Dan lagi, apakah perlunya mengacau dan memberontak? Usahamu akan sia-sia belaka, bahkan nyawamu akan tak tertolong.
Bukankah sayang sekali kalau orang seperti kau yang semanis dan semuda ini mengorbankan jiwa dengan sia-sia?" Suara bujukan yang manis ini bahkan menambah marah hati Giok Ciu.
"Siapa yang perduli omonganmu yang kosong? Aku datang hendak membunuh bangsat she Suma itu dan kawan-kawannya! Apa hubungannya dengan kau?" "Itulah yang salah sekali, Suma-cianbu adalah seorang berjasa diistana, dan yang dibunuh olehnya dulu adalah para pemberontak negara.
Mana bisa kau sekarang datang-datang hendak membunuhnya? Itulah yang disebut mengapa kau memberontak mengacau.
Sudahlah, kau menyerahlah saja dengan baik-baik.
Kalau kau berjanji hendak menyerah dan tidak mengamuk lagi, aku Lu Boh Ong akan menanggung dan membelamu.
Percayalah kepada Pangeran Lu!" "Sudahlah kau jangan banyak mengobrol di depanku.
Tunggu saja, kalau kawanku datang, kau pasti akan mendapat hadiah ujung pedangnya!" Lu Boh Ong tertawa bergelak-gelak.
"Kawanmu? Ha, ha, jangan ngelindur! Kawanmu itu telah mati di tangan para pahlawan.
Tubuhnya sudah dihancurleburkan, maka jangan kau menanti sia-sia!" Sehabis berkata demikian, pangeran ceriwis itu bertindak mendekat dan hendak memeluk Giok Ciu.
Gadis itu biarpun telah lumpuh karena totokan, tidak sudi didekati pangeran itu, maka ia bergerak, berdiri dan hendak meloncat.
Tapi tubuhnya menjadi limbung dan ia roboh! Terdengar pangeran itu tertawa besar dan pada saat itu Sin Wan dengan gemasnya telah meloncat ke dalam kamar.
Kaget sekali Pangeran Lu itu melihat seorang pemuda dengan pedang berkilau putih di tangan tahu-tahu telah berada di situ.
Ia segera menyambar sebatang pedang yang memang tersedia di punggungnya dan cepat bagaikan seekor harimau ia menubruk ke arah Sin Wan.
Pemuda itu dengan tenang menangkis keras dan Pangeran Lu dengan mata terbelalak memandang gagang pedangnya sendiri entah telah terlempar kemana.
Sebelum ia hilang kagetnya, tahu-tahu pedang Sin Wan menyambar dan tanpa dapat berteriak lagi pangeran itu roboh dengan kepala terpisah dari lehernya! Sebetulnya Pangeran Lu yang menjadi murid Kwi Kai Hoatsu, cukup memiliki kepandaian silat, tapi karena dalam gemasnya Sin Wan datang-datang menggunakan gerak tipu Naga Putih Menyambar Awan, mana Pangeran itu dapat menghindarkan diri dari maut! Sin Wan cepat ketok-ketok dan mengurut-urut pundak dan punggung Giok Ciu dan sebentar saja lenyaplah pengaruh totokan yang melumpuhkan gadis itu.
Pelayan yang ketakutan itupun lalu dirobohkan dengan totokan.
"Kau tidak apa-apa, moi-moi?" Tanyanya.
Giok Ciu tersenyum manis sambil geleng-geleng kepala.."Aku tadi juga sama sekali tidak percaya obrolan pangeran rendah ini tentang matimu," katanya.
"Hayo kita serbu pendeta binatang itu!" Sin Wan berkata gemas.
"Baik, koko, memang aku hendak mencari dia, karena pokiamku juga berada di tangannya." "Apa? Ah, kita harus rampas kembali," kata Sin Wan.
"Biarlah kita menggunakan siasat.
