Didalam gedung sendiri sunyi senyap, hanya dibagian belakang tampak lampu bernyala dan ada suara orang bercakap-cakap.
Bagaikan dua ekor kucing mereka meloncat turun dengan ringan sekali sehingga tidak menerbitkan suara.
Ketika dua orang penjaga lewat ditempat mereka bersembunyi, mereka menerjang dan tanpa dapat mengeluarkan teriakan kedua penjaga itu kena tertotok dan roboh pingsan.
Demikianlah nasib ke dua penjaga lainnya.
Kemudian Sin Wan Giok Ciu meloncat masuk ke dalam gedung.
Alangkah kecewa mereka ketika mendapat kenyataan bahwa gedung itu betul-betul kosong dan tidak ada orangnya, dan yang sedang bercakap-cakap di bagian belakang hanyalah beberapa orang pelayan saja.
Para nelayan itu, empat orang tua dan dua orang laki-laki terkejut sekali ketika tiba-tiba tampak dua orang muda yang telah berada dihadapan mereka.
"Jangan takut, kami takkan mengganggu!" Kata Sin Wan kepada mereka yang berlutut, sambil menggigil ketakutan."Asal saja kalian terangkan di mana adanya Sum-cianbu dan keluarganya." "Taijin, hujin dan siocia beserta beberapa orang pelayan dan pengawal telah tiga hari pergi ke kota raja." Jawab seorang pelayan yag agak tabah.
"Awas, jangan membohong!" Giok Ciu membentak sambil menendang sebuah meja sehingga meja itu terpental dan semua barang di atas meja itu beterbangan.
Mereka takut sekali dan makin pucat wajah mereka.
"Tidak tidak, lihiap .
Kami ti tidak berani membohong." "Bukan main rasa kecewa hati Sin Wan dan Giok Ciu.
Mereka lalu meninggalkan gedung itu, setelah terjadi pula sedikit pertentangan faham antara Sin Wan dan Giok Ciu.
Karena kecewa dan marah, Giok Ciu hampir saja mengangkat tangan dan membunuh semua isi gedung Sumacianbu, tetapi Sin Wan segera mencegahnya, "Moi-moi tak perlu membunuh mereka ini.
Mereka tiada sangkutpautnya dengan kedosaan Suma-cianbu." "Tetapi orang-orang yang bekerja kepadanya dan menjadi kaki tangannya bukankah orang baik-baik!" Giok Ciu bersikeras.
"Jangan begitu, moi-moi.
Mereka hanyalah orang-orang kecil yang bekerja hanya untuk mencari sesuap nasi.
Kalau mereka tidak mengganggu kita, tak perlu kita berlaku kejam terhadap mereka." Giok Ciu mendongkol sekali dan mulutnya cemberut, tapi ia tidak membantah lagi, lalu mendahului meloncat ke atas genteng, diikut oleh Sin Wan dari belakang.
Malam itu juga mereka meninggalkan kota Wiekwan untuk mengejar Suma-cianbu yang sedang pergi ke kota raja.
Jarak antara Wie-kwan dan kota raja bukanlah dekat dan jika mereka berjalan cepat, maka mereka sedikitnya membutuhkan waktu tiga hari.
"Moi-moi, di kota raja kita harus berlaku hati-hati, karena di sana adalah pusat para pahlawan kaisar yang berkepandaian tinggi." Giok Ciu menahan tindakan kakinya dan menengok, "Ah, jadi kau tiba-tiba merasa jerih dan takut, koko?" katanya mengandung suara sindiran.
Sin Wan mengerutkan jidatnya dan berkata, "Tidak takut, moi-moi, tapi berhati-hati.
Kau kan juga ingin agar pekerjaan kita membalas dendam kali ini jangan sampai gagal, bukan?" Giok Ciu berkata jumawa, "Hah, apa yang dikuatirkan? Aku tidak takut segala pahlawan anjing itu.
