Keadaan gua ini tiada ubahnya keadaan dalam gedung istana! Terdapat banyak kamar, dan setiap ruangan di hias gambar-gambar dan tulisan-tulisan indah, setiap perabot rumahnya amat indah dan halus buatannya, dan keadaan di dalam gua itu luar biasa sekali. Sedemikian luasnya, dan sebagian atasnya berlubang dan terbuka sehingga nampak sinar matahari dandi tengah-tengah ruangan itu terdapat pula sebuah taman kecil penuh bunga! Tidak nampak pelayan wanita di situ dan agaknya kakek Ouwyang itu Hidup bersama tiga orang pelayan pria yang menyambut tadi saja. Mereka itulah yang memasak, membersihkan tempat tinggal yang mewah itu, dan melayani Nam-san Sian-jin serta melakukan pekerjaan lain. Setelah membiarkan tamunya mengagumi isi gua itu, Nam-san Sian-jin Lalu mempersilakan mereka memasuki sebuah ruangan yang paling luas, yang berada disebelah dalam.
"Ruangan itu kujadikan sebagai ruangan tamu, juga ruangan duduk dan sekaligus ruangan untuk berlatih silat. Dan kadang-kadang, seperti sekarang ini, menjadi juga ruangan makan, walaupun baru sekarang aku menjamu seorang tamu."
Siangkoan Lohan merasa terhormat sekali dan segera bermunculan tiga orang pelayan tadi yang datang membawa hidangan yang mereka atur di atas meja. Akan tetapi perhatian Siangkoan Lohan tertarik kepada hiasan aneh yang terdapat di dekat dinding, di sebelah rak senjata. Di situ terdapat sebuah rak panjang dengan tombak-tombak yang berdiri berjajar. Akan tetapi, di atas tombak itu tertancap masing-masing sebuah kepala manusia, ada belasan buah banyaknya! Yang mengerikan sekali, kepala manusia itu seperti dalam keadaanhidup, matanya terbuka dan hanya muka-nya yang nampak pucat, namun segalanya masih utuh seperti hidup.
"Itu.... itu.... apa maksudnya?"
Tanya Siangkoan Lohan sambil menuding dan Siangkoan Liong juga terkejut melihat kepala yang berjajar itu.
"Aahhh, itu?"
Kata tuan rumah sambil menarik napas panjang dan alisnya berkerut seolah-olah dia teringat akan hal yang tidak menyenangkan.
"Itulah kepala beberapa orang yang memimpin penyerbu-an, mereka yang menyebabkan matinya semua anak isteriku. Aku berhasil mencari dan membunuh mereka, kepalanya kuawetkan dengan ramuan obat dan kupasang di sini agar mendinginkan hatiku setiap kali teringat kepada anak isteriku."
Siangkoan Lohan diam-diam bergidik. Orang yang amat lihai ini ternyata Dapat berlaku amat sadis dalam pembalasan dendamnya. Dia tidak tahu sama Sekali bahwa memang dendam telah membuat Ouwyang Sianseng menjadi seperti gila, dan karena dia dianggap gila itulah maka dia dipecat dari kedudukannya dalam istana raja Birma! Dia dianggap berbahaya dan bahkan kemudian dia membunuh seorang menteri dan menjadi buronan pemerintah Birma. Sebaliknya dari ayahnya, Siangkoan Liong merasa kagum sekali kepada gurunya, yang dianggapnya telah menebus kematian yang membuat penasaran dari keluarganya dan telah membuktikan kesetiaannya kepada keluarganya. Setelah dijamu dengan masakan yang cukup lezat dan lengkap sehingga kelihatan aneh masakan seperti itu dapat dihidangkan di tempat itu,
Siangkoan Lohan lalu meninggalkan puteranya disitu dan kembali ke perkampungan Tiat-liong-pang. Dia harus berjanji takkan memberitahukan kepada siapapun juga tentang tempat tinggal Ouwyang Sianseng atau Nam-san Sian-jin ini dan ternyata kemudian bahwa kakek inipun tidak pernah berhubungan dengan orang lain kecuali Siangkoan Lohan dan puteranya. Siangkoan Liong lalu menerima gemblengan di tempat rahasia itu oleh Kakek bekas penasihat Raja Birma sehingga dalam waktu dua tahun dia telah memperoleh kemajuan yang amat pesat. Setelah lewat dua tahun dan kembali kerumah orang tuanya, dia melihat betapa ayahnya kini telah mengadakan persekutuan dengan tokoh-tokoh lihai. Karena girang melihat puteranya telah tamat belajar dan memiliki kepandaian yang tinggi,
Bahkan mungkin lebih tinggi dari tingkatnya sendiri, Siangkoan Lohan lalu mengadakan pesta, sekalian untuk merayakan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh tahun. Dia mengundang tokoh-tokoh, baik dari golongan hitam maupun putih dan seperti kita ketahui, di dalam pesta itu terjadilah keributan. Siangkoan Liong maklum bahwa ayahnya sedang bersekutu dengan kekuatan-Kekuatan yang hendak menggulingkan pemerintah Mancu. Biarpun dia sendiri, dalam keangkuhannya, merasa diri jauh lebih tinggi, tidak suka bergaul dengan orang-orang kang-ouw itu, namun dia tidak menghalangi usaha ayahnya karena dia maklum bahwa usaha pemberontakan itu cocok dengan apa yang di cita-citakan oleh gurunya, yaitu mengguling-kan pemerintah Ceng dan dialah yang dicalonkan menjadi kaisar kalau usaha itu berhasil.
