Kisah Si Bangau Merah Chapter 43

NIC

"Kita harus bersabar. Surat yang kukirim kepada Ketua Bu-tong-pai itu sedikit banyak tentu akan dapat menerangkan kegelapan peristiwa semalam."

Sementara itu, Sian Li berlari keluar rumah dengan hati kesal. Ketika ia datang ke rumah kakek dan neneknya, hatinya gembira karena kedua orang tua itu amat sayang kepadanya dan mengajaknya bermain-main. Sekarang, kakek dan neneknya hanya rebah dalam keadaan sakit.

Apalagi bermain-main dengannya, bicara pun mereka itu tidak dapat lagi. Semua itu gara-gara perbuatan penjahat yang menyerbu malam tadi. Hatinya kesal dan marah, dan ia pun keluar dari pekarangan rumah, bermaksud mencari teman bermain. Ada beberapa orang pegawai yang biasanya membantu kedua orang tua itu berdagang rempah-rempah. Mereka, empat orang itu, telah mendengar bahwa kedua majikan mereka menderita luka oleh serbuan penjahat. Mereka membuka toko rempah-rempah mewakili majikan mereka dengan wajah khawatir. Sian Li tidak mempedullkan mereka yang tidak dikenalnya, dan ia pun keluar dari pekarangan dan terus berjalan-jalan seorang diri di jalan raya. Hatinya tertarik melihat seorang kakek berdiri di tepi jalan, memandang ke arah rumah kakek dan neneknya. Ia pun menoleh dan ikut memandang.

Belasan orang hwesio memasuki pekarangan itu, dan mereka ini adalah para hwesio dari kuil di kota itu, para murid Thian Kwan Hwesio yang sudah diberi kabar tentang tewasnya guru dan ketua mereka di rumah keluarga Kao. Tak lama kemudian mereka mengangkut peti mati untuk dibawa pulang ke kuil mereka. Sian Li melihat pula ayah dan ibunya mengantar sampai di luar rumah dan belasan orang hwesio itu meninggalkan pekarangan itu sambil memikul peti mati. Sian Li mengepal kedua tangannya, memandang dan mengikuti perjalanan para hwesio yang mengikuti peti mati sambil membaca doa sepanjang jalan. Hatinya merasa kasihan dan juga penasaran kepada para penjahat yang bukan saja telah membunuh seorang hwesio, akan tetapi juga melukai kakek dan neneknya.

"Penjahat-penjahat kejam, tunggu saja kalian. Kalau kelak aku sudah besar, akan kubalaskan kematian hwesio itu dan lukanya Kakek dan Nenekku!"

Sian Li tidak tahu betapa kakek yang tadi berdiri memandang ke arah kesibukan para hwesio mengangkut peti mati, kini memandang kepadanya dengan sinar mata yang penuh selidik dan mulut tersenyum.

Kakek ini berpakaian seperti seorang sastrawan, akan tetapi jelas bahwa dia miskin melihat betapa pakaian itu sudah penuh jahitan dan ada beberapa tambalan, walaupun nampaknya bersih. Dia mirip seorang sastrawan setengah jembel, dengan rambut yang bercampur dengan cambang, kumis dan jenggot yang sudah berwarna kelabu. Namun wajah masih nampak sehat kemerahan belum dimakan keriput, matanya masih terang dan senyumnya cerah walaupun mulut itu tidak bergigi lagi. Rambut itu dibiarkan awut-awutan, sampai ke pundak. Tubuhnya jangkung kurus namun berdirinya tegak. Sebuah caping lebar tergantung di punggung, tangan kanan memegang sebatang tongkat butut dan tangan kirinya membawa sebuah keranjang obat, terisi beberapa macam akar-akaran dan daun-daunan.

"Nona kecil yang baik, apakah kakek dan nenekmu luka-luka?"

Tiba-tiba kakek itu mendekat dan bertanya. Sian Li menoleh dan ia memandang kepada kakek itu penuh perhatian.

"Apakah engkau orang Bu-tong-pai?"

Tiba-tiba ia bertanya dan alisnya berkerut, matanya memandang penuh selidik.

"Kalau betul, kenapa?"

Kakek itu balas bertanya sambil tersenyum.

"Kalau engkau orang Bu-tong-pai, akan kupanggilkan Ayah dan Ibu. Jangan lari, mereka tentu akan menghajarmu!"

"Kalau aku bukan orang Bu-tong-pai?"