Paling-paling kita akan berhadapan dengan tosu siluman Cin Cin Hoatsu, dan aku seujung rambutpun tidak takut padanya!" Sin Wan makin heran melihat sikap dan kejumawaan Giok Ciu, karena tidak disangkanya gadis itu akan menjadi sesombong itu.
Ia tidak tahu bahwa semenjak dapat mengalahkan para pahlawan yang mengeroyok mereka diluar sumur, didalam hati gadis muda itu timbullah sifat bangga yang besar sehingga membuat ia menjadi jumawa dan menganggap bahwa kepandaiannya telah sampai di puncak kesempurnaan! Karena inilah maka ketika berlatih mengadu pedang dengan Sin Wan, ia menjadi penasaran dan kecewa karena tak dapat menangkan pemuda itu! Dua hari kemudian mereka tiba di kota Kiong-kwan yang besar.
Kota ini cukup ramai karena letaknya dekat kota raja dan di sini banyak pula tinggal orang-orang berpangkat pangeran.
Ketika Sin Wan dan Giok Ciu berjalan perlahan memasuki pintu kota, tiba-tiba dari belakang terdengar suara kaki kuda dan ketika mereka berdiri di pinggir jalan memandang, ternyata yang datang adalah tiga orang tinggi besar yang pandai sekali menunggang kuda.
Ketika tiga orang itu lewat di depan mereka, ketiganya menengok dan memandang dengan tajam.
Tapi Sin Wan dan Giok Ciu tidak ambil perduli sama sekali dan melanjutkan perjalan mereka memasuki kota.
Giok Ciu tertarik oleh sebuah rumah penginapan yang daun pintu dan tiang-tiangnya di cat merah sehingga nampak indah sekali, maka ia lalu mengajak Sin Wan bermalam di situ saja.
Sin Wan tersenyum melihat kegembiraan gadis itu dan menurut saja.
Kepada seorang pelayan ia lalu minta disediakan dua kamar.
"Dua kamar ukuran kecil, atau satu saja kamar ukuran besar?" Pelayan yang berlidah tajam dan jenaka itu bertanya sambil melirik kearah Giok Ciu.
Gadis itu timbul marahnya dan ia membentak, "Tulikah kau? Kami minta dua kamar dan jangan kau banyak cerewet lagi!" Pelayan itu memandang dengan terkejut dan buru-buru ia menyediakan kamar yang diminta.
"Sabarlah, moi-moi untuk apa meladeni segala macam orang seperti dia?" "Apa? Justeru orang-orang macam dia itu kalau tidak diberi hajaran tentu selalu akan mengganggu orang!" Sin Wan hanya tersenyum melihat kegalakan nona ini, karena betapapun juga, jika Giok Ciu sedang marah seperti itu matanya bersinar-sinar, kedua pipinya kemerah-merahan, kulit hidunganya yang tipis kembang-kempis dan bibirnya yang bagus bentuknya itu merengut dan meruncing tetapi menambah manisnya! Pada saat itu, tiba-tiba dari luar terdengar suara orang berkatakata dan Sin Wan lalu memberi isarat kepada Giok Ciu.
Ketika mereka memandang, ternyata yang datang adalah tiga orang yang berkuda yang tadi bertemu dengan mereka di pintu gerbang kota.
Ketika orang itupun memandang kepada mereka dengan tajam, tetapi lalu mereka membuang muka dan memasuki kamar pengurus rumah penginapan.
Sin Wan lalu mengajak Giok Ciu memasuki kamarnya dan ia berkata, "Moi-moi, kurasa tiga orang itu bukanlah orang-orang baik.
Mereka agaknya mengikuti kita." "Apa? Biar kuhajar mereka sekarang juga!" "E, e! Sabar, Giok Ciu.
Dengan alasan apa kita harus mencari perkara? Biarkan sajalah, tetapi malam ini kita harus berjaga-jaga dan berhati-hati." "Menghadapi tiga ekor tikus busuk itu saja mengapa begitu ributribut? Aku malam ini ingin melihat-lihat kota, koko." Sin Wan menyatakan setuju.