Setelah menyelamatkan Ciok Kim Bouw, ketua Cin-sa-pang yang hampir saja tewas di tangan Sin-kiam Mo-li, dan mengobati luka beracun di tangan ketua itu, tanpa memperkenalkan diri lagi, Tan Sin Hong segera pergi dengan cepat. Dia tidak ingin terlibat dalam urusan orang lain dan dia juga tidak mengenal siapa orang yang nyaris tewas di tangan Sin-kiam Mo-li itu. Kalau dia turun tangan membantu orang itu hanyalah karena orang itu terancam maut di tangan Sin-kiam Mo-li yang sudah dia ketahui kejahatan-nya. Sin Hong melanjutkan perjalanannya dengan secepatnya menuju ke kota raja. Dia harus menemu-kan orang kaya yang disebut Lay Wangwe (Hartawan Lay) itu, karena agaknya hanya kalau dia menemu-kan Lay Wangwe, maka dia akan melanjutkan penyelidikannya tentang kematian ayahnya yang penuh rahasia itu. Dia percaya bahwa tidak akan sukar mencari orang itu karena ciri-cirinya.
Pertama, nama keturunannya Lay, kaya raya dan kepalanya botak perutnya gendut. Tentu tidak banyak orang yang sekaligus memiliki ciri-ciri itu. Akan tetapi, setelah kurang lebih sepekan. dia melakukan penyelidikan dikota raja, dia tidak berhasil menemukan orang yang dicari-carinya. Ada hartawan Lay, bahkan ada beberapa orang di kotaraja yang kaya dan she Lay, akan tetapi kepalanya tidak botak walaupun ada yang gendut. Kalau ada yang kepalanya botak dan gendut, namanya bukan Lay, juga tidak kaya raya. Namun, tetap saja dia menyelidiki orang kaya yang she Lay, botak atau tidak dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang pernah mengirim seratus kati emas dari Ban-goan keTuo-lun. Akhirnya Sin Hong meng-ambil kesimpulan bahwa nama Lay Wangwe itu mungkin sekali palsu, hanya untuk pancingan saja.
Bahkan mungkin peti yang katanya berisi seratus tail emas itu pun bohong, dan sengaja dipergunakan untuk selain membunuh Tan-piauwsu, juga menyita perusahaannya untuk mengganti rugi! Dan siapa lagi yang membutuhkan kejatuhan Peng An Piauwkiok kecuali saingannya? Dan saingan terbesar dari Peng An Piauwkiok adalah Ban-goan Piauwkiok yang dikepalai Kwee Tay Seng! Selain saingan dalam urusan perusahaan, juga saingan dalam urusan wanita! Siapa tahu kalau Ciu-piauwsu memang benar dalam tuduhannya bahwa Kwee-piauwsu yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, baik terhadap ayahnya maupun terhadapTang-piauwsu. Pertama karena dendam kekalahannya memperebutkan wanita, dan ke dua karena persaingan dalam urusan perusahaan. Memang kini, setelah penyelidikannya terhadap orang bernama Lay Wangwe gagal,
Satu-satunya orang yang dapat dicurigai adalah Kwee-piauwsu. Maka dia pun memutuskan untuk segera kembali ke Ban-goan untuk melakukan penyelidikan terhadap Kwee-piauwsu dan menunda niatnya berkunjung kepada Kao Cin Liong, suhengnya yang tinggal di Pao-teng, sebelah selatan kota raja. Malam itu bulan purnama. Langit amat bersih, hanya ada awan putih tipis yang amat mengganggu sinar bulan sehingga cuaca amat bersih dan terang, suasana amat menggembirakan. Namun bersama dengan sinar bulan yang indah datang pula angin dingin yang memaksa orang-orang yang tadinya menikmati keindahan sinar bulan di luar rumah, memasuki rumah yang lebih hangat. Hawa yang amat dingin membuat orang sore-sore sudah memasuki kamar tidur dan menjelang tengah malam suasana di kota Ban-goan sudah amat sunyi.
