Mula-mula suara aneh itu seperti lewat terbawa angin lalu, akan tetapi kadang-kadang terdengar dekat sekali, bahkan mereka seperti mendengar suara langkah kaki orang di sekeliling mereka! Tentu saja semalam suntuk mereka tidak mampu tidur sama sekali. Dengan tinju terkepal kedua orang dara itu duduk bersandar batu, seluruh urat syarat mereka menegang karena mereka menduga bahwa sewaktu-waktu tentu akan muncul musuh mereka. Mata dan telinga mereka siap dengan penuh perhatian meneliti keadaan di depan, kanan dan kiri karena mereka tidak mengkhawatirkan musuh akan datang menyerang mereka dari belakang yang terlindung oleh batu gunung yang besar dan tinggi. Akan tetapi, tidak ada sesuatu terjadi! Bahkan menjelang pagi, suara itu lenyap sama sekali. Setelah sinar matahari pagi mulai mengusir embun dan kegelapan, keduanya bangkit berdiri.
"Hayo kita tinggalkan tempat yang menyeramkan ini, enci Syanti,"
Kata Ceng Ceng, lega bahwa malam itu dapat mereka lewatkan dengan selamat.
"Suara apakah semalam, Candra? Menyeramkan sekali!"
"Entahlah, mungkin kita salah memilih tempat. Mungkin di sini sebuah perkampungan siluman yang tentu saja tidak tampak."
Syanti Dewi bergidik, memegang tangan adik angkatnya dan bergegas mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara meninggalkan tempat menyeramkan itu. Tubuh mereka terasa letih dan mengantuk, akan tetapi hati lega karena mereka dapat meninggalkan tempat itu.
"Haiii.... banyak bangkai anjing di sini....!"
Tiba-tiba Ceng Ceng berseru heran ketika mereka keluar dari tempat itu dan melihat belasan ekor anjing serigala telah menggeletak malang melintang dalam keadaan mati, ada yang lehernya hampir putus, ada yang kepalanya pecah. Darah yang masih belum kering betul menunjukkan bahwa gerombolan srigala ini dibunuh orang semalam!
"Kalau begitu lolong anjing semalam bukanlah suara siluman, melainkan suara mereka ini!"
Bisik Syanti Dewi sambil menengok ke kanan kiri. Juga Ceng Ceng menoleh ke kanan kiri, depan belakang sambil memandang penuh selidik.
"Heran sekali, siapa yang membunuh mereka semalam? Aku mendengar suara orang, seperti orang bernyanyi...."
"Aku juga!"
Kata Syanti Dewi. Semalam ketika mendengar suara-suara itu, keduanya diam saja karena merasa ngeri.
"Dan ada suara langkah-langkah kaki orang...."
"Benar, akupun mendengarnya."
"Hemmm, kalau begitu, kita masih terus dibayangi orang, enci."
"Siapa dia gerangan?"
"Tidak perduli siapa, aku tidak takut!"
Ceng Ceng menjadi penasaran dan sudah mencabut sepasang pisau belatinya. Dengan mengangkat dadanya yang mulai membusung itu dia berteriak,
"Heiii, orang yang membayangi kami, hayo keluar kalau memang engkau seorang gagah! Kalau ada niat busuk, mari kita bertanding sampai seribu jurus!"
Akan tetapi dara itu seperti menantang angin karena yang menjawabnya hanya bunyi angin berdesir mempermainkan ujung-ujung ranting pohon. Setelah yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, dua orang dara itu melanjutkan perjalanan ke utara.
Akan tetapi, kembali mereka tertegun ketika melihat bangkai dua ekor harimau yang besar juga. Seperti juga gerombolan srigala tadi, dua ekor harimau itu belum lama dibunuh orang. Ketika Ceng Ceng memeriksa, diam-diam dia terkejut dan kagum bukan main melihat bahwa dua ekor raja hutan itu mati dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan! Dapat dibayangkan betapa kuatnya orang itu, yang membunuh dua ekor harimau itu hanya dengan jari tangan saja! Melihat kenyataan ini, hatinya agak jerih juga dan dia tidak lagi mengulangi tantangannya di dekat bangkai gerombolan srigala tadi, melainkan cepat mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan ke utara. Pada tengah hari, tibalah mereka di tepi sebuah sungai! Girang hati mereka karena ternyata, nasehat penolong yang berpantun itu ternyata cocok!
