Lembah Selaksa Bunga Chapter 27

NIC

“Keparat jahanam Thian-te Mo-ong! Bagus kamu datang mengantarkan nyawamu ke sini!” Siang Lan mencabut Lui-kong-kiam yang ditudingkannya ke arah muka bertopeng itu.

“Ha-ha-ha, Hwe-thian Mo-li, apakah engkau hendak mengeroyok aku bersama puluhan orang anak buahmu itu?”

Siang Lan merasa dalam dadanya seperti dibakar. “Iblis busuk! Aku bukan pengecut macam kau!” Lalu ia menoleh dan membentak para anggauta Ban-hwa-pang. “Hayo kalian mundur dan jangan sekali-kali mencampuri pertandingan antara aku dan jahanam busuk bertopeng itu!”

Li Ai memberi isyarat kepada semua orang untuk menjauhkan diri dan menyimpan senjata masing-masing.

“Ha-ha-ha, bagus! Akan tetapi tetap saja aku tidak sudi bertanding di sini. Kalau engkau bukan jago kandang, hayo kejar aku dan kita bertanding mengadu nyawa di luar perkampungan ini!”

Setelah berkata demikian, Thian-te Mo-ong lalu melayang turun dari atas wuwungan langsung saja dia berlari cepat sekali keluar dari perkampungan Ban-hwa-pang.

“Bangsat busuk, engkau hendak lari ke mana?” Siang Lan memaki dan cepat melakukan pengejaran, mengerahkan seluruh kekuatan gin-kangnya yang kini telah meningkat jauh.

Li Ai dan para anak buah Ban-hwa-pang hanya melihat dua bayangan berkelebat cepat ke arah pintu gerbang lalu lenyap. Li Ai yang mengenal watak baik Siang Lan melarang para anggauta Ban-hwa-pang untuk melakukan pengejaran dan hanya menanti saja di situ dengan hati tegang. Mereka hanya duduk- duduk bergerombol dan tidak ada semangat lagi untuk berlatih. Mereka semua maklum bahwa orang bertopeng itu adalah musuh ketua mereka dan kini tentu ketua mereka sedang bertanding mati-matian dengan musuh yang mereka tahu amat lihai itu. Siang Lan mengerahkan seluruh kecepatan larinya melakukan pengejaran. Akan tetapi musuh besarnya tetap berada di depannya, dalam jarak sekitar tiga tombak. Ternyata kecepatan lari mereka seimbang dan Thian-te Mo-ong juga tidak mampu memperjauh jarak itu. Akhirnya Siang Lan yang marah sekali memungut dua buah batu sebesar kepalannya dan setelah memindahkan pedang ke tangan kirinya, ia melontarkan dua buah batu itu ke arah kepala dan punggung Thian-te Mo-ong.

Thian-te Mo-ong ternyata memiliki pendengaran yang amat tajam. Biarpun ditimpuk dari belakang, dia mampu mendengar desir angin timpukan itu dan cepat melompat ke samping sehingga dua buah batu itu tidak mengenai tubuhnya. Dia berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadapi Siang Lan sambil tertawa mengejek.

“Ha-ha-ha-ha! Sebaiknya di sini kita mengadu nyawa, Hwe-thian Mo-li. Jangan mengira bahwa dengan kecepatan dan sambitan batumu itu aku menjadi gentar!”

“Jahanam busuk Thian-te Mo-ong, bersiapkah untuk mampus di tanganku.”

Siang Lan yang sudah tak dapat menahan kesabarannya lalu menerjang dan menyerang dengan buas dan dahsyat sekali karena ia menggunakan jurus yang paling ampuh. Ia maklum akan kelihaian lawan maka ia pun begitu menyerang mengerahkan semua tenaganya!

Menghadapi serangan maut itu, Thian-te Mo-ong cepat mengelak dan dia melompat ke atas, menyambar sebatang ranting pohon lalu melawan pedang Lu-kong-kiam dengan ranting sepanjang lengan itu! Mereka saling serang dengan hebatnya karena Siang Lan berusaha mati-matian untuk merobohkan dan membunuh musuh besar yang amat dibencinya ini. Ia sudah bersumpah di depan Bu-beng-cu bahwa ia tidak akan membunuh orang lain kecuali Thian-te Mo-ong, maka seluruh kebencian yang berada dalam hatinya terhadap golongan sesat kini ditimpakan seluruhnya kepada Thian-te Mo-ong.

