudah dekat waktunya A Siu harus pulang menemui Lo-liong-thau, Tiat-pi Hwesio seakan-akan otaknya menjadi terang, ia minta tinggal untuk selamanya disuatu biara buat sucikan diri.

Karena tak mau memaksa, A Siu lalu pulang sendiri kedaerah Biau.

Setiba dipegunungan tempat tinggalnya, sebelum sampai digua itu, dari jauh A Siu melihat Lo-liong-thau dan Tiat-hoa-popo sudah menanti disitu, cepatan saja ia berlari mendekati dan menyapa .

Lo-liong-thau, Tiat-hoa-popo, aku sudah kembali! Hem, aku sangka kau takkan pulang lagi! jengek Lo-liong-thau.

A Siu, sejak kecil aku membesarkan kau, apa benar kau akan turut segala perkataanku ? Tentu saja, Lo-liong-thau, urusan apakah katakanlah, sahut A Siu.

Bukankah kau sudah tahu bahwa pemilihan Seng-co dari tujuh puluh dua gua suku bangsa kita sudah akan dimulai, tutur Lo-liong thau.

Dan setiap ada pemilihan, selalu banyak bangsa Han yang datang ikut sayembara tersebut hingga suku kita selalu dikalahkan.

Tapi sejak Seng-co kedelapan menghilang, kedudukan itu kalau jatuh lagi ketangan orang Han, lalu pamor suku kita harus ditaruh dimana ? Mendengar itu, diam2 A Siu mengkerut kening, suruh dia pergi bertengkar dengan orang untuk merebut kedudukan apa segala, sesungguhnya sangat bertentangan dengan watak pembawaannya.

A Siu, demikian Lo-liong-thau telah melanjutkan, menurut pendapatku, perebutan Seng-co sekali ini tiada yang bisa melawan kau.

Suatu hal yang kuharapkan dengan sangat ialah, bila kau sudah menjadi Seng-co, harus kau pimpin kepala tujuh puluh dua gua suku kita datang kemari untuk membawa aku pulang ke Tiok-teng-tiong! Melihat orang berkata dengan sungguh2 dan dari wajahnya tampak itulah satu2nya harapan yang sangat dirindukannya, pula mengingat dirinya telah dibesarkan selama ini, mau tak mau A Siu mengangguk juga.

Bagi Lo-liong-thau yang ilmu silatnya sebenarnya masih jauh diatas A Siu, sebenarnya bukan sesuatu hal sulit bila dia mau menonjolkan diri.

Tapi dia merasa diwaktu kecilnya telah diusir orang sekampung bagai binatang berhubung sejak dilahirkan badannya dalam keadaan tidak normal, hal mana senantiasa sangat disesalkanyya, maka sekarang kalau dia bisa dipapak oleh pemimpin2 suku mereka, ia merasa barulah cukup untuk menebus sakit hatinya itu.

Maka katanya pula .

Baiklah, A Siu, bila kau sudah berjanji sekarang bolehlah kau ikut pulang dulu bersama Tiat-hoa- popo! Lantas tampak Tiat-hoa-popo berbangkit, tapi A Siu menjadi terkejut melihat nenek itu jalannya meraba-raba dan geremat-geremet.

Hai, kenapakah kau Popo ? tanyanya cepat.

Oh, mataku kini sudah lamur, sudah lama aku merasa penyakit mataku akan membutakan mataku, dan barulah tahun lalu aku benar benar lamur sama sekali, sahut Tiat-hoat-popo.

tapi jangan kuatir aku kenal jalanan! Lekas A Siu maju memayang nenek itu dan keluar dari gua.

A Siu, hendaklah kau ingat baik2 pesanku, janganlah mengecewakan harapanku ! demikian Lo-liong-thau berseru dari jauh.

Dengan terharu A Siu menoleh, dia mengangguk dengan perasaan berat.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa kemudian ia akan bertemu dengan Kanglam-it-ci-seng Ti Put- cian hingga lupa daratan akan semua pesan Lo-liong Thau itu.

ooOOoo BEGITULAH asal-usul si gadis A Siu itu.

Maka ketika Ti Put-cian diam2 mendengar tentang Lo-liong-thau di-singgung2 itu, ia menduga pasti orang tersebut jauh lebih lihay dari A Siu, boleh jadi A Siu akan dipaksa menurut segala perintahnya.

A Siu, segera terdengar Tiat hoa popo berkata pula dengan suara gusar, betapapun juga, gadis Han itu sudah sekian lamanya masuk gua itu, rasanya sudah mati keracunan didalam sana.

