Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 37

NIC

Sebab itulah ia curahkan segenap kepandaiannya untuk memikat hati A Siu dengan kata2 penuh manis madu.

Ujarnya akhirnya .

Betapa beruntungku apabila kelak akupun dapat mengangkat guru juga Lo liong thau.

Sudah tentu A Siu sangat terharu akan kesungguhan hati sang kekasih, sama sekali dia tidak bercuriga, maka dengan asyik sekali mereka tenggelam dialun asmara.

Sementara itu Jun-yan masih belum keluar dari gua meski sudah lewat sehari semalam.

Padahal saat mana Jun-yan sama sekali tidak tewas oleh racun saput labah2 yang jahat didalam gua itu, malahan sesudah ditutuk oleh manusia aneh itu, sejam kemudian jalan darahnya sudah lancar kembali lalu ia gerayangi seluruh isi kamar batu didalam gua itu dan dapat menemukan sebarang pedang kuno yang berwarna hijau gelap, pula sepotong kain sutra merah lalu keluar dari kamar itu.

Tapi bagi yang menanti diluar gua sampai sekian lama itu, mereka menyangka si gadis pasti sudah mati didalam.

Maka dengan ramai2 mereka menuntut diadakannya pemilihan ulangan terutama Ti Put-cian sebagai orang kedua sesudah Lou Jun-yan menjatuhkannya maka hak utama jatuh kepadanya untuk menyusul kedalam gua beracun yang dimasuki lebih dulu oleh Jun yan itu.

Sebab itulah belum jauh Put-cian masuk gua, tepat kepergok Jun-yan yang lagi keluar dari kamar batu itu.

Begitulah, maka Ti Put-cian sangat terkejut ketika mengetahui Jun-yan ternyata belum mati.

Namun sebagai seorang licik, sama sekali ia tidak memberi tanda2 mencurigakan, ia malah pura2 menyatakan kuatir atas keselamatan si gadis, maka sengaja datang mencarinya.

Dasar hati anak gadis, mudah disanjung dan gampang dirayu, walaupun sangat panas ketika melihat kelakuan Ti Put-cian terhadap A Siu, namun kini sesudah berada berduaan serta diuruk dengan kata2 madu, kembali ia lupa daratan, malahan Jun-yan merasa sangat bersyukur orang telah menyusul padanya.

Maka sembari bicara mereka melanjutkan kedepan.

Kalau diam2 Ti Put-cian sedang memikirkan akal keji cara bagaimana melenyapkan Jun-yan untuk se-lama2nya didalam gua ini, adalah sebaliknya Jun-yan meski biasanya nakal lincah, namun sifat aslinya sebenarnya tidaklah jahat.

Sama sekali ia tidak bayangkan bahwa elmaut sebenarnya setiap saat akan mencabut nyawanya.

Ketika suatu saat dimana obor mereka menyorot, mereka dikagetkan oleh sinar kemilauan yang menyilaukan mata.

Untuk sejenak Jun yan merandek hingga tanpa merasa Ti Put-cian mendahului kedepan beberapa kaki jauhnya.

Pada saat itu tiba2 Jun- yan merasa angin berkesiur suatu bayangan secepat kilat melesat lewat di sampingnya, dari samping gua yang gelap itu, tiba2 ia merasa tangannya sudah bertambah sesuatu benda, ketika ia memeriksanya, kiranya adalah sebatang pedang, yaitu pedang kuno yang diketemukan didalam gua tadi, tapi ditinggalkannya itu.

Kembali hati Jun-yan terkesiap, nyata gerak bayangan secepat itu, siapa lagi kalau bukan si orang aneh itu.

Ketika ia pandang Ti Put-cian, pemuda itu ternyata sudah sampai dimulut gua didepan sana.

Maka tanpa pikir iapun gantung pedang itu dipinggangnya.

Ternyata diujung gua ini sedikit menurun, menyambung pula sebuah gua yang lebih besar dan lebar.

Gua besar ini tampak sangat lembab dengan air lumpur sedikitnya setinggi betis.

Gua besar ini tidak panjang, sebab tampak sekali diujung sana sinar sang surya menyorot dengan terangnya.

