Kemudian gadis itu tekap mukanya dengan tangan dan menangis tersedu-sedu.
Ia teringat akan peristiwa tadi dan menjadi sedih sekali.
Ia dapat menduga bahwa yang bermain suling itu tentu Sin Wan karena iapun telah sadar dan melihat ketika Giok Ciu menyambitnya dengan suling yang disambar oleh Sin Wan tadi.
Ia tahu bahwa pemuda yang halus dan sopan itu mencinta Giok Ciu dan ia menyesali diri sendiri bahwa dengan adanya dia disitu maka timbullah pertentangan dan perselisihan faham antara Sin Wan dan Giok Ciu yang kasar, tapi hatinya tak dapat menyangkal lagi bahwa ia jatuh hati kepada Sin Wan, pemuda yang tampan dan gagah itu.
Maka kini tak tertahan lagi olehnya mendengar tiupan suling Sin Wan dan tangisnya menjadi-jadi hingga kedua nikouw itu terbangun dan cepat menghiburnya, karena disangkanya bahwa gadis itu menangis karena luka dipundaknya terasa sakit.
Sementara itu, Sin Wan juga tidak tahu bahwa pada saat ia meniup suling dengan asiknya itu, di sebuah tikungan jalan kecil itu tampak tubuh seorang gadis mendatangi.
Gadis itu adalah Giok Ciu yang datang bagaikan tidur sambil berjalan.
Kedua matanya basah air mata dan ia merasakan bagaikan dirinya ditarik oleh suara lagu itu.
Ia juga satu malam tak dapat tidur, bahkan tidak berganti pakaian, hanya menambahkan sehelai mantel diluar pakaiannya karena malam sangat dingin.
Kini ia mendatangi ke arah suara tiupan suling dengan hati terharu sekali.
Semalam penuh ia gunakan untuk berpikir dan setelah kemarahannya agak mereda, ia dapat berpikir secara dingin dan sehat.
Ia merasa telah berlaku agak terlalu terburu nafsu hingga sampai terjadi pertempuran dengan Sin Wan hanya karena gadis itu saja! Memang tidak ada bukti-bukti bahwa Sin Wan cinta kepada gadis anak musuh itu, dan mungkin juga pemuda itu menculiknya hanya untuk memancing musuhnya keluar dari persembunyiannya.
Ah, kenapa ia begitu terburu nafsu sehingga suling tanda perjodohan yang keramat itu dilempar? Dapatkah Sin Wan memaafkannya? Ketika mendengar suara suling itu, ia terkejut.
Kemudian, perlahan-lahan air matanya jatuh menitik ketika ia kenali lagu itu.
Lagu yang dulu pernah dimainkan oleh Sin Wan dengan suling itu juga di rumahnya, dan lagu yang telah membuat mendiang ayahnya menangis.
Maka ia segera bangun dan menghampiri tempat suara itu, dimana ia dapatkan Sin Wan berdiri sambil meniup sulingnya.
Dalam keadaan biasa Sin Wan tentu akan mendengar suara tindakan kai Giok Ciu dengan telinganya yang sudah terlatih baik, tapi pada saat itu ia seperti orang tak sadar dan seluruh perhatian dan perasaannya terbawa oleh suara suling itu, maka ia tidak tahu bahwa Giok Ciu telah berdiri di belakangnya.
Seelah suara suling makin merendah dan melambat hingga akhirnya berhenti, Sin Wan menurunkan tangannya yang memegang suling dan menghela napas.
"Koko!" tiba-tiba terdengar suara halus merdu di dekat telinganya.
Ia menengok dan sepasang mata bertemu saling tangkap.
"Moi-moi!" "Koko, kau memaafkan aku, bukan?" suara Giok Ciu mengandung isak.
Sin Wan girang sekali dan semua rasa sedihnya lenyap seketika.
Ia maju dan memegang tangan Giok Ciu dengan mesra.
Mereka berdiri berhadapan dan berpegang tangan sambil saling pandang dengan penuh perasaan.
Entah berapa lama mereka berdiri dalam keadaan seperti itu, dan tiba-tiba keduanya melepaskan pegangan masing-masing karena mendengar tindakan kaki orang mendatangi! Melihat orang yang datang sambil tersenyum itu, Giok Ciu segera mencabut pedang dan siap menghadapinya.
