Lo- liong-thau, aku ingin pergi lagi untuk beberapa lamanya akan mencari tahu jejaknya Jing-koh ! Dengan sendirinya Lo-liong-thau tidak tahu siapa Jing-koh itu, dia hanya geleng- geleng kepala melihat kelincahan si gadis itu.
Sementara itu Tiat-pi Hwesio terus saja menyusuli A Siu dengan kencang, sesudah melintasi suatu bukit, A Siu coba membayangkan kejadian masa dahulu, tapi sama seperti sudah tak teringat olehnya, hanya lapat-lapat seperti ada air disuatu tempat yang dapat dibuat patokan olehnya.
Toute, ternyata Jing-koh itu benar-benar tidak pernah kembali kepada suaminya yang ditinggalkan itu dan katanya mukanya penuh darah, entah apa sebenarnya yang sudah terjadi, masakan mereka benar-benar jelmaan siluman? tanya A Siu ditengah jalan.
Siluman? Mana mungkin, sahut Tiat-pi Hwesio.
Menurut kabar orang Kangouw katanya mereka kena dipedayai Bong-san Sam-sia yang mahir menggunakan racun itu, dan Sam-siang-sin-tong Siang Hiap terkena racun jahat, maka isterinya, Ang Jing-kin tidak kenal jeri payah menyingkir kedaerah Biau ini dengan maksud mencari obat.
Tempo hari A Siu sudah mendengar sedikit tentang Ang Jing-kin dan suaminya itu, maka dia menjadi ketarik akan kisah-kisah Bu-lim, kembali dia tanya .
Toute, cobalah ceritakan sedikit tentang jago2 silat yang menarik diantara bangsa Han kalian.
Benar Tiat-ti Hwesio seorang dogol tapi pengalamannya di Kangouw sesungguhnya cukup luas.
Maka dia menjadi bangga diminta oleh sang guru agar bercerita, segera dia memulai dengan dirinya sendiri yang tidak lupa dibumbu-bumbui dan di-tiup2 setinggi langit sampai A Siu ter-senyum2 geli tapi tak mencelanya.
Kemudian Tiat-pi menceritakan tentang Jing-ling-cu dari Heng-san yang katanya sebatang pedangnya tiada tandingan dikolong langit, tentang dua paderi wanita dari puncak emas Go bi-san yaitu Sian-hoat Suthay dan Biau-in Sut-hay yang mahir ilmu Ji-lay-it-ci atau jari tunggal Budha dan pernah menaklukan delapan iblis terkenal di Jing-le-kok lalu tentang betapa lihaynya Thi-thau-o dari Ngo-tay-san yang atos kepalanya, tentang kelakuan Thong-thian-sin-mo Jiauw Pek-king yang tak terkekang, tapi ilmu silatnya tiada bandingan hingga tiga saudara she ln dari Holan yang terkenal dengan ilmu pukulan geledek kena ditundukan dan tentang tokoh kenamaan didaerah Kang-lam, Tai-lik-sin Tong Po yang takut bini, tentang Chit-bak-losat Ki Teng-nio dan sumoynya Li-giam-ong To Hiat koh yang kejam tak kenal ampun.
Serentetan kisah yang aneh2 dan Iucu2 telah diceritakannya hingga A Siu ter-longong2 saking ketarik.
Dan tanpa merasa haripun sudah petang.
Dibawah sebuah pohon besar mereka duduk mengaso buat lewatkan sang malam, A Siu duduk bersila bersemadi menurutkan ukiran yang dipelajarinya dari gua, iapun memberi beberapa petunjuk seperlunya kepada Tiat-pi Hwesio hingga tidak sedikit manfaat bagi paderi itu.
Besok paginya mereka melanjutkan perjalanan, tapi tidak jauh tiba2 mereka mendengar gemerciknya air, A Siu menjadi girang, serunya, Hei, air, air air ! Ya, mungkin suatu sungai kecil, ya, ya, sungai kecil dan aku diletakkan ketanah oleh ayah ditepi air itu ! Segera A Siu mendahului berlari kedepan, tapi sudah dekat sungai itu masih tidak tertampak, setelah menerobos sebuah sela2 batu, tiba2 pandangan didepan terbeliak, sebuah sungai kecil mengalir dengan airnya yang bening menyusur sebuah lembah yang sekelilingnya terkurung oleh tebing2 curam.
Perlahan-lahan A Siu menyusur tepi sungai itu, sampai suatu tempat, tiba2 ia berkemak-kemik.
Ya, ya, ini tempatnya ayah meletakkan aku ketanah.
Pada saat itulah tiba2 Tiat-pi Hwesio di belakangnya telah berseru .
Hai, Suhu, apakah yang berada disamping kakimu itu ? Waktu A Siu menunduk, dia menjadi kaget.
Ternyata tidak jauh dari tempat berdirinya situ ada kerangka tengkorak yang utuh seperti tengkurap ditepi sungai.
Segera Tiat-pi mendekati kerangka tulang itu dan memeriksanya, tiba2 ia berseru lagi .
