Kisah si Bangau Putih Chapter 39

NIC

"Bibi yang baik, namaku benar Suma Lian, ayahku Suma Ceng Liong dan ibuku Kam Bi Eng. Dan bukan itu saja, aku pun menjadi murid dari paman kakek Bu Beng Lokai, ayah mertuamu sendiri."

"Hemmm, gadis muda, jangan engkau bicara sembara-ngan. Ayah mertuaku tidak bernama Bu Beng Lokai!"

Kata pula Hui Lian, semakin curiga walaupun nanama ayah ibu gadis itu sempat mengejutkannya.

"Aih, maafkan aku, Bibi. Mungkin kalian tidak mengenal nama Bu Beng Lokai, akan tetapi sebelum mempergunakan nama itu, paman kakekku yang kini menjadi guruku itu bernama Gak Bun Beng...."

"Kong-kong....!"

Seru Ciang Hun gembira mendengar nama kakeknya disebut. Walaupun dia belum pernah melihat kakeknya, namun seringkali kedua ayahnya bercerita tentang kakeknya dan dia amat merindukannya.

"Nanti dulu!"

Kata pula Hui Lian.

"Kalau benar engkau murid ayah mertuaku, engkau tentu dapat melayani seranganku ini!"

Dan tiba-tiba saja ia lalu menyerang Suma Lian dengan jurus ampuh dari Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun (Silat Sakti Pengacau Langit). Suma Lian tentu saja mengenal baik ilmu silat ini dan sambil mengelak dan bergerak dengan ilmu yang sama, ia pun membalas serangan lawan dengan jurus lain dari Lo-thian Sin-kun. Hui Lian masih belum merasa puas. Setelah menangkis, ia pun menyerang lagi dan dua orang wanita itu pun saling serang dengan ilmu yang sama sehingga mereka itu seperti dua orang yang berlatih silat saja. Setelah lewat belasan jurus dan ternyata gerakan Suma Lian dalam ilmu silat itu amat bagusnya, barulah Hui Lian merasa puas dan ia pun meloncat ke belakang. Suma Lian memandang sambil tersenyum manis.

"Lo-thian Sin-kun yang Bibi mainkan sungguh bagus! Apakah Bibi hendak menguji lagi!"

"Cukup engkau memang benar Suma Lian dan maafkan kecurigaan kami karena dalam beberapa hari ini kami terancam bahaya dari seorang musuh yang pandai,"

Kata Hui Lian.

"Ehhhhh?"

Suma Lian terkejut mendengar ini dan baru sekarang ia melihat betapa wajah dua orang pamannya dan juga bibinya nampak muram dan mata mereka merah seperti orang yang kurang tidur.

"Akan tetapi kalau benar demikian, mengapa tadi aku melihat adik Hun bermain sendirian di luar?"

"Aih, anak itu belum mengenal bahaya. Mari kita masuk dan bicara di dalam,"

Kata pula Souw Hui Lian sambil menggandeng tangan Suma Lian, kini sikapnya manis sekali. Suma Lian tersenyum memandang kepada kedua orang pamannya.

"Maaf, Paman, aku datang membikin ribut saja. Akan tetapi sikap Bibi memang amat mengagumkan, ia cerdik dan pintar!"

Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong hanya tersenyum mende-ngar pujian itu dan mereka pun lalu masuk ke dalam rumah yang cukup luas itu. Seorang pelayan wanita setengah tua segera muncul ketika dipanggil Hui Lian dan diperintahkan untuk menyediakan minuman untuk tamu yang disebutnya Suma-siocia (nona Suma) ketika diperkenalkan kepada pelayannya.

"Aih, Bibi ini!"

Suma Lian berseru memotong ucapan itu.

"Kenapa harus menyebutku nona segala? Ciang Hun sudah menyebutku enci kepadaku dan sebagai bibiku, tidak sepatutnya Bibi menyebut nona. Namaku Suma Lian tanpa nona."

Hui Lian tersenyum dan kini ia tahu bahwa Suma Lian bukan seorang gadis kasar dan kurang ajar melainkan seorang gadis yang jujur, terbuka, lincah dan tidak suka berpura-pura.

