Kisah Sepasang Naga Chapter 20

NIC

Untuk makan mereka cukup dengan menangkap binatang-binatang dan burung yang lewat di atas gua, dan cara menangkap binatang inipun merupakan pelajaran yang baik bagi mereka.

Jika ada burung yang terbang, atau ada binatang lewat di atas sumur, biarpun tidak tampak dari bawah, namun gerakan binatang yang meloncati sumur dapat tertangkap oleh telinga mereka yang tajam.

Maka sekali sambit saja dengan batu, binatang itu akan terjungkal dan jatuh masuk ke dalam sumur dan menjadi mangsa mereka! Sungguh suatu cara mencari makan yang aneh sekali.

Kalau tidak karena dorongan semangat yang membaja, Sin Wan dan terutama Giok Ciu pasti takkan kuat menahan diri hidup seperti itu.

Tetapi mereka heran sekali melihat suhu mereka, karena orang tua yang aneh jarang sekali mau makan daging binatang tangkapan mereka, hanya kadang-kadang saja, ia minta hati binatang yang masih segar untuk dimakan begitu saja tanpa dibakar api dulu, atau makan buah-buah yang didapat dari balik jurang di mana dulu Sin Wan dan Giok Ciu dulu jatuh.

Memang , ditempat kedua anak muda itu dulu terjatuh, terdapat lereng yang sangat curam menurun dan tak terkira dalamnya, dan di atas lereng tumbuhlah banyak pohon yang menghasilkan buah-buah.

Hanya saja, untuk mengambil buah-buah itu bukanlah pekerjaan mudah, karena lereng yang curam itu tak mungkin dituruni begitu saja tanpa bahaya tergelincir mengancam jiwa, dan sekali tergelincir, jangan harap akan tinggal hidup.

Lereng itu tidak tampak dasarnya karena dalam dan panjangnya! Tapi Sin Wan dan Giok Ciu cerdik dan tabah.

Dari rumput alangalang yang panjang dan kuat, Giok Ciu berhasil membuat pintalan tambang yang panjang lagi kuat.

Kemudian Sin Wan menggunakan tambang yang dipegang Giok Ciu dari atas, untuk menuruni tebing itu dan memetik buah-buah mana saja yang disukainya.

Dengan cara inilah maka mereka dapat makan buah-buah segar dan lezat setiap hari.

Demikianlah, dengan sangat tekun dan tak kenal lelah di bawah gemblengan kakek yang luar biasa itu, Sin Wan dan Giok Ciu melatih diri dan mempelajari sin-liong Kiam-sut.

Setelah mempelajari ilmu pedang gaib ini selama dua tahun lebih, barulah mereka pahami seluruhnya! Kemudian datanglah giliran mempelajari ilmu lweekang yang tinggi dan untuk mempelajari ini, mereka harus tekun bersamadhi dan mempelajari peraturan napas yang berat sekali.

Cara cara samadhi dan menahan napas seperti yang pernah mereka pelajari di bawah pimpinan Kwie Cu Ek dulu sangatlah ringan dan mudah jika dibandingkan cara-cara yang diberikan oleh suhu mereka ini.

Ada kalanya mereka diharusnya bersamadhi dengan jungkir balik yakni kepala di atas lantai dan kaki di atas dan mereka harus mempertahankan tubuh dalam keadaan ini sampai setengah hari! Ada kalanya mereka harus menahan tubuh dengan sebelah tangan di atas tanah dan menggunakan tangan ini mengganjal tubuh sampai setengah hari lamanya.

Dan banyak lagi macam cara bersamadhi yang aneh-aneh juga mereka diajar menahan jalan pernapasan mereka sedemikian rupa sehingga napas yang tersedot itu dapat dijalarkan ke bagian tubuh yang mereka kehendaki sehingga di bagian itu tampak hawa itu bergerak-gerak di bawah kulit seakan-akan ada seekor tikus yang bergerak-gerak dan berjalan di dalam tubuh mereka.

Latihan-latihan ini mendatangkan kemajuan besar sekali, baik dalam lweekang maupun ginkang mereka, juga membuat mereka menjadi tenang dan bersemangat.

Pada suatu hari,ketika Sin Wan dan Giok Ciu asik mengintai lewatnya binatang di atas sumur, tiba-tiba terdengar derap kaki binatang yang ringan sekali mendatang.

"Seekor kijang!" Sin Wan berkata gembira dan mempersiapkan sebuah batu tajam di tangannya.

Sudah lama sekali ia tidak makan daging kijang yang manis dan sedap.

Ketika binatang itu datang dekat dengan loncatan kilat meloncati sumur itu, Sin Wan mengayunkan tangannya.

Ia menanti jatuhnya korban itu ke dalam sumur.

Tapi alangkah herannya ketika ditunggu-tunggu badan binatang itu tidak juga jatuh ke dalam sumur, padahal ia merasa pasti bahwa sambitannya tadi tentu mengenai sasaran.

"Sungguh heran dan aneh," katanya kepada Giok Ciu.

"Kita harus melihat ke atas," kata Giok Ciu.

Karena terheran dan merasa penasaran, pula karena menyangka bahwa binatang itu tentu mati di pinggir tebing sumur dan perlu diambil, mereka sekali saja menggenjot tubuh, keduanya melayang ke atas dengan berbareng dan sesaat kemudian mereka telah menembus halimun yang menutup sumur itu dan keduanya berada di atas tanah di pinggir sumur.

Untuk sejenak mereka agak silau melihat dunia luar, tetapi tiba-tiba mereka melihat bahwa di sekeliling sumur itu terdapat belasan orang yang berpakaian seragam dan bertopi runcing.

