Pukulannya berat dan keras, tanda bahwa ia adalah seorang ahli gwakang yang pandai, juga ilmu silatnya tidak lemah dan gerakkannya tetap.
Sekali lagi Sin Wan berkelit lincah.
Sementara itu, Song Tat Kin yang melihat betapa kawannya telah menyerang Sin Wan yang agaknya jerih, lalu maju ke arah Giok Ciu dengan sikap yang sangat menjemukan.
"Nona, jangan kau marah-marah.
Marilah ikut aku ke kota, untuk apa tinggal di tempat seperti ini? Di kota kau akan hidup mewah dan senang!" Ia melihat betapa kulit muka Giok-Ciu yang halus lemas itu perlahan-lahan berubah merah dan menganggap bahwa gadis itu malumalu, sama sekali ia tidak menyangka bahwa hawa marah Giok Ciu sedang berkobar dan seakan-akan mulai membakar gadis itu.
Setelah Song Tat Kin menutup mulutnya, Giok Ciu berseru keras untuk melepas hawa marah yang mendesak dadanya, dan sebelum semua orang tahu apa yang telah terjadi, tahu-tahu Giok Ciu lenyap dan berubah bayangan putih berkelebat cepat kearah Song Tat Kin dan tahu-tahu orang she Song itu terlempar jauh sekali dan roboh dengan pingsan dan mata terbalik! Ternyata dara itu karena marahnya yang tak dapat ditahan lagi telah mempergunakan tipu Cio-po-thian-keng atau Batu Meledak Langit Gempar dibarengi ginkangnya yang luar biasa, sekali menyerang tepat menghantam dada Song Tat Kin sehingga mendapat luka di dalam! Kini terkejutlah semua orang, terutama Sim Kwie si Walet Terbang, karena barusan ia telah menyaksikan sendiri bahwa ginkang gadis itu jauh lebih hebat dari ginkangnya sendiri yang telah cukup tinggi dan membuat ia dijuluki si Walet Terbang! Maklumlah ia menghadapi orang berilmu tinggi dan ia tahu bahwa kepandaian Song Tat Kin setingkat dengan kepandaiannya, maka tidak mungkin bisa menang kalau melawan gadis itu seorang diri.
Ia lalu berseru, "Kawan-kawan, serbu!" Maka belasan orang itu lalu menyerang Giok Ciu! Mereka menyangka bahwa yang tinggi ilmu kepandaiannya hanyalah Giok Ciu saja, sedangkan Sin Wan cukuplah dilawan oleh si tinggi besar itu.
Tidak tahunya, ketika melihat betapa Giok Ciu timbul marahnya dan kini dikeroyok oleh belasan pahlawan kaisar itu, Sin Wan lalu berseru, "Pergilah kau!" dan tahu tahu si tinggi besar yang bermuka hitam itu terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi.
Paniklah kini para penyerbu dan sebagian lari mengeroyok Sin Wan.
Enam orang termasuk Sin Kwie yang lihai mengeroyok Giok Ciu dan enam orang pula mengeroyok Sin Wan.
Dan karena ternyata bahwa kedua anak muda itu benar-benar sangat lihai, mereka tidak sungkan-sungkan lagi dan semua mencabut senjata masing-masing.
Dua belas orang yang mengeroyok Sin Wan dan Giok Ciu adalah pahlawan-pahlawan kaisar kelas tiga yang memiliki kepandaian tinggi juga, maka setelah semua menggunakan senjata, mau tidak mau Sin Wan dan Giok Ciu menjadi terdesak.
Baiknya kedua anak muda ini memiliki ginkang yang sempurna, sehingga mereka dapat menghindarkan diri dari semua serangan senjata tajam yang menghujani mereka.
Kalau saja pada saat itu mereka memegang pedang pusaka mereka, tentu sebentar saja semua lawannya akan mudah dirobohkan tetapi justru pada saat itu mereka tidak membawa pedang.
Tiba-tiba Sin Wan teringat ajaran kakeknya untuk menggunakan suara suling membikin kalut musuh, maka ia segera berkata kepada Giok Ciu sambil berkelit, "Masih adakah suling kecilku dulu padamu?" Mendengar ini, Giok Ciu diam-diam mengomel.
Mengapa dalam keadaan terdesak dan berbahaya seperti ini tiba-tiba membicarakan tentang hal itu? Tetapi ia menjawab juga, "Tentu saja ada.
Ada apakah?" "Kau dapat mengeluarkan itu? Coba beri aku pinjam sebentar!" Kini tahulah Giok Ciu akan maksud pemuda itu.
Ia menggunakan kepandaiannya meringankan tubuh untuk meloncat jauh dari musuhmusuhnya, lalu cepat sekali merogoh ke dalam bajunya untuk mengambil suling kecil yang ia selipkan di ikat pinggangnya sebelah dalam.