"Kalau bukan, jangan mencampuri urusan kami. Engkau tidak akan dapat menolong, Kek!"

"Ha-ha-ha, anak baik, mengapa engkau mengatakan bahwa aku tidak akan dapat menolong?"

Sian Li memandang kepada orang itu dengan sinar mata penuh selidik.

"Engkau seorang kakek tua, miskin, dan nampak lemah. Andaikata engkau memiliki ilmu kepandaian pun, bagaimana engkau mampu menan-dingi orang-orang Bu-tong-pai yang lihai, sedangkan Ayah Ibuku saja tidak mampu melindungi Kakek dan Nenekku?"

Kakek itu memandang dengan kagum. Anak kecil ini baru berusia empat tahun, akan tetapi telah mampu mengolah pikiran seperti orang dewasa saja. Ini menandakan bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang yang cerdik bukan main.

"Anak yang baik, engkau tadi bilang tentang kakek dan nenekmu yang luka-luka. Kebetulan sekali aku mempunyai sedikit ilmu pengobatan. Aku mendengar bahwa ini rumah dari Pendekar Kao Cin Liong, bekas panglima besar yang amat terkenal itu. Bagaimana kalau aku mencoba kepandaianku untuk menyembuhkan kakek dan nenekmu?"

Mendengar ini, Sian Li menjadi girang sekali. Sejenak ia memandang ke arah keranjang obat di tangan kiri kakek itu, kemudian ia memegang tongkat kakek itu dan menariknya.

"Kalau begitu, mari cepat, Kek. Tolonglah Kakek dan Nenekku!"

Dan ia pun menarik kakek itu berlarian memasuki pekarangan, langsung masuk ke dalam rumah. Empat orang pegawai toko rempah-rempah itu memandang heran, akan tetapi mereka tidak berani menegur. Kakek itu yang merasa rikuh sendiri dan dia berhenti di ruangan depan.

"Anak baik, lebih dulu beritahukan orang tuamu bahwa aku datang, tidak sopan kalau aku terus masuk begitu saja."

"Kakek, memang tidak sopan kalau engkau masuk sendiri. Akan tetapi aku yang membawa-mu masuk, jadi engkau tidak bersalah. Marilah!"

Anak itu menariknya masuk dan Sian Li berteriak-teriak,

"Ayah! Ibu! Aku datang bersama Kakek yang hendak mengobati Kakek dan Nenek!"

Mendengar teriakan anak mereka. Tan Sin Hong dan isterinya, Hong Li segera berlari keluar. Mereka melihat Sian Li meng-gandeng tangan seorang kakek tua yang memegang tongkat dan keranjang obat. Sebagai orang-orang yang berpengalaman, sekali pandang saja suami isteri ini mengenal orang luar biasa, akan tetapi mereka belum mengenal siapa dia maka keduanya memberi hormat dengan sopan dan Tan Sin Hong berkata dengan suara lembut.

"Selamat datang, Locianpwe. Kalau benar seperti yang dikatakan puteri kami maka kami berdua menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe yang hendak mengobati Ayah dan Ibu kami."

Kakek itu tertawa bergelak sehingga nampak rongga mulutnya yang sudah tidak punya gigi lagi.

"Siancai.... sungguh bukan nama besar kosong belaka bahwa Pendekar Bangau Putih adalah seorang pendekar perkasa yang amat pandai membawa diri, rendah hati, dan sopan, ha-ha-ha!"

Sin Hong dan isterinya saling pandang lalu keduanya menatap wajah kakek jangkung itu.

"Maafkan kami yang tidak ingat lagi siapa Locianpwe, sebaliknya Locianpwe telah mengenal kami."

"Ha-ha, tentu saja. Rumah ini adalah rumah Pendekar Kao Cin Liong, putera Si Naga Sakti Gurun Pasir, bekas panglima yang amat terkenal. Dan isterinya adalah seorang wanita sakti, she Suma masih cucu Pendekar Sakti Pulau Es! Begitu melihat nona cilik pakaian merah ini, aku sudah menduga bahwa tentu ia cucu Kao Cin Liong, dan karena kalian adalah ayah ibunya, siapa lagi kalian kalau bukan puteri dan mantu bekas panglima itu?"

"Wah, Kakek tidak adil!"

Tiba-tiba Sian Li berseru.

"Kakek sudah mengenal Ayah Ibu dan Kakek, akan tetapi belum memperkenalkan diri. Mana adil kalau perkenalan hanya sebelah pihak saja?"

