Kisah Sepasang Rajawali Chapter 43

NIC

"Aku khawatir bahwa peristiwa di hutan itu akan ada lanjutannya, enci Syanti. Yang jelas saja, delapan orang itu mati tentu ada yang membunuh, dan si pembunuh tentu tahu akan keadaan kita. Aku merasa seolah-olah kita di sinipun sedang diawasi orang."

Syanti Dewi mengangguk.

"Akupun mempunyai perasaan demikian, Candra. Akan tetapi, kurasa orang yang membunuh mereka itu bukanlah musuh. Kalau musuh, tentu dia atau mereka sudah turun tangan ketika kita tertidur di hutan!"

"Perjalanan kita masih amat jauh dan biarpun kita sudah meliwati kota Tai-cou, namun kita akan melewati daerah yang sama sekali tidak kita kenal dan menurut kong-kong.... eh, mendiang kong-kong...."

Sampai di sini, Ceng Ceng tidak dapat melanjutkan ucapannya karena lehernya terasa seperti dicekik ketika dia teringat kepada kakeknya yang tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan jenazahnya pun tidak sampai terkubur! Syanti Dewi mengerti akan keharuan hati adiknya, maka dia merangkul sambil berkata,

"Ahhh, kong-kongmu telah berkorban nyawa demi keselamatanku, adikku! Entah bagaimana aku akan dapat membalas budi kong-kongmu itu ...."

Ceng Ceng cepat menekan hatinya dan dia berkata agak keras,

"Jangan berkata begitu, enci!"

Sejenak mereka termenung, kemudian terdengar lagi Syanti Dewi berkata,

"Engkau adalah seorang dara perkasa, dan di dalam tubuhmu mengalir darah keturunan petualang kang-ouw yang berani dan perkasa! Agaknya, bagimu keadaan kita ini tidaklah terasa berat, Candra. Akan tetapi aku....! Sejak kecil aku hidup mewah dan senang, sekarang, aku harus menderita kesengsaraan seperti ini, maka tak mengherankan kalau aku sampai bersikap cengeng, adikku. Bagaimana aku tidak akan berduka? Bukan hanya kong-kongmu tewas, juga menurut cerita para pedagang garam, sebagian besar para anggota rombongan yang mengawalku tewas dalam perang. Dan semua ini gara-gara aku seorang! Bahkan sekarang, engkau adikku yang tercinta, engkaupun harus menderita karena mengawalku!"

Ceng Ceng tertawa.

"Siapa bilang aku menderita, enci? Aku sama sekali tidak menderita!"

"Apa? Tak usah berpura-pura. Pakaian kitapun hanya yang menempel di tubuh kita! Tak pernah dapat berganti pakaian, padahal sudah berapa lama? Seluruh tubuh terasa gatal-gatal dan aku berani bertaruh bahwa tentu ada kutu di pakaian kita."

Tiba-tiba Ceng Ceng menggaruk-garuk dada kirinya dan kelihatan dia merasa ngeri.

"Aih, jangan bicara tentang kutu, enci! Marilah kita pikirkan dengan tenang dan sejujurnya. Benar bahwa engkau adalah seorang puteri yang tidak pernah menderita kesengsaraan hidup. Akan tetapi apa bedanya dengan aku? Akupun hanya seorang gadis dusun yang belum pernah melakukan perantauan. Keadaan kita sama saja, enci. Akan tetapi betapa pun juga, kita tidak boleh putus asa, tidak boleh merasa gelisah. Kegelisahan hanya akan membuat kita tidak tenang dan mengurangi kewaspadaan kita. Biarlah kita saling melindungi dan aku bersumpah bahwa aku takkan meninggalkanmu, aku pasti akan dapat memenuhi pesan mendiang kong-kong, yaitu mengantarkan enci sampai ke kota raja dan di sana kita bisa minta bantuan Puteri Milana seperti yang dipesankan kong-kong."

