“Akan tetapi ada kecualinya, Paman, yaitu aku harus membunuh musuh besarku yang satu itu! Paman, setelah sekarang aku mendapat kemajuan dalam gin-kang, tentu aku akan berhasil membunuhnya. Kalau tidak salah perhitunganku sekarang sudah lewat setahun dan jahanam itu tentu akan datang menemuiku sebagaimana yang dia janjikan untuk membuat perhitungan.”
Bu-beng-cu menghela napas panjang. “Aku tidak tahu sampai di mana kelihaian musuhmu itu, Nona. Akan tetapi jangan engkau terlalu yakin dulu. Memang gin-kangmu sudah maju pesat dan kiranya akan sulit bagi musuhmu itu untuk mengalahkan kecepatan gerakanmu. Akan tetapi, dalam sebuah pi-bu (pertandingan silat) bukan hanya kecepatan gerakan yang menentukan walaupun kecepatan itu tentu saja merupakan bagian penting. Selain gin-kang, engkau harus lebih unggul dalam ilmu silat dan tenaga sakti. Berhati- hatilah kalau engkau bertemu dengan musuh besarmu.”
“Akan kuperhatikan nasihat Paman.”
“Nah, hari ini kunyatakan bahwa engkau telah lulus dalam pelajaran memperkuat gin-kangmu, Hwe-thian Mo-li. Mudah-mudahan engkau akan mendapatkan manfaat dari pelajaran ini dan aku akan merasa berbahagia sekali kalau engkau dapat memegang sumpahmu untuk tidak membunuh orang, juga kalau mungkin menghilangkan dendammu dan keinginanmu untuk membunuh orang yang kau anggap sebagai musuh besar itu. Aku sekarang hendak melanjutkan pertapaanku sini dan tidak ingin diganggu. Kecuali kalau ada urusan penting sekali, harap jangan ganggu aku lagi.”
Siang Lan memberi hormat dan berkata dengan nada terharu. “Paman telah mengorbankan waktu pertapaan Paman, sudah berulang kali menolongku, aku mengucapkan banyak terima kasih dan selama hidupku aku tidak akan melupakan kebaikan Paman Bu-beng-cu.”
“Pulanglah, Nona, dan jaga dirimu baik-baik,” kata Bu-beng-cu, suaranya juga tergetar karena dia merasa terharu pula mendengar suara gadis itu begitu menyentuh perasaannya.
“Engkau juga, jaga dirimu baik-baik, Paman. Selamat tinggal.” Setelah berkata demikian, Siang Lan berkelebat dan lenyap dari depan guha tempat pertapaan Bu-beng-cu itu.
Setelah Siang Lan pergi jauh, Bu-beng-cu kini menghela napas panjang dan pandang matanya ditujukan ke langit yang mulai cerah dengan sinar matahari pagi.
“Thian, alangkah pahitnya akibat dari kebodohan dan kelemahanku saat itu. Puji syukur kepadamu, Ya Tuhan, bahwa Engkau telah memberi kesempatan kepadaku untuk menebus dosaku itu ”
Setelah mengeluarkan ucapan lirih dan sepasang matanya menjadi basah air mata, Bu-beng-cu atau Thian- te Mo-ong atau nama aselinya Sie Bun Liong melangkah perlahan-lahan memasuki guhanya.
Hati Siang Lan yang merasa girang sekali karena kini ia telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu meringankan tubuh sehingga ia mampu bergerak jauh lebih cepat daripada dahulu sebelum digembleng oleh Bu-beng-cu. Masih teringat ia betapa dulu ia amat mengagumi kecepatan gerakan Bu-beng-cu. Akan tetapi sekarang ketika berlumba lari, ia dapat mengimbangi gurunya itu! Ia merasa yakin bahwa kini ia pasti akan mampu mengalahkan Thian-te Mo-ong dan membunuhnya untuk membalas dendam atas perbuatan keji yang dilakukan atas dirinya.
