Kisah si Bangau Putih Chapter 32

NIC

Melalui perkumpulan Tiat-liong-pang yang dia tahu amat berpengaruh dan kuat ini dia akan dapat mengumpulkan kekuatan untuk menentang Kerajaan Mancu. Dan dia dapat menggerakkan hati Siangkoan Lohan dengan memuji-muji puteranya yang dikatakan berbakat untuk menjadi calon kaisar. Tentu saja dia sudah menyelidiki keadaan keluarga Siangkoan Lohan ini dan tahu bahwa mendiang ibu anak itu adalah seorang bangsawan tinggi, anggauta keluarga Kerajaan Mancu. Dan diapun berhasil menggerakkan hati Siangkoan Lohan, seperti ternyata kemudian betapa Siangkoan Lohan yang kini mempunyai ambisi agar puteranya menjadi kaisar,mulai mengadakan persekutuan untuk memberontak dan menjatuhkan Kerajaan Mancu agar puteranya mendapat kesempatan menjadi kaisar seperti yang diramalkan oleh Nam-san Sian-jin!

Selama beberapa tahun, kadang-kadang Nam-san Sian-jin datang berkunjung dan dalam percakapan mereka, kakek ini menanam dan menyebar bibit-bibit pemberontakan ke dalam hati Siangkoan Lohan demi masa depan puteranya Sehingga ketua Tiat-liong-pang yang tadinya terkenal sebagai seorang yang amat setia kepada Kerajaan Ceng, kini berubah dan ingin mengadakan persekutuan untuk memberontak! Sementara itu, Siangkoan Liong digemblengnya dengan keras sehingga setelah dia berusia delapan belas tahun, pemuda itu telah berhasil mewarisi dan menguasai ilmu-ilmu silat dari ayahnya. Juga, menurut nasihat Nam-san Sian-jin, ketua Tiat-liong-pang itu mengundang guru-guru sastra untuk mengajar puteranya, karena menurut nasihat Nam-san Sian-jin, seorang calon kaisar haruslah menguasai ilmu tentang sastra dengan baik.

Setelah Siangkoan Liong berusia delapan belas tahun, pada suatu pagi muncullah Ouwyang Sianseng atau Nam-sanSian-jin dan diapun mengatakan bahwa kini tiba saatnya bagi Siangkoan Liong untuk digemblengnya.

"Dia akan kuajak ketempat tinggalku di Nam-san, dan aku mengundang Siangkoan Pangcu untuk datang berkunjung pula agar hatinya menjadi tenteram karena dia tahu bahwa puteranya berada di suatu tempat yang dikenalnya."

Giranglah hati Siangkoan Lohan. Biarpun dia kini sudah menjadi kenalan Baik Si Manusia Dewa, namun belum pernah dia mengetahui di mana tempat tinggal pertapa itu sehingga tentu saja hatinya akan diliputi kesangsian dan kekhawatiran melepas puteranya mengikuti tempat tinggalnya. Kini dia diajak berkunjung, maka tentu saja dia merasa girang dan pada hari itu, berangkatlah dia dan puteranya mengikuti kakek sakti itu.

Pegunungan selatan tidaklah setinggi pegunungan di bagian utara, namun hutan-hutannya lebih lebat dan pohon-pohonnya lebih beraneka ragam. Di atas puncak satu di antara bukit-bukit itulah terdapat sebuah hutan lebat dan Nam-san Sian-jin tinggal di puncak ini. Selama ini, Siangkoan Lohan sudah menyuruh beberapa orang anggautanya untuk menyelidiki keadaan kakek pertapa yang menjadi guru puteranya. Dia mendengar hasil penyelidikan orang-orangnya bahwa kakekitu seringkali mengulurkan tangan menolong para penghuni dusun di sekitar pegunungan itu, bukan hanya menolong dengan pengobatan, akan tetapi juga seringkali menolong mereka yang kekurangan dan kelaparan dengan bahan makanan, pakaian atau bahkan uang secara royal sekali. Tidak mengherankan kalau kakek itu dinamakan Manusia Dewa oleh para penghuni dusun,