Melihat sikap Ceng Ceng yang penuh semangat itu, bangkit pula semangat Puteri Syanti Dewi. Dia mengepal tinju dan berkata,

"Ah, kiranya tidak percuma pula aku dahulu tekun mempelajari ilmu silat, apalagi memperoleh petunjuk-petunjukmu, adik Candra. Saat ini, aku bukan puteri kerajaan, melainkan seorang dara kang-ouw yang berpetualang dan siap menghadapi bahaya apapun juga! Kalau ada bahaya mengancam, hemmm.... haiittt....!"

Puteri itu membuat gerakan silat dengan kaki tangannya, seolah-olah dia mengamuk dan merobohkan para pengeroyoknya. Sikapnya lincah dan lucu sehingga Ceng Ceng tertawa dan merangkul kakak angkatnya itu.

"Bagus! Begitulah seharusnya, enci. Kita seperti sepasang burung yang terbang lepas di udara. Bebas dan kita boleh berbuat apa saja menurut kehendak kita sendiri. Bukankah itu menyenangkan sekali? Coba, kalau kita masih berada di istana, lalu enci ingin makan roti kering dan air, ingin menginap di kamar yang begini bersahaja, tentu akan dilarang oleh sri baginda!"

Kedua orang dara itu bercakap-cakap sambil bersenda-gurau dan mereka sudah lupa lagi akan peristiwa siang tadi di hutan. Tak lama kemudian dua orang dara itu telah tidur nyenyak saling berpelukan di atas sebuah pembaringan dan membiarkan pembaringan ke dua kosong. Dengan berdekatan di waktu tidur, mereka lebih besar hati dan aman! Kurang lebih lewat tengah malam kedua orang gadis itu terbangun karena kaget mendengar suara gaduh di atas kamar mereka. Mula-mula Ceng Ceng yang terbangun lebih dulu dan otomatis dia meloncat turun dari pembaringan. Pada saat itu Syanti Dewi juga terbangun dan puteri ini berbisik,

"Suara apa itu....?"

Ceng Ceng sudah menyambar bungkusan perhiasan dan topi mereka yang tadi mereka taruh di atas meja, menyimpan bungkusan di dalam saku bajunya yang lebar, menyerahkan topi caping yang sebuah kepada puteri itu sambil berbisik,

"Sstttt, ada orang bertempur di atas genting...."

Keduanya sudah siap dan mencurahkan perhatiannya ke atas.

Makin jelas kini suara orang bertanding di atas dan menurut dugaan Ceng Ceng yang lebih tajam pendengarannya, sedikitnya ada lima orang bertanding di atas genteng kamarnya. Dan mereka semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi karena biarpun mereka bergerak cepat, namun tidak ada kaki yang memecahkan genteng yang diinjak. Yang terdengar hanya suara angin menyambar-nyambar, angin senjata tajam dan kadang-kadang terdengar suara nyaring beradunya senjata tajam. Tiba-tiba di antara suara beradunya senjata dan berdesingnya angin gerakan senjata tajam, terdengar suara seorang laki-laki berpantun, suaranya nyaring dan seperti tidak ada artinya, namun bagi sepasang gadis itu pantun yang dinyanyikan memiliki arti penting. Yang mengherankan hati Ceng Ceng dan mendebarkan adalah suara itu, seperti suara yang telah dikenalnya!

"Sepasang merpati terkurung tiada jalan terbang lari, dihadang depan belakang. Maut mengintai dari utara di sepanjang lembah sungai!"

"Enci Syanti, mari kita cepat lari....!"

Puteri itu meragu.

"Mengapa lari? Di luar.... bukankah lebih berbahaya? Kita berjaga di sini dan kalau ada bahaya baru kita membela diri."

"Sssttt.... kau turutlah aku, enci. Cepat!"

Ceng Ceng sudah menggandeng tangan puteri itu, menariknya keluar dari kamar terus berlari melalui belakang rumah penginapan. Pintu belakang rumah penginapan itu masih tertutup. Ceng Ceng membuka palang pintu, kemudian mereka berdua meloncat ke dalam gelap, melalui pintu belakang dan terus lari tanpa menoleh lagi.