Ia merasa lebih gembira lagi karena kini anak buahnya, semua wanita, yang berjumlah kurang lebih limapuluh orang telah memperoleh kemajuan dalam ilmu silat sehingga mereka merupakan anggauta Ban- hwa-pang yang tangguh. Lebih lagi, ia melihat betapa Li Ai ternyata memiliki bakat yang amat baik. Gadis ini memang cerdik sekali dan didorong oleh sakit hatinya, ia berlatih dengan tekun sehingga setelah lewat hampir setahun di Lembah Selaksa Bunga, tingkat kepandaian silatnya bahkan telah melampaui tingkat semua wanita anggauta Ban-hwa-pang.
Melihat gadis yang dahulunya lemah-lembut itu menyukai senjata sepasang pedang, maka Siang Lan memberi sepasang pedang yang mungil dan indah kepada Li Ai dan mengajarkan Siang-kiam-sut (Ilmu Sepasang Pedang) di samping ilmu silat tangan kosong. Juga Li Ai sudah mulai diberi pelajaran dasar untuk menghimpun tenaga sakti.
Belasan hari kemudian, pada suatu pagi Siang Lan sudah bangun dari tidurnya. Kini ia mempunyai kebiasaan bangun pagi sekali karena biasanya, begitu bangun dan mandi, ia langsung pergi ke lereng di mana terdapat guha tempat bertapa Bu-beng-cu. Maka, biarpun sekarang ia tidak lagi harus pergi ke sana seperti yang dilakukan tiap hari selama setengah tahun, ia sudah terbiasa dan pagi hari itu ia sudah mandi dan duduk di dalam kamarnya.
Tadi ia melamun dengan hati penasaran karena sejak berhenti latihan di depan guha Bu-beng-cu, ia menunggu-nunggu munculnya Thian-te Mo-ong, musuh besarnya yang dulu pernah berjanji akan mengunjunginya setiap tahun untuk membuat perhitungan. Ia ingat-ingat dan merasa yakin bahwa sekaranglah saatnya, setahun telah lewat sejak ia bertanding melawan Thian-te Mo-ong dan kalah. Karena kesal dan penasaran, Siang Lan kini duduk bersamadhi untuk menenangkan hati dan pikirannya. Jahanam sombong itu pasti akan muncul, demikian ia menghibur diri sendiri. Segera ia tenggelam ke dalam samadhinya.
Pada waktu itu seperti kebiasaan mereka setiap pagi sebelum melakukan pekerjaan sehari-hari membersihkan rumah, taman dan bekerja di kebun sayur dan buah-buahan, limapuluh orang anggauta Ban- hwa-pang asyik berlatih ilmu silat di pekarangan depan yang luas dari perkampungan mereka. Li Ai tidak ketinggalan. Gadis ini yang dahulunya seorang gadis yang lembut, ahli seni tari, musik, nyanyi, juga mengenal sastra, kini berpakaian ringkas dan ia berlatih silat pedang. Sepasang pedangnya menyambar- nyambar dan karena gerakannya halus indah saking terbiasa menari, maka gerakan silatnya seperti orang menari.
Para anggauta Ban-hwa-pang juga sibuk latihan sendiri, ada yang berlatih silat tangan kosong, atau dengan berbagai macam senjata. Mereka latihan dengan sungguh-sungguh dan ternyata tidak percuma Hwe-thian Mo-li menggembleng anggauta Ban-hwa-pang karena mereka itu rata-rata cukup gesit.
Tiba-tiba terdengar suara tawa parau dan aneh. Ketika Li Ai dan limapuluh orang lebih anggauta Ban-hwa- pang itu menghentikan gerakan mereka dan memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang laki-laki yang mukanya ditutupi sebuah topeng kayu. Yang tampak hanya empat buah lubang, dua lubang hidung dan dua lagi di atas untuk mata. Di balik dua lubang di atas itu tampak sinar mata yang mencorong. Karena kedok atau topeng itulah maka suara tawanya terdengar parau dan aneh.
“Ha-ha-ha! Ban-hwa-pang yang tersohor itu hanya memiliki para anggauta yang begini lemah dan ilmu silatnya rendah? Sungguh Hwe-thian Mo-li seorang ketua yang tidak becus mendidik, anak buahnya, ha-ha- ha!”
Tentu saja semua anak buah Ban-hwa-pang menjadi marah mendengar suara parau yang mengejek itu. Didahului oleh Li Ai mereka lalu berlari menghampiri dan mengepung orang bertopeng itu.