Kalau lewat malam ini ia tidak kembali, perebutan Seng-co akan diulangi lagi, dan kau masih ada kesempatan baik, maka harapan Lo liong thau hendaklah jangan kau kecewakan.

Sebenarnya A Siu sama sekali tidak pikirkan tentang kedudukan Seng co segala, yang terbayang selalu olehnya melulu sisastrawan muda ganteng itu.

Namun iapun ingat benar akan budi kebaikan Lo-liong-thau serta pesannya diwaktu hendak berpisah.

Maka akhirnya ia menyahuti dengan suara berat .

Baiklah, Popo, aku akan berbuat sekuat tenagaku.

Melihat pembicaraan mereka sudah selesai, cepat Ti Put-cian gunakan ilmu entengi tubuhnya lagi kembali ketepi empang sebelah sana, ia sembunyi disemak-semak, maka tertampaklah Tiat-hoa-popo keluar lebih dulu dan A Siu ikut dibelakangnya.

Sungguhpun nenek itu tidak sedikit mendapatkan intisari dari Siau-yang-chit kay yang diajarkan Lo- liong-thau kepadanya, tapi kalau dibandingkan A Siu, benar2 ilmu entengi tubuh si gadis itu jarang ada bandingannya.

Malahan sesudah jauh, A Siu masih menoleh lagi sekejap kearah sembunyinya Ti Put-cian.

Maka Ti Put-cian yakin jejaknya memang sudah dapat diketahui gadis itu.

Iapun semakin heran melihat ilmu kepandaian A Siu yang luar biasa itu, sekalipun jago terkemuka dari Tiong goan, rasanya juga tidak lebih dari dia.

Ia menunggu sesudah kedua orang sudah pergi jauh barulah ia kembali kegua tempat pertandingan itu.

Sementara itu orang-orang Biau masih terus menari dan menyanyi walaupun sesungguhnya sudah tidak sabar menantikan kembalinya Jun-yan dari gua labah2 berbisa itu, sebab mereka menyangka sembilan bagian gadis itu sudah tewas didalam.

Ketika Ti Put-cian melihat sekitarnya, ia lihat orang2 Han yang berada disitu tadi sudah pergi semua.

A Siu sendiri dengan rambut terurai lagi duduk termenung disuatu gua itu.

Pelahan2 ia mendekati gadis itu dan menegurnya.

A Siu terkejut oleh teguran itu, tapi ia menjadi girang ketika tahu siapa yang berhadapan dengan dia.

Sungguh sejak hidup dipegunungan tanpa gangguan suatu pikiran apa pun, A Siu sama sekali lepas bebas dari segala ikatan batin, sebab itulah sampai ilmu Ho im-liap-hun Ki Teng-nio yang lihay juga tak mempan terhadapnya.

Tapi aneh, sejak bertemu dengan Ti Put-cian, hati si gadis seperti kena guna2.

Maka dengan ter-mangu2 A Siu mendongak memandangi Ti Put-ciang dengan sinar mata penuh arti.

Sudah tentu Ti Put-cian yang licin tahu akan maksud hati gadis jelita itu.

Ia pikir sangatlah kebetulan akan dapat memperalat si gadis yang lagi dibutakan cinta itu.

Maka dengan lagu suara merayu iapun berkata pula.

A Siu percakapanmu dengan Tiat-hoa popo tadi sudah kudengar semuanya.

Aku sangat berterima kasih akan kesungguhan hatimu kepadaku.

Tapi siapakah gerangan Lo-liong-thau itu ? Apakah kepandaiannya lebih lihay dari kau? Ya, sahut A Siu mengangguk, ia jauh lebih lihay dariku.

Dia boleh dikata adalah Suhuku.

Untuk beberapa saat Ti Put-cian tercengang tapi segera timbul lagi akal kejinya, katanya kemudian .

A Siu, betapa bahagiaku apabila mendapatkan cintamu yang kukuatirkan justru pertanggungan jawabmu terhadap Lo-liong-thau sedang mengenai kedudukan Seng-co bagiku tidak ada artinya.

Nyata betapa liciknya akal Ti Put-cian ini.

Mula2 ia telah peralat Lou Jun-yan berhubung gadis ini mempunyai andalan bantuan si orang aneh yang berkepandaian luar biasa itu.

Kini mendengar A Siu adalah Lo liong thau yang katanya jauh lebih lihay itu, lantas timbul pikiran akan memperalat A Siu untuk menarik bantuan dari kakek aneh itu.

Posting Komentar