"Baiklah, Suma Lian. Sekarang kami ingin sekali tahu, apakah maksud kunjunganmu ini? Kami yakin bahwa tentu kunjunganmu ini mempunyai maksud yang penting sekali."

Suma Lian berpikir sejenak. Ia memang datang membawa keperluan penting,akan tetapi berita yang dibawanya itu bukan berita menyenangkan, melainkan berita tentang gurunya yang sakit tua dan menghendaki kedatangan kedua orang putera kembarnya itu. Sebaiknya kalau ia mengetahui lebih dahulu bahaya apa yang katanya mengancam keluarga paman dan bibinya ini.

"Nanti dulu, Bibi. Sebelum aku menceritakan keperluan kedatanganku, lebih baik kalau Bibi mencerita-kan kepadaku tentang bahaya apa yang mengancam kalian. Aku bersedia untuk membantu kalian. Ceritakanlah mengapa kalian tadi begitu curiga kepadaku sehingga tiba-tiba saja menyerangku."

Gak Jit Kong kini yang menjawab.

"Maafkan kami, Lian-ji (anak Lian). Kami memang sedang panik sehingga tanpa bertanya lagi menyerangmu, karena kami mengira bahwa engkau merupakan komplotan orang jahat yang mengancam hendak menculik anak kami."

"Komplotan jahat menculik adik Ciang Hun."

"Benar, Suma Lian,"

Sambung Gak Goat Kong.

"Terjadinya sudah kurang lebih sepekan yang lalu. Mula-mula kami mendengar bahwa di sebuah dusun di kaki gunung terjadi kekacauan ketika ada seorang nenek yang suka menculik anak kecil. Ketika mendengar itu, kami lalu turun tangan dan berhasil mengalahkan nenek itu dan mengusirnya dari dusun yang dikacaunya. Akan tetapi, iblis itu ternyata tidak mau menerimanya begitu saja. Agaknya ia memanggil kawan yang lebih lihai lagi dan sepekan yang lalu mereka datang mengganggu kami."

"Apa yang mereka lakukan?"

Suma Lian bertanya, penasaran. Kini Souw Hui Lian yang melanjutkan.

"Sepekan yang lalu, pada malam hari, aku mendengar suara gerakan orang di belakang rumah. Ketika aku keluar melalui pintu belakang, ia sudah berada di sana, nenek iblis yang pernah mengacau dusun itu, akan tetapi kini ada seorang temannya, seorang kakek botak. Mereka lihai bukan main."

"Kami keluar mendengar ribut-ribut di belakang,"

Sambung Gak Jit Kong,

"dan kami bertiga melawan kakek botak itu. Namun dia sungguh lihai dan kami bertiga terdesak. Tiba-tiba mereka meloncat pergi dan, kakek itu sambil tertawa mengatakan bahwa sepekan kemudian dia akan datang lagi dan mengancam kami agar menyerahkan putera kami dengan baik-baik, kalau tidak seisi rumah akan dibunuhnya!"

Suma Lian mengerutkan alisnya.

"Hemmm, sombong sekali iblis itu."

"Karena itu, setiap malam kami tidak dapat tidur dan berjaga-jaga, dan beristirahat pada siang harinya. Tadi kami masih tidur karena semalam berjaga, dan Ciang Hun yang sudah kami larang untuk keluar sendirian nekat keluar ke taman,"

Kata Hui Lian.

"Aku ingin nonton kupu-kupu kuning, Ibu!"

Bantah Ciang Hun.

"Dan pula, kata Ibu iblis itu hanya muncul di waktu malam, bukan?"

"Memang benar,"

Kata pula Hui Lian kepada Suma Lian.

"Iblis itu mengancam akan datang pada malam hari, karena itulah kami berani tidur di waktu siang."

"Hemmm, dan kapankah malam yang dijanjikannya itu?"

Tanya Suma Lian.

"Malam ini tepat sepekan."

"Harap kedua Paman dan Bibi tidak khawatir. Kalau malam nanti dia berani muncul, biarlah aku yang akan menghadapinya,"

Posting Komentar