Kisah Sepasang Naga Chapter 29

NIC

Lihatlah, aku siapa, lihat, pandanglah dan roboh!" Karena kata-kata itu memang aneh Giok Ciu memandang heran tapi begitu pandang matanya bertemu dengan sinar mata Kwi Kai Hoatsu, ia tiba-tiba merasa kepalanya pusing dan berat hingga tubuhnya menjadi limbung! "Haaa! Pasti roboh, pasti roboh!" Sin Wan terkejut sekali, lalu dengan tangan kiri ia memegang lengan Giok Ciu dan menyendalkan sambil berseru keras,"Moi-moi, jangan pandang matanya! Lekas gunakan lweekang melawan kepusingan dan atur napasmu!" Giok Ciu memang telah hampir berada dalam pengaruh sihir pendeta itu, tapi karena suara Sin Wan adalah suara orang yang selalu dekat di hatinya, pula pemuda itu memang menggunakan suara batinnya yang kuat, maka dengan ucapannya itu Sin Wan dapat merampas kedudukan si pendeta, dan dialah yang pegang pengaruh atas diri Giok Ciu.

Maka seketika itu juga gadis itu lalu menurut dan taat atas perintah Sin Wan, dan melakukan apa yang diperintahkan tadi.

Segera ia sembuh kembali dan menyerang lagi dengan lebih sengit.

Juga Sin Wan menyerang sengit tetapi selalu berhati-hati.

Ia tahu bahwa tongkat ular itu mengandung senjata-senjata rahasia yang tersembunyi.

Melihat betapa ilmu sihirnya telah terpukul punah sebelum menjatuhkan kurban, Kwi Kai Hoatsu marah sekali.

Terpaksa ia harus menggunakan senjata rahasia untuk melawan dua anak muda yang kosen ini.

Tapi ia tak mau menggunakannya dengan diam-diam karena takut disangka curang.

Ia segera membentak,"Awas jarum!" tiba-tiba dari ujung kebutannya itu menyambar keluar sembilan batang jarum halus ke arah jalan darah tubuh Sin Wan dan Giok Ciu.

Baiknya kedua anak muda itu telah berjaga-jaga, maka ketika mendengar desir jarum itu menyambar, mereka memutar pedang dengan cepat hingga jarum jarum terpukul pergi semua.

Dan pada saat itu, pedang Sin Wan berhasil pula menabas pundak Kwi Kai Hoatsu yang cepat menggulingkan diri kebawah, tapi tidak urung sedikit kulit dan daging pundaknya telah terkelupas! Ia berseru marah sekali dan berkata,"Gak kongcu, sekarang majulah!" Gak Bin Tong segera memutar pedangnya membantu, disambut oleh Giok Ciu dengan hebat, karena gadis itu belum tahu akan pertolongan pemuda itu.

Ia hanya menganggap bahwa pemuda itu adalah seorang pahlawan istana juga.

Tapi ia segera terkejut melihat betapa pedang pemuda muka putih itu dapat menahan Ouw Liong Pokiam, sedangkan ilmu pedang pemuda itu tidaklah lemah! Pada saat mereka bertempur hebat, dari belakang muncul banyak pahlawan yang maju mengurung kedua anak muda itu.

"Moi-moi, lari!" ajak Sin Wan yang mengerahkan tenaga menyerang Kwi Kai Hoatsu yang terpaksa meloncat mundur.

Kemudia, kedua anak muda itu menggunakan ilmu loncat mereka menerjang ke luar sambil memutar pokiamnya sehingga terlepas dari kurungan.

Dengan hati murung dan penasaran serta kecewa, Sin Wan dan Giok Ciu pulang ke kelenteng nikouw di luar kota tu.

Setelah bersusah payah sedemikian lama, belum juga mereka dapat membalas dendam, bahkan hampir saja terkena celaka! Di sepanjang jalan Sin Wan menghibur gadis yang diketahuinya sedang murung itu.

"Biarlah kita besok menyerang lagi dan mencari jalan yang baik," kata Sin Wan.

Ketika mereka tiba di kelenteng, Giok Ciu melihat Suma-siocia duduk di ruang belakang sambil menangis.

Ia heran sekali dan bertanya kepada Sin Wan.

Lalu dengan ringkas Sin Wan menuturkan pengalamannya ketika berpisah dengan Giok Ciu siang tadi dalam mengejar Suma-cianbu.

