Kisah Sepasang Naga Chapter 27

NIC

Ketika Sin Wan lari mengejar Suma-cianbu yang melarikan diri, Giok Ciu memutar Ouw Liong Pokiam di tangannya lebih cepat lagi untuk mencegah orang-orang itu mengejar Sin Wan dan membela Suma-cianbu.

Memang gadis ini lincah sekali gerakannya dan ketika ia memainkan silat pedang di bagian Ouw-liong-ciong-thian atau Naga Hitam Terjang Langit, sebentar saja dua orang pengeroyoknya telah roboh mandi darah.

Kemudian ia maju terus menghadapi pengeroyoknya yang tinggal empat orang lagi, yakni Liong-san Kui-bo si wanita baju hijau, dan ketiga pahlawan lain yang berkepandaian tinggi, termasuk Liang Ging tosu yang bersenjata tongkat baja.

Biarpun dikeroyok empat, namun Giok Ciu masih berada difihak penyerang dan keempat musuhnya hanya dapat menangkis dan berkelit saja! Tak lama lagi tentu keempatnya akan dapat dirobohkan oleh gadis yang konsen itu.

Tapi pada saat itu, datanglah seorang pendeta berjubah merah yang tubuhnya tinggi sekali, matanya lebar bundar dan hidungnya seperti pelatuk burung kaktua.

Tosu ini memegang sebatang tongkat aneh, karena tongkat itu sebetulnya adalah seekor ular cobra yang telah mati dan dikeringkan, dengan bagian lehernya berkembang mengerikan, sedangkan di punggu tosu itu terselip sebatang hudtim atau kebutan dengan bulu berwarna hitam.

Tosu ini datang dengan tindakan lebar, dan di sebelahnya terdapat seorang laki-laki yang berpakain serba mewah dan bertopi indah terhias permata.

Laki-laki ini usianya paling banyak empat puluh tahun dan dari topinya ternyata bahwa ia adalah seorang pangeran! Ia datang sambil naik seekor kuda yang tinggi besar dan berbulu putih.

Biarpun kudanya lari cepat, namun tosu itu yang tampak berjalan seenaknya, ternyata tidak ketinggalan.

Ini saja membuktikan kelihaian tosu aneh itu.

Melihat betapa seorang gadis dengan hebatnya mengurung keempat pahlawan kaisar dengan sinar pedangnya yang berwarna hitam, pangeran itu berkata," Gadis cilik manakah yang berani main gila disini?" Tosu itu lalu tertawa besar dan berkata,"Kalian mundurlah, biarkan pinto menangkapnya!" Setelah berkata begini, tosu itu meloncat dan tahu-tahu telah menghadang di depan Giok Ciu.

Gadis ini terkejut melihat gerakan orang yang demikian cepat, tapi ia tidak jerih dan memutar pokiamnya dengan gerakan Ouw-liong-ciauw-hai atau Naga Hitam Lintasi Laut, langsung menyerang dengan tusukan maut ke dada tosu itu.

Tosu itu cepat-cepat berkelit ke kiri dan berbareng ulur tangan kanannya yang berbulu hitam itu untuk menangkap lengan Giok Ciu yang memegang pedang, tapi siapa sangka, begitu tusukannya dapat dikelit, Giok Ciu teruskan serangannya dengan gerakan Naga Hitam Caplok Ekornya.

Pedangnya lalu berbalik dan menabas tangan tosu yang hendak mencengkeram lengannya itu! Tosu itu berseru heran dan terkejut.

Tak disangkanya bahwa kiamhwat gadis ini sedemikian lihainya hingga kalau tidak ia buru-buru meloncat ke belakang dan menarik kembali lengannya, tentu lengan itu telah terbabat putus! Diam-diam ia mengeluarkan keringat dingin dan kini ia tahu bahwa gadis ini adalah murid seorang sakti yang tidak boleh dibuat main-main lagi.

Ia lalu memindahkan tongkat ular yang tadinya dipegang di tangan kiri, ke tangan kanan, lalu dengan tongkat aneh itu ia melayani Giok Ciu.

Karena kulit ular cobra yang menjadi tongkat itupun berwarna ke hitam-hitaman, maka kini tampak dua sinar hitam saling serang dengan hebatnya! Betapapun hebat gerakan dan senjata tosu itu, namun menghadapi Ouw Liong Pokiam yang dimainkan dengan sedemikian luar biasanya oleh Giok Ciu, tosu itu tidak dapat berbuat banyak.

