Kisah Sepasang Naga Chapter 26

NIC

Lebih baik kalau ia culik Suma-siocia saja untuk memancing Suma-cianbu! Karena pikiran ini, maka ia berkata kepada gadis itu yang masih dapat mendengarnya walaupun telah menjadi gagu.

"Maaf, siocia.

Kau terpaksa kubawa untuk memancing ayahmu keluar dari tempat sembunyinya!" Pada saat itu A-bwe telah datang dan melihat seorang pemuda berada disitu dan nonanya dalam keadaan lemas dipegang oleh pemuda tampan dan asing itu, segera ia lari keluar kamar dan menjerit-jerit.

Sin Wan tidk buang waktu lagi, segera ia pondong tubuh Suma-siocia dan meloncat keluar dari jendela, terus saja ia melayang ke atas genteng.

"Bangsat penculik jangan lari!" terdengar teriakan orang dan beberapa orang pengawal meloncat naik mengejar.

Tapi Sin Wan kecewa sekali karena di antar lima orang pengawal yang mengejarnya itu tidak tampak Suma-cianbu sendiri.

"Kalian minggirlah dari sini! Aku tidak butuh jiwamu.

Suruh bangsat Suma-cianbu itu keluar sendir!" Sin Wan berseru marah dan gemas, tapi kelima pahlawan itu segera mengurungnya dan menyerangnya.

Sin Wan hanya berkelit karena ia tiada nafsu untuk melayani orang-orang ini.

Ia segera menggunakan ginkangnya dan sekali loncat saja ia telah keluar dari kepungan itu sambil pondong tubuh Suma-siocia! Kemudian ia berlari-lari cepat di atas genteng.

Lima orang pengawal itu mengejarnya, tapi sebentar saja Sin Wan telah lenyap jauh di depan.

Sin Wan kembali ke tempat di mana tadi Giok Ciu dikeroyok, yakni dipintu gerbang kota.

Tapi alangkah terkejutnya ketika ia tidak melihat orang berkelahi di tempat itu lagi.

Apakah Giok ciu telah berhasil memukul mundur semua musuhnya dan menyusulnya? Tapi kenapa ia tidak bertemu dengan gadis itu? Atau barangkali Giok Ciu telah kembali lebih dulu di klenteng.

Memikir demikian, Sin Wan lalu cepat lari menuju ke kelenteng dimana ia dan Giok Ciu tinggal.

Tapi kembali ia kecewa karena di tempat inipun gadis itu belum pulang! Dua orang nikouw tua dari Kwanim-bio heran sekali melihat Sin Wan memondong seorang gadis cantik yang setengah pingsan.

"Bun taihiap, kalau kau hendak melanggar kesopanan dan melakukan kejahatan, maka terpaksa kami mengusir kau dari sini!" Nikouw itu berkata dengan sikap keren, karena mereka menyangka keliru pada Sin Wan yang membawa seorang gadis dalam keadaan demikian.

Sin Wan segera lepaskan totokan Suma-siocia yang segera menjatuhkan diri berlutut di depan kedua nikouw itu sambil menangis sedih.

"Jangan khawatir, saya tidak melakukan sesuatu yang jahat.

Gadis ini sengaja saya culik untuk memaksa ayahnya keluar dari tempat persembunyiannya, dan ayahnya ialah musuh besar saya, pembunuh ibu dan kakek! Suma-siocia, ku harap kau suka tinggal di klenteng ini untuk sementara waktu sampai ayahmu sudah bertemu dengan aku.

Aku bukanlah orang rendah yang hendak menyusahkan dan mengganggumu, dan percayalah, aku melakukan ini karena sangat terpaksa.

Kalau ayahmu tidak berlaku curang dan pengecut, mungkin kau dan aku selamanya tak pernah bertemu muka.

Agaknya memang telah menjadi nasibmu harus ikut merasakan dosa-dosa ayahmu!" Sin Wan lalu meninggalkan gadis itu kepada kedua nikouw yang terheran-heran sekali mendengar kata-katanya.

Gadis itu hanya menangis sedih dan segera dihibur oleh kedua nikouw itu dan dibawa kekamar mereka.

Sementara itu, Sin Wan dengan hati sangat gelisah menanti-nanti kembalinya Giok Ciu.

Ia duduk dalam kamarnya, lalu keluar untuk melihat apakah gadis itu telah kembali, kemudian kembali ke kamar dan duduk lagi.

Ia gelisah sekali karena setelah ditunggu sampai sore, belum, juga Giok Ciu kembali! Setelah hari menjadi gelap dan bintang-bintang malam mulai tampak menghias langit hitam,kegelisahan Sin Wan memuncak dan ia tidak sabar untuk untuk menanti lebih lama.

Giok Ciu pasti terkena bencana, pikirnya dengan hati cemas dan tercampur mendongkol.

Pembalasan dendam belum berhasil, telah ditambah lagi dengan lenyapnya Giok Ciu! Ia segera meninggalkan kelenteng setelah berpesan kepada kedua nikouw agar menjaga Suma-siocia baik-baik, dan langsung menuju ke dalam kota.

Ia berdiri lama sekali di tempat persembunyian siang tadi, tapi di situ sunyi senyap.

"Kemanakah ia harus mencari jejak Giok Ciu?" Ia lalu meloncat naik ke atas genteng dan menuju ke gedung Sumacianbu dari mana tadi ia menculik Suma-siocia.

Disitupun sunyi saja, bahkan gedung di bawah itu gelap sama sekali, menunjukkan bahwa pada saat itu tidak ada penghuni.

Tentu bangsat tua she Suma itu telah pergi ke lain tempat, pikirnya gemas.

