Lembah Selaksa Bunga Chapter 23

NIC

“Hemm, Hwe-thian Mo-li, melihat kesungguhan hatimu, aku tidak keberatan untuk mengajarkan ilmu silat untuk memperdalam ilmumu. Akan tetapi aku baru mau mengajarmu kalau engkau dapat memenuhi syarat- syaratnya.”

“Aku akan melakukan apa pun yang menjadi syaratnya, Paman Bu-beng-cu!” kata Hwe-thian Mo-li dengan sungguh-sungguh karena baginya, tujuan utama sisa hidupnya hanya untuk membalas dendam dan membunuh Thian-te Mo-ong!

“Syarat pertama adalah bahwa aku tidak mau kausebut guru karena aku sejak dulu tidak berkeinginan mengambil murid. Sebut saja aku Bu-beng-cu, tanpa embel-embel Suhu, dan engkau tidak boleh memberitahukan siapa pun bahwa engkau muridku.”

05.13. Persyaratan Belajar Ilmu Silat

“AKAN kulaksanakan syarat itu, Paman, sungguhpun syaratmu ini aneh. Baik, aku akan selalu menyebutmu Paman Bu-beng-cu.”

“Syarat kedua, aku tidak mau tinggal di dalam perkampungan Ban-hwa-pang karena sebagai seorang laki- laki, tidak pantas tinggal di perkampungan wanita. Aku tinggal di dalam guha di lereng sebelah utara sana. Kalau engkau belajar ilmu, engkaulah yang harus datang ke sana setiap hari di waktu matahari mulai bersinar. Engkau akan kuberi pelajaran dan latihan sampai siang hari.”

“Baik, Paman. Syarat kedua ini pun akan kutaati dan kulaksanakan dengan baik.”

“Sekarang syarat ketiga dan terakhir, namun aku merasa sangsi apakah engkau akan dapat memenuhi syarat ini ataukah tidak.”

“Apakah syarat itu, Paman. Kedua syarat pertama amat mudah kulaksanakan dan betapa pun berat syarat yang terakhir, pasti akan kutaati dan kulaksankan!” kata Siang Lan penuh semangat karena hatinya merasa girang sekali bahwa laki-laki yang amat lihai ini sudah mau mengajarinya ilmu silat tinggi.

“Syarat terakhir ini harus kaujanjikan dengan sumpah.” “Baik, Paman! Aku akan bersumpah. Katakan apa syarat itu!”

“Syaratnya adalah, setelah engkau mempelajari ilmu-ilmu dariku, engkau harus bersumpah kelak tidak akan melakukan pembunuhan lagi. Selama hidupmu engkau tidak boleh lagi bersikap ganas dan kejam, mudah membunuh orang!”

Wajah Siang Lan berubah agak pucat alisnya berkerut dan mukanya muram. Ia segera teringat kepada Thian-te Mo-ong. Justeru ia ingin memperdalam ilmu silatnya agar kelak dapat membunuh musuh besar yang telah merusak kebahagiaan hidupnya! Biarlah ia selamanya tidak boleh membunuh orang, asalkan ia mencapatkan ilmu-ilmu untuk membunuh Thian-te Mo-ong!

“Paman, bagaimana kalau aku diserang orang dan terancam bahaya maut di tangan musuh itu?”

“Kalau terpaksa sekali untuk membela diri, tentu saja itu bukan merupakan kekejaman membunuh. Maksudku kalau masih ada jalan lain engkau sama sekali tidak boleh membunuh orang. Cukup dengan mengalahkan, merobohkan dan melukai ringan saja. Bagaimana, apakah engkau sanggup? Kalau sanggup, bersumpahlah sekarang juga!”

Karena merasa tersudut, Siang Lan lalu nekat. Ia berlutut dan mengucapkan sumpahnya. “Aku bersumpah untuk tidak membunuh orang lagi kecuali membela diri karena terancam bahaya. Sumpah ini berlaku untuk semua orang di dunia, kecuali satu orang, yaitu Thian-te Mo-ong. Aku bersumpah untuk membunuhnya karena membalas sakit hati dan membunuhnya merupakan satu-satunya keinginanku dalam hidup ini!”

Mendengar sumpah itu, Bu-beng-cu memandang dengan wajah pucat, alisnya berkerut, matanya tampak gelisah dan dia menghela napas panjang. “Hwe-thian Mo-li, agaknya engkau tidak dapat mengampuni musuhmu yang satu itu ”

“Mengampuninya? Hemm, mau rasanya aku membunuhnya sampai seribu kali untuk menebus dosanya terhadap diriku! Aku menggunakan sisa hidupku ini hanya untuk membalas dendam kepadanya, Paman. Apa pun akan kujalani untuk dapat berhasil membunuhnya!”