Sebagian besar penduduknya sudah tidur nyenyak. Ban-goan Piauwkiok juga nampak sunyi walaupun setiap malam ada saja anggauta piauwkiok yang melakukan penjagaan secara bergilir di dalam gardu penjagaan di sudut luar perusahaan itu berkantor di depan, sedangkan rumah tinggal Kwee-piauwsu berada di bagian belakang. Pekerjaan sebagai pimpinanpiauwkiok (perusahaan pengawal barang) tentu saja mempunyai banyak musuh yaitu para penjahat, para perampok yang suka mengganggu pengawalan barang. Oleh karena itu, maka semua pimpinan perusahaan piauwkiok selalu berhati-hati dan kantor bersama tempat tinggal mereka selalu dijaga oleh anak buah secara bergilir. Malam itu terlampau dingin bagi empat orang piauwsu yang bergilir jaga di dalam gardu penjagaan.
Tadi mereka masih berusaha melewatkan waktu dengan bermain kartu, akan tetapi hawa dingin membuat mereka mengantuk sekali dan kini keempat orang itu duduk berhimpit di dalam gardu jaga, mengha-ngatkan tubuh dengan membuat unggundi luar gardu. Apalagi dalam keadaan kedinginan dan bersem-bunyi di dalam gardu, Andaikata mereka itu berada di luar gardu, berjaga dengan waspada sekalipun, tak mungkin mereka akan dapat melihat bayangan orang yang berkelebat dengan amat cepatnya, hanya nampak berkelebat seperti bayangan burung yang terbang di udara. Bayangan itu dengan kecepatan luar biasa telah melompati pagar tembok yang mengelilingi rumah besar itu dan telah menyelinap-nye-linap ke dalam taman di sebelah kanan rumah. Setelah melihat dengan teliti dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada penjaga di situ,
Juga di atas genteng nampak sunyi saja, bayangan itu lalu melayang naik ke atas genteng rumah. Bayangan itu adalah Tan Sin Hong yang sedang melakukan penyelidikan di rumah keluarga Kwee, tidak tahu dengan jelas apa yang akan dilakukan dan bagaimana harus memulai dengan penyelidikannya itu. Dia merasa yakin bahwa dalam hawa sedingin itu, tidak mungkin ada Orang berjaga di atas genteng dan menentang hembusan angin malam yang amat dinginnya. Bulan masih nampak cemerlang diatas, dan suasana sunyi sekali. Sejenak Sin Hong termenung. Dia mengingat kembali ketika Ciu-piauwsu mendatangi rumah ini dan menantang Kwee-piauwsu, teringat betapa gagah dan tenangnya Kwee-piauwsu dan betapa piauwsu itu menyangkal bahwa dia telah membunuh Tan-piauwsu, atau pun Tang-piauwsu. Dia menjadi ragu-ragu.
Apa yang harus dicarinya dan bagaimana diaharus memulai penyelidikannya? Ah, siapa tahu, Tuhan akan membantunya dan mungkin saja dia akan melihat atau mendengar sesuatu yang akan dapat membantu penyelidikannya. Maka, setelah mempelajari keadaan dalam gedung itu dari atas, dia pun lalu melayang turun lagi, kini kesebelah dalam dan dia turun dekat lapangan terbuka, di antara deretan kamar dan lorong menuju ke ruangan besar.Dengan penuh keyakinan bahwa semua penghuni rumah itu telah pulas, dia pun melangkah dengan hati-hati memasuki ruangan yang nampak gelap karena tidak memperoleh sinar bulan, sedangkan dalam ruangan itu tidak ada lampunya. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melangkah masuk, tiba-tiba saja terdengar bentakan suara wanita,
"Pencuri jahat, berani engkau mencuri ke sini?"
Dan dari angin yang menyambar di tempat gelap, tahulah Sin Hong bahwa ada sebatang pedang menyambar ke arah dadanya! Cepat Dia meloncat keluar kembali dan dia membuka pintu kamar. Kalau dia mau meloncat dan melarikan diri pada saat itu, kiranya tidak akan terlambat. Akan Tetapi Sin Hong tidak melakukan hal ini. Dia maklum bahwa dia Telah ketahuan orang dan disangka pencuri.
Kalau dia melarikan diri dan ketahuan Siapa dirinya, tentu hal ini amat tidak baik bagi namanya dan dia akan disangka Sebagai penjahat. Mengapa tidak menghadapi saja mereka dengan terang-terangan dan mengajak Kwee-piauwsu bicara tentang kematian ayahnya dan Tang-piauwsu? Dari sikap dan kata-kata Kwee-piauwsu dalam percakapan itu, dia akan dapat menduga apa sebenarnya peran piauwsu itu dalam urusan ini. Maka, dia pun tidak mau meloncat pergi, melainkan menanti saja di luar ruangan itu dan wajahnya dapat kelihatan jelas karena selain cahaya lentera dan lampu yang tergantung di situ menerangi wajahnya, juga sinar bulan membuat tempat itu cukup terang. Orang pertama yang melompat keluar dari dalam ruangan itu adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun yang manis sekali.
