Lembah Selaksa Bunga Chapter 22

NIC

Mendengar perintah Bong Kongcu, selosin orang pengawal tukang pukul itu serentak maju mengepung Siang Lan. Mereka tadi memang sudah mendongkol karena tidak diperbolehkan memasuki perkampungan itu. Kini melihat majikan mereka disakiti dan mereka menerima perintah untuk membalaskan, kemarahan mereka ditumpahkan kepada gadis yang memaki dan mengusir Bong Kongcu. Akan tetapi karena yang mereka hadapi itu seorang gadis cantik, mereka kini berlumba untuk meringkusnya agar dapat mereka serahkan kepada Bong Kongcu, biar majikan mereka itu sendiri yang menghukumnya.

Melihat betapa selosin orang itu mengepungnya lalu menjulurkan tangan seolah hendak berlumba menangkapnya, Siang Lan menjadi marah sekali. Tubuhnya berkelebat, kedua tangannya menampar- nampar dan kedua kakinya menendang-nendang. Akibatnya, selosin orang itu mengaduh dan tubuh mereka berpelantingan disambar tamparan atau tendangan. Dua belas orang tukang pukul itu terkejut bukan main, akan tetapi juga marah dan penasaran sekali. Sambil meringis kesakitan mereka bangkit dan mencabut senjata golok mereka. Pada saat itu, belasan orang wanita anggauta Ban-hwa-pang keluar dari pintu gerbang dengan senjata di tangan. Mereka adalah tiga regu yang bersenjata tombak, golok, dan pedang masing-masing lima orang.

Agaknya mereka hendak maju menghadapi selosin tukang pukul yang sudah mencabut golok mereka itu. Akan tetapi Siang Lan yang tahu benar bahwa para anggautanya belum pandai dan kuat benar, tidak ingin melihat mereka terluka. Maka ia dengan nyaring berseru.

“Kalian diam dan lihat saja betapa aku menghajar anjing-anjing jantan ini!”

Mendengar seruan ini, tentu saja limabelas orang anggauta Ban-hwa-pang itu tidak berani membantah dan mereka lalu berdiri di luar pintu gerbang dengan tertib.

Siang Lan yang sudah menjadi marah sekali mengingat akan nasib Li Ai yang ditolak dan dipermalukan Bong Kin, melihat betapa duabelas orang anak buah pemuda hartawan itu mengepungnya dengan golok di tangan, ia cepat mencabut Lui-kong-kiam yang mengeluarkan sinar kilat mengerikan. Akan tetapi sebelum ia bergerak, pada saat itu ia mendengar suara berbisik.

“Hwe-thian Mo-li, tidak baik membunuhi mereka yang hanya melakukan perintah majikan mereka!”

Siang Lan terkejut. Suara itu berbisik dekat sekali dengan telinga kirinya. Ia cepat menengok ke kiri namun tidak tampak ada orang yang berbisik itu!

Melihat gadis yang sudah mgncabut pedang itu kini tampak seperti bimbang atau bingung, duabelas orang tukang pukul mengira bahwa ia merasa jerih menghadapi mereka. Hal ini membesarkan hati mereka dan sambil berteriak-teriak mereka pun langsung menyerang dari sekeliling Siang Lan. Belasan golok itu menyambar-nyambar ke arah seluruh tubuh Siang Lan sehingga limabelas orang anak buah Ban-hwa-pang yang menonton merasa ngeri karena bagaimana mungkin ketua mereka dapat lobos dari serangan duabelas batang golok itu?

Akan tetapi, tentu saja bagi Siang Lan, serangan selosin batang golok itu bukan merupakan bahaya karena ia melihat betapa golok-golok itu digerakkan oleh tenaga kasar yang hanya mengandalkan otot. Ia segera memutar pedangnya dengan putaran yang luar biasa cepatnya sehingga yang tampak hanya sinar kilat bergulung-gulung menyelimuti tubuh Siang Lan.

Segera terdengar bunyi berdencingan ketika golok-golok yang menyerang itu, bertemu dengan sinar kilat, disusul teriakan mereka yang tiba-tiba kehilangan golok mereka yang patah-patah dan terpental lepas dari tangan mereka. Hwe-thian Mo-li sudah menggerakkan pedang dan kalau saja pada saat itu tidak terdengar lagi bisikan. “Jangan bunuh!?' tentu pedangnya sudah membuat buntung leher selosin orang pengeroyok itu.