Li Ai menudingkan pedang kirinya ke arah muka bertopeng itu dan membentak, akan tetapi tetap saja suaranya terdengar lembut halus. “Orang asing yang tidak mengenal aturan! Siapakah engkau yang begini lancang memasuki perkampungan kami yang terlarang bagi kaum pria dan datang-datang menghina ketua kami?”
“Ha-ha-ha, kalian panggil Hwe-thian Mo-li ke sini menemui aku, ia akan mengenal siapa aku!” kata Si Topeng Kayu dengan nada suara sombong.
Akan tetapi Li Ai sudah dapat menduga bahwa orang ini pasti bukan seorang sahabat dan bukan orang baik-baik, maka ia berkata, suaranya lebih tegas. “Engkau sudah melakukan tiga pelanggaran. Pertama, engkau seorang pria berani masuk ke sini tanpa ijin. Kedua, engkau bersikap pengecut dengan menyembunyikan mukamu di balik topeng, dan ketiga, engkau telah bersikap dan bicara dengan kasar menghina ketua kami. Karena itu, kami minta engkau segera pergi meninggalkan perkampungan kami!”
“Hemm, Nona, kalian mau berbuat apa kalau aku tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Hwe-thian Mo- li?”
Hati Li Ai menjadi semakin panas karena nada suara orang bertopeng itu jelas mengandung ejekan dan tantangan! “Kalau engkau tidak mau pergi, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan untuk mengusirmu!”
“Ha-ha-ha, begitukah? Ingin aku melihat bagaimana kalian dapat mengusirku!” tantang Si Topeng Kayu.
Karena marah mendengar Siang Lan diejek, Li Ai lalu menggerakkan sepasang pedangnya, menyerang laki-laki bertopeng itu. Laki-laki itu adalah Thian-te Mo-ong dan melihat serangan gadis yang masih dangkal dan mentah ilmu silatnya ini, dia tertawa mengejek dan dengan mudah dia mengelak sehingga serangan sepasang pedang di tangan Li Ai tidak mengenai sasaran. Akan tetapi kini semua anak buah Ban-hwa-pang maju mengeroyoknya!
Thian-te Mo-ong masih tertawa-tawa dan tubuhnya berkelebatan ke sana-sini seperti bayangan iblis. Limapuluh orang anggauta Ban-hwa-pang itu terus mengejarnya sambil berteriak-teriak, seperti sekumpulan anak-anak hendak menangkap seekor burung yang amat gesit. Kalau saja laki-laki bertopeng itu menghendaki, dengan mudah dia tentu akan dapat merobohkan limapuluh orang lebih anggauta Ban-hwa- pang itu karena kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk dapat mengalahkan Thian-te Mo-ong. Akan tetapi agaknya orang bertopeng itu tidak mau mencelakakan mereka.
05.15. Belajar Lagi Sepuluh Tahun!
Bagaimanapun juga dia merasa kerepotan dikeroyok puluhan wanita muda. Dia merasa ngeri sendiri dan tiba-tiba bayangan tubuhnya melayang ke atas dan tahu-tahu dia telah berada di atas wuwungan rumah! Para anggauta Ban-hwa-pang hanya dapat mengacung-acungkan senjata ke arahnya tanpa dapat melakukan pengejaran.
“Ha-ha-ha-ha! Hayo siapa berani mengejar ke sini?” Thian-te Mo-ong tertawa menantang dengan suara mengejek.
Tiba-tiba terdengar teriakan melengking nyaring disusul berkelebatnya bayangan Hwe-thian Mo-li yang melayang keluar dari dalam rumah. Ia terkejut dan sadar dari samadhinya ketika terdengar teriakan-teriakan anak buahnya di luar.
Ketika ia mendengar tawa dan ejekan Thian-te Mo-ong, segera ia mengenal siapa yang bersuara parau dan aneh itu. Musuh besarnya telah datang! Maka sambil mengeluarkan teriakan melengking ia melompat keluar lalu memandang ke atas wuwungan rumah dengan wajah berubah merah dan sinar matanya mencorong penuh kemarahan dan kebencian.