Kisah si Bangau Putih Chapter 43

NIC

Ia juga cantik manis, dengan tahi lalat kecil di dagunya yang meruncing, menambah manis. Akan tetapi, wataknya sungguh jauh berbeda dengan Suma Lian. Kalau Suma Lian seorang gadis lincah, jenaka gembira yang kadang-kadang ugal-ugalan, Dengan pakaian yang nyentrik dan seenaknya, sebaliknya Pouw Li Sian adalah seorang gadis yang cantik dan halus gerak-geriknya, sopan santun tutur katanya, dan biarpun pakaiannya juga sederhana dan tambal-tambalan seperti pakaian gurunya dan pakaian Suma Lian, namun potongan pakaian itu rapi dan sopan. Di dalam kisah SULING NAGA sudah diceritakan betapa Pouw Li Sian ini adalah seorang keturunan bangsawan tinggi. Mendiang ayahnya adalah seorang menteri, seorang bangsawan tinggi yang berjiwa satria. Ketika Pouw Tong Ki, demikian nama menteri itu, masih duduk sebagai Menteri Pendapatan, dia bentrok dengan pembesar tinggi Hou Seng,

Thaikam (orang kebiri) yang menjadi kekasih kaisar karenanya mempunyai kedudukan yang amat tinggi dan kekuasaan yang tak terbatas. Dalam bentrokan inilah Pouw Tong Ki kena fitnah dan bahkan terbunuh oleh kaki tangan Hou Seng yang bersekutu dengan datuk-datuk sesat dari golongan hitam. Seluruh keluarganya terbasmi dan ditangkap sebagai pemberontak karena difitnah, kecuali Pouw Li Sian, puteri menteri itu yang dapat diselamatkan oleh Bu Beng Lokai. Ketika peristiwa itu terjadi, Pouw Li Sian baru berusia dua belas tahun dan bersama Suma Lian ia lalu diajak pergi oleh Bu Beng Lokai sebagai muridnya. Kini Li Sian telah berusia dua puluh tahun, dan selama delapan tahun itu ia ikut bersama gurunya dan sucinya (kakak seperguruannya), merantau dan hidup menempuh kesulitan dan kekerasan, kekurangan dan akhirnya, dua tahun yang lalu, gurunya menetap di dalam hutan di lereng bukit Pegunungan Cin-ling-San itu.

Li Sian, seperti juga Suma Lian, amat sayang kepada gurunya, karena selain sebagai penyelamat dirinya, juga Bu Beng Lokai merupakan satu-satunya orang yang melindungi dan menyayangnya. Seperti juga Suma Lian ia tidak menyebut suhu (guru) kepada Bu Beng Lokai, melainkan kong-kong (kakek) dan hal ini diterima dengan senang oleh kakek itu karena dia merasa seolah-olah puteri menteri itu adalah seorang cucunya sendiri, seperti Suma Lian. Dan hubungan antara Suma Lian dan Pouw Li Sian juga akrab sekali karena mereka hidup berdua di bawah asuhan kakek sakti itu sehingga mereka seolah-olah kakak beradik saja. Ketika melihat kakek itu makin lemah karena usia yang tua, sudah mendekati seratus tahun, nampak semakin malas dan lebih sering bersamadhi atau tidur, mulailah kedua orang kakak beradik seperguruan itu merasa khawatir.

Akhirnya kakek itu pun harus mengalah dan mengakui keunggulan sang waktu. Segala sesuatu di dunia ini akan berakhir, akan lenyap ditelan waktu sedikit demi sedikit. Demikian pula kehidupan manusia. Sang waktu, melalui usia akan menelan manusia sedikit demi sedikit, tanpa terasa manusia mendapatkan dirinya semakin tua, makin dekat dengan saat akhir di mana dia harus mengakui kelemahan dirinya, mengakui betapa kehidupan ini tidaklah abadi, dan kematian akan menjemputnya dan mengakhiri segala perjalanan hidupnya. Ketika kakek itu lebih banyak berbaring dengan lemah, dan seringkali dalam tidur mengigau memanggil-manggil nama kedua anak kembarnya, Suma Lian lalu memberanikan diri mengajukan usul kepada kong-kongnya, setelah berunding dengan sumoinya, Li Sian.

"Kong-kong, bagaimana kalau aku pergi ke Beng-san dan menemui kedua orang paman Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, memberitahu mereka bahwa Kong-kong berada di sini dan mengajak mereka datang ke sini?"

Demikian usulnya sambil duduk di tepi pembaringan kakek itu, sementara itu Li Sian memijati kaki gurunya.

