Kalian tiada permusuhan dengan aku, maka lebih baik mundurlah.
Tetapi kalau hendak membela bangsat ini, akupun tidak takut!" Tiba-tiba terdengar suara perempuan tua baju hijau itu berkata,"Cianbu, apakah ini anak pemberontak itu?" Suma-cianbu mengangguk.
"Benar, toa nio.
Inilah anak pemberontak itu." Wanita itu lalu menunding dan berkata," Anak muda, kau lebih baik menyerah saja, mungkin dosa-dosamu dapat di peringan.
Kau mengandalkan apakah berani melawan kami?" Sikap wanita ini jumawa sekali sehingga menimbulkan marahnya Giok Ciu.
"Eh, kau ini siluman perempuan darimanakah begitu sombong?" bentaknya.
Wanita baju hijau itu memandang kepada Giok Ciu dengan tersenyum mengejek.
"Kau anak kemarin sore sudah berani unjuk gigi.
Ketahuilah nenekmu ini ialah Liong-san Kui-bo! Hayo lekas kau berlutut di depanku." Wanita itu agaknya mengira bahwa Giok Ciu tentu pernah mendengar namanya yang tersohor dan menjadi jerih.
Tidak tahunya, tidak saja Giok Ciu memang belum pernah mendengar julukan yang berarti Biang Hantu dari Liong-san itu, bahkan andaikata sudah mendengarpun, gadis yang bernyali besar sekali pasti takkan merasa takut.
Mendengar kata-kata Liong-san Kui-bo, ia bahwa tertawa merdu dan nyaring, lalu berkata, "Jadi kaukah si Biang Hantu? He, anakku, kalau begitu kau harus berlutut tiga kali di depanku.
Ketahuilah, aku ini ialah Nenek Moyang Biang Hantu! Hayo kau lekas berlutut!" Tentu saja Liong-san Kui-bo menjadi marah sekali.
Ia berpaling kepada ketiga tosu itu lalu berkata," Toyu sekalian, mari kita bikin mampus dua anak kurang ajar ini!" Sehabis berkata demikian, perempuan tua baju hijau itu lalu mencabut keluar sepasang pedangnya dan langsung menyerang Giok Ciu dengan hebat.
Giok Ciu terkejut melihat betapa gerakan perempuan itu ganas dan cepat sekali, tapi ia tidak takut dan sambil berloncatan menyingkiri serangan lawan, ia mencabut Ouw Liong Pokiam.
Kini Liongsan Kui-bo yang kaget karena tiba-tiba ia merasa sambaran pedang hitam yang ganas itu.
Ia tahu bahwa pedang gadis itu adalah sebuah pokiam yang sangat ampuh, maka ia tidak berani beradu pedang.
Ia hanya menggunakan kiam-hwatnya yang memang indah dan cepat itu untuk mengurung Giok Ciu.
Tapi ia tidak tahu bahwa disamping Kiamsutnya, yakni Sin-eng Kiam-sut yang lihai, masih banyak ilmu pedang yang lebih hebat lagi, dan diantaranya yang terlihai adalah Ouw-liong Kiam-sut! Maka ketika Giok Ciu mulai menjalankan ilmu pedangnya, sebentar saja ia menjadi sibuk menangkis sambil mundur.
Tosu termuda diantara ketiganya, yakni Liang Ging Tosu segera maju membantu, sedangkan yang dua, Liang Gwat Tosu dan Liang Hun Tosu, maju menyerang Sin Wan dengan tongkat mereka yang berat dan kuat.
Pertempuran makin ramai ketika beberapa orang pahlawan yang memiliki kepandaian tinggi juga mengurung mereka.
Tapi pedang-pedang mustika itu dimainkan oleh Sin Wan dan Giok Ciu demikian hebat sehingga merupakan sepasang naga sedang mengamuk dan membuat jerih mereka yang mengeroyoknya.
Sebentar saja beberapa orang pengeroyok telah roboh dan yang lain-lainnya terdesak.
Sin Wan menggunakan sebagian besar daripada perhatiannya untuk menyerang Suma-cianbu yang telah berganti pedang sehingga karena beberapa kali hampir saja kapten itu menjadi korban keganasan Pek liong Pokiam, dan melihat betapa para pembantunya terdesak mundur, Suma-cianbu lalu meloncat mundur dan lari memasuki pintu gerbang! "Bangsat jangan lari!" Sin Wan loncat mengejar, tapi ia dihalanghalangi pengeroyok lain sehingga ia harus merobohkan dua orang dulu baru ia dapat meloncat mengejar.
