“Aku merasa senang bahwa Bong Kongcu benar-benar datang berkunjung, hal ini bagiku merupakan bukti akan kesungguhan hati Kongcu. Sekarang, aku memberi kesempatan kepada Adik Kui Li Ai dan Bong Kongcu untuk membicarakan urusan kalian berdua.” Setelah berkata demikian, Hwe-thian Mo-li bangkit berdiri dan hendak meninggalkan ruangan tamu itu menuju ke dalam.
“Enci......!” Li Ai berseru menahan karena gadis ini merasa malu dan juga takut untuk menceritakan apa yang telah menimpa dirinya seperti yang telah ia sepakati dengan Hwe-thian Mo-li bahwa ia akan berterus terang kepada pemuda itu untuk menguji ketulusan cintanya.
“Li Ai, inilah kesempatan baik bagimu. Jangan sungkan dan malu, di tanganmu sendirilah terletak nasibmu di kemudian hari.”
Setelah berkata demikian dengan cepat Hwe-thian Mo-li meninggalkan ruangan itu, menuju ke ruangan dalam di mana ia termenung dan duduk seorang diri. Gambaran topeng kayu yang menyeramkan itu selalu terbayang di depan matanya dan terkadang tampak bayangan wajah laki-laki setengah tua sederhana dan gagah yang juga penuh rahasia itu, yang telah menolongnya dan yang ingin dia temukan kembali karena ia mempunyai keinginan untuk berguru kepada penolong yang amat lihai itu.
Setelah Hwe-thian Mo-li meninggalkan ruangan tamu, suasana di situ menjadi hening sekali. Li Ai masih menundukkan mukanya, tidak berani ia bertemu pandang dengan pemuda yang duduk di depannya, padahal pemuda ini dulu pernah menjadi kenalan baiknya dan mereka sudah sering beramah tamah dan bercakap-cakap.
Bong Kongcu yang tidak dapat menahan hatinya lagi untuk berdiam diri. “Kui Siocia (Nona Kui), benarkah apa yang kudengar dari Hwe-thian Mo-li?”
Terpaksa Li Ai mengangkat mukanya dan baru pertama kali ini sejak pemuda itu datang ia bertemu pandang yang membuat kedua pipinya berubah merah. Ia melihat betapa sinar mata pemuda itu masih seperti dulu, masih jelas membayangkan rasa kagum dan cinta kepadanya! Hanya sebentar saja sinar mata gadis itu bertemu pandang. Ia segera menundukkan pandang matanya dan bertanya lirih.
“Mendengar apakah Bong Kongcu maksudkan?”
Tentu saja ia sudah mendengar dari Siang Lan tentang pertemuan Hwe-thian Mo-li dengan pemuda itu. Akan tetapi ia tidak ingin mendahului percakapan tentang urusan perjodohan itu.
“Siocia, aku mendengar keterangan dari Hwe-thian Mo-li bahwa engkau sekarang berada di sini, tinggal bersamanya. Aku merasa amat terharu dan iba melihat nasibmu kehilangan Ayahmu dan aku mendengar dari Hwe-thian Mo-li bahwa...... bahwa sekarang engkau...... bersedia menerima...... cintaku, dan engkau akan setuju kalau aku meminangmu untuk menjadi isteriku. Bagaimana, Kui Siocia benarkah apa yang kudengar dari Hwe-thian Mo-li itu?”
Setelah mendengar ucapan Bong kongcu itu, rasa sungkan dan malu mulai meninggalkan perasaan Li Ai dan kini ia mengangkat mukanya, memandang wajah pemuda itu penuh selidik karena ia ingin sekali mendapat kepastian apakah benar-benar pemuda hartawan ini mencintanya. 04.12. Penghinaan Terhadap Gadis Muda
“Kongcu, apakah benar dan dapat kupercaya ucapanmu bahwa engkau mencintaku?”