“Singgg......!” Pedang Lui-kong-kiam meluncur dan berdesing membuat gerakan melingkar-lingkar amat dahsyatnya. Gadis itu menggunakan jurus Liong-ong-lo-hai (Raja Naga Kacau Lautan). Lui-kong-kiam berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi berdesing-desing menyilauan mata dan menyakitkan telinga.

“Bagus!” Thian-te Mo-ong yang lihai itu memuji karena memang jurus Liong-ong-lo-hai ciptaan mendiang Ong Han Cu yang dijului Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Delapan) itu dahsyat bukan main. Thian-te Mo-ong yang memang memiliki tingkat ilmu silat yang sudah tinggi sekali hanya merasa kagum akan tetapi sama sekali tidak merasa gentar. Dia menghindarkan diri dari serangan maut itu dengan jurus Sian-jin- hoan-eng (Dewa Menukar Bayangan), kemudian membalas dengan totokan-totokan berbahaya dengan ujung rantingnya.

Mereka bertanding tanpa ada orang lain yang mengetahuinya itu berlangsung selama limapuluh jurus lebih dan mereka saling serang tanpa ada yang tampak terdesak. Siang Lan merasa penasaran sekali. Selama setengah tahun lebih ia sudah mendapatkan kemajuan pesat dalam ilmu meringankan tubuh sehingga gerakannya jauh lebih cepat dibandingkan dahulu sebelum digembleng Bu-beng-cu.

Dulu saja ia sudah terkenal memiliki gin-kang yang hebat. Gerakannya amat cepat sehingga dunia kang- ouw memberinya julukan Iblis Betina Terbang. Setelah kini gin-kangnya meningkat banyak, tetap saja ia tidak mampu mendesak musuh besarnya.

Dalam pertandingan itu, ia melihat jelas bahwa lawannya juga dapat bergerak cepat sekali dan agaknya dalam ilmu gin-kang, Thian-te Mo-ong tidak kalah dan dapat mengimbanginya! Gin-kang mereka seimbang, akan tetapi ia harus mengakui bahwa dalam hal tenaga sakti ia masih kalah kuat, bahkan jauh kalah. Hal ini terbukti dari senjata mereka.

Ia sendiri memegang Lui-kong-kiam (Pedang Kilat), sebuah pedang pusaka yang terbuat dari baja langka, biasanya mudah mematahkan senjata-senjata lawan dari besi atau baja. Akan tetapi sekarang, menghadapi sebatang ranting di tangan musuhnya, pedang itu sama sekali tidak berdaya. Apalagi mematahkannya, bahkan kalau pedangnya dan ranting itu bertemu keras, telapak tangannya terasa pedas dan pedih. Hal ini membuktikan bahwa tenaga sakti yang tersalur dalam ranting sungguh amat kuat!

Biarpun ia mulai ragu apakah ia akan mampu mengalahkan dan membunuh musuh besar ini, Siang Lan tidak menjadi putus asa dan ia mengamuk seperti harimau terluka.

Tiba-tiba Thian-te Mo-ong berseru, “Hwe-thian Mo-li, kalau hanya sebegini kepandaianmu, jangan harap engkau akan dapat mengalahkan aku, ha-ha-ha!” Tiba-tiba orang berkedok itu berseru nyaring. “Haiiittt !” Tangan kirinya, dengan telapak tangan terbuka didorongkan ke arah Siang Lan. Gadis ini cepat

mendorong dengan tangan kiri menyambut pukulan jarak jauh itu.

“Wuuuttt...... desss......!!” Tubuh Siang Lan terpental sekitar dua meter ke belakang, akan tetapi ia dapat berjungkir balik membuat salto sehingga tubuhnya tidak sampai terbanting. Ia terkejut dan semakin marah. Dengan nekat ia menyerang lagi dengan pedangnya.

“Hyaaaahh !” Pedang itu menyambar ke arah leher Thian-te Mo-ong. Orang berkedok itu menggerakkan

rantingnya menyambut.

“Tuk!” Pedang bertemu ranting dan melekat!

Ketika Siang Lan mencoba untuk menarik pedangnya, ternyata pedang itu tertahan dan melekat pada ranting dan pada saat itu, kembali Thian-te Mo-ong menyerang dengan dorongan tangan kirinya. Siang Lan terkejut dan menyambut dengan tangan kirinya pula.

“Plakk !” Tubuh Siang Lan terjengkang dan pedangnya terlepas dari pegangannya.