Kakek itu membuka matanya dan sejenak sepasang mata itu mengeluarkan sinar, akan tetapi menjadi redup kembali, kemudian dia menghela napas panjang dan terdengar kata-katanya, seperti kepada diri sendiri, hanya lirih saja.

"Ahhh, mereka tidak akan mau datang menengokku, mereka"., Mereka", telah melupakan ayah mereka...."

Melihat, sikap kong-kongnya ini, Suma Lian lalu berunding dengan sumoinya dan Pouw Li Sian juga merasa setuju untuk mengundang putera kembar guru mereka itu. Akhirnya diputuskan bahwa Suma Lian yang akan pergi mengabarkan kepada Beng-san Siang-eng, sedangkan Pouw Li Sian tinggal di rumah untuk menjaga dan melayani semua keperluan gurunya. Setelah Suma Lian pergi dan pada suatu pagi Bu Beng Lokai menanyakan kepada Li Sian ke mana perginya sucinya itu, Li Sian berterus terang mengatakan bahwa sucinya itu pergi ke Beng-san untuk mengundang Beng-san Siang-eng.

Wajah kakek itu nampak berseri dan sinar matanya penuh harap sehingga diam-diam Li Sian merasa terharu dan bersyukur bahwa sucinya mempunyai pendapat yang amat baik untuk mengundang kedua orang pendekar kembar itu. Beberapa hari kemudian, Li Sian duduk di depan pondok bersama gurunya. Kakek Bu Beng Lokai nampak agak segar pagi itu, dan begitu merasa tubuhnya sehat, dia pun duduk di depan pondok untuk membiarkan sinar matahari pagi memandikan dirinya. Li Sian sudah selesai berlatih dan mencuci pakaian dan kini ia menemani kakek itu duduk di luar pondok. Kakek itu sudah sarapan bubur yang tadi dipersiapkan Li Sian dan gadis itu duduk di atas sebuah bangku kecil, di sebelah kanan gurunya yang membuka baju atas membiarkan sinar matahari menghangatkan dadanya.

"Saya girang sekali, pagi ini Kong-kong nampak sehat sekali."

Kata Li Sian sambil memandang kakek itu dengan sinar mata penuh hormat dan sayang. Bu Beng Lokai memandang muridnya itu dan tersenyum.

"Li Sian, aku sudah lama tidak melihat engkau berlatih. Sekarang cobalah engkau mainkan Lo-thian Sin-kun, aku ingin sekali melihat sampai di mana kemajuanmu."

"Baik, Kong-kong,"

Kata Li Sian dan gadis ini bangkit berdiri lalu meloncat ke tengah pekarangan depan rumah itu, di dekat taman bunga yang dirawatnya dengan baik bersama sucinya. Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun dan Lo-thian Kiam-sut memang merupakan ilmu silat tinggi yang telah disempurnakan oleh kakek itu dan merupakan inti daripada ilmu-ilmu yang diajarkan kepada dua orang muridnya.

Setelah memberi hormat dengan mengepal tangan kanan dilekatkan tangan kiri yang terbuka di depan ulu hati dan menghadap gurunya, Li Sian lalu bersilat. Indah bukan main gerakan gadis ini. Orangnya memang cantik, bentuk tubuhnya indah, tubuh seorang dara yang sedang masak-masaknya, dengan pinggang ramping dan lekuk lengkung tubuh yang sempurna, penuh sifat kehalusan dan kelembutan seorang wanita, maka gerakan silat itu sungguh amat indah. Memang Bu Beng Lokai yang sudah mendalami ilmu silat sampai ke intinya, menekankan segi-segi terpenting dari ilmu silat. Di dalam gerakan ilmu silat terkandung seni tari yang indah, gerakan tubuh demikian hidup dan penuh keindahan,

Juga mengandung seni olah raga yang menyehatkan tubuh karena gerakan-gerakan itu memperlancar jalan darah, bahkan mengendalikan hawa dan tenaga sakti dalam tubuh. Selain seni tari, dan olah raga, juga mengandung pengaruh menyehatkan batin di samping ilmu bela diri. Permainan Li Sian memang indah sekali, juga gerakannya mantap, setiap pukulan atau tangkisan mengandung tenaga yang nampaknya halus namun sesungguhnya amat kuat karena gadis ini pun sudah menguasai penggunaan Tenaga Inti Bumi, bahkan telah mahir pula mempergunakan Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang dari Pulau Es! Kecepatannya mengagumkan sehingga diam-diam Bu Beng Lokai mengangguk-angguk bangga. Keindahan, kecepatan, kekuatan, tiga hal ini sudah terujud dalam ilmu silat yang dimainkan Li Sian.