Bahkan ia harus berlaku hati-hati sekali, karena kalau tidak, banyak kemungkinan tongkat ular senduk itu akan terbabat putus oleh Ouw Liong Pokiam! Tosu itu adalah Kwi Kai Hoatsu, seorang paderi di Tibeeet yaaang telah diusir pergi oleh kaum Lama karena paderi ini ternyata bukanlah orang suci seperti seharusnya seorang pendeta, dan dalam tingkat kepandaian,ia boleh dibilang menduduki tingkat ke tiga di seluruh Tibet.

Ia bukan lain ialah suheng atau kakak seperguruan dari Cin Cin Hoatsu, ialah pendeta Tibet yang dulu membunuh Kwie Cu Ek, ayah Giok Ciu! Tapi dibandingkan dengan Cin Cin Hoatsu, Kwi Kai Hoatsu lebih lihai.

Sebetulnya dalam hal lweekang atau ginkang, Giok Ciu masih belum dapat menyamai Kwi Kai Hoatsu yang lihai, tapi karena gadis itu memegang sebuah pedang keramat yang sangat ampuh, pula memainkan ilmupedang yang benar-benar menjagoi di seluruh kalangan persilatan pedang, maka untuk beberapa lama tosu itu tidak berdaya.

Sebaliknya Giok Ciu juga merasa lelah karena lawannya ini benar-benar tangguh.

Setelah mereka bertempur hampir seratus jurus dan belum juga dapat merobohkan gadis itu, Kwi Kai Hoatsu merasa penasaran dan malu sekali.

Ia merasa kehilangan muka di depanpara pahlawan, terutama di depan pangeran yang tadi datang bersama-sama dia dan kini masih menonton di atas kudanya, ia merasa betapa nama besarnya dipermainkan oleh gadis cilik ini.

Karena itu maka ia lalu berseru keras dan tiba-tiba dari mulut ular yang telah menjadi tongkat itu menyambar keluar asap hijau kearah muka Giok Ciu! Pada saat itu, Kwi Kai Hoatsu sedang menyerang dengan pukulan ke leher Giok Ciu dan Giok Ciu hanya miringkan kepala berkelit maka ketika tiba-tiba mulut ular itu mengeluarkan uap hijau, ia tak dapat berbuat lain kecuali membuang diri kebelakang.

Tapi terlambat, karena ia telah mencium bau yang amis sekali dan tiba-tiba kepalanya menjadi pening, matanya berkunang-kunang.

Kemudian, dengan pekik nyaring, gadis gagah itu roboh pingsan dengan pedang masih terkepal erat di tangannya! "Nah, demikianlah, Kwie lihiap tertawan oleh mereka dan dibawa pergi." Gak Bin Tong mengakhiri ceritanya kepada Sin Wan.

Sin Wan marah sekali, kedua matanya mengeluarkan cahaya api dan giginya berbunyi.

Kemudian ia dapat menekan perasaan cemasnya, lalu ia menjura kepada Gak Bin Tong.

"Maafkan sikapku yang kasar tadi, saudara.

Sebetulnya dengan siapakah aku berhadapan? Dan mengapa kau agaknya membela kami?" Gan Bin Tong membalas hormatnya,"Aku adalah Gan Bin Tong dan aku terpaksa menggabungkan diri dengan para pahlawan kaisar , karena ayahku adalah seorang pembesar di istana, tapi semenjak kecil aku belajar di Bu-tong-san dan baru beberapa bulan kembali ke sini.

Aku suka melihat sepak terjangmu dan sepak terjang Kwie lihiap, karena aku tahu bahwa kalian hanya datang untuk menuntut balas, sekali-kali bukan maksud kalian untuk memberontak atau mengacau.

Sekarang, marilah kita tolong Kwie Lihiap." "Apa dia tidak apa-apa? Dimana dikeramnya?" Sin Wan bertanya dengan hati memukul.

"Tenanglah, ia tidak apa-apa dan kalau tidak salah, ia dibawa oleh Pangeran Lu ke gedungnya." "Pangeran Lu? Siapakah dia?" "Pangeran Lu Boh Ong adalah murid dari Kwi Kai Hoatsu, kepandaiannya lumayan juga, dan ia sangat disayang oleh suhunya karena pangeran Lu pandai mengambil hati dan menguruk diri Kwi Kai Hoatsu dengan segala kesenangan dan harta benda." "Kalau begitu, mari kita segera berangkat.

Biar kau serahkan saja pangeran anjing itu kepadaku," kata Sin Wan.

"Sabar, kawan.

Kita harus menggunakan siasat, karena ketahuilah bahwa Kwi Kai Hoatsu menjaga gedung itu." "Siapa takuti dia?" kata Sin Wan gagah.

"Memang kau tak perlu takuti dia, tapi ia benar-benar lihai dan ilmu sihirnya berbahaya sekali.