Sebenarnya suling itu ia telah memberi ikatan dan selalu diikatkan dengan pinggang sehinnga suling itu takkan terlepas jatuh, maka karena keadaan mendesak, ia mencabut saja suling itu hingga tali ikatannya putus.
Ia meloncat lagi ke dekat Sin Wan dan melempar suling itu padanya.
"Nah, terimalah ini!" teriaknya.
Sin Wan lalu cepat menyambut benda hitam yang melayang ke arahnya itu.
Ia heran ketika menerima suling itu, karena merasa betapa benda itu makin mengkilap dan terasa hangat! Ia tidak tahu bahwa tunangannya itu sering kali menggosokgosok sulingnya dan setiap saat suling itu tidak terpisah dari tubuhnya.
Setelah menerima suling itu, Sin Wan lalu menempelkan peniupnya di mulut, lalu sambil bersuling ia bersilat dengan kedua kakinya menghindar semua serangan.
Para pengeroyoknya tadinya menduga bahwa pemuda itu hendak menggunakan sulingnya sebagai senjata, tetapi setelah melihat dan mendengar pemuda itu meniup sulingnya, mereka terheran sekali! Tetapi keheranan mereka itu terganti dengan kebingungan karena tiba-tiba suara suling yang merayu-rayu dan tinggi rendah mengalun itu seakan-akan merupakan pisau tajam yang mengiris jantung dan menusuk-nusuk perasaan mereka sehingga permainan silat mereka kacau balau! Sebentar saja Sin Wan telah berhasil menendang dua orang pengeroyok! Tiba-tiba, melihat hasil baik kawannya, Giok Ciu juga mengeluarkan ilmu simpanan pemberian ayahnya, dan terdengarlah suara pekik dan suitan nyaring keluar dari mulut dan dada dari gadis jelita itu.
Karena suara ini dikeluarkan dengan tenaga Tian-tan dan seperti suara suling Sin Wan, mengandung tenaga hawa lweekang yang tinggi, maka para pengeroyok segera merasa kehebatan pengaruh suara itu.
Mereka merasa ngeri dan menggigil tubuh mereka sehingga serangan mereka yang tadinya teratur baik menjadi kacau balau.
Hanya Sim Kwie seorang yang memiliki lweekang lumayan, masih dapat mengerahkan tenaga lweekang untuk menolak pengaruh mujijat ini, tetapi kelima kawannya semua mencari kacau permainannya.
Dengan gunakan kelincahannya, Giok Ciu akhirnya dapat juga memukul seorang pengeroyok dan sekalian merampas pedangnya! Kini dengan pedang di tangan, walaupun pedang itu hanya sebatang pedang biasa, Giok Ciu berubah seakan-akan dari seekor domba menjadi seekor harimau betina! Ia berseru keras.
Tubuhnya lenyap dan terkurung oleh sinar pedangnya yang berkilauan ketika ia mainkan Sin-liong Kiam-sut! Terkejutlah semua pengeroyoknya, apalagi setelah beberapa jurus saja dua orang telah dirobohan oleh gadis itu! Sim Kwie kaget sekali dan ia mengeluh mengapa hari ini mereka bertemu dengan dua setan muda yang lihai itu! Sementara itu, Sin Wan yang hanya menghadapi empat orang pengeroyok, lalu menyimpan sulingnya dan bersilat seenaknya saja, seakan-akan mempermainkan para pengeroyoknya yang sudah bernapas empas empis! Pada saat itu, terdengar teriakan Sim Kwie, "Cuwi, tahan!" Karena mengenal tingkat para pahlawan itu, yang berada dibawah Son Tat Kin hanya Sim Kwie, maka para pahlawan itu tentu saja mendengar perintah dan taat, karena Son Tat Kin sendiri telah roboh, mereka lalu meloncat mundur dengan hati lega, karena memang keadaan mereka berbahaya sekali.
"Jiwi enghiong, harap maafkan kami." Sim Kwie mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Sin Wan dan Giok Ciu.
"Agaknya telah ada salah paham yang besar.
Kami sama sekali tidak tahu berhadapan dengan orang-orang gagah dan beberapa orang kawan kami telah berlaku kurang ajar! Harap maafkan kami.
Boleh kami mengetahui nama jiwi yang mulia?" Giok Ciu tersenyum menyindir."Hm, baru sekarang kalian merasakan kelihaian kami, ya? Sungguh tak tahu diri!" Sin Wan juga mencela, "Kalau tadi tuan-tuan menggunakan katakata halus tidak nanti akan timbul korban-korban di antara tuan-tuan.
Kami tidak perlu kenalkan nama, juga tidak perlu mengetahui nama kalian.