Ia terbanting roboh dan menggulingkan tubuhnya, lalu melompat berdiri lagi. Dadanya terasa sesak dan pedangnya sudah berada di tangan kiri Thian-te Mo-ong. Hampir saja Siang Lan menjerit dan menangis saking marah, kecewa, dan malu. Ia menjadi semakin nekat dan dengan tangan kosong ia menerjang lagi!

“Hemm, belajarlah lagi selama sepuluh tahun, baru engkau akan mampu menandingiku, Hwe-thian Mo-li!” kata orang bertopeng itu dan dia melemparkan pedang Lui-kong-kiam ke atas tanah di depan Siang Lan. Pedang menancap sampai dalam dan dia melompat ke belakang sambil tertawa.

“Ha-ha-ha, setahun lagi aku akan datang menemuimu dan kita boleh bertanding lagi, kalau kau berani!” Kemudian tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ.

Siang Lan yang maklum bahwa ia tidak mampu mengejar karena dalam dadanya masih terasa nyeri, menjatuhkan diri di dekat pedangnya dan ia menangis! Marah, benci, kecewa, malu, dan penasaran mengadu dalam hatinya, membuatnya merasa sedih sekali dan ia menangis mengguguk seperti anak kecil sambil memukul-mukul tanah dengan kedua tangannya.

“Jahanam Thian-te Mo-ong, kubunuh kau...... kubunuh kau...., kubunuh kau......!” Ia berteriak-teriak dan menangis lagi tersedu-sedu. Ia tidak terluka, hanya benturan tenaga dalam tadi mengguncang isi dadanya karena ia kalah kuat.

Jelaslah bahwa ia kalah karena tenaga sin-kangnya masih jauh dibandingkan lawannya. Tanpa memiliki tenaga sakti yang lebih kuat, tidak mungkin ia dapat menang melawan Thian-te Mo-ong. Akan tetapi sekali ini ia tidak putus asa walaupun ia menyesal dan kecewa sekali. Ia bahkan semakin bersemangat. Ia harus memperdalam ilmunya lagi sampai ia mampu mengalahkan dan membunuh musuh besarnya.

Sementara itu, agak jauh dari situ, Thian-te Mo-ong bersembunyi di balik batang pohon besar dan mengintai ke arah Siang Lan yang menangis tersedu-sedu sambil memukuli tanah. Dia menghela napas berulang- ulang, lalu melepaskan topengnya dan menyembunyikan topeng kayu itu di balik bajunya.

Kini tampak wajah Bu-beng-cu, wajah yang tampak muram dan sedih ketika dia memandang ke arah Siang Lan. Sepasang matanya dikejap-kejapkan dan dua tetes air mata melompat keluar dari pelupuk matanya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu perlahan-lahan berbisik kepada diri sendiri.

“Aku harus membangkitkan semangatnya, harus mengembalikan harga dirinya. Suatu hari ia akan mengalahkan aku dan membunuhku. Tidak ada lain jalan untuk membangkitkan semangatnya dan memulihkan harga dirinya.”

Dia terus mengamati Hwe-thian Mo-li sampai gadis itu menghentikan tangisnya dan pergi dari tempat itu, kembali ke perkampungan Ban-hwa-pang.

Setelah Siang Lan pergi, barulah Bu-beng-cu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa dipakai oleh Bu-beng-cu. Pakaian yang longgar dengan jubah lebar yang tadi dipakai Thian-te Mo-ong dia gulung dan dia lalu pergi perlahan-lahan meninggalkan tempat itu.

Setibanya di perkampungan Ban-hwa-pang, Siang Lan disambut oleh Li Ai dan para anggauta perkumpulan itu. Melihat wajah Siang Lan yang muram, para anggauta tidak ada yang berani bertanya walaupun pandang mata mereka kepada Siang Lan mengandung keinginan tahu tentang laki-laki bertopeng yang dikejar ketua mereka tadi. Siang Lan diam saja dan terus memasuki rumah, diikuti oleh Li Ai. Gadis ini juga dapat melihat keadaan maka ia tidak bertanya apa-apa ketika Siang Lan datang. Akan tetapi setelah mereka berdua memasuki kamar, Li Ai bertanya dengan hati tegang.

“Bagaimana, Enci? Berhasilkah engkau mengejar penjahat bertopeng tadi? Engkau tentu telah dapat membunuhnya, bukan?”

Pertanyaan itu dirasakan Siang Lan seperti menusuk hatinya. Ia menahan tangisnya dan menggelengkan kepalanya.

“Ia masih terlalu kuat bagiku, Li Ai. Aku harus memperdalam lagi ilmuku sampai akhirnya aku mampu mengalahkannya dan membalas dendam.”

Posting Komentar