“Aih, Siocia perlukah engkau tanya lagi hal ini? Sejak dulu aku mencintamu, sudah kunyatakan berulang
kali. Sampai saat ini aku tetap mencintamu, dinda Li Ai...... aku berani bersumpah bahwa hanya engkau yang kuinginkan menjadi isteriku. Dinda Li Ai, engkau sih belum menjawab. Benarkah keterangan Hwe-thian Mo-li bahwa engkau bersedia menerima cintaku dan akan menyetujui kalau keluargaku datang meminangmu untuk menjadi isteriku?”
Li Ai mengangguk. “Benar, akan tetapi sebelum engkau mengambil keputusan, lebih dulu aku ingin melihat apakah cintamu itu murni, Bong Kongcu.”
“Eh? Apa maksudmu?”
Kini dengan sinar mata tajam penuh selidik Li Ai menatap wajah pemuda dan tanpa dihantui rasa malu dan khawatir lagi ia lalu berkata, “Ketahuilah, Bong Kongcu, bahwa ketika aku diculik oleh orang-orang Pek-lian- kauw, aku telah dinodai oleh dua orang pendeta Pek-lian-kauw.”
Sepasang mata pemuda itu terbelalak, seolah tidak percaya atau tidak mengerti apa yang dimaksudkan Li Ai.
“Kau...... di...... dinodai ?” tanyanya gagap.
“Benar, Kongcu. Dua orang tosu Pek-lian-kauw telah memperkosa aku ”
“Keparat jahanam. !!” Wajah pemuda itu menjadi pucat sekali lalu berubah merah dan dia bangkit berdiri
sambil mengepal tinju dengan marah sekali.
“Tenanglah, Kongcu. Dua orang keparat jahanam itu telah dibunuh oleh Enci Hwe-thian Mo-li.”
“Tenang......? Bagaimana aku bisa tenang? Keperawananmu direnggut orang-orang jahat, engkau diperkosa....., engkau bukan perawan lagi. Ahhh !” Pemuda itu menjatuhkan diri di atas kursi dan tampak
lemas, menundukkan muka dan menopang kepalanya dengan kedua tangan.
Li Ai hanya memandang dan keduanya berdiam diri, tenggelam ke dalam suasana yang amat tidak mengenakkan hati. Berulang-ulang pemuda itu menghela napas panjang dan dari kerongkonganya terdengar suara gerengan lirih seperti mengerang atau merintih.
Li Ai mulai tidak sabar melihat pemuda itu hanya berdiam diri saja sambil mengerang dengan wajah muram. Lenyaplah semua sinar kegembiraan yang tadi tampak pada sikap dan wajah Bong kongcu. Maka ia lalu bertanya.
“Bagaimana sekarang, Bong Kongcu? Apakah engkau masih mencintaku dan ingin meminangku sebagai isterimu?”
Sampai beberapa saat lamanya Bong kongcu tidak dapat menjawab, hanya mengangkat muka menatap wajah Li Ai dengan muka pucat dan sinar mata muram. Akhirnya dia berkata.
“Tentu, aku tetap mencintamu, Li Ai, marilah engkau ikut denganku ke kota raja dan menjadi selirku yang tersayang ”
“Apa......? Selir ?”
Bong Kongcu menghela napas panjang. “Benar, Li Ai, menjadi selirku. Aku tetap mencintamu, akan tetapi untuk meminangmu menjadi isteriku...... bagaimana mungkin setelah...... setelah engkau ”
“Tidak sudi!” Li Ai berseru lalu berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan Bong Kongcu sambil menutupi muka dengan tangan dan menahan suara tangisnya.
Bong Kongcu bangkit mengejar, “Li Ai !”
Akan tetapi tiba-tiba Hwe-thian Mo-li muncul di pintu sehingga pemuda itu mundur kembali.
“Orang she Bong! Engkau telah menghina adikku Kui Li Ai! Engkau memandang rendah Adikku! Engkau bilang hendak datang meminang ia sebagai isterimu, ternyata engkau menghinanya dengan mengatakan hendak mengambilnya menjadi selirmu! Engkau pemuda berengsek, sombong dan cintamu palsu! Engkau bilang mencinta akan tetapi merendahkan dan menghinanya!”