"Sian Li, jangan kurang ajar!"

Bentak ibunya.

"Ho-ho, namamu Sian Li, anak merah, Bagus, engkau memang seperti seorang sian-li (dewi) cilik. Tan-taihiap dan Kao-lihiap, saya ini orang biasa saja, bahkan orang yang kedudukannya amat rendah, setengah tukang obat, setengah pengemis, ha-ha-ha!"

Kembali suami isteri itu saling pandang. Biarpun suami isteri pendekar ini masih muda, namun mereka sudah mempu-nyai banyak pengalaman di dunia kang-ouw dan sudah mendengar akan nama besar banyak orang pandai walaupun belum pernah berjumpa dengan mereka. Setengah tukang obat dan setengah pengemis?

"Kalau begitu, Locianpwe ini tentu Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat)!"

Seru Kao Hong Li. Kakek itu mengelus jenggotnya dan tersenyum.

"Nyonya muda sungguh berpemandangan luas!"

"Aih, maafkan kami berdua yang tidak tahu bahwa yang mulia Yok-sian (Dewa Obat) datang berkunjung!"

Kata Sin Hong kagum karena dia pun pernah mendengar akan nama besar tokoh ini yang jarang muncul di dunia kang-ouw.

"Ha-ha-ha, alangkah tidak enaknya mendengar nama sebutan Yok-sian (Dewa Obat). Aku lebih suka disebut Lo-kai (Pengemis Tua) saja. Aku mendengar akan keributan yang terjadi di rumah Taihiap Kao Cin Liong, maka sengaja hendak melihat apa yang terjadi. Kebetulan di luar tadi aku bertemu dengan anak ini! Sian Li menarik hatiku dan ternyata ia adalah cucu Taihiap Kao Cin Liong yang sudah kukenal baik. Nah, mari antar aku melihat dia dan isterinya yang kabarnya terluka."

Bukan main girangnya hati Hong Li dan Sin Hong. Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu mengantar tamu itu memasuki kamar di mana Kao Cin Liong dan Suma Hui rebah. Sian Li mengikuti dari belakang. Kakek itu menurunkan keranjang obat dan tongkatnya yang cepat disimpan oleh Sian Li ke sudut ruangan, kemudian dia menghampiri Kao Cin Liong, memeriksa denyut nadinya sebentar, kemudian memeriksa keadaan Suma Hui. Dia mengangguk-angguk.

"Kabarnya yang menyerang orang-orang Bu-tong-pai?"

Tanyanya kepada Sin Hong.

"Begitulah menurut pengakuan mendiang Thian Kwan Hwesio yang malam tadi dikejar oleh mereka sampai ke sini. Agaknya hwesio itu hendak minta bantuan Ayah dan Ibu yang sudah menjadi sahabat baik,"

Kata Sin Hong. Yok-sian Lo-kai mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Pukulan pada punggung Kao-taihiap ini adalah pukulan yang mengandung Hek-coa-tok (Racun Ular Hitam), agaknya tidak mungkin orang Bu-tong-pai, apalagi yang sudah tinggi tingkatnya, menggunakan pukulan keji macam itu. Juga jarum yang memasuki leher Suma Lihiap itu merupakan senjata rahasia yang biasa dipergunakan orang-orang golongan hitam. Sebaiknya kucoba mengeluarkan jarum-jarum itu lebih dulu, karena kalau dibiarkan terlalu lama, akan berbahaya. Tan Taihiap, engkau memiliki kekuatan sin-kang yang besar, marilah kau bantu aku. Kau tempelkan telapak tanganmu ke luka di tengkuk dan menggunakan sin-kang untuk menyedot, aku akan menggunakan totokan dan urutan untuk mendorong keluar jarum-jarum itu. Jangan terlampau kuat agar tidak merusak jalan darah. Kalau telapak tanganmu sudah merasakan gagang jarum tersembul, hentikan."

Lalu dia menoleh kepada Hong Li dan berkata,

"Lihiap, harap kau rebus sebutir telur, kalau sudah matang, bawa ke sini putihnya saja."

Hong Li meninggalkan kamar, itu untuk pergi ke dapur sedangkan Sin Hong lalu duduk bersila di atas pembaringan, lalu menempelkan tangan kanan ke tengkuk yang terluka jarum, mengerahkan sin-kang menyedot.

Posting Komentar