Aku bikin panas hatinya dan kau boleh tantang serta maki-maki dia untuk bertanding lagi dan jangan menggunakan ilmu curang!" Dengan cepat keduanya lalu meloncat ke atas genteng dan langsung menuju tempat dimana Kwi Kai Hoatsu dan Gak Bin Tong sedang main catur.
Tanpa ragu-ragu lagi, Sin Wan dan Giok Ciu meloncat turun dan menuju ke ruang itu.
Kwi Kai Hoatsu tahu akan kedatangan mereka, tapi ia sedang asyik memikirkan jalan untuk menghindari serangan Gak Bin Tong dalam permainan itu, ia sengaja diam saja.
Demikianlah kesombongannya yang menganggap rendah tiap orang yang datang padanya.
"Tosu siluman hayo kita bertanding lagi sampai seribu jurus tanpa menggunakan ilmu siluman rendah dan hina!" Giok Ciu menantang sambil memandang ke arah pedang Ouw Liong Pokiam yang benar saja terletak di atas meja di dekat papan catur.
Gak Bin Tong memandang ke arah mereka dan pura-pura merasa kaget.
Tapi Kwi Kai Hoatsu dengan tenang menggerakkan biji caturnya dulu sebelum menengok ke arah mereka.
Matanya yang lebar dapat melihat Sin Wan yang berdiri di sebelah Giok Ciu dengan pedang putih berkilauan di tangan, maka ia lalu mengerti bahwa gadis itu telah tertolong.
"Hm, kalau terangkap lagi olehku, tentu aku akan menotok jalan darah tai-wi-hiat agar kau takkan tertolong lagi," katanya menghina.
"Pendeta bangsat jangan banyak mulut, kalau kau memang orang gagah, marilah kita bertempur untuk menetapkan kepandaian siapa yang lebih unggul!" Giok Ciu berseru.
"Moi-moi, aku mendengar bahwa Kwi Kai Hoatsu adalah seorang toko di Tibet yang menduduki kelas tiga.
Tapi ternyata ia hanya mengandalkan ilmu siluman.
Sedangkan terhadap kau seorang muda saja ia sudah ketakutan setengah mati hingga mana ia berani menghadapimu, apalagi kalau pedangmu berada di tanganmu kembali!" Sin Wan berkata kepada Giok Ciu, cukup keras hingga terdengar oleh Kwi Kai Hoatsu.
"Anak muda sombong! Siapakah kau berani menghina Kwi Kai Hoatsu? Apakah kau sudah bosan hidup?" teriak pendeta itu dengan marah, tapi Sin Wan memandangnya dengan mengejek.
"Kwi Kai Hoatsu! Aku adalah suheng dari nona ini.
Tadi kau telah mendengar sendiri tantangannya, dan aku ingin sekali melihat apakah benar-benar kau bisa mengalahkan sumoiku ini.
Aku tidak percaya kau begitu becus mengalahkan ilmu pedang sumoiku.
Sayang kau begitu pengecut hingga pedang sumoiku kau sembunyikan! Kalau kau bisa mengalahkan sumoiku, barulah kau ada harga untuk mencoba kepandaianku!" Lagak Sin Wan dalam kata-katanya demikian jumawa hingga membuat Kwi Kai Hoatsu marah sekali! Ia adalah seorang tokoh kenamaan dan biasanya dihormati orang, apalagi oleh yang muda-muda.
Sekarang di depan Gak Bin Tong ia dihina oleh dua anak muda tentu saja ia murka luar biasa.
Lebih-lebih ketika Gak Bin Tong yang mengerti maksud Sin Wan, berkata kepada Kwi Kai Hoatsu,"Kwi totiang, anak muda itulah yang mencari-cari Suma-cianbu untuk dibunuhnya.
Ilmu silatnya lihai sekali." Kwi Kai Hoatsu berdiri dan membanting papan caturnya.
"Baiklah, aku akan menghancurkan kepala dua binatang kecil ini!" "Majulah kau, pendeta palsu.
Biar aku lawan kau dengan tangan kosong!" Giok Ciu menyombong.