Bukan hanya karena dermawan sekali dan pandai mengobati, akan tetapi juga karena kakek itu datang dan pergi seperti menghilang saja.Tidak pernah ada yang dapat berhubungan langsung dengan kakek pertapa itu, melainkan melalui para pelayan kakek itu yang kabarnya juga memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi, semua murid dan anggauta Tiat-liong-pang gagal ketika berusaha mencari tempat tinggal Nam-san Sian-jin! Setelah mereka tiba ditengah hutan dipuncak bukit itu, Siangkoan Lohan sendiri terheran-heran. Tidak nampak ada sebuah pun rumah di puncak itu, akan tetapi guru puteranya itu mengatakan bahwa dia tinggal di puncak bukit penuh hutan itu! Dan mengertilah dia mengapa anak buahnya gagal semua menemukan tempat tinggal Si Manusia Dewa, karena tempat tinggalnya amat rahasia dan tidak nampak!

"Kita sudah sampai,"

Kata Nam-san Sian-jin seperti dapat membaca kesang-Sian dalam hati Siangkoan Lohan dan tiba-tiba saja nampak berlompatan tiga orang laki-laki berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, kesemua-nya berpakaian indah seperti pelayan-pelayan pembesar dan mereka segera memberi hormat kepada Nam-san Sian-jin sambil berlutut!

"Siapkan hidangan untuk menyambut tamu kita,"

Kata Nam-san Sian-jin kepada tiga orang pelayannya itu.

"Siangkoan-pangcu menjadi tamu kita hari ini dan Siangkoan-kongcu (Tuan Muda Siangkoan) ini mulai hari ini tinggal di sini sebagai muridku, sediakan kamar untuknya."

"Baik,Taijin (Orang Besar),"

Kata mereka dan mereka lalu menyelinap diantara semak belukar di tepi jurang dan lenyap! Terkejutlah Siangkoan Lohan melihat cara mereka menghilang itu.

"Pangcu, jangan heran. Semak-semak dan jurang itulah pintu gerbang menuju ke tempat tinggalku. Mari, silakan,"

Kata Nam-san Sian-jin dan dia pun mendahului ayah dan anak itu, menyelinap di antara semak belukar, diikuti oleh Siangkoan Lohan dan puteranya. Ketika mereka menyusup di antara semak belukar, ternyata di balik semak-semak itu terdapat anak tangga yang menuruni jurang! Pantas tidak ada di antara anak buahnya yang dapat menemukan tempat tinggal kakek ini! Siapa yang menduga bahwa dibalik semak belukar, di dalam jurang, merupakan tempat tinggal kakek itu? Anak tangga itu tidak terus menujuke dasar jurang, melainkan berhenti sam-pai di pertengahan dinding jurang dan kiranya disitu terdapat sebuah gua yang tersembunyi dan tidak dapat kelihatan dari atas. Akan tetapi, mulut gua yang berada d idinding jurang ini menghadap ke timur sehingga memperoleh penerangan sinar matahari yang cukup.

"Inilah tempat tinggalku, pangcu. Silakan masuk,"

KataNam-San Sian-Jin sambil melangkah masuk ke dalam gua. Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya dan ikut masuk bersama puteranya. Diam-diam dia merasa kecewa. Puteranya harus tinggal di tempat seperti ini? Akan tetapi, setelah memasuki gua itu, dia terbelalak dan menjadi bengong! Gua itu lebar dan nampak biasa saja ketika dia mulai memasukinya, akan tetapi setelah masuk ke sebelah dalam, dia terpesona. Di dalam gua itu ternyata amat luas, seperti rumah gedung besar, dan keadaan di dalamnya tidak kalah dengan gedung tempat tinggalnya sendiri, bahkan jauh lebih mewah.

Posting Komentar