“Terima kasih atas kedatangan Sam-wi (Anda bertiga) yang memang sejak tadi kami menantikan. Di dalam perundingan kami tadi, kami telah mengambil keputusan dan kini hanya tinggal minta pertimbangan Sam-wi apakah keputusan itu dapat diterima ataukah ada usul lain.”
“Apakah keputusan itu, Pangeran? Harap jelaskan dan akan kami pertimbangkan,” kata Hwa Hwa Hoat-su sambit mengelus jenggotnya yang putih.
“Keputusan kami begini, Locianpwe (orang Tua Perkasa). Kekuatan pemerintah terletak kepada Menteri Yang Ting Ho dan Panglima Chang Ku Cing. Kalau mereka berdua tidak ada, maka pemerintah akan menjadi lemah dan mudah kita gulingkan. Membinasakan dua orang tokoh itu tidaklah mudah dan akan menimbulkan kegemparan sehingga ada bahayanya persekutuan kita ketahuan sebelum kita sempat bergerak. Maka, kami tadi mengambil keputusan untuk melemahkan kedudukan dua orang itu dengan dua cara, yaitu pertama membujuk para pembesar sipil dan militer yang setia kepada mereka berdua dan cara kedua, membunuh mereka yang tidak mau bergabung dengan kita.”
“Ah, bagus sekali rencana itu!” kata Hwa Hwa Hoat-su. “Tidakkah engkau juga menyetujuinya, Sobat Hongbacu?”
Tokoh Mancu itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Memang tepat sekali kalau dua orang menteri itu kehilangan pendukung mereka, kedudukan mereka tentu lemah dan mudah bagi kita untuk menyingkirkannya sehingga Kaisar tidak lagi mempunyai pendukung setia yang tangguh.”
“Kami memang senang bahwa Sam wi agaknya sudah setuju dengan keputusan itu. Dan mengingat akan penting dan sukarnya pekerjaan ini, maka kami mengharapkan bantuan Sam-wi untuk melaksanakannya.”
“Silakan Pangeran mengadakan pendekatan dan bujukan kepada para pembesar yang mendukung Menteri Yang dan Panglima Chang itu, kemudian memberitahu kami siapa-siapa yang tidak mau bergabung dan harus dienyahkan. Pekerjaan itu akan kami bagi bertiga agar dapat terlaksana lebih cepat,” kata Hwa Hwa Hoat-su yang memandang ringan tugas itu.
“Ha-ha-ha!” Hongbacu tertawa. “Tugas semudah itu serahkan saja kepadaku. Aku akan dapat membasmi mereka. Katakan saja kepadaku siapa-siapa yang harus dibunuh, Pangeran!”
“Heh-heh-heh, Hongbacu, tidak boleh kau borong sendiri! Aku setuju dengan pendapat Hwa Hwa Hoat-su tadi. Tugas itu kita bagi bertiga dan kita lihat saja siapa yang lebih dulu dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna!” Tarmalan berkata sambil memandang kepada tokoh Mancu bertubuh tinggi besar dan bermuka merah itu.
“Kami akan melaksanakan cara pertama, melakukan pendekatan dan membujuk para pembesar itu. Sementara itu, Sam-wi lebih baik tinggal di sini dan tidak keluar agar jangan terlihat orang lain. Nanti setelah kami melakukan cara pertama, baru kami akan memberitahukan siapa-siapa yang harus dilenyapkan oleh Sam-wi,” kata Pangeran Bouw.
Semua orang setuju dan pertemuan itu ditutup dengan makan malam yang sudah dipersiapkan. Hidangan mewah dengan arak yang harum. Sampai larut lewat tengah malam barulah pertemuan itu diakhiri dan para pembesar sipil dan militer itu kembali ke rumah masing-masing.
Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, Tarmalan masing-masing diberi sebuah kamar mewah dalam istana Pangeran Bouw dan sejak malam itu mereka menanti di istana, dilayani dengan baik oleh para pelayan wanita yang khusus bertugas melayani tamu-tamu agung ini.
Pada keesokan harinya, menjelang senja, ketika Pangeran Bouw Ji Kong sedang duduk termenung memikirkan pelaksanaan rencananya mengambil alih kekuasaan kaisar Wan Li, kakak tirinya, dia mendengar langkah orang memasuki kamarnya. Dia menoleh dan melihat seorang pemuda memasuki kamar itu.