Tentara kaisar! Keduanya segera mengenal mereka dan Sin Wan hendak buru-buru terjun kembali ke dalam sumur, tetapi ia melihat kijang besar dan muda berada di dekat orang-orang itu.

Sementara itu, belasan tentara kaisar itu ketika tiba-tiba melihat ada seorang pemuda tampan dan seorang gadis jelita melayang keluar dari sumur, menjadi demikian terkejut dan heran hingga mereka memandang kedua anak muda itu dengan mata terbelalak heran.

"Tuan-tuan, harap kalian kembalikan hasil buruanku itu." Kata Sin Wan dengan tenang samil menunjuk ke arah bangkai kijang.

Diantara pahlawan kaisar itu terdapat seorang yang sombong dan suka mengagulkan kegagahannya.

Ia adalah Song Tat Kin, murid dari Cin Cin Hoat-su si pendeta Tibet, maka kepandaiannya memang cukup tinggi.

Apalagi pada saat itu ia bersama tiga belas orang kawannya yang kesemuanya adalah pahlawan-pahlawan dari keraton kaisar dan kesemuanya memiliki silat yang cukup lihai.

Bahkan diantaranya terdapat Sim Kwie si Walet Terbang yang mempunyai ginkang luar biasa sekali.

Tadipun Sim Kwie telah mendemontrasikan kepandaiannya dan mengejar binatang kijang itu.

Tepat di atas sumur ia dapat mengejar dan pada saat ia hendak meloncati sumur, tiba-tiba ia melihat binatang itu seperti terpukul sesuatu dari bawah dan tubuh binatang itu terpental ke atas.

Tetapi sebelum tubuh binatang itu terjatuh ke dalam sumur, Sin Kwie dengan cepat telah menyautnya dan membawa loncat ke pinggir sumur.

Sambil memeriksa luka di dada binatang itu, Sim Kwie dan kawan-kawannya memandang ke dalam sumur dengan terheran-heran dan saling menduga-duga dan mempercakapkan hal yang ganjil ini.

Kini melihat bahwa yang melukai kijang hanya seorang pemuda dan seorang gadis cantik, Song Tat Kin segera bertindak maju dan bertolak pinggang lalu berkata, "Kau orang liar dari mana begitu berani mengaku-aku kijang ini? Yang menangkap adalah kami dan dagingnya adalah bagian kami pula.

Kau orang hutan hayo pergi jangan mengganggu kami." Mendengar ucapan orang yang sangat kasar dan menghina ini, Sin Wan masih dapat menahan sabarnya, tetapi Giok Ciu yang lebih keras wataknya segera maju sambil menuding dengan telunjuknya yang runcing dan membentak nyaring, "Laki-laki kasar yang tidak mengenal aturan! Kau bilang kijang itu kalian yang menangkap, mana buktinya? Tidak tahu malu merampas hak milik orang lain!" Giok Ciu memang memiliki wajah yang cantik jelita dan potongan tubuh yang langsing berisi.

Bagaikan bunga, dara yang berusia tujuh belas tahun ini, sedang harum-harumnya dan sedang indah menariknya, maka biarpun sederhana sekali pakaiannya, ia bahkan tampak makin jelita dan menarik.

Kini ia sedang marah, sepasang matanya berapi-api dan kedua pipinya kemerah-merahan, maka ia lebih manis pula.

Song Tat Kin melihat dara itu marah-marah sambil menunjuk-nunjuk padanya, tidak menjadi marah bahkan tertawa bergelak lalu berkata kepada kawan-kawannya.

"He, kawan-kawan lihatlah.

Kuda betina gunung ini tampaknya liar sekali! Tapi, alangkah indah bentuk badannya.

Lihat matanya, jelita dan bersih bagaikan mata burung Hong, dan pipinya itu, ah segar kemerah-merahan." Kawan-kawannya tersenyum dan ada yang tertawa girang, lalu terdengar ucapan, "Song twako, kau penjinak kuda betina liar, agaknya yang seekor ini cukup bagus untuk kau bikin jinak!" Mendengar kata-kata mereka ini, Giok Ciu yang masih hijau tidak mengerti bahwa yang dimaksudkan kuda betina liar adalah dirinya, maka ia memandang ke kanan kiri dan mengganggap pembicaraan mereka itu tidak karuan.

Tetapi Sin Wan mengerti maksud kata-kata mereka ang kota dan sangat menghina itu, maka kini lenyaplah kesabarannya.

Ia maju dengan mata berkilat, "Tuan-tuan harap jaga mulut dan jangan bicara sembarangan!" Ia memperingatkan mereka.

Orang tinggi besar muka hitam yang tadi memuji-muji Song Tat Kin segera berkata dengan tertawa lebar, "Song twako lekas, kau bikin jinak kuda liar ini, biar aku yang mengusir anjing yang pandai menggonggong ini!" Sehabis berkata demikian, si Tinggi Besar lalu mengayun kepalan tangganya yang sebesar kepala orang biasa itu ke arah dada Sin Wan dalam gerak tipu Pai-san-to-hai atau Dorong Gunung Uruk Laut.

Gerakan ini dilakukan dengan tenaga ratusan kati beratnya karena maksudnya sekali dorong saja membuat Sin Wan terlempar jauh atau kalau mungkin terdorong masuk ke dalam sumur kembali.

Tetapi Sin Wan cepat miringkan tubuh dan berkelit sambil berkata, "Jangan kalian mendesak, kami tidak mencari permusuhan!" Tetapi si Tinggi Besar yang merasa terhina karena serangannya tidak mengenai sasaran dan karena kata-kata Sin Wan itu dianggap sebagai pernyataan takut, lalu menyerang makin hebat dengan tipu Hekhouw-to-sim atau Macan Hitam Sambar Hati.

Posting Komentar