Karena ia melihat betapa Suma-cianbu meloncat ke atas genteng, iapun mengayun tubuhnya ke atas dan masih dapat ia melihat bayangan musuhnya itu di atas wuwungan yang tinggi.
Ia segera mengejar tapi kedua tosu, Liang Gwat Tosu dan Liang Hun Tosu, sudah mengejarnya pula dan menyerangnya dengan tongkat mereka.
Sin Wan memutar pedangnya menangkis lalu setelah melayani mereka beberapa jurus dan mendapat ketika,ia meloncat pula mengejar ke arah bayangan tadi.
Ia mencari-cari dengan matanya dan melihat berkelebatnya bayangan di tempat jauh, di atas sebuah gedung yang jauhnya beberapa belas rumah dari situ.
Ia lalu meloncat lagi dan lari mengejar.
Ia masih sempat melihat betapa Suma-cianbu yang ketakutan setengah mati itu lari dan meloncat turun dalam pekarang belakang sebuah gedung.
Tapi pada saat itu, Liang Gwat Tosu dan Liang Hun Tosu sudah sampai pula ke situ dan mengirim serangan mereka lagi! "Pendeta-pendeta tak tahu diri! Aku tak ingin membunuhmu, lepaskanlah aku!" "Bangsat kecil, jangan kau banyak tingkah.
Menyerah atau mati." Maka timbullah marah Sin Wan.
Ia memutar Pokiam nya sedemikian rupa sehingga Pek Liong Pokiam seakan-akan berubah menjadi puluhan dan menyerang ke dua tosu itu dari segala jurusan.
Tosu-tosu itu adalah murid Cin Cin Hoatsu tingkat pertama, maka kepandaian silat mereka memang tinggi.
Tapi kini menghadapi Pek-liong Kiam-sut, mereka tak berdaya.
Mereka masih mencoba untuk memutar-mutar tongkat menangkis, tapi sia-sia, karena pokiam itu telah mendahului mereka dan tiba-tiba Liang Hun Tosu berteriak kesakitan karena lengan tanggannya berikut tongkatnya terbabat putus! Dengan kaget Liang Gwat Tosu meloncat mundur, dan Sin Wan lalu lari pula ke arah gedung di mana tadi Suma-cianbu turun.
Liang Gwat Tosu terpaksa hanya bisa menolong sutenya yang terluka parah.
Sin Wan meloncat turun ke pekarangan gedung besar itu dan ia tiba di taman yang indah.
Ia menengok ke sana ke sini, lari lari ke arah gedung.
Ia mengintai ke dalam dari sebuah jendela, tapi gedung itu sunyi saja.
Setelah mengambil jalan memutar ia mengintai ke jendela lain dan di dalam sebuah kamar ia melihat seorang gadis sedang membaca kitab Tiong Yong, yakni kitab pelajaran Nabi Khong Hu Cu.
Seorang pelayan wanita datang mengantar air the dan berkata, "Suma-siocia, kau rajin sekali sehingga siang malam hanya belajar kitab saja.
Apakah siocia ingin menjadi sasterawan wanita? Ataukah siocia ingin menjadi gadis suci?" Pelayan itu menggoda.
Dan gadis itu perdengarkan suara ketawanya yang halus dan merdu.
Tubuhnya yang langsing itu bergoyang-goyang di atas bangku yang didudukinya ketika ia tertawa, lalu terdengar suaranya yang lemah lembut, "A-bwe, aku adalah seorang wanita terpelajar, kalau tidak membaca kitab yang balik di dalam kamar atau menyulam sulaman yang indah, habis apakah harus pegang pedang main panah?" A-bwe, pelayan itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan ujung lengan baju, lagaknya genit sekali.
"Socia, apa salahnya kalau kau bermain pedang? Ayahmu seorang pembesar militer yang gagah perkasa." "Ingat, A-bwe, aku seorang wanita." "Tapi, socia.
