Kisah si Bangau Putih Chapter 42

NIC

"Jauhkah dari sini?"

"Tidak jauh, hanya di lereng Cin-ling-san, nampak dari sini pegunungan itu kalau siang hari, Paman."

Dua orang kembar itu terkejut dan girang. Ternyata ayah mereka berada di gunung sebelah! Malam itu mereka tidak tidur lagi dan mereka berdua bertanya tentang ayah mereka dan mereka berdua terharu bukan main mendengar betapa ayah mereka kini berjuluk Bu Beng Lokai (Pengemis Tua Tanpa Nama) dan bahkan ketika untuk pertama kalinya bertemu dengan Suma Lian, kakek itu seperti seorang jembel tua yang kotor dan tidak waras!

"Aih, akulah yang berdosa terhadap ayah mertuaku...."

Tiba-tiba Hui Lian menangis ketika melihat betapa dua orang suaminya berlinangan air mata.

"Akulah yang membuat kalian berdua menjadi anak-anak yang tidak berbakti, membuat hati ayah kalian menjadi merana dan kecewa...."

Hui Lian menangis sesenggukan, tak dapat ditahan lagi kesedihannya dan ia pun merangkul puteranya. Ciang Hun ikut menangis ketika melihat betapa ibunya menangis sedih. Melihat sikap isteri mereka itu, Beng-san Siang-eng menjadi terharu dan wajah mereka diliputi kedukaan,

"Hui Lian, kamilah yang bersalah terhadap ayah!"

Kata Gak Jit Kong.

"Engkau tidak bersalah, dan biarlah kami yang akan mohon ampun kepada ayah."

Sambung Gak Goat Kong. Suma Lian adalah seorang gadis yang memiliki perasaan yang peka, mudah tersentuh sehingga ia mudah riang gembira dan jenaka, akan tetapi mudah pula terharu. Melihat Hui Lian menangis, diikuti puteranya, dan melihat pula sikap dua orang kakek kembar itu yang gagah perkasa dan masing-masing mengakui kesalahan dengan isteri mereka, ia pun merasa terharu sekali sampai kedua matanya menjadi basah. Ia dapat merasakan cinta kasih yang besar antara dua orang kembar itu dengan isteri mereka. Keadaan mereka itu memang amat ganjil bagi Suma Lian dan ia tidak dapat menyelami-nya, namun ia dapat merasakan kasih sayang yang amat mendalam di dalam keluarga orang kembar ini.

"Paman dan Bibi, harap jangan berduka. Ketahuilah bahwa kong-kong sering membicarakan tentang Paman dan Bibi dengan sikap yang amat mencinta dan rindu, dari kata-katanya aku dapat memastikan bahwa beliau sama sekali tidak marah kepada kalian, apalagi membenci."

Mendengar ini, dua orang saudara kembar itu memandang kepada Suma Lian dengan sinar mata penuh harapan.

"Suma Lian, benarkah kata-katamu itu ataukah hanya hiburan belaka untuk kami?"

Tanya Gak Goat Kong.

"Paman, mana aku berani membohong?"

"Sudahlah, mari kita semua berangkat. Andaikata ayah marah-marah kepada kita sekalipun, hal itu sudah sepatutnya dan kita hanya tinggal minta maaf kepadanya. Yang penting, kita dapat bertemu dan menghadap ayah. Aih, Lian-ji, betapa kami selama bertahun-tahun ini bersusah-payah mencari ayah namun selalu gagal,"

Kata Gak Jit Kong. Konflik atau pertentangan yang terjadi antara kita dengan orang lain, sama sekali tidak dapat diatasi dengan pra-sangka, dengan sikap ingin benar sendiri dan ingin menang sendiri. Konflik akan makin memuncak kalau kita saling menilai keadaan orang lain itu, karena penilaian selalu dipengaruhi keadaan hati seseorang, didasari rasa suka dan tidak suka yang timbul dari si aku yang merasa diuntungkan atau dirugikan.

Kalau kita sedang bertentangan dengan seseorang, biasanya kita selalu menilai orang itu, segala sikap dan perbuatannya terhadap kita yang tentu saja menimbulkan nilai buruk karena orang itu kita anggap merugikan dan penilaian ini akan menambah tebalnya kebencian dan permusuhan. Akan tetapi, cobalah kita mulai mengarahkan pengamatan kepada diri kita sendiri, sikap dan perbuatan kita sendiri tanpa penilaian, melainkan pengamatan yang waspada, tanpa memihak, menyalahkan atau membenarkan diri sendiri. Maka, akan nampak jelas bahwa segala sebab yang mengakibatkan pertentangan, sebagian besar terletak dalam diri kita sendiri masing-masing. Dan pengamatan terhadap diri ini akan dapat men-datangkan perubahan, dan ini menghapus pertentangan, karena konflik ke luar hanyalah pencerminan dari konflik yang terjadi dalam diri sendiri.

Pengamatan kita terhadap diri sendiri, setiap saat, akan mengubah semua ulah kita terhadap orang lain, tidak mudah mata kita dibutakan oleh nafsu belaka, tidak mudah kita menjadi "mata gelap"

Seperti dikatakan orang-orang bijaksana di jaman dahulu bahwa musuh yang paling kuat, paling berbahaya, paling licik, adalah diri sendiri, pikiran sendiri! Setan pembujuk dan penipu bukan berada di luar diri kita sendiri! Karena itu, pengamatan yang waspada terhadap diri sendiri akan melumpuhkan setan ini! Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali berangkatlah keluarga Beng-san Siang-eng yang terdiri dari dua orang suami, satu isteri dan satu anak itu, mengikuti Suma Lian, menuju ke Pegunungan Cin-ling-san yang luas dan mempunyai banyak bukit-bukit. Di satu di antara lereng bukit inilah kini tinggal Bu Beng Lokai.

Bukit itu mempunyai sumber air dan tanahnya amat subur, penuh dengan pohon-pohon besar. Di tengah sebuah di antara hutan-hutan yang memenuhi bukit yang merupakan anak bukit Pegunungan Cin-ling-san ini terdapat sebuah pondok. Tidak besar, hanya terbuat dari kayu-kayu pohon besar, dan mempunyai dua buah kamar saja. Namun pondok itu terawat bersih, dan di depannya bahkan terdapat sebuah taman bunga yang indah. Inilah tempat tinggal Bu Beng Lokai bersama dua orang muridnya, yaitu Suma Lian dan Pouw Li Sian. Muridnya yang bernama Suma Lian telah kita kenal, dan Suma Lian masih terhitung cucu keponakannya sendiri, atau lebih tepat, cucu keponakan mendiang isterinya. Adapun muridnya yang ke dua, juga seorang gadis yang bernama Pouw Li Sian, usianya sebaya dengan Suma Lian, hanya lebih muda beberapa bulan saja. Seperti Suma Lian, Pouw Li Sian ini juga tekun belajar silat dan kini telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Posting Komentar