Apakah betul-betul bangsat itu demikian kejam dan tega terhadap puteri sendiri sehingga tidak hendak menolong? Apakah ia hendak mengorbankan puterinya untuk keselamata jiwa sendiri? Pada saat ia berdiri termenung di atas genteng, tiba-tiba dari arah kiri tampak berkelebat bayangna orang dengan gerakan sangat gesit.

Begitu tiba dekat Sin Wan, bayangan itu bertanya, "Apakah kau mencari Kwie lihiap?" Terkejutlah Sin Wan mendengar ini, dan cepat ia mencabut Pek Liong Pokiam dari pinggangnya dan membentak,"Bangsat rendah, hayo katakan dimana kalian sembunyian Kwie Giok Ciu!" Bayangan itu yang ternyata seorang pemuda berwajah tampan dan putih, tersenyum.

"Sebelum aku menjawab, marilah kita main-main sebentar!" Dan ia lalu mencabut keluar sebatang pedang dan menyeang Sin Wan yang menjadi marah sekali dan menangkis dengan pedangnya.

Terdengar bunyi "trang!!" dan bunga api bepercikan ketika kedua pedang itu beradu dengan kerasnya.

Sin Wan terkejut karena ternyata bahwa senjata lawannya juga sebatang pedang pusaka yang kuat dan tajam, juga ketika kedua pedang bertemu, ia merasakan betapa telapak tangganya tergetar karena tenaga lawannya tidak lemah! Sebaliknya pemuda muka putih itu mengeluarkan suara kagum karena ia merasa telapak tangannya perih dan hampir saja pokiam yang dipegangnya terpental! Mereka lalu saling serang dengan hebatnya.

Setelah bertempur puluhan jurus, tahulah Sin Wan bahwa lawannya adalah seorang ahli pedang Bu-tong-pai, tapi yang telah memiliki kepandaian aseli hingga gerakan-gerakannya sangat sempurna dan hebat.

Diam-diam ia mengeluh karena kalau fihak musuhnya mempunyai orang-orang yang seperti ini kepandaiannya, maka makin sukarlahnya untuk membalas dendam.

Memang ilmu pedang Bu-tong mempunyai keistimewaan dalam membela diri, hingga pedang pemuda muka putih itu diputar sedemikian rupa bagaikan benteng baja yang amat kuat.

Akan tetapi kali ini ia menghadapi Sin Wan, pemuda yang telah meyakinkan Sin-liong Kiam-sut yang tiada bandingnya di dunia ini, ditambah pula telah mempelajari Pek Liong Kiam-sut, maka desakan-desakannya membuat pemuda ahli Bu-tong-pai itu repot juga.

Sin Wan mainkan gerakan Sin-liong Kiam-sut di bagian yang paling sulit dilawan, yakni Sin-liong-koan-jit atau NagaSakti menutupi Matahari.

Tubuhnya yang memiliki ginkang tinggi itu berkelebat ke atas dan bawah demikian cepatnya, didahului dengan gerakan pedang yang menyambar-nyambar merupakan sinar putih menyilaukan dan setiap saat mengancam hendak menembus dan membobolkan benteng baja dari pedang pemuda muka putih itu! Kali ini benar-benar pemuda muka putih itu kewalahan dan hampir saja ia tak dapat bertahan lagi, maka cepat ia berseru, "Bun taihiap, tahan dulu!" lalu ia meloncat ke belakang berjumpalitan dengan gerak tipu Ular Air Menerjang Ombak.

Sin Wan menahan serangannya dan memandang dengan mata tajam dan marah di tahan-tahan.

"Kau mau apa?" tanyanya dengan ketus.

Heran sekali, pemuda itu agaknya tidak mengambil sikap bermusuhan, sebaliknya bahkan tertawa.

"Bun-taihiap, sungguh hebat Pek-liong Kiam-sut yang kau mainkan! Setelah bertempur kurang lebih seratus jurus, aku Gak Bin Tong mengaku kalah! Terima kasih atas pelajaran yang kau berikan tadi." "Eh, apa artinya kata-katamu semua ini? Jangan kau bermain-main didepanku, aku sedang sibuk!" Sin Wan menegur gemas.

Pemuda muka putih itu segera angkat tangan menjura.

"Maaf, taihiap, sebetulnya aku tadi hanya ingin mencoba kelihaianmu saja.

Aku bukan musuhmu, jika kau tidak percaya, hendak kubuktikan sekarang.

Bukankah kau sedang mencari-cari kawanmu yang lenyap?" "Ya, dimanakah dia? Tahukah kau apa yang telah terjadi dengan Kwie li-hiap?" "Dia telah tertawan," kata Gak Bin Tong.

Terkejutlah Sin Wan mendengar ini.

"Tertawan? Ah, rasanya tak mungkin!" Gak Bin Tong tersenyum mengejek."Memang kau dan kawanmu itu sudah cukup pantas untuk bersikap jumawa, tapi ingatlah, di dunia ini masih banyak sekali orang yang terlebih pandai daripada kita.

Kwi Kai Hoatsu kebetulan datang dan apa yang tidak mungkin baginya? Sumoimu itu mudah saja tertawa olehnya." "Kwi Kai Hoatsu, siapakah itu? Dan bagaimana bisa tertawan olehnya?" Sin Wan bertanya cepat.

"Kwi Kai Hoatsu adalah jago nomor tiga dari Tibet yang memiliki kepandaian hebat dan tinggi sekali.

Juga ia pandai ilmu sihir yang sukar sekali dilawan.

Aku melihat sendiri tertawannya kawanmu siang tadi.

Beginilah." Gak Bin Tong lalu menceritakan apa yang telah dilihatnya siang tadi.

Posting Komentar