"Barang itupun.
sudah kusimpan baik-baik, jangan kau takut, takkan hilang." "Apakah..
apakah di saku bajumu selalu?" tanya Giok Ciu sambil memandang wajah Sin Wan dengan tajam.
Sin Wan balas memandang "Mengapa harus dimasukkan saku?" "Habis di manakah?" Sin Wan tetap tidak mau mengaku.
Tiba-tiba Giok Ciu berkata sambil tersenyum.
"Ah, tidak mengaku juga tidak apa, aku pernah melihat barang itu tersembul keluar." Terkejutlah Sin Wan, "He? Apa katamu? Tersembul keluar?" dan diam-diam pemuda itu melirik ke arah dadanya.
Pancingan gadis cerdik itu berhasil dan lirikan mata Sin Wan ke arah dadanya memperkuat dugaannya.
Giok Ciu bangkit dari duduknya lalu tiba-tiba suling itu terlepas dari tangannya, menggelinding di atas tanah, "Tolong, koko, sulingku jatuh." Sin Wan buru-buru membungkuk dan mengambil barang itu, tetapi pada saat ia membungkuk ia merasa sesuatu bergerak di lehernya.
Ia terkejut dan segera berdiri dan.
Ia melihat Giok Ciu tertawa girang sambil menunjuk ke arah dada pemuda itu.
Kini Sin Wan tundukkan muka untuk memandang, ternyata sepasang sepatu kecil yang tadinya tergantung di dada dengan sutera biru yang dikalungkan dileher, ternyata telah keluar dan bergerak-gerak di luar bajunya! Ternyata ketika ia membungkuk tadi, Giok Ciu telah menyambar pita sutera itu dan membetotnya sehingga sepatunya terbetot keluar! Sin Wan tak dapat berkata apa-apa hanya memandang wajah Giok Ciu dengan mulut tersenyum lebar dan muka kemerah-merahan.
"Bukankah kataku tadi telah kusimpan baik-baik? Kau sungguh kurang percaya." "Sekarang aku percaya dan puas, terimakasih, koko," jawab Giok Ciu dengan manis.
"Hayo kita kembali, telah terlampau lama kita keluar, nanti suhu marah,"tiba-tiba Sin Wan berkata.
Ucapan ini mengingatkan Giok Ciu dan mereka segera meloncat masuk ke dalam sumur itu dengan khawatir kalau-kalau gurunya akan marah.
Betul saja, baru kaki mereka menginjak pasir di dalam sumur itu, telah terdengar suara suhu mereka memanggil dari dalam gua ular.
Mereka segera masuk dan mendapatkan Bu Beng Lojin duduk bersamadhi dan menghadap ke dalam.
Tanpa menengok lagi,orang tua aneh itu berkata, suaranya tetap dan keras.
"Sin Wan dan Giok Ciu! Kalian telah melanggar laranganku dan keluar dari tempat ini sebelum waktunya!" Sin Wan dan Giok Ciu segera menjatuhkan diri berlutut, "Ampunkan teecu berdua suhu.
Kami tidak sengaja keluar dan." "Cukup! Aku sudah tahu semua.
Pelanggaranmu tidak kusesalkan sekali, tetapi yang paling kusesalkan ialah karena kalian melanggar maka kalian bertemu dengan kaki tangan kaisar itu! Dan kalian tentu tahu akan akibat pertempuran tadi.
Sekarang terpaksa kalian harus keluar dari sini!" Terkejut sekali kedua murid itu mendengar ini.
Dengan khidmad mereka berlutut dan memohon ampun.
"Muridku, jangan menganggap aku terlampau kejam kepada kalian.
Aku suruh kalian keluar dan pergi bukanlah dengan maksud mengusir karena kemarahanku.
Aku suruh kau pergi untuk mendahului mereka dan memukul dulu sebelum mereka menyerbu dan mencari kalian kesini! Bukankah kalian hendak menuntut balas? Nah, sekarang waktunya! Berangkatlah dan bawalah pedangmu.
Tetapi, berhati-hatilah, lawanlawanmu bukan orang lemah!" Kalau tadinya kedua murid itu merasa bingung dan takut, kini mereka merasa girang sekali.