Pemuda itu adalah Bouw Cu An atau yang biasa disebut Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw), putera tunggalnya. Seorang pemuda bertubuh sedang dengan pakaian seperti seorang sastrawan, wajahnya tampan bulat, matanya lembut dan mulutnya selalu tersenyum. Wajah pemuda ini mirip wajah ibunya yang cantik. “Hemm, engkau, Cu An?” tegur Sang Ayah dengan lembut. Karena dia hanya mempunyai seorang putera, tentu saja Pangeran Bouw amat sayang kepada puteranya ini.
Bouw Cu An memberi hormat kepada ayahnya sebelum duduk di depan ayahnya, terhalang meja.
“Ayah, maafkan saya kalau saya mengganggu ketenangan Ayah. Akan tetapi ada hal-hal penting yang ingin saya tanyakan dan bicarakan dengan Ayah, kalau sekiranya Ayah membolehkan.”
Pangeran Bouw tersenyum. Dia selalu merasa senang melihat sikap dan cara puteranya ini bicara, penuh kesopanan dan hormat kepadanya di samping perasaan berbakti dan sayang kepada orang tua.
“Boleh saja, Cu An. Bicaralah! Apa yang ingin kautanyakan?”
“Sebelumnya saya minta maaf, Ayah. Saya melihat ada tiga orang tamu asing di ruangan bagian tamu dan saya mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Pek-lian-kauw, dari bangsa Mancu, dan suku Hui. Apakah artinya semua ini, Ayah? Juga saya mendengar bahwa Ayah bersekutu dengan mereka untuk menentang Sribaginda Kaisar. Benarkah ini, Ayah?”
“Cu An,” kata Pangeran Bouw dan suaranya terdengar tegas. “Engkau tidak perlu mencampuri urusan pribadi Ayahmu. Aku melihat betapa pemerintahan Paman kaisar itu berengsek, para pejabatnya sebagian besar melakukan korupsi, menyeleweng dan bertindak sewenang-wenang. Aku tidak mungkin tinggal diam saja. Kekuasaan Pamanmu Kaisar harus dihentikan, kalau tidak rakyat akan menderita sengsara! Untuk menentang pemerintahan, aku harus bersekutu dengan pihak-pihak yang memusuhi pemerintah! Engkau tidak perlu ikut memikirkan, tidak perlu ikut campur. Engkau masih terlalu muda dan tidak tahu apa-apa.”
Bouw Cun An atau Bouw Kongcu mengerutkan alisnya yang hitam. Dia bukan hanya mewarisi wajah ibunya, akan tetapi juga watak ibunya yang lembut dan baik, dan sejak kecil dia mempelajari sastra, telah banyak membaca kitab-kitab suci, tahu akan jalan hidup terbaik yang harus ditempuh manusia.
“Maaf, Ayah. Kalau saya tidak salah dengar, Pek-lian-kauw adalah perkumpulan pemberontak yang terkenal jahat, menggunakan agama baru Teratai Putih untuk mengelabuhi rakyat. Mereka itu pembunuh dan perampok. Adapun bangsa Mancu adalah bangsa di Utara yang kini telah menguasai seluruh daerah utara dan merupakan ancaman bagi tanah air dan bangsa kita. Adapun dukun Tarmalan itu, menurut Ibu merupakan orang yang kabarnya juga menjadi rekan bangsa Mancu. Bagaimana kini Ayah bersekutu dengan mereka? Apakah tindakan Ayah itu sudah diperhitungkan benar dan tidak keliru?”
“Anak bodoh! Pek-lian-kauw dan bangsa Mancu kini memiliki kekuatan yang dapat membantu kita. Tanpa bantuan mereka, akan sukarlah menjatuhkan pemerintahan ini. Dan engkau tahu, siapa itu Tarmalan? Dia adalah Kakekmu, karena dia adalah Paman dariku! Dia adalah seorang pandai dan sakti dari suku Hui, dan dapat membantu kita menentang pemerintah Pamanmu Kaisar yang lemah itu!”
“Sekali lagi maaf, Ayah. Kalaupun benar bahwa Paman kaisar Wan Li itu lemah, dipengaruhi para Thai-kam dan para pembesar penjilat, sudah sepatutnya kalau Ayah sebagai adiknya membela Kaisar yang harus ditentang bukanlah Kaisar, melainkan para pembesar yang menyeleweng dan korup itu. Kalau pemerintah yang Ayah tentang, berarti Ayah akan melakukan pemberontakan ”
“Diam.....!” Pangeran Bouw membentak marah. “Cu An, jangan lanjutkan pikiran dan bicaramu seperti itu! Apakah engkau ingin agar rasa sayangku kepadamu berubah menjadi rasa benci?”