"Ambil ranting dan pergunakan sebagai pedang, mainkan Lo-thian Kiam-sut,"

Kata Bu Beng Lokai. Tubuh gadis itu tiba-tiba berkelebat ke atas, ke arah sebatang pohon di tengah bunga dan ketika ia berkelebat kembali ke depan gurunya, ia sudah memegang sebatang ranting pohon. Sekali menggerakkan ranting itu, daun-daun yang melekat di situ rontok dan mulailah ia memainkan ilmu pedang yang diminta gurunya. Seperti juga ilmu silat tangan kosong yang dimainkan dengan halus namun dengan kecepatan yang luar biasa, membuat tubuhnya lenyap terbungkus sinar hijau dari ranting itu, sinar bergulung-gulung yang menyelimuti tubuhnya! Melihat kemajuan muridnya ini, timbul kegembiraan hati Bu Beng Lokai dan tiba-tiba dia sudah bangkit berdiri.

"Li Sian, mari kita latihan bersama!"

Katanya gembira dan kakek itu sudah meloncat memasuki gulungan sinar pada ranting pohon yang dimainkan sebagai pedang oleh gadis itu.

Dia mainkan kedua tangannya dan kakinya bergerak dalam langkah-langkah ajaib Sam-po Ci-keng dan melihat ini, Li Sian girang bukan main. Ini menandakan bahwa gurunya itu telah sehat benar! Maka, ia pun melayani gurunya dan mereka berlatih bersama. Biarpun sudah tua dan baru saja sembuh dari keadaan tidak sehat, namun begitu tubuhnya bergerak dalam permainan silat, tubuh itu seperti mendapatkan kekuatan baru dan gerakannya lincah dan kuat! Li Sian juga bersilat dengan sungguh-sungguh, berusaha untuk mengalahkan gurunya. Namun, biar gurunya sudah sangat tua, bagaimanapun juga dia kalah jauh dalam hal kematangan ilmu silat dan pengalaman dan tiba-tiba ujung ranting yang dimainkan sebagai pedang itu dapat tertangkap oleh tangan kanan kakek itu. Li Sian mengerahkan tenaga untuk merampas kembali senjatanya, kakek itu mempertahankan.

"Krek!"

Ranting itu patah-patah dan keduanya melompat ke belakang. Wajah Li Sian berubah merah.

"Wah, Kong-kong sudah sehat benar, sudah mampu mengalahkan saya dengan amat mudah!"

Kata Li Sian. Bu Beng Lokai berkata setelah menghapus peluhnya yang membasahi tubuh atas itu dengan bajunya.

"Li Sian, pada saat lawan berhasil menangkap senjata, kesempatan itulah yang teramat baik untuk menyerangnya. Biarkan dia kegirangan karena berhasil menangkap senjatamu sehingga dia lengah dan pada detik itu teramat baik untuk dijadikan kesempatan merobohkannya."

"Maksud Kong-kong, saya tidak seharusnya mengerah-kan tenaga untuk mencoba merampas kembali senjata yang sudah tertangkap, akan tetapi mengguna-kan saat itu untuk menyerang lawan dengan tangan kiri?"

Kakek itu mengangguk.

"Benar, tertangkapnya senjatamu merupakan pancingan yang tidak disengaja dan berhasil baik. Lawan akan lengah dan saat itu engkau dapat mempergunakan tangan kiri atau kakimu untuk menyerangnya. Ini berarti membiarkan kemenangan datang melahui kekalahan. Kelihatannya saja engkau kalah karena senjatamu tertangkap, akan tetapi kekalahan itu justeru membuka kesempatan bagimu untuk memperoleh kemenangan. Mengertikah engkau?"

"Saya mengerti, Kong-kong."

"Nah, bagus. Bagaimanapun juga, engkau telah memperoleh kemajuan cukup baik. Tentu selama aku mengaso dan tidak mampu mengawasimu, engkau terus berlatih dengan giat."

"Ah, betapapun kerasnya saya berlatih, masih sukar bagi saya untuk mengimbangi kemajuan suci, Kong-kong."

Kakek itu tersenyum.