Tiba-tiba Kwi Kai Hoatsu memungut pedang Ouw Liong Pokiam dan sekali ia ajunkan tangan, sambil berseru, "Nah terimalah kembali pedangmu!" Pedang itu meluncur bagaikan anak panah cepatnya ke arah dada Giok Ciu, merupakan sinar hitam yang luar biasa! Tapi Giok Ciu dengan tenang miringkan tubuh dan ulur tangannya dan dengan cepat pedang itu telah berada di tangannya.
Inilah gerakan hebat untuk menyambut timpukan senjata rahasia yang disebut Kwan-imsiu-hwa atau Dewi Kwan Im Sambut Bunga.
"Bagus!" Kwi Kai Hoatsu berseru dan sekejab kemudian ia telah meloncat menyerang Giok Ciu dengan tongkat ularnya yang lihai.
Sebaliknya Giok Ciu setelah mendapatkan kembali pedangnya, terdorong oleh hati yang sakit karena pernah dijatuhkan dengan kecurangan oleh tsou itu, segera menyerang dengan sengit dan ganas sekali.
Sin Wan melihat betapa tosu itu betul-betul kosen dan gerakangerakannya berbahaya hingga Giok Ciu hanya dapat mengimbanginya saja.
Kalau tosu itu keluarkan serangan-serangan gelap yang tak terduga, tentu gadis itu akan menjadi kurban lagi.
Maka ia segera meloncat maju sambil kelebatkan Pek Liong Pokiam dan berseru, "Tosu siluman, kau cukup berharga untuk mampus di tanganku!" Melihat Sin Wan maju, Gak Bin Tong merasa tidak pantas kalau tinggal diam, lagi pula ia kuatir kalau-kalau dicurigai maka iapun meloncat sambil menyerang Giok Ciu dan membentak, "Jangan menghina Kwi totiang!" Sebetulnya orang she Gak ini hendak menggunakan kesempatan itu untuk menjajal ilmu pedang Giok Ciu, tapi tidak disangka, Kwi Kai Hoatsu berkata padanya, "Gak kongcu, jangan ikut campur.
Aku masih belum perlu dibantu untuk menghadapi dua orang anak kecil ini saja!" Demikianlah kesombongan Kwi Kai Hoatsu hingga ia menolak bantuan orang biarpun dirinya dikeroyok! Terpaksa Gak Bin Tong mundur kembali dan berdiri di pinggir sambil menonton.
Majunya Sin Wan mendatangkan perubahan besar, karena biarpun dalam hal ilmu pedang, pemuda ini tidak lebih jauh dari pada Giok Ciu tingkatannya, namun mempunyai perbedaan gerakan yang besar sekali.
Dan kini karena dua macam ilmu pedang yang kedua-duanya hebat itu dimainkan berbareng, maka mendatangkan serangan yang luar biasa, tidak terduga-duga dan yang tak mungkin dihadapi oleh seorang saja! Pendeta itu terdesak dan dengan repot memutar-mutar tongkat ular dan kebutan yang kini telah digunakan di tangan kirina untuk menangkis datangnya serangan yang bertubi-tubi itu.
Beberapa kali hampir saja tubuhnya terluka oleh pedang lawan dan jubah merahnya telah robek terkena sambaran pedang Giok Ciu, maka ia menjadi terkejut, marah dan berbareng kagum sekali.
Belum pernah selama hidupnya ia menghadapi lawan-lawan yang segini lihai dan memiliki kiam-hwat yang luar biasa.
Ia ingin menggunakan senjata-senjata rahasianya tapi merasa malu, maka diam-diam ia mengerahkan tenaga batinnya untuk merobohkan lawannya dengan sihir.
Setelah tenaga batinnya terkumpul ia lalu berkata, suaranya menggetar dan mendatangkan pengaruh menyeramkan hingga Giok Ciu merasa bulu tengkuknya berdiri ketika tosu itu berkata,"Haa, kalian anak-anak muda hendak melawan aku? Pasti kalah, pasti roboh.