Cu An terkejut melihat ayahnya berkata demikian. Baru sekali ini ayahnya marah seperti itu kepadanya dan memandangnya dengan sinar mata berapi penuh kebencian. Hal ini membuat hatinya berdua sekali. Bukan dua karena tindakan ayahnya yang dia anggap keliru, melainkan terutama sekali karena rasa sayang ayahnya demikian mudah dapat berbalik menjadi rasa benci.
“Maafkan saya, Ayah........” katanya halus dan dia lalu meninggalkan ruangan itu. Pangeran Bouw menampar permukaan meja dengan perasaan kesal.
Ayah dan anak ini sama sekali tidak tahu bahwa pembicaraan mereka tadi didengar Hongbacu yang kebetulan keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan dekat ruangan itu. Mendengar semua ucapan Bouw Kongcu, tokoh Mancu yang tinggi besar bermuka merah itu mengepal tangannya.
Anak ini sungguh berbahaya, pikirnya, dan kalau ada orang yang sepatutnya dibinasakan, maka pemuda inilah yang menjadi orang pertama. Kalau pemuda itu berhasil membujuk ayahnya dan Pangeran Bouw berubah pikiran, maka semua rencana akan hancur dan dia akan mendapatkan teguran keras dari pemimpinnya yang keras, yaitu Nurhacu. Bouw Kongcu merasa sedih melihat sikap ayahnya. Sama sekali tidak disangkanya bahwa ayahnya akan memberontak terhadap Kaisar yang masih kakak tirinya sendiri. Biasanya, sikap ayahnya selalu merasa penasaran dan menentang para pembesar yang korup dan yang menggunakan kekuasaan mereka untuk berlumba mengumpulkan kekayaan saja.
Sikap ini dianggapnya baik karena dia sendiri juga muak melihat para pembesar korup yang suka sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Akan tetapi, kini ayahnya hendak memberontak dan terasa olehnya bahwa ayahnya ingin sekali menggantikan kedudukan kaisar.
Yang amat menyedihkan hatinya, ayahnya telah bersekutu dengan orang Pek-lian-kauw dan orang Mancu, juga dibantu Dukun Tarmalan yang menurut cerita ibunya merupakan seorang dukun bangsa Hui, masih paman dari ayahnya, akan tetapi terkenal jahat. Bagaimana ayahnya sampai terperosok sedemikian dalamnya, bersekutu dengan orang-orang jahat untuk memberontak terhadap Kaisar?
Menurut kepantasan, ayahnya sebagai adik tiri kaisar, mestinya membela Kaisar dari orang-orang jahat, bukan sebaliknya bersekutu dengan mereka menentang Kaisar! Apakah ayahnya akan menjadi pengkhianat tanah air dan bangsa?
Pemuda yang terpelajar ini maklum bahwa semua penyelewengan ayahnya itu didorong oleh ambisinya untuk menjadi kaisar! Dan dia menjadi sedih sekali.
Sekeluarnya dari ruangan itu, Bouw Kongcu langsung keluar dari istana. Baginya, istana ayahnya menjadi tempat yang memuakkan dan juga berbahaya, telah menjadi tempat persembunyian orang-orang jahat yang mengatur rencana pemberontakan!
Tanah pekarangan istana ayahnya saat itu terasa panas, menembus sepatunya dan membakar telapak kakinya. Dia bersicepat lari keluar dari pekarangan.
Empat orang perajurit pengawal yang berjaga di pintu gerbang memberi hormat kepadanya, namun tidak dipedulikan. Padahal biasanya Bouw Kongcu bersikap ramah dan manis kepada semua perajurit pengawal ayahnya, bahkan para pelayan dalam istana menghormati dan menyukainya karena dia bersikap manis kepada siapapun juga tanpa memandang kedudukan mereka.
Ketika tiba di jalan besar, Bouw Kongcu seolah melihat kota raja yang terancam perang akibat pemberontakan ayahnya. Banyak orang tewas dan banjir darah terjadi. Dia merasa ngeri dan cepat-cepat dia keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan.
Dia tidak tahu akan pergi ke mana. Pokoknya dia harus meninggalkan kota raja, meninggalkan istana keluarganya, meninggalkan ayahnya sejauh mungkin agar jangan ikut ternoda kotoran akibat ulah ayahnya.