Mereka menghaturkan terima kasih kepada suhu mereka yang agaknya tidak memperdulikan mereka karena duduknya membelakangi mereka itu.
Kemudian mereka berpamit tanpa dijawab oleh Bu Beng Lojin, Sin Wan dan Giok Ciu mengambil kedua pokiam mereka dan meloncat keluar dari sumur itu.
Mereka merasa seakan-akan baru sadar dari mimpi dan seakan-akan baru terbebas dari kurungan.
Hati mereka gembira sekali dan mereka berjaaln turun gunung sambil bergandeng tangan seperti lakunya dua orang kanak-kanak nakal.
Sin Wan seperti biasa mengenakan pakaian warna putih yang menjadi kesukaannya semenjak kecil, sedangkan Giok Ciu mengenakan pakaiannya yang berwarna gelap kehitam-hitaman.
Memang menurut nasihat dari suhu mereka, warna pakaian yang paling cocok dan tepat bagi Sin Wan ialah putih dan bagi Giok Ciu warna hitam! "Karena kalian memiliki pedang pusaka yang ampuh dan keramat, maka kalian juga seberapa bisa harus menyesuaikan keadaanmu dengan pedang itu sehingga pedang pusaka itu akan lebih besar faedahnya," demikianlah kakek yang luar biasa itu berkata ketika mereka baru berlatih pedang.
Karena pemandangan alam yang indah dan hawa gunung yang segar, Giok Ciu timbul gembiranya dan berkata,"Koko, hawa begini bagus.
Marilah kita berlatih pedang.
Sekarang kita berada di luar dan bebas merdeka., aku ingin sekali mencoba pokiamku." Sehabis berkata demikian, ia mencabut Ouw Liong Pokiam sehingga tampak sinar hitam menyambar.
"Hush, Giok Ciu, jangan kita main-main dengan pokiam kita.
Kalau mau berlatih, mari kita gunakan ranting kayu seperti biasa," berkata Sin Wan.
"Selalu berlatih menggunakan sepotong ranting, aku bosan, koko.
Kita diberi pedang, untuk apa kalau tidak digunakan?" "Kita hanya menggunakan di mana perlu, Giok Ciu." "Koko, jangan kau terlalu kukuh.Kita belajar ilmu pedang dan telah bertahun-tahun kita pegang dan mainkan pedang kita, tetapi tidak sekali pedang kita boleh kita pakai latihan bersama.
Mengapakah? Bukankah kedua pedang kita sama kuatnya? Nah, marilah kita mencobanya sekalian melihat pedang siapa lebih hebat!" Mendengar desakan dan bujukan nona itu, Sin Wan tertarik juga.
Memang suhunya orang aneh dan kukuh sehingga belum pernah mereka berlatih pedang bersama dengan menggunakan pedang tulen.
Pedang itu hanya boleh dipakai sendiri saja.
Karena itu, iapun ingin sekali mengukur kelihaian permainan Ouw-liong Kiam-sut dari gadis itu dengan menggunakan pedng mereka yang asli.
Ketika Sin Wan mencabut Pek-liong Pokiam dan mereka mulai berlatih, maka tampaklah dua sinar hitam dan putih bergulung-gulung saling sambar dan saling belit, bagaikan sepasang naga hitam dan putih sedang bersenda gurau dan berterbangan di antara mega-mega di angkasa.
Keduanya merasa kagum sekali karena setiap serangan selalu menemui tangkisan yang tepat sekali sehingga keduanya merasa tidak berdaya! Sungguh-sungguh suhu mereka lihai sekali dalam memecah Sinliong kiam-sut menjadi dua macam ilmu pedang itu, karena jika dimainkan sendiri-sendiri kedua ilmu pedang Pek-liong Kiam-sut dan Ouw-liong Kiam-sut itu tampaknya berbeda sekali kembangannya dan mempunyai keistimewaan berbeda pula.
Pek-liong Kiam-sut gerakannya gagah dan kuat, tetapi gerakan-gerakan yang lurus itu mengandung bermacam-macam tenaga dan tipu gerak tak terduga.
Sebaliknya Ouwliong Kiam-sut gerakannya lincah dan gesit sekali, membingungkan lawan karena banyak sekali pecahan dan gerak tipunya.