Entah mengapa, suara bisikan itu amat berwibawa baginya dan Siang Lan menahan serangan pedangnya, kemudian hanya menggerakkan tangan kiri dan kaki berulang-ulang. Untuk kedua kalinya, kini lebih kuat lagi, mereka terpelanting roboh disambar tamparan atau tendangan!

Duabelas orang itu kini kehilangan nyali mereka. Selain tamparan atau tendangan yang mereka terima untuk kedua kalinya ini membuat mereka patah tulang atau bengkak-bengkak, juga mereka kini baru menyadari benar bahwa mereka berhadapan dengan seorang wanita yang amat lihai. Mereka lalu teringat akan kabar bahwa Ban-hwa-pang telah terbasmi dan dikuasai oleh seorang wanita lihai yang berjuluk Hwe- thian Mo-li. Tentu inilah orangnya!

Kini Siang Lan dengan pedang di tangan menghampiri Bong Kongcu yang berdiri dengan wajah pucat. Pemuda ini maklum bahwa nyawanya terancam maut, akan tetapi dia tidak takut.

“Hwe-thian Mo-li, engkau mengandalkan kepandaian silatmu untuk menghina kami yang datang sebagai tamu!”

“]ahanam Bong! Engkau masih berani mengeluarkan ucapan menyalahkan aku? Engkau yang telah menghina Li Ai dan engkau yang harus minta ampun, atau aku akan memenggal batang lehermu!”

“Aku tidak bersalah apa-apa!”

“Tidak mengaku salah? Engkau telah menghina Li Ai!” “Siapa menghina? Aku tetap mencintanya dan mau membawanya ke rumahku sebagai selir tersayang. Aku tidak dapat memperisterinya karena keadaannya. Aku tidak menghinanya, akan tetapi engkau yang telah menghinaku, memukul aku dan orang-orangku. Engkau sewenang-wenang hwe-thian Mo-li!”

“Jahanam busuk!” Siang Lan marah sekali dan ia mengangkat pedangnya untuk membacokkan ke leher pemuda hartawan itu.

Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang laki-laki telah berdiri di dekat Siang Lan dan dia menahan lengan Siang Lan yang memegang pedang sehingga gadis itu tidak dapat membacokkan pedangnya ke arah leher Bong Kongcu. Siang Lan terkejut sekali dan diam-diam ada perasaan girang dan juga penasaran ketika mengenal bahwa laki-laki itu adalah orang yang telah menolong ia dan Li Ai ketika dikeroyok orang-orang Pek-lian-kauw!

Ia merasa girang karena memang ia ingin berguru kepada orang ini, dan ia merasa penasaran karena orang itu kini menahan lengannya yang hendak membunuh Bong Kongcu. Ia mengerahkan tenaga saktinya dan menggerakkan lagi lengan kanannya, akan tetapi tetap saja ia tidak mampu membacokkan pedangnya karena tangan kiri orang yang menahan lengannya itu kuat bukan main!

Siang Lan adalah seorang gadis yang tidak pernah takut menghadapi siapapun juga. Kini ia merasa amat penasaran dan marah. Tangan kirinya lalu bergerak mendorong ke arah dada laki-laki yang menghalangi niatnya membunuh Bong Kin.

“Wuut plakk!” Telapak tangannya bertemu dada orang itu dan menempel, akan tetapi yang didorongnya

itu sama sekali tidak terdorong dan ia bahkan merasakan betapa telapak tangan kirinya menjadi panas seperti dibakar!

“Tidak perlu membunuh, dia tidak cukup pantas untuk dibunuh!” kata laki-laki itu dan kini dia melepaskan tangannya dari lengan Siang Lan, lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Bong Kin.

“Engkau pemuda yang tidak menghargai wanita, memandang rendah wanita yang tidak berdaya. Pergilah dan bawa semua anak buahmu dari sini!”

Orang itu mendorong dari jarak jauh dan tubuh Bong Kin melayang bagaikan sehelai daun kering tertiup angin, lalu terbanting jatuh terguling-guling. Beberapa orang anak buahnya yang tidak begitu parah segera menolong dan memapahnya, lalu mereka semua meninggalkan tempat itu dengan terpincang-pincang dan saling menolong untuk naik menunggangi kuda mereka.