"Baiklah, kita pergi mencari tempat makan yang paling besar." Setelah membersihkan tubuh Sin Wan dan Giok Ciu keluar dari rumah penginapan dan berjalan melihat-lihat kota yang indah dan besar itu.
Giok Ciu kagum melihat bangunan-bangunan yang besar dan tinggi.
Sungguhpun kedua anak muda itu tampaknya berjalan-jalan dan mengagumi pemandangan kota namun sebenarnya mereka tahu bahwa ada seorang diantara ketiga penunggang kuda sedang mengikuti mereka! Orang itu tinggi dan kurus dan kaki kirinya agak pincang, tapi dipingganya tergantung sebatang pedang yang memakai ronce kuning.
"Kita sikat dia, koko?" kata Giok Ciu.
Mereka lalu masuk ke dalam sebuah restoran besar dan memesan masakan.
Dan alangkah mendongkolnya dan marahnya Giok Ciu ketika melihat betapa si pincang itupun memasuki restoran dan duduk di meja yang dekat dengan meja mereka.
Alangkah kurang ajar dan beraninya! Kalau ia tidak duduk bersama Sin Wan, tentu ia melemparkan meja di depannya kepada orang tinggi kurus itu! Tetapi Sin Wan berkejab kepadanya untuk mencegah gadis itu melakukan sesuatu yang mengacaukan.
Untuk melampiaskan marahnya, Giok Ciu berkata, "Tak kusangka, tiga bangkai tikus yang terserak di sanan tadi tahu-tahu yang seekor terdampar kesini!" Sambil berkata demikian, ia sengaja memandang si pincang itu dengan mata marah! Tentu saja, kata-katanya ini membuat para tamu restoran memandang heran, sedangkan si pincang itu yang merasa dirinya disindir, tampak jelas menahan-nahan diri untuk tidak memperlihatkan marahnya.
Ia hanya balas memandang tajam, lalu menundukkan kepala dan maka hidangan yang dipesannya.
Setelah makan kenyang, Sin Wan dan Gio Ciu sengaja mengambil jalan memutar, melalui jalan yang sunyi.
Dan betul saja, si tinggi pincang itu tetap mengikuti mereka.
Sin Wan dan Giok Ciu lalu menggunakan ilmu lari cepat, tetapi orang itupun pandai dalam ilmu ini! Hanya saja, kedua anak itu maklum bahwa kepandaian orang itu tidak berapa tinggi.
"Giok Ciu, tentu ada apa-apa yang tidak beres.
Mari kita pulang dengan diam-diam kita lihat, mereka itu sebetulnya orang-orang apa dan sedang melakukan apa." "Dan tikus ini bagaimana? Aku ingin memberi rasa padanya." Sin Wan tersenyum, "Sesukamulah asal jangan terlalu lama." Giok Ciu lalu membungkuk untuk memungut sepotong batu, lalu ia berhenti dan berteriak,"He, tikus pincang, jalanmu tidak sedap dipandang karena kakimu pincang sebelah.
Biarlah aku tolong kau dan bikin pincang kakimu yang sebelah lagi!" Tangannya lalu diayun dan batu kecil itu meluncur cepat ke arah pengejar.
Si tinggi kurus itu berlaku waspada, tetapi ternyata batu yang menyerangnya lebih cepat lagi.
Ia tak sempat berkelit dan tahu-tahu tulang keringnya berbunyi "Pletak!" dan ia roboh karena kaki kanannya tiba-tiba lemas dan sakit sekali.
Ketika ia merabanya, ternyata tulangnya telah pecah! Ia meringis kesakitan dan diam-diam terkejut sekali melihat kelihaian kedua anak muda itu.
"Masih baik mereka tidak menghendaki jiwaku," Ia berpikir dan merangkak maju untuk minta pertolongan orang.