Mereka tidak.mengenal daerah itu dan tidak tahu sungai apakah itu, akan tetapi mereka tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang aman. Mereka harus menyeberangi sungai itu dan melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, tempat ini sunyi sekali. Sungai itu mengalir tenang melalui hutan-hutan dan pegunungan. Sungai itu adalah Sungai Nu-kiang (Salween) yang bermata air di Gunung Thangla, mengalir ke selatan memasuki Negara Birma. Tanpa sepengetahuan mereka, dua dara itu telah tiba di kaki Pegunungan Hengtoan-san. Tentu saja lembah Sungai Nu-kiang di pegunungan ini amat sunyi sehingga sukarlah bagi mereka untuk mencari perahu agar dapat menyeberang. Tempat itu jauh sekali dari perkampungan nelayan. Akan tetapi, setelah mereka menyusuri sungai sampai jauh, dari jauh nampak sebuah perahu kecil di pinggir sungai, sebuah perahu kosong!
"Di sana ada perahu, adik Candra!"
Syanti Dewi berkata girang sambil menuding ke depan. Ceng Ceng juga sudah melihatnya dan gadis ini memegang tangan kakak angkatnya sambil berkata,
"Enci Syanti, karena kita, terutama engkau, adalah orang-orang pelarian yang dikejar-kejar musuh, maka kurasa sebaiknya mulai saat ini engkau jangan menggunakan nama Syanti Dewi sebelum kita selamat di kota raja Kerajaan Ceng."
Syanti Dewi mengangguk-angguk.
"Engkau benar, adikku. Lalu nama apakah yang sebaiknya kupergunakan?"
"Bagaimana kalau namamu menjadi Sian Cu? She-nya boleh memakai sheku, yaitu she Lu."
"Lu Sian Cu? Nama yang bagus sekali!"
Syanti Dewi atau Sian Cu berkata girang.
"Dengan nama ini, kalau sekali waktu aku lupa dan menyebutmu enci Syanti, biar disangka menyebutmu Sian-ci (kakak Sian). Dan seperti engkau tahu, namaku adalah Lu Ceng. Kita berdua mengaku sebagai gadis dari daerah perbatasan yang lari mengungsi ke timur."
"Baiklah, adik.... Ceng. Ah, hampir aku menyebutmu Candra yang bagiku terdengar lebih manis."
"Nah, mari kita dekati perahu itu. Heran sekali, ke mana tukang perahunya?"
Mereka melangkah lagi mendekati perahu dan setelah tiba di dekat tempat di mana perahu itu tertambat di tepi sungai, tampak seorang laki-laki sedang tidur di atas tanah, berbantal batu yang dilandasi kedua tangannya. Laki-laki itu tidur nyenyak, terdengar suara dengkurnya yang keras. Ceng Ceng dan Syanti Dewi atau lebih baik disebut nama barunya yaitu Sian Cu, mendekati tukang perahu yang sedang tidur nyenyak itu dan memandang penuh perhatian.
Dia seorang laki-laki bertubuh sedang, cukup tegap dan tampak kuat karena agaknya biasa bekerja berat, pakaiannya bersih akan tetapi telah terhias beberapa tambalan di dekat lutut dan siku, pakaian sederhana seorang petani atau nelayan, semodel dengan yang dipakai dua orang gadis itu. Sukar ditaksir usia orang itu. Melihat bentuk mukanya, dia kelihatan masih muda sekali, akan tetapi kumis dan jenggotnya yang hitam gemuk dan liar tak terpelihara membuat muka itu kelihatan lebih tua. Model seorang nelayan yang bodoh yang sederhana dan biasa hidup keras dan sukar! Ceng Ceng menggunakan ujung bajunya yang lebar untuk mengusap keringat dari dahi ke lehernya. Rambutnya agak awut-awutan dan karena dia tidak memakai caping lagi, benda itu telah hancur ketika dipakai melawan musuh yang lihai di malam hari yang lalu itu, mukanya yang putih halus dan cerah itu agak coklat kemerahan oleh sinar matahari.
"Hei, tukang perahu....!"
Ceng Ceng berseru memanggil laki-laki yang sedang tidur nyenyak itu. Si tukang perahu tetap tidur mendengkur, sedikitpun tidak bergerak, juga dengkurnya tidak berubah, tanda bahwa teriakan Ceng Ceng itu sama sekali tidak mengganggu tidurnya.
"Paman tukang perahu....!"
Ceng Ceng berteriak lebih nyaring lagi. Kini suara mendekur itu berubah agak perlahan, dan kumis liar di bawah hidung itu bergerak-gerak lucu, akan tetapi kumis itu diam lagi dan dengkurnya kini menjadi bertambah keras! Ceng Ceng yang berwatak keras itu mulai jengkel hatinya.
"Heii, tukang perahu yang malas! Bangunlah....!"
Dia berteriak nyaring dan mengomel,
"Wah celaka, bertemu seorang pemalas seperti kerbau!"
Tukang perahu itu menggerakkan kedua kakinya, menarik kedua tangan dari bawah kepala, mulutnya komat-kamit akan tetapi kedua matanya masih terpejam dan terdengar dia bicara dengan suara ngelindur.
"aduhh.... siluman rase.... ahhh.... siluman ular...."