Eh, pada tulang orang ini bersemu warna hitam, terang mati keracunan.
He, disini ada lagi sepotong lencana emas segi tiga ! Mendengar ada lencana emas disitu, hati A Siu tergerak.
Sebab ia masih ingat diwaktu kecilnya pernah memainkan sepotong lencana emas milik ayahnya yang biasanya dipakai sebagai jimat untuk menolak gangguan.
Maka cepat ia minta lencana itu dari Tiat-pi Hwesio.
Ia lihat diatas benda itu terukir seekor ayam jago yang lagi berkokok, terang sudah ia memang benar barang ayahnya dahulu, tanpa merasa ia mengeluh .
O, ayah, jadi kau telah meninggal keracunan disini! Mendengar kerangka tulang itu adalah ayah si gadis, tiba2 Tiat-pi berseru .
Aha, kebetulan, jika ayahmu berada disini, tentu Ang Jin-kin itupun takkan jauh dari tempat ini .
Lalu ia memandang sekitarnya terus berlari menuju kehilir sungai sana.
A Siu tidak urus kelakuan Hwesio dogol itu karena sedang berduka, tapi sejenak kemudian ia mendengar Tiat-pi lagi memanggilnya dikejauhan.
Suhu lekas kemari! Mendengar suara agak genting, cepat A Siu menyusul kesana.
Sesudah menerobos suatu gua, terlihatlah dibalik sana Tiat-pi Hwesio lagi berdiri disuatu empang.
Ditepi ada lagi tiga kerangka tulang, dan diatas batu besar yang menonjol di-tengah2 empang ada lagi kerangka tulang lainnya, sebelah tangannya melambai kebawah seperti sebelum ajalnya telah melemparkan sesuatu kedalam empang, sebab itu sebagian tulang lengan itupun jatuh kedalam empang, hanya ketinggalan buku bagian atas.
Disamping kerangka tulang itu ada lagi seutas tulang ular dan sebutir biji buah-buahan.
Tiap-pi Hwesio tampak lagi memegangi tiga macam benda yang bentuknya aneh dan berkilau.
Toute, barang apakah yang kau lihat itu? tanya A Siu tidak mengerti.
Tiat-pi tertawa bangga, sahutnya.
Orang selalu mengatakan aku goblok, tapi sekali ini rasanya akulah yang paling pintar.
Ketiga macam senjata ini disebut Tui-hong-liap- hun-boan (petel mencabut nyawa), adalah senjata andalan dari Bong-san-sam-sia, rasanya ketiga rangka tulang di tepi empang ini bukan lain adalah tulang Bong-san- sam-sia yang sudah menghilang selama dua belas tahun itu ! Lalu siapa lagi yang berada diatas batu di tengah empang itu? tanya A Siu.
Tiat-pi Hwesio menjadi bingung, padahal tadi ia sombongkan dirinya pintar.
Namun dijawabnya juga.
Aku menduga pasti seorang manusia juga.
A Siu geli melihat jawaban yang tak tegas itu.
Sengaja ia menanya lagi .
Dan ketiga orang itu sebab apa telah mati ? Tentu saja Tiat-pi Hwesio semakin repot, ia hanya geleng2 kepala tak bisa menjawab.
Mereka mati keracunan oleh air sungai ini, tentu, ujar A Siu kemudian.
Ya, ya, memang aku sudah menduga mereka mati keracunan, sebab tulang mereka bersemu hitam, seru Tiat-pi.
Cuma air sungai sebening ini, masakan ada racunnya ? A Siu cukup cerdik, ketika melihat kerangka tulang ayahnya dan Bong-san-sam-sia sama tengkurap ditepi empang, segera ia menduga air ada sesuatu yang tak benar.
Maka katanya pula.
Kalau perlu boleh coba kau minumnya seceguk.
Seketika Tiat-pi melompat mundur sambil goyang2 tangannya.
Eh, eh, Suhu jangan bergurau, masakan air beracun boleh dibuat main2.
Pada saat itulah tiba2 seekor rusa kecil berlari lewat didekatan situ, seru A Siu .
Kau tak berani biar rusa itu yang mencoba ! Dan sekali melesat dengan cepat ia menguber binatang itu.
Betapa enteng gerakan A Siu itu maka tidak seberapa jauh ekor binatang itu kena diseretnya.
Segera Tiat-pi Hwesio meraup sekukupan air dan dicekokan kemulut rusa, hanya sekejap saja segera kulit binatang itu berubah biru hangus terus roboh binasa.
Hebat sekali dugaan Suhu, memang betul orang2 itu mati minum air beracun ini tapi entah orang diatas batu sana, apakah juga mati keracunan ? teriak Tiat-pi Hwesio.
Habis itu tanpa pikir ia terus meloncat kedepan, ia sangka sekali loncat tentu akan mencapai batu ditengah empang itu.
Tak terduga tampaknya batu itu tidak jauh padahal sedikitnya hampir dua tombak, pula badan Tiat-pi Hwesio terlalu gendut maka sampai batu itu badannya sudah menurun kebawah, dan bila teringat olehnya air empang beracun ia menjadi sibuk dan ber-kaok2 minta tolong ! Syukur A Siu bisa berlaku sebat sekali, sekali melesat secepat kilat ia menyambar tengkuk sihwesio itu dan ditarik kedepan.