Anehnya dilorong gua ini banyak terdapat jaring labah2 sebesar mata uang dengan warna yang sangat indah.

Sedang ditengah jaring yang wujutnya bagai selapis saput itu berdiam masing2 seekor labah-labah yang berwarna kehijau-hijauan.

Nampak ini, kedua orang itu sama terkejut, mereka tahu itu labah-labah mata uang serta saput mata uang sangat berbisa yang harus dilalui itu.

Ketika Jun-yan coba melongok kebawah, tanpa merasa ia berseru kaget.

Ternyata dibawah gua yang becek dengan air lumpur itu terdapat berpuluh rangka tulang belulang yang sebagian sudah lapuk, agaknya karena tak tahan akan rendaman air itu.

It-ci Toako, Seng-co apa segala aku tidak pingin lagi, biarlah orang Biau mereka yang menjabatnya saja, kata Jun-yan sambil mundur beberapa tindak.

Sebenarnya Ti Put-cian sudah ambil keputusan segera akan bereskan nyawa si gadis, dengan demikian ia akan keluar gua sendirian dan kedudukan Seng-co itu terang berada di tangannya.

Namun menghadapi rintangan gua luar biasa ini, mau tak mau ia kehabisan akal.

Aneh, ujarnya kemudian.

Lazimnya, kalau sudah ada delapan angkatan Seng-co, tentu gua ini ada jalan keluarnya.

Lalu cara bagai manakah mereka melalui gua ini ? Peduli amat, sahut Jun yan, kenapa kita mesti adu jiwa hanya untuk jadi Sengco segala ? Namun Put cian tidak menghiraukannya, ia angkat obornya tinggi2 dan memeriksa disekitarnya.

Ia lihat kecuali sebuah lubang gua ini, sekitarnya hanya dinding batu belaka yang terjal, terang tiada jalan tembus lain lagi.

Karena kehabisan akal, tiba2 timbul maksud kejinya, ia pura-pura berseru .

Lihatlah, apakah itu! Tanpa curiga suatu apa, cepat Jun-yan mendekatinya dan melongok ketempat yang ditunjuk.

Pada saat itulah sebelah tangan Ti Put-cian sudah pegang pundaknya, asal sekali dorong saja, pasti Jun-yan akan terjerumus kedalam gua yang penuh sarang labah2 itu.

Tapi ketika ia hendak kerahkan tenaga, mendadak dilihatnya dipinggang si gadis tergantung sebatang pedang, walaupun sarungnya tidak menarik, tapi bentuknya rada aneh.

Hatinya tergerak, ia urung mendorong.

Sudah tentu Jun-yan tidak insaf bahwa barusan saja sebelah kakinya sebenarnya sudah melangkah masuk lubang kubur, dengan heran ia masih menanya .

He, ada apakah kau bilang tadi ? Ti Put-cian menjadi terkejut, cepat sahutnya .

Oh, ah, tidak, tadi aku kira semacam binatang aneh didalam air lumpur itu.

Lalu ia bilukkan perkataannya dan menanya .

Eh, kenapa sekarang kau punya pedang ? Ehm, aku sendiripun heran, tahu-tahu pedang ini berada ditanganku, mungkin pemberian si orang aneh itu, sahut Jun-yan.

Habis ini, tanpa pikir ia tanggalkan senjata itu dan diangsurkan pada Put-cian.

Put-cian mundur beberapa langkah dulu dan kemudian melolos pedang itu, ia lihat pedang itu gelap tanpa bersinar, tipis bagai kertas, enteng seperti tiada bobot.

He, Tung- kau kiam ! tanpa merasa ia berseru.

Nyata sebagai seorang cendekia, Put-cian banyak membaca dan mempelajari sejarah, maka ia tahu bahwa Tung-kau-kiam itu termasuk salah satu pedang pusaka tertajam yang digembleng oleh ahli pedang Au-ti-cu dijamannya Liat kok.

Sebagai seorang tokoh persilatan, tentu saja Put cian sangat kesemsem oleh pedang pusaka demikian ini.