Tapi Sin Wan tersenyum dan berkata perlahan,"Moi-moi, simpanlah pedangmu.
Dia adalah saudara Gak Bin Tong yang telah menolongmu." "Menolongku? Bukankah ia malam tadi membantu Kwi Kai Hoatsu?" tanya Giok Ciu terheran.
Sementara itu, Gak BinTong sudah tiba disitu dan disambut dengan girang oleh Sin Wan.
"Gak-lotee, terima kasih atas petunjukmu hingga sumoiku dapat tertolong," kata Sin Wan dengan wajah berseri.
Hati pemuda itu sekarang sudah seperti biasa, bahkan gembira sekali.
Kemudian Sin Wan menceritakan Giok Ciu bagaimana orang she Gak itu telah membantu dan menolong mereka.
Giok Ciu lalu menjura dan menyatakan terima kasihnya kepada pemuda tampan bermuka putih itu.
"Tidak apa, tidak apa!" Gak Bin Tong balas menjura.
"Kwie lihiap janganlah terlalu sungkan.
Orang-orang seperti kita memag sudah sepantasnya bantu membantu dan tolong menolong, bukan? Sayang aku terlahir dalam keluarga hambar kaisar, hingga tak mungkin dapat membantu jiwi secara berterang." Sebetulnya, biarpun harus mengakui bahwa pemuda muka putih itu telah berjasa dan membantunya menolong Giok Ciu, namun Sin Wan tidak suka bergaul rapat dengan Gak Bin Tong.
Ia diam-diam tidak merasa suka kepada pemuda ini karena dianggapnya bahwa pemuda ini mempunyai watak palsu dan tidak setia.
Kalau tidak demikian, mengapa pemuda ini membantu orang luar dan mengkhianati golongan sendiri? Kalau misalnya ia tidak suka kepada golongannya, mengapa tidak secara terus terang saja ia keluar dari situ? Sikap berpura-pura dari pemuda itu terhadap golongan pahlawan kaisar membuat Sin Wan diam-diam bercuriga dan tidak suka padanya.
"Saudara Gak, pagi-pagi sekali telah datang mengunjungi ami, tentu ada sesuatu yang sangat penting bukan?" Kata Sin Wanda dengan suara manis dan ramah.
"Benar katamu, Bun-lauwte, ada berita baik sekali.
Suma-cianbu pagi ini pergi melarikan diri ke Cee-tong-an, hanya dengan tiga orang pengawal.
Kau dapat mencegatnya di hutan sebelah selatan kota raja karena ia pasti mengambil jalan itu." Girang sekali Sin Wan mendengar ini, lebih-lebih Giok Ciu yang segera berkata," Hayo kita berangkat sekarang juga, koko." "Kukira Kwie lihiap jangan ikut pergi," tiba-tiba Gak Bin Tong berkata hingga gadis itu terkejut dan heran, demikianpun Sin Wan.
"Mengapa begitu?" Sin Wan bertanya.
"Mereka telah mengetahui bahwa Suma-siocia dibawa ke tempat ini, maka aku kuatir kalau-kalau ada orang menyerbu kesini.
Lebih baik lihiap tinggal di sini menjaga Suma-siocia, pula Suma-cianbu hanya dikawal oleh tiga orang yang tidak berapa tinggi kepandaiannya, sehingga agaknya tidak akan menyukarkan saudara Bun." Sin Wan menganggap omongan ini betul juga, maka setelah memesan agar Giok Ciu berhati-hati, ia lalu pergi ke hutan yang berada di sebelah selatan tembok kota.
Sementara itu, setelah Sin Wan pergi, Giok Ciu mempersilahkan Gak Bin Tong masuk kelenteng dan duduk di ruang tamu, dimana mereka bercakap-cakap dengan asik, karena Gak Bin Tong memang pandai berkata-kata.
Pemuda ini selain tinggi kepandaian silatnya, juga sudah berpengalaman dan ia menarik perhatian Giok Ciu dengan ceritanya tentang berbagai tempat yang ramai.
Kemudia pembicaraan mereka tertuju kepada persoalan yang mereka hadapi dan mereka membicarakan suma-cianbu.