“Baiklah, Hwe-thian Mo-li. Harap engkau memegang sumpahmu, yaitu tidak akan membunuh siapa-siapa lagi kecuali musuh besarmu yang satu itu.” Dia menghela napas lagi.

Memang sejak terjadi peristiwa jahanam di malam itu, dia sudah mengambil keputusan. Untuk menebus dosanya, dia harus mati di tangan gadis ini. Akan tetapi sebagai seorang gagah, baik dia sendiri maupun Hwe-thian Mo-li, kematiannya harus terjadi sewajarnya, yaitu dalam perkelahian. Dan dia sendiri yang akan melatih gadis ini agar tingkat kepandaiannya cukup kuat untuk mengalahkan dan membunuhnya!

Dengan cara ini, bukan saja dia dapat menebus dosanya, juga dia dapat membuat Hwe-thian Mo-li tidak putus asa dan memiliki semangat untuk terus hidup dan berjuang. Selain itu, dia juga dapat mengubah sifat gadis yang tadinya liar dan ganas, mudah membunuh orang itu dengan ikatan sumpahnya. Dengan mengorbankan dirinya kelak, dia dapat membuat banyak kebaikan, bagi dirinya sendiri, bagi Hwe-thian Mo- li, juga bagi rakyat karena mereka kini terbebas dari ancaman maut di tangan Si Iblis Betina Terbang ini.

“Sekarang aku hendak kembali ke guhaku. Mulai besok pagi, setelah matahari tampak bersinar, datanglah ke sana dan kita mulai latihan.”

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Siang Lan, sekali berkelebat Bu-beng-cu telah lenyap dari situ. Melihat gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang demikian hebatnya, Siang Lan merasa kagum dan juga girang sekali. Ia tahu bahwa dalam hal gin-kang ia masih kalah jauh.

Siang Lan kembali ke dalam perkampungan, terus memasuki rumahnya dan ia mendapatkan Li Ai tengah menangis tanpa suara sambil membenamkan muka pada bantal...... Melihat kedua pundaknya yang tergoyang-goyang itu Siang Lan tahu bahwa gadis itu sedang menangis.

Ia duduk di tepi pembaringan dan menyentuh pundak Li Ai. “Li Ai, hentikan tangismu. Tiada gunanya menangis. Engkau masih beruntung tidak jadi berjodoh dengan pemuda macam itu.”

Li Ai bangkit dan merangkul Siang Lan, kini tangisnya mengguguk. “Enci Lan ahh, kenapa aku tidak mati

saja ??” rintihnya memelas.

Siang Lan dapat merasakan kepedihan di hati Li Ai, maka teringat akan keadaan dirinya sendiri, tak terasa lagi ia pun balas merangkul dan sepasang matanya basah.

“Tenang, dan sabarlah, Li Ai, jangan putus asa. Engkau tidak menderita seorang diri. Aku pun pernah ingin mati saja seperti engkau sekarang ini, aku pun pernah menjadi korban kebiadaban laki-laki.” Li Ai tiba-tiba menghentikan tangisnya saking terkejut dan heran mendengar ucapan Siang Lan itu. “Kau......? Maksudmu engkau juga pernah diperkosa orang, Enci?”

Siang Lan mengangguk dan menghela napas panjang. “Benar, Li Ai. Dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak, aku telah diperkosa seorang manusia iblis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.”

“Akan tetapi, engkau begini lihai, bagaimana sampai dapat terjadi hal itu?”

“Aku tertotok, dan orang itu memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dariku. Tadinya aku pun sudah putus asa dan ingin bunuh diri saja. Akan tetapi aku teringat bahwa aku tidak boleh mati sebelum membalas dendam, sebelum membunuh musuh besarku itu! Bangkit kembali semangatku dan aku harus memperdalam ilmuku sehingga dapat mengalahkan musuh besarku.”

“Aih, Enci, sungguh tidak pernah kusangka bahwa engkau pun pernah mengalami malapetaka seperti aku. Siapakah musuh besarmu itu, Enci?”

“Dia seorang pengecut benar, tidak berani memperlihatkan wajahnya yang selalu mengenakan sebuah topeng kayu dan dia mengaku berjuluk Thian-te Mo-ong. Belum pernah aku mendengar nama julukan itu di dunia kang-ouw. Aku tidak dapat mencarinya karena dia tidak mau memberitahukan di mana tempat tinggalnya. Akan tetapi dia berjanji dengan penuh kesombongan bahwa setiap tahun dia akan datang mencariku untuk mengadu ilmu.

Posting Komentar