Mendengar bahwa gadis itu adalah anak perempuan Suma-cianbu, Giok Ciu maju dan membentak,"Coba angkat mukamu!" Suma-siocia terkejut mendengar suara orang membentaknya, maka ia segera mengangkat muka memandang.

Giok Ciu melihat betapa gadis itu sangat cantik maka timbul rasa cemburu di dalam hatinya.

"Siapa namamu?" Tanyanya dengan kasar, Suma-siocia tidak senang sekali melihat sikap orang dan ia anggap gadis cantik yang masih muda ini kasar dan galak, tidak tahu aturan.

Maka iapun tidak mau menjawab dan menundukkan mukanya lagi.

Marahlah Giok Ciu.

"Jawablah kalau tak ingin aku pukul mukamu!" Sin Wan mendekati mereka,"Suma-siocia, ini adalah Kwie Giok Ciu, sumoiku.

Harap kau terangkan namamu kepadanya." Suma-siocia mengangkat mukanya dan memandang Sin Wan.

Alangkah halusnya sikap pemuda yang telah menculiknya ini.

Halus dan sopan santun! Ia sangat tertarik dan kagum melihat Sin Wan, dan menyesali nasibnya mengapa pemuda seperti itu justru menjadi musuh dan hendak membunuh ayahnya! Kini mendengar kata-kata itu, ia berkata, "Namaku Suma Li Lian dan tolong beritahu kepada lihiap ini bahwa aku tidak perlu dibentak-bentak.

Kalau kalian mau bunuh, boleh bunuh saja." Melihat sikap Sin Wan yang agaknya ramah tamah dan sopan santun terhadap gadis cantik puteri musuhnya itu, Giok Ciu makin cemburu saja, kini mendengar kata-kata Suma Li Lian, ia makin marah.

"Minta mati, sekarang juga kau mati!" dan cepat sekali pedangnya menyambar.

"Tahan, moi-moi!" Sin Wan menggunakan pedangnya menangkis sehingga sepasang pedang hitam dan putih itu beradu dengan keras mengeluarkan titik-titik bunga api.

Giok Ciu penasaran sekali.

"Koko, lupakah kau bahwa perempuan ini adalah anak bangsat she Suma yang telah membunuh ibu dan kakekmu?" "Sabar, moi-moi.

Benar ia anaknya, tapi ia tidak berdosa dalam hal itu.

Ia tidak tahu apa-apa!" "Kalau begitu, mengapa kau bawa ia kemari? Apa maksudmua? Katakanlah!" "Moi-moi, dia kubawa ke sini hanya untuk memancing keluar ayahnya!" Tapi Giok Ciu menganggap alasan ini terlalu lemah dan tak masuk di akal dan tetap ia merasa sangat cemburu.

Maka ia segera mengirim serangan kembali ke arah Li Lian sambil berseru,"Kalau kau tidak memusuhinya, biar aku yang mnjadi musuhnya.

Dia anak seorang jahat dan tetap jahat." Serangannya hebat sekali dan cepat Sin Wan mengangkat senjata menangkis tapi tidak urung pundak Sum Li Lian masih terkena sedikit oleh ujung pedang Giok Ciu hingga gadis yang malang itu menjerit perlahan dan roboh pingsan.

"Moi-moi!" "Kau mau bela padanya? Baik belalah!" Kemudian Giok Ciu menyerang lagi ke arah tubuh yang sudah rebah di lantai, tapi Sin Wan kembali menangkis.

Giok Ciu menjadi marah dan kini menujukan serangannya kepada Sin Wan! Maka terjadilah pertempuran di ruang itu.

Sebetulnya bukalah pertempuran, karena Sin Wan tak pernah membalas serangan Giok Ciu, hanya menangkis saja sambil berusaha menyabarkan hati gadis yang kalap itu.

Akhirnya Giok Ciu menghentikan serangan sambil menangis karena tidak dapat menahan marahnya lagi.

Ia mencabut sesuatu dari dalam saku bajunya dan menyambitkan barang itu ke arah Li Lian.

Sin Wan cepat meloncat dan menyambar benda itu yang ternyata adalah suling kecil tanda perjodohan mereka! Sin Wan terkejut dan hendak mengembalikan suling itu, tapi Giok Ciu sudah meninggalkan dia dengan lari keluar kelenteng.

Ketika Sin Wan mengejar, gadis itu membalikkan tubuh dan membentak, "Aku tidak sudi tidur serumah dengan anak musuhku dan hendak tidur di luar kelenteng, apakah ini juga tidak boleh?" Ia memandang Sin Wan dengan mata tertutup air mata.