"Memang kapten she Suma itu cukup banyak mengurbankan jiwa orang-orang gagah hingga banyak orang gagah sakit hati kepadanya," kata Gak Bin Tong dengan gemas, kemudian suaranya melembut ketika ia melanjutkan kata-katanya, "Tapi puterinya Suma-siocia, berbeda jauh dengan ayahnya itu.
Ia adalah seorang gadis terpelajar tinggi, cantik jelita, dan berbudi baik, hingga ia terkenal sebagai seorang ciankimsiocia yang harum sekali namanya." "Saudara Gak, apa perlunya kau membicarakan hal gadis itu kepadaku? Aku tidak tertarik sama sekali!" kata Giok Ciu dengan sikap murung karena hatinya panas sekali mendengar gadis yang dibencinya itu dipuji-puji orang didepannya.
Gak Bin Tong tersenyum dan pura-pura tidak tahu akan sikap gadis itu.
Ia menghela napas.
"Tapi puteri itu terlalu angkuh dan tinggi hati.
Tiada seorang pemuda diacuhkannya, agaknya memang saudara Bun saja yang pantas untuk memetik bunga harum itu!" Mata Giok Ciu menyambarnya dengan tajam,"Apa katamu? Apa.....
Apa maksudmu?" Gak Bin Tong memandang dengan kaget dan heran terbayang nyata di mukanya yang cakap.
"Eh, kau belum tahukah, Kwie lihiap?" "Tahu apa?" "Saudara Bun jatuh hati kepada gadis cantik itu." Giok Ciu menahan debaran jantungnya dengan menggigit bibir,"Aah masak, Bun twako tidak semudah itu jatuh hati!" "Ha, ha, ha! Memang, saudara dekat tak mungkin mengetahui isi hati kakak seperguruannya yang tiap hari dekat dan merupakan seperti saudara sendiri.
Mungkin juga Bun-lauwte malu-malu untuk mengaku padamu, tapi apakah kau tidak dapat menduga? Kalau dia tidak cinta kepada gadis itu, tak perlu ia menculiknya, bukan?" "Sudahlah jangan bicarakan soal ini!" kata Giok Ciu dengan gemas dan tak senang.
"Maaf, lihiap.
Tapi sungguh aku heran melihat sikapmu.
Apakah kau tidak ikut gembira melihat kakak seperguruanmu mendapat jodoh seorang gadis yang demikian cantik dan bijaksana seperti Suma Li Lian itu? Aku sendiri yang hanya menjadi kawan barunya, ikut merasa gembira dan girang!" Terpaksa Giok Ciu menyembunyikan perasaannya dan menjawab, "Bukan aku tidak girang, tapi itu bukanlah urusanku, dan pula, aku masih tidak percaya bahwa Bun twako mencinta gadis anak musuh kami itu.
Sungguh tak masuk akal dan mustahil!" Gak Bin Tong bangun dan berdiri dari bangku yang didudukinya.
"Kwi lihiap, aku Gak Bin Tong tidak biasa membohong.
Kalau kau hendak membuktikan kebenaran bicaraku, coba kau buktikan dan baik kita samasama lihat siapa yang lebih tepat dugaannya.
Kalau ternyata aku memang keliru sangka , aku bersedia meminta maaf kepadamu, dan kepada saudara Bun!" Giok Ciu tersenyum dan sebetulnya ia tak ingin melayani orang yang cerewet seperti pemuda ini, namun di dalam hatinya telah menyala api yang dicetus oleh kata-kata Gak Bin Tong tadi.
Ia lalu bertanya,"Dengan cara bagaimanakah kita membuktikan itu?" "Mudah saja.
Kalau saudara Bun datang, coba kau beritahu padanya bahwa kau telah membunuh mati nona Suma itu, coba kita bagaimana sikapnya terhadapmu.
Bukankah ini ujian yang baik sekali? Kalau ia mencinta Suma-siocia, pasti ia akan marah dan sedih sekali." Giok Ciu mengangguk-angguk dan anggap bahwa ujian itu baik dan tepat sekali, maka ia merasa setuju.
Setelah bercakap-cakap lagi beberapa lama, beberapa kali Gak Bin Tong menutup mulu dengan tangan dan menguap.
"Saudara Gak.