Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 40

NIC

Sudah tentu cerita yang tak keruan susunannya itu membikin Jun-yan tambah bingung.

Siapakah gerangan suaminya Ang Jing-kin itu ? Kemudian kemana dia telah pergi ? ia tanya pula.

Entah, cuma menurut cerita Tiat-hoa-popo, ketika tanpa sengaja ibuku menyingkap kain kerudung kepalanya, ibuku menjerit kaget karena melihat wajah orang yang lebih mirip setan, lalu orang itu berlari pergi menghilang , tutur A Siu.

Mukanya jelek mirip setan ? Apakah karena bekas luka ? demikian Jun-yan menggumam sendiri.

Namun A Siu tak bisa menjelaskan lebih banyak, iapun tidak menanya lebih jauh, mereka melanjutkan perjalanan tanpa terjadi apa2.

Akhirnya tibalah mereka sampai ditapal batas propinsi Ciat-kiang.

Tatkala itu menginjak musim rontok, hawa sejuk pemandangan permai.

Terutama A Siu yang belum pernah menjajaki daerah Kanglam yang indah, ia sangat terpesona oleh pemandangan alam yang dilaluinya.

Suatu hari, sampailah mereka didaerah kabupaten hi-sui-koan.

Karena kesemsem akan pemandangan indah disekitarnya, mereka berdua menjadi melampaui waktu istirahat, makin jauh makin memasuki tanah pegunungan.

Sementara itu sang surya sudah mulai mendoyong kebarat.

Tiba2 mereka melihat didepan sana tumbuh beberapa rumpun pohon bambu, ditepinya mengalir sebuah sungai yang mengelilingi tiga buah rumah gubuk.

Melihat pemandangan itu, tanpa merasa Jun-yan memuji, Betapa indahnya tempat ini entah siapa gerangan yang tinggal itu, benar2 pandai menikmati ! Dan selagi ia hendak berseru akan memohon mondok bermalam digubuk itu, tiba2 dilihatnya ada seorang lagi jalan keluar dari salah satu rumah itu sambil mengukur, dengan laku sangat hormat orang itu lagi berkata dengan badan membungkuk .

Ki- locianpwee, haraplah pada waktunya nanti kau orang tua bisa hadir disana, betapapun juga, sedikitnya akan membikin semangat Jing-ling-cu dan begundalnya melempem ! Habis itu dari dalam rumah lantas terdengar sahutan seorang yang bersuara tuan besar .

Ehm, tiba waktunya nanti aku datang kesana.

Sekarang lekaslah kau enyah ! Ber-ulang2 orang yang keluar itu membungkuk sambil mengia.

Sebaliknya lagak lagu orang didalam rumah itu terang angkuh luar biasa.

Diam2 Jun-yan terkejut ketika mendengar nama Jing-ling-cu disebut.

Cepat ia tarik A Siu dan membisikinya .

Coba kita sembunyi dulu untuk melihat siapakah orang itu ! lalu keduanya menyelinap masuk kesemak-semak pohon bambu sana.

Cuaca waktu itu sudah mulai sore, namun cukup jelas untuk melihat orang yang keluar itu ternyata seorang Thauto atau paderi yang memelihara rambut panjang, mukanya bengis dilehernya terkalung serenceng tasbih dari emas yang bentuknya dibikin seperti tengkorak, jumlahnya beratus biji.

Tampak mukanya ber-seri2, kadang2 mengelus2 jenggotnya yang pendek dengan tangannya yang penuh bulu.

Jun-yan tak kenal Thauto itu, ia lihat orang berjalan dengan bersitegang leher dan lewat tidak jauh dari tempat sembunyinya tanpa merasa.

Diam2 Jun-yan bergirang, ia membisiki A Siu.

Tampaknya paderi ini bukan manusia baik2.

Jing-ling-cu yang disebutnya tadi adalah tokoh ternama dari Heng-san yang menjadi sobat baikku.

Marilah kita coba mengintil dibelakangnya untuk melihat apa yang hendak dilakukannya.

Sudah tentu A Siu menurut saja, apalagi sifat kanak2nya masih belum hilang, untuk berbuat hal2 yang nakal justeru sangat cocok dengan kelincahannya.

Maka dengan ilmu entengi tubuh yang tinggi mereka menguntit Thauto itu dari jauh.

Sudah tentu ilmu Ginkang A Siu jauh lebih hebat daripada Jun-yan, maka kagum sekali Jun-yan terhadap kepandaian kawannya yang tinggi itu, ia heran akan keterangan A Siu tempo hari bahwa ilmu kepandaian yang dimilikinya itu dipelajarinya tanpa guru.

Ia tidak tahu bahwa Siu-yang-chit-Kay yang dipelajari oleh A Siu itu adalah merupakan kombinasi dari intisari berbagai cabang persilatan, maka tidak heran ilmu kepandaian A Siu susah diukur dengan ilmu silat umumnya.

Manusia Aneh Dialas Pegunungan Karya dari Gan K.l Saking kagumnya, maka Jun-yan coba menanya sedikit tentang dasar2 Ginkang yang dimiliki A Siu itu.

Tanpa ragu2 A Siu suka memberi penjelasan juga, begitu pula ia terangkan Lwekang yang pernah dipelajarinya dari ukiran digua itu.

Dan karena asyik tanya jawab itu, sampai mereka lupa bahwa mereka lagi mengintil Thau-to berambut panjang tadi.

Ketika mereka ingat kembali, namun Thauto itu sudah tak kelihatan lagi bayangannya, kedua gadis itu hanya saling pandang dengan tersenyum geli.

Keenakan paderi itu, demikian Jun-yan menggerutu.