Sinar pedangnya tajam pendek-pendek tetapi berubah-ubah mengacaukan pertahanan lawan.
Akan tetapi, kedua sifat ilmu pedang ini setelah kini dimainkan bersama dan dipakai untuk saling serang, ternyata kedua duanya gagal dan tak berdaya, seakan-akan keduanya telah saling kenal baik gerakan masing-masing! Kalau Pek-liong Kiam-sut diumpamakan senjata tajamnya maka Ouw-liong Kiam-sut adalah sarungnya! Giok Ciu penasaran sekali dan ia mengeluarkan gerakan terhebat dari Ouw-liong Kiam-sut, namun sia-sia, karena Sin Wan tahu belaka kemana dan bagaimana ia hendak menyerang.
Memang hal ini tidak aneh kalau dipikirkan bahwa kedua ilmu pedang ini berasal dari satu cabang, yakni Sin-liong Kiam-sut, dan mereka telah mempelajari Sin-liong Kiam-sut sampai hafal benar.
Sedangkan Pek-liong Kiam-sut dan Ouwliong Kiam-sut sebenarnya belum mereka kuasai seluruhnya, karena sebetulnya mereka belum tamat mempelajari kedua ilmu pedang ini, dan sebelum mereka dapat menguasai dengan sempurna, keburu datang perisitiwa di luar sumur sehingga mereka disuruh turun gunung! Setelah lelah berlatih, keduanya berhenti dan menyimpan pedang masing-masing, lalu duduk beristirahat di aas rumput sambil menikmati angin gunung yang sejuk.
Dan aneh sekali, karena latihan itu, di dalam lubuk hati masing-masing timbul rasa tidak puas karena terhadap masing-masing mereka merasa tidak berdaya.
Lebih-lebih Giok Ciu, gadis ini merasa mengapa kepandaian yang dimilikinya menjadi tidak berarti kalau melayani Sin Wan.
Kalau saja ia kalah atas menang, ia akan merasa puas, tetapi ia kini menjadi penasaran dan tidak puas.
Kalah tidak, menangpun bukan! Juga ia tidak dapat menentukan, pedang mana yang lebih baik atau lebih ampuh! "Koko, aku merasa heran sekali, Agaknya ilmu pedang yang kita pelajari ini tidak seberapa hebat." Sin Wan memandang jauh dengan termenung, lalu menjawab,"Aneh, moi-moi, akupun merasa mempunyai perasaan begitu.
Tapi tidak ingatkah kau ketika terjadi pengeroyokan itu? Kau menggunakan pedang dan sebentar saja kau dapat merobohkan lawanmu.!" Giok Ciu teringat dan kekecewaannya agak berkurang.
"Kau benar, koko.
Tapi anehnya, menghadapi ilmu pedangmu, kepandaianku tiada gunanya sama sekali!" Sin Wan melirik sambil tersenyum.
"Kau ini aneh, moi-moi.
Kau kan tidak mempelajari Ouw-liong Kiam-sut untuk digunakan menyerang aku? Ketahuilah, aku sendiri merasa betapa pedangku sama sekali tak dapat menembus pertahanan ilmu pedangmu!" Setelah beristirahat dan makan buah-buahan yang mereka petik di dalam hutan di lereng bukit, mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat.
"Koko, apakah kita pergi ke gedung Suma-cianbu?" "Ya, kita langsung menuju ke sana dan membasmi bangsat she Suma lebih dulu!" jawab Sin Wan sambil mengertak gigi karena gemas teringat akan musuh besarnya.
Karena mereka menggunakan ilmu lari cepat, maka dua hari saja mereka telah tiba dikota tempat tinggal Suma-cianbu.
Hari telah menjadi gelap ketika mereka berdua memasuki kota.maka mereka menanti sebentar sebelum menyerbu ke gedung Suma-cianbu itu.
Setelah hari menjadi gelap, keduanya lagi loncat keatas genteng dan sambil berlarilari cepat di atas genteng merupakan dua bayangan putih dan hitam, mereka menuju ke gedung yang tinggi dan besar itu.
Tetapi mereka terheran mendapat kenyataan betapa gedung itu sunyi saja dan yang menjaga keamanan hanya empat orang anggauta keamanan yang berjalan mondar-mandir di belakag tembok yang mengurung gedung itu.