Lebih baik diatur begini.

kau menyerbu ke dalam gedung dan aku akan ajak tosu itu bercakap-cakap, karena aku sudah kenal padanya dan sering bercakap-cakap atau main catur dengan dia." Sin Wan girang sekali dan dia menjabat tangan kawan baru itu dengan berterima kasih.

Kemudian mereka lalu berangkat dan bergerak cepat sekali di atas genteng.

Biarpun dalam hal ilmu lari cepat Gak Bin Tong masih jauh di bawah kepandaian Sin Wan, namun pemuda muka putih itu tidak tertinggal jauh.

Ketika mereka tiba di sebuah gedung besar dan megah, Gak Bin Tong memberi tanda kepada Sin Wan supaya berhati-hati.

Pertama-tama mereka menuju ke sebelah kamar di sebelah kiri.

Begitu mereka menginjak genteng, tiba-tiba dari bawah terdengar bentakan.

"Siapa di atas?" Terkejutlah Sin Wan melihat kelihaian orang di bawah yang segera mengetahui bahwa di atas genteng ada orang! Ia tidak tahu bahwa memang di bawah genteng dipasangi alat hingga jika genteng itu terpijak sedikit saja, maka akan ada tanda di dalam kamar itu.

Gak Bin Tong segera menjawab, "Bukan lain orang, totiang, aku Gak Bin Tong hendak bercakap-cakap dengan kau orang tua!" Pemuda muka putih itu segera memberi tanda kepada Sin Wan untuk meloncat ke bagian lain, sementara ia sendiri meloncat untuk bertemu dengan Kwi Kai Hoatsu yang lihai.

Sin Wan segera memeriksa gedung itu dengan hati-hati sekali.

Ketika ia memeriksa bagian belakang gedung itu, terdengar suara orang berkata-kata dengan suara marah.

Ia girang sekali karena kenal suara ini sebagai suara Giok Ciu.

Cepat Sin Wan membuka genteng dan mengintai ke dalam.

Ternyata Giok Ciu tampak duduk di atas sebuah pembaringan dengan wajah pucat bagaikan seorang yang baru sembuh dari sakit.

Ternyata bisa yang tersembur dai mulut tongkat ular dan yang telah kena tercium olehnya itu berbahaya sekali dan setelah minum obat penawar dari Kwi Kai Hoatsu,barulah jiwa Giok Ciu tertolong.

Sebetulnya, biarpun tidak minum obat penawar, belum tentu gadis itu akan terbinasa, karena di dalam tubuhnya telah mengalir pengaruh mujijat dari buah-buah yang dulu ia makan didalam gua ular.

Tentu saja ia sendiri maupun Kwi Kai Hoatsu tidak mengetahui hal ini.

Setelah Giok Ciu sadar, maka pendeta yang lihai itu lalu menotok urat jalan darah gadis itu bagian koan-goan-hiat,hingga biarpun Giok Ciu telah kembali kesehatannya, namun tenaganya lumpuh dan ia tidak berdaya.

Kalau tidak mendapat pertolongan untuk memunahkan pengaruh totokan itu, ia harus menanti tiga hari baru tenaganya akan pulih dan totokan itu akan lenyap pengaruhnya sendiri.

Ia telah kerahkan tenaganya tapi karena totokan itu memang lihai, ia tidak bisa gerakkan lweekangnya hingga sia-sia saja usahanya untuk melepaskan totokan.

Sin Wan sekejab saja tahu bahwa Giok Ciu berada dibawah pengaruh totokan, maka hatinya menjadi marah sekali.

Tapi ia masih menahan sabar karena ia harus bertindak hati-hati.

Ia melihat bahwa pada saat itu, seorang pelayan wanita sedang membujuk gadis itu yang dijawab dengan makian dan cacian sehingga pelayan itu menjadi kewalahan.

Pada saat Sin Wan hendak meloncat turun, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seorang laki-laki berpakaian mewah dan indah berjalan masuk.

Laki-laki itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, lagaknya dibuat-buat dan ceriwis sekali.

Sepasang matanya yang kekuningkuningan itu berminyak dan memandang kepada Giok Ciu dengan kurang ajar.

"Aah, siocia, bagaimana rasanya tubuhmu? Sudah sehat kembali, bukan? Sukurlah." Kata laki-laki itu kepada Giok Ciu yang tidak menjawabnya, tapi memandang dengan tajam dan marah.

"Siocia telah berkali-kali kukatakan tak perlu kau melawan kami, karena di kota raja banyak sekali terdapat pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan orang-orang berilmu tinggi.

Posting Komentar