"Bukan salahmu. Suma Lian memang berbakat sekali, dan selain itu, ingatlah bahwa ia keturunan langsung dari ayah mertuaku, Pendekar Super Sakti Suma Han dari Pulau Es! Bahkan ayah ibunya juga merupakan sepasang pendekar yang sakti. Sejak kecil ia sudah digembleng ayah ibunya dan ketika ia menjadi muridku, ia telah memiliki dasar yang kuat sekali, berbeda dengan engkau yang ketika itu belum pernah mempelajari ilmu silat sama sekali. Ilmu kepandaian silat mendiang ayahmu, Menteri Pouw Tong Ki itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tingkat ilmu silat ayah ibu Suma Lian. Ketahuilah, Li Sian, bahwa ilmu-ilmu dari Pulau Es amat tinggi dan karenanya tidak mudah dikuasai dengan sempurna. Seperti Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang yang pernah kau latih itu, kiranya sekarang ini sukar mencari orang yang mampu menguasainya sesempurna mendiang ayah mertuaku! Mungkin hanya Suma Ceng Liong ayah Suma Lian saja yang saat ini memiliki tingkat paling tinggi dalam hal ilmu silat keluarga Pulau Es. Akan tetapi, bekalmu sudah lebih dari cukup. Kalau engkau giat berlatih dan ditambah pengalaman-pengalamanmu nanti, kiranya engkau tidak akan tertinggal terlalu jauh. Eh, mengapa Suma Lian belum juga pulang?"

Li Sian duduk bersila di atas batu datar untuk mengatur pernapasan, memulihkan tenaga setelah latihan tadi. Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, ia pun menjawab.

"Menurut perhitungan Lian-suci, mestinya kemarin ia sudah pulang. Saya kira hari ini ia akan pulang, Kong-kong."

Kakek itu mengangguk-angguk, lalu duduk bersila pula di atas batu datar lain yang banyak terdapat di pekarangan itu.

"Aku harus mengaso, sedikit latihan tadi melelahkan tubuhku, akan tetapi juga menggembirakan dan memberi semangat,"

Katanya dan sebentar saja dia sudah tenggelam dalam samadhinya. Belum satu jam mereka berlatih samadhi, baru saja Li Sian bangkit dari duduknya untuk melakukan pekerjaan rumah seperti biasa, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari jauh.

"Kong-kong....! Sumoi....! Aku datang....!"

Suara sucinya, Suma Lian, siapa lagi! Suara itu demikian nyaring dan bening, seperti kepingan perak atau emas berdencing, mendatangkan kecerahan dan kegembiraan. Li Sian cepat memandang dan ia melihat sucinya datang berjalan bersama dua orang laki-laki yang usianya mendekati enam puluh tahun, sikap mereka gagah, seorang wanita cantik berusia hampir empat puluh tahun dan seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun. Ia pun segera tahu siapa mereka dan dengan girang ia lalu berseru kepada gurunya.

"Kong-kong, mereka telah datang!"

Bu Beng Lokai membuka matanya, akan tetapi tidak turun dari atas batu datar, nampaknya masih lelah, hanya dia memandang ke arah rombongan yang kini sudah menghampiri tempat itu. Ketika Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong melihat kakek tua renta yang tak berbaju, duduk di atas batu datar nampak tua dan lelah dan lemah, mereka merasa jantung mereka seperti ditusuk dan keduanya lalu berlari menghampiri sambil menangis, menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek itu dan mereka menangis mengguguk seperti dua orang anak kecil.

"Ayah.... bertahun-tahun kami mencari Ayah tanpa hasil "

Kata Gak Jit Kong.

"Ayah, ampunkan semua dosa kami, Ayah...."

Kata pula Gak Goat Kong. Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng mencoba untuk tersenyum dan kedua tangannya menyentuh kepala dua orang yang berlutut di depannya itu, matanya basah dan suaranya lirih gemetar ketika dia berkata,

"Anak-anak.... anak-anakku.... mana ia, isterimu dan apakah kalian mempunyai keturunan?"

Hui Lian sejak tadi sudah menarik tangan puteranya dan berlutut tak jauh dari situ. Mendengar ucapan ini, ia pun bergeser maju sambil menggandeng tangan puteranya. Ia telah menangis sejak tadi melihat betapa dua orang suaminya mengguguk dalam tangisnya di depan kaki ayah mertuanya itu.

"Ayah.... saya Souw Hui Lian mantumu yang hina dan bodoh dan ini adalah Gak Ciang Hun, anak tunggal kami...."

Gak Bun Beng memandang mereka.

"Anak baik, engkau telah membahagiakan anak-anakku.... terima kasih dan cucuku.... ke sinilah, cucuku...."

Gak Ciang Hun sudah sering mendengar dari kedua ayahnya tentang kakeknya yang dikatakan memlliki ilmu kepandaian amat tinggi seperti dewa, maka sejak tadi dia sudah memandang dengan kagum, juga agak jerih. Mendengar kini kakek itu memanggilnya, dia pun cepat maju menghampiri.

Posting Komentar