Sin Wan hanya menghela napas dengan sedih dan meninggalkan dia masuk.

Ia minta kedua nikouw yang ketakutan itu menolong dan membalu luka di pundak Suma Li Lian yang telah sadar dan menangis terisakisak, kemudian ia masuk kamarnya dengan hati gelisah.

Ternyata segala-galanya berjalan tiadk menurut rencananya.

Musuh belum terbalas, Giok Ciu telah tertawan dan hampir saja celaka.

Sekarang usahanya memancing Suma-cianbu keluar dengan menculik Li Lian bahkan menimbulkan keributan antara dia dan Giok Ciu sendiri.

Ah, ia menyesal sekali! Ia tahu bahwa Giok Ciu melakukan keganasn itu hanya karena merasa cemburu padanya, timbul dari hati kuatir kalau-kalau ia jatuh cinta kepada gadis lain! Ia tidak persalahkan Giok Ciu, karena sudah sepantasnya gadis itu marah-marah karena hampir saja kena celaka oleh tipu muslihat Suma-cianbu dan kawan-kawannya! Untuk membalas dendam belum tentu bisa, maka tentu saja melihat anak perempuan dari musuh itu, ia menjadi marah sekali kepada anak gadis itu, ia menjadi marah sekali dan hendak melampiaskan rasa dendamnya kepada anak gadis itu.

Yang membikin ia sangat sedih ialah sulingnya yang dilempar itu! Ah, sampai demikian hebatnya marah yang menggelora dalam dada Giok Ciu? Karena pikiran ini, biarpun tubuhnya sangat lelah, namun Sin Wan tidak dapat meramkan matanya.

Ia gelisah sekali dan berguling di atas pembaringannya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali pada waktu ayam jantan berkeruyuk nyaring, Sin Wan telah turun dari pembaringannya dimana ia tidak tidur sama sekali dan berjalan keluar dari kamarnya menuju ke pekarangan belakang.

Suling hitam kecil yang semenjak terpegang olehnya tak pernah dilepaskannya lagi itu dibawahnya ke belakang.

Pekarangan belakang itu lebar sekali, karena dari situ orang terus dapat menuju ke bukit kecil di belakang sawah ladang.

Sin Wan berjalan melalui jalan kecil di antara ladang dan batu.

Kemudian berdiri memandang ke depan dengan bengong.

Embun pagi mendatangkan pemandangan yang makin menyedihkan hati.

Semua tampak kabur dan abu-abu, seakan-akan seluruh dunia berkabung dan menyedihi sesuatu.

Bahkan suara ayam berkeruyuk juga terdengar menyedihkan dan bagaikan suara tangis yang mengharukan.

Maka sedihlah hati Sin Wan.

Terbayang segala kesedihan di ruang kepalanya.

Terbayanglah ia akan segala yang telah lalu dan terkenang kembali kepada ibu dan kakeknya.

Tak terasa lagi naik sedu-sedan dari ulu hatinya yang berhenti dari kerongkongannya karena ia tekan dari atas.

Kemudian bagaikan dalam mimpi tak terasa lagi ia angkat suling kecil itu ke arah bibirnya.

Sebentar kemudian, terdengarlah suara tiupan suling yang halus itu mengiris kesunyian pagi.

Suara itu terdengar mengalun di antara embun pagi yang melayang-layang, merayu-rayu dan indah sekali bunyinya.

Tanpa merasa lagi Sin Wan meniup lagu ciptaannya sendiri ketika ia masih kecil.

Dalam tiupannya sekali ini, tercurahlah seluruh kesedihan hatinya yang tadi naik dari ulu hatinya.

Ia main dengan penuh perasaan, seakan-akan jiwanya ikut melayang-layang dengan suara itu, seakan-akan seluruh perasaannya mengemudi lagu yang dimainkannya itu.

Halus merdu, nyaring melengking, naik turun, sedih dan menyayat hati tiap pendengarnya.

Bahkan ayam jantan di belakang kelenteng yang tadi tiada hentinya berkeruyuk menyambut datangnya pagi, kini terdiam seakan-akan terpesona dan ikut mengagumi suara yang mengalun bagaikan turun dari angkasa itu.

Sin Wan tidak tahu betapa di dalam kamarnya di kelenteng itu, Suma Li Lian duduk dari tempat tidurnya dan mendengarkan dengan penuh keheranan.

Posting Komentar