Lembah Selaksa Bunga Chapter 32

NIC

Senja telah menjelang malam. Matahari mulai terbenam di barat sehingga cahayanya yang tertinggal amat lemah. Sebentar lagi tentu digantikan kegelapan malam. Bouw Kongcu berjalan terus dan tiba di jalan tepi hutan yang sunyi. Teringat akan ayahnya, Bouw Kongcu berhenti melangkah dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, memejamkan mata dan berulang-ulang menarik napas panjang.

Tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan Hongbacu yang tinggi besar bermuka merah, tokoh Mancu itu, telah berdiri di depannya. Bouw Kongcu mendengar suara tawa seperti ringkik kuda dan ketika dia membuka matanya, dia melihat Hongbacu dan merasa terkejut sekali karena dia mengenal orang tinggi besar itu sebagai seorang di antara tiga tamu asing yang berada di istana ayahnya.

Melihat orang itu tertawa dan matanya memandangnya dengan sinar yang menyeramkan, Bouw Kongcu dapat merasakan ancaman bahaya. Maka tanpa berkata apa pun, dia lalu memutar tubuhnya dan melarikan diri. Dia tidak tahu ke mana akan pergi. Dia hanya ingin menjauhkan diri dari orang Mancu itu.

Akan tetapi baru belasan langkah dia melarikan diri, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Hongbacu telah berdiri menghadang di depannya sambil bertolak pinggang dan tertawa.

“He-he-hek! Engkau hendak pergi ke mana, Bouw Kongcu?”

Pemuda itu dari ketakutan menjadi marah dan menegur. “Bukankah engkau ini orang Mancu yang menjadi tamu Ayahku? Kenapa engkau menghalangi perjalananku?” Dia melanjutkan dengan bentakan. “Aku hendak pergi ke mana tidak ada urusannya denganmu. Minggir dan biarkan aku lewat, atau aku akan melaporkan kepada Ayahku tentang kekurang-ajaranmu ini!”

“Hi-hi-he-he-hek! Justru aku mewakili Ayahmu untuk mencegah engkau pergi dan berbuat macam-macam untuk menentang kami! Aku diminta untuk membawamu pulang.” “Aku tidak mau pulang dan jangan engkau mencampuri urusan pribadiku!”

“Heh-heh-heh, engkau mau atau tidak, aku tetap akan membawamu pulang, Bow Kongcu!”

Akan tetapi Bouw Cu An sudah membalikkan tubuhnya dan lari lagi secepatnya menjauhi Hongbacu. “Ha- ha-hi-hik, engkau hendak lari ke mana, Bouw Kongcu?”

Kembali Bouw Kongcu hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Hongbacu sudah berdiri di depannya, dalam jarak sekitar tiga tombak! Tokoh Mancu ini menyeringai dan melangkah perlahan menghampiri pemuda itu.

“Ah, di mana-mana yang kuat menekan yang lemah!” terdengar suara lembut dan sesosok tubuh melayang dan seorang laki-laki telah berdiri di antara Bouw Cu An dan Hongbacu, menghadapi orang Mancu itu.

Dia seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh enam tahun, berpakaian jubah tosu (pendeta Agama To) kuning, bertubuh tinggi kurus dengan wajah tampan dan sikapnya lembut. Di punggungnya terselip sebatang pedang, akan tetapi kalau ada orang memperhatikan pedang itu, dia tentu akan merasa aneh dan lucu karena pedang itu hanya sebatang pedang dari bambu seperti pedang mainan anak-anak!

Akan tetapi biarpun dia tidak mengenal tosu itu, Hongbacu adalah seorang yang mempunyai banyak pengalaman dan melihat tosu itu mempunyai sebatang pedang dari bambu, dia sama sekali tidak berani memandang rendah. Bahkan dia merasa terkejut karena kalau seorang berani membawa senjata selemah itu, hal ini jelas menunjukkan bahwa dia tentu seorang yang berilmu tinggi! Setelah menatap tajam wajah tosu itu, Hongbacu berkata.

06.18. Bangkitlah Bila Menjadi Muridku!

“Sobat, engkau seorang pendeta, tidak pantas mencampuri urusan orang lain!”