Maka sebelum kaki Tiat-pi Hwesio menyentuh air, tubuhnya sudah menurun diatas batu besar itu.
Sesudah berdiri tegak disitu, dengan muka pucat Tiat-pi ter-longong2 memandangi, A Siu tak mengurusnya lagi, cepat ia memeriksa kerangka tulang yang terdapat diatas batu itu, ia tunjuk sesuatu disamping kerangka tulang itu dan berkata pada Tiat-pi .
Lihatlah, apakah itu ? Cepat Tiat-pi menjemputnya, ternyata itu adalah sepasang anting2, ketika ia periksa lebih teliti, ternyata anting2 itu terdapat tulisan, yang satu tertulis satu huruf Jin dan yang lain Kin .
He, Ang-jing-kin ! seru Tiat-pi terperanjat.
A Siu buta huruf, maka iapun melengak mendengar kerangka tulang inilah Ang Jin- kin, hatinya kembali berduka.
Sementara itu Tiat-pi Hwesio telah putar kayun sekeliling batu besar itu, katanya dengan heran .
Aneh, orang mengatakan dua macam pusaka Chit-bok-lo-sat Ki Teng- nio berada di tangannya Bwe-hoa-siancu Ang Jing-kin.
Kalau ia sudah mati disini, kenapa pusaka2 itu tidak tertampak? Jangan2 telah kena dibawa pergi oleh salah seorang dari empat orang berkedok yang mengubernya itu ? Tapi peristiwa itu kenapa selamanya tidak pernah terdengar dikalangan Kangouw ? Sudah beberapa kali A Siu mendengar tentang dua macam pusaka Ki Teng-nio itu, maka katanya.
Selalu kau singgung2 tentang pusaka sebenarnya dua macam benda apakah ? Menurut kabar, katanya yang satu adalah sebatang pedang dan yang lain sepotong kain sutera merah, sahut Tiat-pi Hwesio.
A Siu tidak mengerti apa kasiatnya kedua macam pusaka itu, kalau pedang masih bisa dimengerti, tapi sepotong kain sutera merah apa gunanya? ia memandangi kerangka tulang itu dengan ter-menung2, tiba2 hatinya tergerak, serunya.
Ah, melihat keadaannya tentunya orang diatas batu ini sebelum ajalnya telah melemparkan sesuatu kedalam empang.
Bagus, Jika begitu biar aku selulup kedalam empang untuk mencarinya! teriak Tiat- pi tanpa pikir, lalu ia membuka jubahnya dan benar-benar hendak terjun kedalam empang.
Melihat kedogolan si hwesio, A Siu menjadi geli.
Toute, apa barangkali kau sudah bosan hidup ? tegurnya.
Tiat-pi melengak dengan mata membelalak lebar, untuk beberapa lama ia bingung apa yang dimaksudkan si gadis, tapi buk , tiba2 ia tabok perutnya sendiri yang gendut itu dan terteriak .
Haya, aku benar2 tolol, bukankah air empang itu beracun, mengapa aku menjadi lupa ? Lalu ia menyambung pula dengan wajah menyesal .
Ai sayang, jika begitu pusaka pusaka Ki Teng-nio itu tentu akan hilang ditelan empang ini untuk selamanya.
Tapi itu hanya dugaanku saja, mungkin kejadian sebenarnya bukanlah demikian, ujar A Siu kemudian.
Tiba2 matanya tertatap pada sesuatu benda pula disebelah kerangka tulang sana.
Cepat ia menjemputnya pula dan meng-amat2i.
Apakah ini ? tanyanya sambil angsur benda itu kepada Tiat-pi.
Waktu Tiat-pi bersihkan karatan diatas benda itu, ternyata itu adalah sebuah piau yang diatasnya terdapat sehuruf Tin .
Tin ? Adakah sesuatu orang bernama Tin ? tanya A Siu memikir.
Diantara bangsa Han yang bernama Tin sudah tentu tentu terlalu banyak, sahut Tiat pi Hwesio.
Tapi sungguh aneh.
Dahulu yang menguber-uber Ang Jing-kin dan suaminya itu seluruhnya ada empat orang.
Kalau Bong-san-sam-sia sudah mati disini kenapa yang seorang lagi tak kelihatan, pula bagaimana dengan nasib suaminya Ang Jin-kin itu ? Mendengar itu, betul juga pikir A Siu, walaupun dogol, kadang2 Hwesio gendut ini dapat pula berpikir.
Maka katanya.
Teka-teki ini kecuali mereka sendiri berdua, rasanya tiada orang lain lagi yang bisa tahu.
Tapi sekarang aku menjadi ingin tahu apakah manfaat kedua pusaka yang dibuat rebutan itu, kalau kau tidak mengetahui, kenapa kita tidak pergi menanya pada pemilik asalnya? Tiat-pi meloncat kaget.