Sekarang lebih baik kalian bawa saja kawan-kawanmu yang luka dan tinggalkan tempat ini." Sim Kwie mendongkol sekali karena terang sekali ia tidak dipandang sebelah mata oleh kedua pemuda itu, padahal oleh kalangan kang-ouw, nama si Walet Terbang bukanlah nama kecil-kecilan.
Ia segera berkata dengan bersungut-sungut, "Hm, biarlah jiwi boleh merasa bangga akan kemenangan ini.
Biarpun jiwi tidak memberi tahukan nama tapi tiupan suling tadi mengingatkan aku akan seseorang!" Mendengar ini, sekali loncat saja, Giok Ciu telah berada di depannya dan mengancam dengan pedang rampasannya! "Apa katamu? Mengingatkan kau akan seseorang? Hayo, katakan, siapa orang yang kau maksudkan itu!" Sim Kwie mundur dengan muka pucat.
Ia telah tahu kelihaian nona muda ini dan percuma kalau ia melawan juga.
Sin Wan membujuk Giok Ciu,"sudahlah, moi-moi jangan membikin takut dia.
Lihat mukanya menjadi biru karena ketakutan.
He, pahlawan raja dengarlah.
Memang aku adalah cucu dari Kang-lam Ciu-hiap, si Peniup Suling!" Sim Kwie mengangkat tangan menjura, "Memang sudah kuduga! Terima kasih atas kejujuranmu." Ia lalu perintahkan kawan-kawannya untuk mengangkat para korban dan meninggalkan tempat itu cepatcepat.
Sin Wan dan Giok Ciu saling pandang kemudian mereka tersenyum puas karena kemenangan tadi.
Sin Wan menghela napas, lalu memandang suling itu.
"Untung ada suling ini hingga kita teringat akan ilmu kakekku dan ayahmu." Ia lalu menyerahkan suling itu kembali kepada Giok Ciu yang menerimanya dengan muka berubah merah.
"Ternyata kau kau selalu simpan suling ini baikbaik.."katanya menggod Giok Ciu.
Giok Ciu menundukkan kepala, mengerling tajam dan menggigit bibirnya.
Ia merasa gemas sekali digoda dan hendak membalas dendam.
"Koko, apakah dulu kau tidak menerima sesuatu dari ibumu?" "Menerima sesuatu? Apakah itu aku tidak ingat lagi." Jawab Sin Wan.
Giok Ciu kewalahan.
"Menerima sesuatu yang berasal dari..
dari.
Eh, sebagai..
pengganti suling ini" "Sesuatu sebagai pengganti suling ini? Ah, aku tidak ingat lagi.
Coba kau katakan bilang apa itu, tentu aku ingat." Sin Wan sengaja dan berpura-pura lupa sehingga Giok Ciu makin gemas dan kewalahan.
"Barang.
barang kecil." katanya dengan muka merah.
"Kecil?" Sin Wan pura-pura memandang ke arah awan sambil mengerutkan jidat berpikir keras.
"Eh, barang kecil apa, ya? Sebagaimana kecilnya? Ada segini?" Ia menggunakan kedua tangannya membuat ukuran.
"Lebih kecil lagi." Giok Ciu berkata yang menduga bahwa Sin Wan betul-betul lupa.
"Seperti ini?" Sin Wan memperkecil ukuran dengan tangannya.
"Lebih kecil sedikit lagi," kata Giok Ciu yang menjadi gemas.
"Sebeginikah?" "Ya, sebegitulah kecilnya.
Ah.
sudahlah, maka kau perhatikan barang tak berharga itu.
Mungkin telah kau buang jauh-jauh!" Tiba-tiba Giok Ciu tampak menyesal dan marah, bahkan kedua matanya tiba-tiba menjadi merah! Sin Wan melihat betapa gadis itu seperti yang hendak menangis, lalu timbul kasihannya.
"O, barang itukah yang kau masudkkan? Ada, ada.
ada kusimpan!" Giok Ciu cepat menengok dan memandang ia dengan mata bersinar.
"Betulkan kau simpan barang itu?" Sin Wan mengangguk kuat.
"Ada kusimpan baik-baik." "Betulkah? Di mana kau simpan barang itu?" "Di.
Dimana ? Ah, di tempat yang baik." "Betulkah itu? Hati-hati jangan disimpan sembarangan takut hilang." "Tidak tidak mungkin hilang.
Bukankah sulingku juga kau simpan baik-baik dan tidak hilang?" kata Sin Wan sambil memandang suling hitam yang dipegang gadis itu.
"Ah, kalau sulingmu ini lain lagi barang ini.
ku simpan di ..
dipakaianku selalu," jawab Giok Ciu malu-malu.