Bukankah jaman sekarang banyak terdapat wanitawanita pendai bersilat? Coba saja lihat nyonya tua yang berbaju hijau yang kemarin datang itu, namanya kalau tidak salah Liong-san Toanio, begitulah disebut orang.
Ia selalu membawa-bawa pedang dan kabarnya kepandaiannya tidak dibawah ayahmu sendiri.
Bukankah itu hebat dan luar biasa sekali namanya?" Nona itu menghela napas dan ia memutar tubuhnya perlahan dan menghadap jendela hingga Sin Wan terkejut dan buru-buru bersembunyi, dan mendengar lebih jauh sambil mengagumi wajah gadis yang luar biasa cantiknya itu.
Usia gadis itu paling banyak delapan belas tahun, pakaiannya indah berkembang, tubuhnya tinggi langsing, rambunya hitam panjang dikonde ke belakang dengan manisnya, sedangkan kulit muka yang halus lemas kemerah-merahan itu terhias sepasang mata yang cerdas dan lembut sinarnya, hidung dan mulutnya kecil dan indah bentuknya.
Pendeknya seorang cian-kim-siocia yang benar-benar tiada cacad celanya! Nona itu menghela napas dan berkata, "A-bwe,biarpun ayah berpangkat cianbu dan tiap hari kau melihat orang-orang dari golongan ahli silat, namun sesungguhya aku tidak suka melihat orang-orang yang biasanya hanya bermain dengan senjata tajam untuk membunuh orang lain! Lihatlah betapa permusuhan ditumpuk-tumpuk,orang-orang saling kejar, saling bunuh, dan saling balas sakit hati.
Apakah hidup macam demikian itu baik? Ah, aku lebih senang membaca kitab-kitab kuno yang memberi nasehat-nasehat dan petuah tentang hidup yang baik." "Suma siocia, kau memang seorang ciankim siocia yang berbudi dan pandai," A-bwe memuji.
Sementara itu, kini Sin Wan tidak ragu-ragu lagi bahwa nona cantik di dalam kamar itu adalah puteri musuhnya, anak perempuan dari Suma-cianbu! Ia tidak mau mengganggunya, karena yang dibenci dan dicarinya hanya Suma-cianbu seorang.
Maka ia segera tinggalkan tempat itu dan memeriksa kamar lain.
Tapi Suma-cianbu tidak tampak bayangannya! Sin Wan menjadi marah dan timbul gemasnya.
Ia lalu marah dan timbul gemasnya.
Ia lalu kembali ke atas kamar Suma-siocia tadi dan cepat meloncat masuk dari jendela! Suma socia menggunakan saputangan menutup mulutnya yang hendak mengeluarkan jeritan kaget ketika melihat betapa tiba-tiba seorang pemuda yang tampan dan gagah tahu-tahu telah berada di dalam kamarnya! Kebetulan sekali A-bwe baru saja keluar dari kamar itu karena disuruhnya mengambil benang sulam baru.
"Maaf socia.
Aku tak hendak mengganggumu, hanya ingin bertanya bukankah siocia puteri dari Suma-cianbu?" Melihat sikap dan kata-kata Sin Wan yang halus, lenyaplah rasa kaget nona itu dan ia mengangguk untuk membenarkan kata-kata Sin Wan.
"Di manakah ayahmu sekarang, siocia? Tadi aku melihat ia masuk ke dalam gedung ini, tapi telah lenyap begitu saja.
Dimana ia bersembunyi?" Tiba-tiba Suma siocia menjadi berani dan bertanya,"Ada urusan apakah kau mencari ayahku?" "Dia adalah musuh besarku yang harus menebus dosanya!" Terbelalak sepasang mata yang bening itu mendengar pengakuan ini.
"Apa?? Mengapa begitu? Apakah dosanya terhadapmu?" Sin Wan kertak gigi ketika menjawab."Ayahmu telah membunuh ibuku dan kakekku! Hayo katakan, dimana dia?" "Tidak, tidak! Ayah..!! Kau pergilah..
ada orang jahat!! Sumasiocia berteriak-teriak.
Sin Wan cepat maju dan ulurkan tangannya sehingga sekejap saja suma-siocia kena tertotok dan lemas tak berdaya.
Tiba-tiba timbullah akal pada pikiran Sin Wan.
Musuh besarnya sangat licin dan selain banyak pelindungnya, juga pandai bersembunyi.