Dan selagi mereka hendak mencari jalan lain buat melanjutkan perjalanan mereka, tiba-tiba tercium bau sedap yang menusuk hidung.

Nyata itulah bau makanan yang dipanggang, mungkin babi atau ayam panggang.

Dasar perut mereka sudah sangat lapar, maka Jun-yan yang pertama-tama tak tahan, hampir-hampir air liurnya menetes dari mulutnya.

Ehm, betapa lezatnya bau itu! Siapakah gerangan yang lagi panggang daging babi itu ? Ehm, betapa wanginya! demikian ia berkecap2 sambil lidahnya menjilat-jilat.

Habis berkata, cepat ia mendahului berlari menuju ke tempat datangnya bau sedap itu.

A Siu menjadi geli melihat wajah kerakusan kawannya itu, tetapi iapun berlari mengikut dibelakang.

Tidak seberapa jauh, tampaklah oleh mereka disuatu lapang sedang menyala segunduk besar api unggun ternyata Thauto tadi lagi membolak-balikkan tangkai kayu yang menyunduk tiga ekor kelinci panggang diatas api, pantas bau wangi lewat jauh.

Nampak itu, tiba2 timbul lagi pikiran jahilnya Jun-yan.

A Siu, harap kau pancing paderi itu pergi sejauh mungkin, biar aku goda dia agar tahu rasa, supaya kelak jangan berani-berani sembarangan omong, katanya segera.

Suruh menggoda orang, tentu saja A Siu sangat senang.

Segera ia melompat maju mendekati Thauto yang asyik memanggang kelinci itu.

Mungkin juga lagi bayangkan betapa lezatnya kelinci panggang itu, maka paderi berambut itu sama sekali tidak merasa bahwa dibelakangnya sudah berdiri seorang A Siu.

Tiba-tiba A Siu telah tertawa sekali, lalu cepat sekali ia melesat pergi.

Sungguh diluar dugaan Jun-yan, gerakan Thauto ternyata sebat luar biasa, mendadak ia putar tubuh, tapi A Siu sudah melesat kedalam semak2 pohon, maka tiada suatu bayanganpun yang dilihatnya.

Ia menjadi curiga, terang tadi suara tertawa orang, kenapa tiada terdapat seorangpun ? Kembali ia teruskan memanggang kelinci.

Kembali A Siu mendekatinya, sekali ini ia cabut setangkai rumput panjang, dengan itu ia jentikkan kepunggung si Thauto.

Karena rumput itu sangat enteng, tapi dengan tenaga dalamnya A Siu, rumput itu meluncur kedepan dengan cepat sekali tanpa suara menuju punggung Thauto itu terus menyusup masuk Kasa (jubah padri) dan nancap didaging.

Karuan paderi itu ber-kaok2 kaget sambil meloncat tinggi.

Bettt, kontan ia menghantam kebelakang, betapa keras tenaga pukulannya hingga dua pohon kecil dibelakangnya seketika patah kena angin pukulan itu.

Namun A Siu sendiri sudah melesat pergi dengan cepat.

Sekilas bayangan A Siu sekali ini dapat dilihat oleh Thauto itu, tentu saja ia menjadi murka, dengan menggerang terus saja mengudak.

Ketika melihat angin pukulan si Thauto yang maha hebat itu, untuk sejenak Jun-yan terkejut kalau Thauto itu saja demikian lihay-nya apalagi orang she Ki yang sangat dihormatinya didalam gubuk itu? demikian ia pikir.

Tapi demi nampak Thauto itu sudah jauh pergi mengejar A Siu, kembali Jun-yan membayangkan macamnya orang yang menggelikan ketika kena teperdaya olehnya nanti.

Maka cepat ia melompat keluar mendekati api unggun sementara itu dia sudah mengempal tiga comot besar lempung (tanah liat) yang bentuknya mirip kelinci, segera dia lepaskan tiga ekor kelinci panggang dari tangkai kayu, sebagai gantinya ia tusuk kelinci tepung itu keatasnya, ia tambahi pula kayu bakar agar api unggun berkobar lebih keras, lalu berlari sembunyi ketempatnya tadi.

Tak lama pula, ia lihat bayangan A Siu berkelebat, gadis itu sudah kembali dengan tertawa, Eenci Jun-yan, Thauto itu cukup lihay, tapi telah kuperdayai mungkin orangnya sekarang masih putar kayu dirimba sana sambil mencaci maki, demikian tuturnya dengan geli.

Dasar watak Jun-yan memang binal, biasanya dikalangan Kangouw orang segan pada nama gurunya, maka sama mengalah padanya.

Apalagi sekarang ada A Siu yang mengawalinya ia menjadi semakin berani, sahutnya dengan tertawa .

Ha-ha, biar kita tunggu sebentar lagi dan mempermainkan Thauto itu! Baru selesai ia berkata, tampak Thauto tadi sudah datang kembali dengan langkah lebar, dari wajahnya yang merah padam, tampak sekali rasa gusarnya yang tidak terhingga.

Begitu datang dengan marah-marah ia duduk diatas batu disamping api unggun, lalu termenung-menung seakan-akan lagi mengingat siapakah gerangan yang bergurau padanya tadi.

Tak lama kemudian tiba-tiba ia menggablok keatas batu disampingnya hingga remukan batu berhamburan.

Diam-diam Jun-yan terkejut dan memuji akan tenaga pukulan orang, ia pikir tenaga pukulan yang paling lihay di jaman ini yalah Thi-thau-to dari Ngo-tai-san.

Paderi piara rambut berkepala baja..

Dengan tenaga pukulannya Jian-kin-cio-tui atau hantaman beribu kati pernah ia patahkan pohon yang bulat tengahnya sebesar paha.

Posting Komentar