Dan dia lalu membalikkan tubuh, membelakangi dua orang dara itu, tidur mendengkur lagi lebih keras. Ceng Ceng membanting kaki kanannya, mukanya merah dan matanya terbelalak marah.
"Kurang ajar! Babi pemalas! Tidak bangun malah memaki-maki orang!"
"Sabarlah, Ceng-moi. Dia tidak memaki, dia sedang tidur dan tentu mimpi."
"Biarpun mimpi, jelas dia memaki kita. Dia menyebut siluman rase, siluman ular, bukankah itu memaki namanya? Di dongeng manapun juga, siluman rase dan siluman ular selalu menjadi seorang wanita!"
"Tapi jelas dia tidak sengaja, dia sedang tidur."
Kalau sengaja, tentu sudah kupatahkan semua giginya!"
Ceng Ceng berkata lagi, mendongkol sekali. Kakinya mencongkel tanah pasir di depannya dan beterbanganlah pasir dan tanah mengenai kepala dan leher tukang perahu itu. Tukang perahu itu terdengar mengeluh, kemudian tubuhnya bergerak dan dia sudah terlentang lagi seperti tadi, kedua tangan ditaruh di bawah kepalanya dan dia sudah tidur lagi mendengkur, hanya bedanya, kalau tadi mulutnya tertutup. Kini bibirnya terbuka sehingga tampak di bawah kumis liar itu deretan giginya yang putih dan kuat, seolah-olah tukang perahu itu menantang dan memperlihatkan giginya untuk dipatahkan oleh Ceng Ceng! Ceng Ceng yang sedang marah itu makin gemas.
"Tukang perahu yang malas seperti kerbau dan babi!"
Teriaknya lagi.
"Hayo bangun, atau.... kulemparkan kau ke dalam sungai!"
Tukang perahu itu tetap tidur.
"Enci, mari kita pakai saja perahu itu!"
"Eh, jangan Ceng-moi. Tak baik mencuri barang orang lain,"
Kata Sian Cu.
"Kalau begitu, biar kulempar mukanya dengan batu supaya si pemalas itu bangun!"
"Sttt, jangan begitu, Ceng-moi. Kasihan dia, lihat tidurnya begitu nyenyak, siapa tahu semalam dia tidak tidur! Orang yang terlalu lelah, orang yang terlalu sedih, tentu dapat tidur seperti pingsan saja. Pula, kita berdua tidak pandai mengemudikan perahu, tanpa dia, bagaimana kita bisa menyeberang? Siapa tahu, dia bisa mengantarkan kita sampai ke kota yang berdekatan. Tentu dia lebih mengenal daerah ini."
Ceng Ceng menahan kemarahannya dan kembali dia berteriak,
"Tukang perahu malas dan tolol! Lekas bangun, kita hendak menyewa perahumu!"
Kini tukang perahu itu menghentikan suara dengkurnya dan sepasang matanya bergerak-gerak lalu kelopak matanya terbuka. Dua orang dara itu kaget melihat sepasang mata yang bersinar tajam sekali, akan tetapi tukang perahu itu mengejapkan matanya beberapa kali seperti belum sadar benar.
"Paman, bangunlah. Kami hendak menyewa perahumu itu!"
Kata Sian Cu sambil menuding ke arah perahu. Suaranya lunak dan halus dan memang puteri ini memiliki watak yang jauh lebih halus daripada Ceng Ceng yang keras hati dan jujur. Tukang perahu itu mengeluh dan bangkit duduk, menggosok-gosok matanya dan ketika dia menurunkan kedua tangan memandang dua orang gadis itu, tiba-tiba dia melompat berdiri, matanya terbelalak, tubuhnya menggigil dan dia menudingkan telunjuknya kepada Ceng Ceng dan Sian Cu sambil berteriak ketakutan.
"Siluman.... eh, siluman.... jangan ganggu aku....!"
"Monyet tua....!"
Ceng Ceng sudah bergerak hendak memukul, akan tetapi lengannya dipegang oleh Sian Cu yang tersenyum melihat kemarahan Ceng Ceng. Dengan sabar dia menghadapi tukang perahu yang masih ketakutan itu.
"Paman, tenanglah. Kami bukan siluman, melainkan dua orang gadis yang ingin menyewa perahumu."
Tukang perahu itu mengangkat kedua tangan di depan dada dan mulutnya masih komat-kamit, terdengar suaranya.
"Aduhhh.... selamat.... selamat.... selamat...., Tuhan masih melindungi aku....! Maafkan, ji-wi kouwnio (kedua nona), tadinya aku mengira bahwa ji-wi adalah siluman-siluman yang semalam kudengar suaranya yang amat mengerikan! Hiiiihhh....!"
Tukang perahu itu menggerakkan kedua pundaknya dan otomatis Ceng Ceng dan Sian Cu juga bergidik, teringat akan pengalamannya semalam.