“Nona, aku tidak berbohong, aku memang mencintanya. Akan tetapi bagaimana mungkin ia menjadi isteriku? Ia sudah bukan perawan lagi, hal ini tentu akan mencemarkan nama dan kehormatanku!”
“Omong kosong! Engkau tidak mencinta Li Ai, tidak mencinta orangnya! Yang kaucinta hanya keperawanannya! Engkau munafik, berlagak terhormat akan tetapi sebetulnya engkau rendah dan hina. Engkau kotor berlagak bersih! Engkau menganggap Li Ai yang kehilangan keperawanannya karena dipaksa dan diperkosa orang sebagai hal yang kotor! Dan engkau sendiri bagaimana? Apakah engkau berani mengatakan bahwa engkau tidak kehilangan keperjakaanmu? Engkau menggauli wanita-wanita dengan sadar dan kausengaja, dan engkau masih menganggap dirimu bersih dan terhormat! Munafik berengsek!”
“Nona, engkau sungguh tidak adil! Aku sama sekali tidak menyalahkan Li Ai karena ia diperkosa dan tidak berdaya. Akan tetapi jelas aku tidak mungkin mengambilnya sebagai isteriku. Ah, kalau saja ia tidak menceritakan tentang perkosaan itu kepadaku, tentu ia akan kupinang sebagai isteriku ”
“Bohong! Aku mengenal laki-laki macam kamu ini! Kalau ia tidak menceritakan dan kemudian engkau mengetahui hal itu, pasti engkau akan menceraikannya karena ia tidak berterus terang, engkau tentu akan mengatakan ia berbohong dan menipumu. Engkau akan makin menghinanya! Jahanam busuk macam engkau ini patut dihajar!”
“Hwe-thian Mo-li, engkau sungguh keterlaluan!” teriak Bong Kongcu dengan marah.
“Keterlaluan? Huh, kau manusia kotor bersembunyi di balik hartamu. Kaukira harta dan keadaanmu yang terhormat itu dapat menutupi kekotoranmu? Harta, kedudukan, kepandaian, hanya pakaian saja. Kalau dikenakan orang yang memang kotor, tetap saja tampak kekotorannya yang menjijikkan! Pergi kau, sebelum aku kehilangan kesabaran dan kuajar engkau!”
“Hwe-thian Mo-li, aku akan mengerahkan orang-orangku untuk menghukummu karena engkau berani menghinaku!” teriak Bong Kongcu.
“Wuut...... plak-plak !”
“Aduhh !! Bong Kin terhuyung ke belakang. Ke dua tangannya menutupi ke dua pipinya yang bengkak-
bengkak dan darah mengalir dari ke dua ujung bibirnya yang pecah-pecah. Dia lalu berlari keluar, diikuti Hwe-thian Mo-li yang marah-marah.
“Pergi, kau anjing Bong!” bentaknya sambil mendorong-dorong punggung Bong Kin sehingga terhuyung- huyung menuju ke pintu gerbang perkampungan Ban-hwa-pang.
Setelah keluar dari pintu gerbang, duabelas orang pengawal segera menyambut dan mereka merasa kaget dan heran melihat Bong Kongcu keluar terhuyung-huyung, mukanya bengkak-bengkak dan kedua ujung mulutnya berlepotan darah. Mereka juga melihat betapa seorang gadis cantik dengan mata mencorong muncul dan memaki Bong Kongcu, mengusirnya.
“Pergi kamu, jahanam busuk!”
Melihat selosin orang pengawalnya, bangkit semangat Bong Kongcu. Dia bukan seorang pemuda hartawan yang biasa bertindak sewenang-wenang. Akan tetapi baru saja dia dihina dan ditampar Hwe-thian Mo-li padahal dia tidak merasa bersalah. Maka tentu saja hatinya menjadi panas dan sakit. Kini dia berkata kepada para pengawalnya.
“Perempuan itu telah menghina dan memukulku. Kalian balaskan sakit hatiku ini!”