"Mendiang kakek buyut meninggalkan pesan bahwa kematian adalah wajar, tidak perlu diributkan atau disusahkan....!
Terdengar elahan napas panjang dan pendekar itu seperti baru sadar dari mimpi buruk. Dia memandang kepada Cin Liong dan berkata lirih.
"Terima kasih, Cin Liong. Begitulah hendaknya. Isteriku, keringkan air matamu yang tiada gunanya itu dan mari kita mendengarkan penuturan mereka ini lebih lanjut.!
Kini Suma Hui yang sudah dapat menguasai hatinya melanjutkan cerita itu.
"Paman dan bibi, setelah kami melakukan perintah terakhir dari kakek, kami berempat meninggalkan pulau dengan perahu dan dari jauh kami melihat betapa istana itu terbakar, kemudian.... sungguh mengejutkan dan mengherankan sekali.... kebakaran itu menjalar terus dan dalam waktu semalam itu, seluruh pulau terbakar habis!!
"Hemmm....!! Suma Kian Bu mengangguk-angguk, kembali dia maklum akan maksud ayahnya yang hendak melepaskan semua ikatan dengan dunia.
"Dan pada keesokan harinya, pulau itu sudah lenyap! Pulau Es telah tenggelam!! gadis itu melanjutkan ceritanya. Kembali Suma Kian Bu mengangguk-angguk. Memang Pulau Es adalah sebuah pulau yang aneh, maka peristiwa itupun tidaklah luar biasa.
"Kemudian bagaimana dengan kalian berempat?! tanyanya dan kini ayah dan ibu ini kembali dicekam rasa gelisah karena kenyataannya kini, dari empat orang itu tinggal dua orang, Ciang Bun dan Ceng Liong tidak ada bersama mereka, ini berarti bahwa tentu telah terjadi sesuatu dengan kedua orang anak itu.
"Kami berempat melanjutkan pelayaran untuk menuju ke daratan besar, akan tetapi di tengah lautan kami dihadang dan dikepung oleh puluhan orang penjahat, sisa mereka yang agaknya melarikan diri dari Pulau Es, dipimpin oleh Hek-i Mo-ong dan Jai-hwa Siauw-ok.!
"Kedua nama jahanam itu takkan pernah kulupakan!! kata Teng Siang In dengan sinar mata berapi-api.
"Kami diserang dan perahu kami digulingkan. Kami membela diri mati-matian, akan tetapi Cin Liong terlempar le laut, demikian pula Ciang Bun, padahal ketika itu badai sedang mengamuk. Saya sendiri tertawan oleh Jai-hwa Siauw-ok dan dibawa lari, sedangkan menurut keterangan Cin Liong kemudian, adik Ceng Liong juga tertawan dan dibawa pergi oleh Hek-i Mo-ong.!
"Ahhhh....!! Teng Siang In meloncat bangun dan mukanya menjadi merah sekali, sepasang matanya mencorong.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan anakku, aku bersumpah untuk merobek-robek kulit Hek-i Mo-ong dan mencincang hancur dagingnya!!
"In-moi, tenanglah, tidak baik membiarkan perasaan menguasai batin,! terdengar Suma Kian Bu berkata dan nyonya itu lalu terduduk kembali, wajahnya kini agak pucat akan tetapi sepasang matanya masih berapi-api dan kedua tangannya dikepal.
"Hui-ji, lanjutkan ceritamu.!
"Saya dilarikan oleh si jahanam Jai-hwa Siauw-ok dan nyaris mengalami bencana dan aib yang hebat. Untung muncul Cin Liong yang tiba pada saat yang tepat menolongku dan sayang sekali bahwa si keparat itu berhasil melarikan diri dari kejaran kami. Kami lalu langsung pergi ke sini untuk melaporkan kepada paman dan bibi.!
"Dan Ciang Bun? Ceng Liong?! Teng Siang In bertanya.
Suma Hui mengerutkan alisnya, wajahnya diselimuti kedukaan dan ia menggeleng kepala.
"Kami tidak tahu, bibi. Yang diketahui oleh Cin Liong hanya bahwa Ciang Bun terlempar ke lautan dan Ceng Liong ditawan Hek-i Mo-ong. Jahanam Siauw-ok itupun bercerita demikian kepadaku.!
"Kita harus mencarinya sekarang juga!! Teng Siang In berkata sambil memandang kepada suaminya dan Suma Kian Bu yang sudah mengenal baik watak isterinya maklum bahwa andaikata dia menolak sekalipun, tentu isterinya akan berangkat sendiri. Memang mereka harus cepat melakukan pengejaran dan mencari Ceng Liong untuk dirampas kembali, dan bagaimauapun juga, mereka memang sudah berkemas-kemas untuk pergi merantau ke Pulau Es.
"Baik, kita mencarinya hari ini juga. Cin Liong dan Hui-ji, kalian hendak pergi ke mana?!
"Paman, saya harus cepat-cepat pulang ke Thian-cin memberi kabar kepada ayah dan ibu.!
"Saya akan menemani bibi Hui.!
Suma Kian Bu mengangguk dan bersama isterinya dia mengantar pemuda dan pemudi itu sampai ke pintu depan. Setelah mereka berdua berpamit dan menjura untuk yang terakhir kalinya, Suma Kian Bu memandang kepada mereka dengan sinar mata tajam, lalu berkata.
"Cin Liong dan Suma Hui, jalan yang kalian tempuh penuh rintangan, akan tetapi berjalanlah terus, doa restuku bersamamu dan semoga Thian memberkahi kalian.!