“Siancai (damai). ! Pinto (aku) tidak mencampuri urusan, hanya ingin mengetahui apa yang terjadi maka

seorang gagah seperti engkau hendak memaksa seorang pemuda yang lemah.”

“Dengarlah, tosu yang baik! Pemuda ini minggat dari rumah orang tuanya dan aku diutus Ayahnya untuk membawanya pulang! Pantaskah kalau engkau menghalangiku?”

Tosu itu menoleh kepada Bouw Cu An. “Orang muda, benarkah engkau minggat dari rumah dan sobat ini diutus Ayahmu untuk mengajakmu pulang?”

“Totiang (Bapak Pendeta), saya tidak percaya kalau dia diutus Ayah untuk mengajak saya pulang. Orang Mancu ini pasti mempunyai niat jahat terhadap saya karena saya dia anggap sebagai penghalang semua niat buruknya.”

Tosu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Dua keterangan yang berbeda dan saling bertentangan. Sekarang begini saja, Sobat. Kaubiarkan pemuda ini pergi dan jangan ganggu dia lagi, lanjutkan saja perjalanan masing-masing dan aku berjanji tidak akan mencampuri urusan kalian berdua.”

“Tidak bisa!” Hongbacu berseru marah. “Dia harus ikut aku pulang ke rumah orang tuanya, mau atau tidak dia harus ikut!”

“Siancai ! Ini namanya pemaksaan sewenang-wenang dan pinto jelas tidak dapat mendiamkannya saja.”

“Bagus, Tosu usil, siapakah engkau yang berani mencampuri urusanku dan menentangku?”

“Pinto bernama Ouw-yang Sianjin, pinto tidak menentangmu, Sobat, melainkan menentang perbuatan jahat dan sewenang-wenang.”

Ouw-yang Sianjin ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal di dunia persilatan karena dia merupakan seorang pendekar perantau yang berilmu tinggi dan selalu menentang kejahatan. Dia adalah sute (adik seperguruan) dari mendiang Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, ayah dari Ong Lian Hong atau guru dari Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan.

Pada senja hari itu, secara kebetulan saja dia melihat Bouw Kongcu didesak oleh Hongbacu, maka dia segera turun tangan membela Bouw Kongcu.

“Ouw-yang Sianjin, tosu keparat! Engkau sudah bosan hidup!” kini Hongbacu tidak sabar lagi. Memang pada dasarnya orang Mancu ini berwatak keras dan sombong karena bagi seluruh suku Mancu, dia merupakan jagoan yang sudah tersohor dan jarang dapat ditandingi. Setelah membentak dia sudah mencabut gergajinya dari pinggang.

Senjata ini menyeramkan. Sebatang golok yang lebar dan berat, berkilauan saking tajamnya dan punggung golok itu bergigi seperti gergaji! Tanpa bicara lagi dia menggerakkan goloknya yang berat itu dengan cepat. Golok itu mengeluarkan bunyi berdesing dan mengandung kekuatan yang dahsyat menyambar ke arah leher Ouw-yang Sianjin.

“Yaahhhh!” Ouw-yang Sianjin cepat mengelak dan dari serangan pertama itu saja tahulah dia bahwa orang Mancu yang menjadi lawannya itu merupakan lawan yang tangguh. Maka dia pun melompat ke belakang menghindari serangan susulan sambil mencabut senjatanya yang aneh dan ringan, yaitu sebatang pedang terbuat dari bambu! Akan tetapi begitu dia menggerakkan dan memutar-mutar pedang bambu itu, tampak gulungan sinar yang bercuitan mengelilingi tubuhnya seperti membentuk sebuah perisai sinar!

Hongbacu merasa penasaran dan sambil mengerahkan sin-kang dia menyerang dengan goloknya dengan maksud untuk mematahkan pedang bambu lawan. Sinar goloknya meluncur hendak menerobos gulungan sinar pedang bambu itu.

“Singgg...... takk. !” Golok yang berat itu terpental ketika bertemu pedang bambu. Akan tetapi Ouw-yang

Sianjin juga merasa betapa tangannya yang memegang gagang pedang kayu tergetar hebat.