"Kita lari ke mana, Candra?"

Puteri itu bertanya, heran mengapa adik angkatnya ini tahpa ragu-ragu melarikan diri ke arah tertentu.

"Enci, ingat kata-kata terakhir di setiap baris pantun tadi. Lima kata-kata itu adalah terkurung-lari-belakang-utara-sungai! Nah, yang berpantun itu adalah seorang sahabat atau penolong yang menganjurkan kita lari karena kita telah terkurung dan kita dianjurkan lari melalui pintu belakang, menuju ke utara dan kalau aku tidak salah menduga, kita akan tiba di sebuah sungai."

Syanti Dewi terkejut dan juga kagum akan kecerdikan adik angkatnya, akan tetapi juga ingin sekali tahu siapa orang yang berpantun dan yang menolong mereka itu.

"Dia siapa, adik Candra?"

Tanyanya sambil terus berlari di samping adiknya.

"Entahlah, akan tetapi suaranya seperti.... heiii!"

Tiba-tiba Ceng Ceng menghentikan larinya karena dia kini teringat akan suara itu.

"Tentu saja dia orangnya!"

"Apa katamu?"

Syanti Dewi berusaha menyelidiki muka Ceng Ceng di dalam gelap itu.

"Dia siapa?"

"Penolong kita itu, yang berpantun tadi.... suaranya seperti si muka bopeng yang membikin ribut dengan ular-ular di Tai-cou itu dan.... dan.... wah, tidak mungkin salah, tentu dia orang pandai yang menolong kita."

Tiba-tiba Ceng Ceng menarik tangan Syanti Dewi dan dia sendiri sudah melepas topi capingnya, menggunakan benda itu untuk menghantam ke kanan, ke arah bayangan yang berkelebat dan tadi dilihat bayangan itu hendak menangkap Syanti Dewi.

"Prakkkk!"

Ceng Ceng terhuyung ke belakang dan caping di tangannya itu hancur berantakan. Dara ini kaget bukan main. Dia menyerang bayangan itu dengan caping biasa, akan tetapi dia sudah mengerahkan sin-kangnya sehingga bagi lawan yang ilmunya tidak amat tinggi, serangannya itu sudah cukup hebat dan dapat merobohkan orang. Akan tetapi, bayangan itu menangkis dengan lengannya, akibatnya tidak hanya capingnya yang hancur, juga dia sampai terhuyung saking kuatnya tenaga orang yang menangkisnya itu! Dia teringat akan pesan kong-kongnya bahwa di pedalaman banyak sekali terdapat orang pandai maka tanpa menanti orang tadi bergerak, dia sudah menerjang ke depan, menggunakan sepasang pisau belati yang disimpan di sebelah dalam bajunya.

"Hyaaatttt....!"

Dara perkasa ini mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya menerjang cepat dan sepasang pisaunya menyambar dari kanan kiri, yang kanan mengarah lambung, yang kiri mengarah leher. Serangan yang dahsyat dan lihai sekali, apalagi dilakukan dalam cuaca yang gelap!

"Plak-plak.... wuuuutttt....!"

Kembali Ceng Ceng tercengang dan kaget. Orang itu telah dapat menangkis serangan dalam gelap, menangkis lengan kanan kiri bahkan telapak tangan orang itu menyambar hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya. Untung dia dapat mengelak cepat, kalau tidak, sekali kepalanya kena dicengkeram oleh tangan yang dia tahu amat kuat itu, akan celakalah dia! Kini, bayangan itu menerjangnya dengan kecepatan yang mengerikan. Namun Ceng Ceng tidak menjadi gentar, dia menggerakkan kedua tangannya yang memegang pisau, melindungi tubuhnya dan sekaligus dia menggerakkan kepalanya sehingga kuncir rambutnya menyambar seperti seekor ular hidup ke arah mata orang itu!

"Sing, sing.... plakk!"

Posting Komentar