Gadis ini bertubuh sedang, dengan sepasang kaki nampak panjang, tubuh yang padat dan ranum, tubuh seorang dara yangmulai dewasa. Rambutnya hitam lebat dan panjang sekali, di kuncir menjadi dua di ikat dengan pita merah. Dua kuncir itu bergantungan sampai ke pinggulnya. Pinggangnya ramping ketika ia bergerak meloncat ke luar dengan pedang di tangan kanan dan sebuah lentera besar dan barusaja dinyalakan di tangan kiri. Dari cahaya lampu ini, nampak jelas oleh Sin Hong wajah gadis itu. Kulitnya agak hitam, akan tetapi manis bukan main, terutama sekali mulutnya. Sepasang bibirnya berbentuk indah seperti gendewa terpentang, dengan garis yang jelas dan bibir itu penuh dan merah basah, sedikit terbuka memperlihatkan kilauan gigi putih seperti mutiara dan sepasang matanya tajam memandang Sin Hong penuh selidik.
Agaknya gadis itu tertegun dan agak heran melihat betapa "maling"
Yang mampu mengelak dari serangannya tadi tidak melarikan diri melainkan berdiri disitu menanti dan tak disangkanya bahwa penjahat itu seorang laki-laki muda yang berpakaian serba putih, wajahnya biasa saja,akan tetapi sinar matanya demikian lembut dan mulutnya terhias senyum ramah dan menarik! Sama sekali bukan wajah seorang pencuri atau penjahat yang kejam dan ganas,melainkan wajah seorang pemuda yang ramah dan baik hati. Akan tetapi karena ia merasa curiga melihat munculnya pemuda tak di kenal, ditengah malam, memasuki ruangan gelap dimana ia tadi berlatih samadhi, iapun kini mendekati dan menodongkan pedangnya dengan sikap mengancam.
"Menyerahlah sebelum pedangku yang bicara!"
Pedangnya menodong dada dan lampu ditangannya di angkat menerangi muka Sin Hong.
"Tahan, jangan serang dia!"
Tiba-tiba Terdengar suara memerintah. Mendengar suara ayahnya, gadis itu melangkah mundur dan menurunkan pedangnya, namun sikapnya masih mengancam.
"Ayah,dia telah memasuki ruangan lian-Bu (latihan silat) seperti seorang pencuri!"
Bantahnya. KweeTay Seng atau Kwee-piauwsu tidak menjawab, hanya melangkah menghampiri Sin Hong. Sejak tadi dia menatap wajah itu dan kini Dia sudah berhadapan dengan Sin Hong, matanya masih terus mengamati wajah pemuda berpakaian putih yang berdiri di situ dengan sikap tenang dan juga sedang memandangnya.
"Kau....kau seperti pernah melihatmu.... ah, engkau mirip sekali dengannya....! Bukankah engkau ini putera mendiang Tan-piauwsu."
Sin Hong merasa heran mendengar ini, akan tetapi dia pun teringat akan hubungan pria yang gagah ini dengan mendiang ibunya, dan dia tahu bahwa wajahnya memang mirip dengan wajah ibunya.
"Ayah, kalau dia benar putera Tan-piauwsu, jelas bahwa dia datang bukan dengan niat baik. Tadi dia meloncat turun dari atas genteng dan menyelinap masuk seperti pencuri. Aku yang berada di dalam ruangan gelap, dapat melihat dengan jelas. Begitu dia melangkah masuk, aku telah menyerangnya, akan tetapi dia meloncat keluar lagi."
Kwee Ci Hwa, puteri Kwee-piauwsu itu, berkata lagi.
"Orang muda, aku mengenal mendiang ayahmu sebagai seorang gagah, dan engkau tentu seorang pemuda yang gagah pula. Marilah kita bicara secara jantan dan terbuka, daripada engkau harus datang secara gelap begini. Silakan masuk dan mari kita bicara di dalam."
Sin Hong merasa malu sendiri dan dia pun mengangguk, lalu mengikuti tuan rumah Memasuki ruangan tadi, diikuti oleh Ci Hwa yang membawa lampu. Ternyata ruangan itu luas dan bersih, hanya terdapat beberapa buah bangku di dekat dinding dan selanjutnya kosong karena ruangan itu adalah sebuah tempat berlatih silat. Ci Hwa menaruh lampu itu di atas meja kecil, dan dinyalakan lagi tiga buah lentera lain dan digantungkan di dinding sehingga kini ruangan itu menjadi terang. Kwee-piauwsu mempersilakan Sin Hong duduk di atas bangku, kemudian dia sendiri dan puterinya duduk menghadapinya.