Dan apabila ia periksa lebih teliti, ternyata digaran pedang itu terukir pula beberapa baris huruf kecil, ia membacanya dan untuk beberapa saat ter-menung2.

It-ci Toako, tulisan apakah yang berada dipedang itu ? Tung kau kiam apa katamu tadi ? tanya Jun yan heran.

Oh, digaran pedang ini tertulis bahwa pedang ini bernama Tung-kau-kiam dan asalnya milik Kiam sin Khong Siau lin dari Siangyang, tutur Put cian terpaksa.

Kiam-sin Khong Siau-lin? Siapakah dia? Jun-yan mengulangi dengan heran.

Ti Put-cian menjadi melengak mendengar pertanyaan itu, ia heran mengapa guru si gadis Thong-thian-sin-mo Jiau Pek-king tidak pernah mengatakan padanya tentang siapa Khong Siau lin itu? Padahal setahunya Kiam-sin atau dewa pedang Khong Siau lin dari Siangyang itu justru adalah gurunya Jiau Pek-king yang pada lebih dua puluh tahun yang lalu namanya sangat tersohor dikalangan Bu lim.

Karena ilmu pedangnya tiada bandingannya maka orang memberikan julukan Kiam-sin atau dewa pedang padanya.

Ketika Jiau Pek king mengangkat guru padanya, usia kedua orang itu selisih tidak banyak.

Tapi karena watak Jiau Pek king yang lain dari pada yang lain maka sering guru dan murid itu saling bertengkar.

Namun Khong Siau lin cukup sabar dan dapat memahami tabiat buruk sang murid, sedapat mungkin ia coba menginsafkannya.

Suatu kali, untuk sesuatu keperluan guru dan murid itu telah keluar, tapi pulangnya hanya Jiau Pek king saja sendirian sedang Khong Siau lin untuk seterusnya tak diketahui jejaknya lagi.

Sudah tentu keluarga Khong mengusut keselamatan Khong Siau lin kepada Jiau Pek-king, namun Pek-king justru sama sekali tidak mau menerangkan, karuan semakin menimbulkan curiga orang, jangan2 Pek-king yang mencelakai sang guru sendiri tapi terhadap tuduhan demikian iapun tidak membantah.

Berhubung dengan peristiwa ini, sudah ber-kali2 terjadi percekcokan dikalangan Bu lim, namun banyak juga kawan yang kenal baik Jiau Pek-king, walaupun wataknya menyendiri, namun bilang membunuh guru sendiri, rasanya tidak mungkin.

Urusan itu masih terus berlarut2 tidak pernah selesai dengan sendirinya Jiau Pek-king pun meninggalkan perguruan dan tindak tanduknya semakin tak terkekang, maka akhirnya mendapatkan julukan Thong-thian-sin-mo atau iblis raksasa maha sakti.

Kini Tun-kau-kiam ini terukir sebagai miliknya Khong Siau lin, padahal sebelum menghilang, orang tidak pernah melihat dia menggunakan pedang demikian maka dapat diduga pedang ini tentu diperolehnya sesudah orangnya menghilang, lalu kenapa bisa terdapat ditengah gua sunyi didaerah Biau ini ? Betapapun cerdiknya Ti Put-cian menghadapi soal ini iapun merasa bingung.

Semula Jun-yan pun tidak kenal siapakah Khong Siau lin itu, tapi lantas teringat olehnya diwaktu kecilnya, pada suatu hari seperti pernah ada seorang lelaki yang berbaju compang camping, dipundaknya menggandul dua buah buli2 besar, tengah malam buta mengunjungi gurunya.

Disitu kedua orang telah pasang omong sambil minum arak dengan bebas puas, sampai fajar barulah orangnya pergi.

Esok paginya ketika dia tanya sang guru, maka sekedar gurunya telah memberitahu padanya nama orang itu seperti Khong Siau-lin apa, cuma waktu itu masih terlalu kecil, maka tidak menaruh perhatian.

Begitulah, selagi ia termenung2, tiba2 ia mendengar bentakan Ti Put-cian yang seram.

Dengan terkejut ia berpaling dan segera ia berteriak .

Posting Komentar