Kini Siang Lan berhadapan dengan laki-laki itu yang bukan lain adalah Sie Bun Liong. Semenjak terjadi peristiwa di Ban-hwa-pang, yaitu setelah di luar kesadarannya dia memperkosa Hwe-thian Mo-li, Sie Bun Liong yang merasa berdosa dan amat menyesal itu tidak pernah meninggalkan Hwe-thian Mo-li. Mula-mula dia menggunakan topeng, mengaku bernama Thian-te Mo-ong, memberi semangat hidup kepada gadis itu agar tetap hidup dan memperdalam ilmunya sehingga kelak dapat membalas dendam dan membunuh Thian-te Mo-ong yang mengaku sebagai pelaku pemerkosaan itu.

Kemudian, Sie Bun Liong tidak pernah meninggalkan Hwe-thian Mo-li, selalu membayanginya dan dia selalu menolong kalau gadis itu terancam bahaya. Sekarang pun dia muncul, bukan untuk melindunginya, melainkan untuk mencegah gadis itu melakukan pembunuhan dengan kejam.

“Kenapa engkau dulu menolong aku dari pengeroyokan orang-orang Pek-lian-kauw? Bukankah engkau pula yang dulu mengobatiku ketika aku pingsan?”

Sie Bun Liong menjawab tenang. “Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menolong sesamanya yang terancam bahaya dan menderita kesusahan.”

“Akan tetapi mengapa engkau sekarang menentangku dan menghalangi aku membunuh pemuda Bong yang berengsek bersama anak buahnya itu?” “Yang kutentang adalah kekejamanmu akan membunuh orang-orang yang sudah tidak berdaya, dan sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk mengingatkan sesamanya yang tersesat.”

Siang Lan merasa heran terhadap dirinya sendiri mengapa ia tidak menjadi marah dan tidak merasa benci terhadap orang yang telah menghalangi niatnya membunuh Bong Kongcu dan anak buahnya tadi. Mungkin karena aku mengharapkan dia akan membantunya memperdalam ilmu silatku, pikirnya menghibur diri sendiri.

“Aku telah berhutang budi kepadamu, Paman. Bolehkah aku mengetahui namamu?” tanya Siang Lan. Sie Bun Liong tersenyum mendengar gadis itu menyebutnya paman. Memang sudah sepatutnya kalau dia menjadi paman gadis itu. Usianya sudah empatpuluh dua tahun sedangkan Hwee-thian Mo-li yang liar dan ganas itu paling banyak berusia duapuluh dua atau duapuluh satu tahun!

“Tentu saja boleh, Nona. Namaku sendiri aku sudah lupa karena tidak kupergunakan lagi. Maka engkau boleh mengenalku sebagai Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama).”

“Paman Bu-beng-cu, aku adalah Hwe-thian Mo-li, ketua dari Ban-hwa-pang. Karena Paman sudah berkali- kali menolongku, maka kupersilakan Paman memasuki perkampungan kami karena aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Silakan, Paman.”

Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nona. Ban-hwa-pang kini merupakan perkumpulan wanita, bagaimana aku boleh memasukinya? Kalau engkau mempunyai kepentingan untuk dibicarakan denganku, kita dapat bicara di sini saja.”

Siang Lan menoleh kepada belasan orang anak buah Ban-hwa-pang yang masih berdiri di depan pintu gerbang dan memberi isyarat kepada mereka agar masuk kembali ke dalam perkampungan Ban-hwa-pang. Setelah mereka semua masuk, ia menghadapi lagi Bu-beng-cu dan berkata sambil menatap wajah laki-laki itu.

“Begini, Paman Bu-beng-cu. Aku telah melihat ilmu kepandaian silat Paman yang amat tinggi. Karena itu, sejak Paman membantuku, telah timbul niat dalam hatiku untuk dapat belajar ilmu silat darimu. Demikianlah, Paman, aku ingin berguru padamu jika Paman tidak berkeberatan.”

Bu-beng-cu mengangguk-angguk. “Hwe-thian Mo-li, engkau adalah seorang wanita yang telah memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi dan kukira jarang ada musuh yang dapat mengalahkanmu. Kenapa engkau masih hendak belajar silat lagi?”

“Paman Bu-beng-cu, aku harus memperdalam ilmu silatku karena aku mempunyai seorang musuh besar yang tinggi sekali ilmu silatnya. Tanpa memperdalam ilmuku, tak mungkin aku dapat membalas dendam terhadap musuh besarku itu. Karena itu, Paman, janganlah kepalang menolongku. Terimalah aku sebagai muridmu dan aku selamanya akan merasa berterima kasih sekali kepadamu!”

Posting Komentar