Keduanya terkejut dan mundur, maklum bahwa lawan memiliki sin-kang yang kuat dan seimbang. Hongbacu sudah menerjang lagi. Ouw-yang Sianjin bergerak cepat mengelak lalu balas menyerang. Pedang bambunya itu amat lihai dan mampu menembus kulit daging lawan yang betapa kebal pun!

Terjadilah perkelahian yang amat seru. Gerakan kedua orang itu sedemikian ringan dan cepatnya sehingga tubuh mereka seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua sinar kuning dan putih dari pedang bambu dan golok. Tenaga sakti yang mereka pergunakan sedemikian kuatnya sehingga gerakan senjata mereka menimbulkan angin yang menyambar-nyambar dan merontokkan daun-daun pohon di sekeliling mereka.

Bouw Cu An bersandar pada batang pohon sambil terduduk di atas tanah. Dia memandang bengong, heran, kagum dan tegang mencekam hatinya. Bunyi pedang bambu bertemu golok terkadang mengeluarkan getaran amat kuat sehingga Bouw Kongcu harus menutupi kedua telinganya dengan tangan karena suara berdenting itu seolah menusuk gendang telinganya. Pandang matanya juga menjadi kabur oleh sinar yang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar itu. Jantungnya berdebar tegang karena dia maklum bahwa kalau tosu yang membelanya itu kalah, nyawanya sendiri pasti terancam.

Lebih dari seratus limapuluh jurus mereka bertanding, kini mereka bertanding dalam kegelapan karena malam telah tiba, atau sinar matahari tidak bersisa lagi. Keduanya mengandalkan ketajaman telinga dan perasaan untuk berkelahi karena pandang mata tidak dapat diandalkan lagi. Biarpun sudah demikian lamanya mereka berkelahi, tidak ada yang menang ataupun kalah. Jangankan menang, mendesak lawan pun tidak dapat. Kekuatan mereka seimbang, baik tenaga sin-kang, gin-kang (meringankan tubuh) maupun kehebatan jurus-jurus silat mereka.

Akan tetapi kini terdapat perbedaan. Hongbacu mulai lelah dan pernapasannya mulai memburu. Usia mereka memang sebaya, sekitar empatpuluh enam tahun, dan tenaga mereka juga seimbang. Hanya bedanya, dan ini merupakan perbedaan besar, kalau Ouw-yang Sianjin hidup dengan sehat dan bersih tidak pernah menghamburkan tenaga untuk melampiaskan nafsu-nafsunya, sebaliknya Hongbacu hidup bergelimang kesenangan duniawi dan menuruti nafsu-nafsunya, terutama nafsu berahinya.

Sebagai orang yang berkedudukan tinggi dan pembantu terpercaya Nurhacu pemimpin bangsa Mancu, Hongbacu memiliki banyak isteri. Inipun masih belum memuaskan nafsunya dan dia masih sering menggoda wanita cantik di mana pun dia berada.

Hal ini memboroskan tenaganya dan memperlemah daya tahan pernapasannya. Maka setelah bertanding hampir seratus tujuhpuluh jurus, dia mulai merasa lemah. Maklum bahwa kalau dilanjutnya dia akan kalah dan tidak mungkin menang, Hongbacu mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya melompat jauh ke belakang lalu dia menghilang dalam kegelapan malam!

Ouw-yang Sianjin tidak mengejar karena dia memang tidak bermaksud untuk bermusuhan dengan orang Mancu itu. Dia hanya ingin membela pemuda yang terancam tadi.

Setelah Hongbacu pergi, Ouw-yang Sianjin menyimpan pedang bambunya dan memandang kepada pemuda yang masih duduk bersandar batang pohon. Cuaca yang gelap, hanya remang-remang mendapat sinar bintang-bintang yang bertaburan di langit, membuat dia tidak dapat melihat jelas keadaan pemuda itu. Dia menghampiri dan berkata.

“Orang muda, bahaya telah lewat. Hari telah malam, sebaiknya engkau segera pulang ke rumahmu.”

Bouw Cu An bangkit berdiri dan memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan ke dada lalu membungkuk sampai dalam. “Totiang, saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Totiang. Kalau tidak ada Totiang, mungkin sekali saya telah dibunuh oleh orang Mancu itu.”

Posting Komentar