Yang ditanya semakin terisak dan mengguguk.
"Bibi.... sungguh celaka, malapetaka telah menimpa kita....! Dan tangisnya membuat ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
Melihat ini, Suma Kian Bu mengerutkan alisnya.
"Suma Hui....!! Suaranya membentak penuh wibawa sehingga amat mengejutkan hati Cin Liong.
"Sudah patutkah sikapmu itu?! Suara ini penuh teguran karena Suma Kian Bu merasa tidak puas melihat sikap keponakannya sebagai seorang cucu majikan Pulau Es telah memperlihatkan kelemahan yang seperti itu. Akan tetapi, Suma Hui yang telah digulung oleh perasaan duka, tetap tidak mampu mengeluarkan suara dan sesenggukan.
"Suma Hui....!! Suara Suma Kian Bu makin penasaran.
Melihat Suma Hui dibentak dan gadis itu semakin berduka, Cin Liong merasa kasihan dan diapun menjura sambil berkata.
"Sesungguhnya begini....!
"Siapa engkau?! Suma Kian Bu memotong ucapan Cin Liong dan memandang tajam wajah yang tampan dan gagah itu, diam-diam dia dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan.
"Dan bagaimana engkau dapat datang bersama Suma Hui?! Tentu saja dia merasa tidak senang melihat keponakannya itu, seorang gadis dewasa, muncul bersama seorang pemuda yang tidak dikenalnya.
Kini Suma Hui yang seperti bangkit dari tangisnya dan menjawab cepat.
"Paman, dia adalah keponakanku sendiri....!
"Keponakanmu....?! Teng Siang In memotong, terbelalak, tentu saja terheran dan tidak dapat percaya bahwa Suma Hui bisa mempunyai seorang keponakan yang menurut taksirannya tentu jauh lebih tua daripada gadis itu.
"....namanya Kao Cin Liong,! sambung Suma Hui.
"Ahhh....! Jenderal muda putera Ceng Ceng itu?! Suma Kian Bu berseru, wajahnya berseri.
"Jadi engkau kah putera Kao Kok Cu Si Naga Sakti Gurun Pasir?!
Cin Liong kembali memberi hormat kepada pendekar yang masih terhitung paman kakeknya ini! "Harap maafkan kelancangan saya. Sebetulnya saya baru pulang dari Pulau Es dan mengalami segala peristiwa yang terjadi di sana, sampai dapat datang ke sini bersama dengan bibi Hui....!
"Mari kita duduk di dalam dan bicara.! Suma Kian Bu mengajak Cin Liong dan Teng Siang In juga menggandeng Suma Hui yang masih menangis itu. Mereka berempat lalu duduk di ruangan dalam dan kini Suma Hui sudah mulai dapat menguasai hatinya yang berduka.!Nah, sekarang ceritakanlah semuanya,! kata Suma Kian Bu. Bersama isterinya dia menanti untuk mendengarkan penuturan itu dengan jantung berdebar penuh ketegangan.
Cin Liong memandang kepada Suma Hui seolah hendak bertanya apakah dia yang akan bercerita. Suma Hui yang juga melirik kepadanya menggeleng kepada sedikit lalu ialah yang mulai bercerita. Setelah menarik napas panjang dan mengerahkan tenaga batin untuk menekan perasaan duka yang mencekik, ia lalu memandang kepada paman dan bibinya sejenak, kemudian dengan suara lirih namun jelas, seolah-olah mengatur agar kedua orang tua itu tidak sampai terkejut, iapun berkata.
"Paman dan bibi, harap jangan terkejut. Pulau Es telah tertimpa bencana hebat, diserbu oleh puluhan orang penjahat yang dipimpin oleh lima orang datuk kaum sesat.!
"Nanti dulu, katakan siapa lima orang datuk itu?! Suma Kian Bu memotong.
"Menurut penyelidikan kami terutama Cin Liong, kami ketahui bahwa mereka itu adalah Hek-i Mo-ong, Ngo-bwe Sai-kong, Eng-jiauw Siauw-ong, Jai-hwa Siauw-ok dan wanita yang berjuluk Ulat Seribu....!
Suma Kian Bu mengangguk-angguk dan mengerutkan alis. Nama-nama besar di dunia hitam, terutama sekali Hek-i Mo-ong.
"Lanjutkan ceritamu.!
"Mula-mula kami bertiga, saya, adik Ciang Bun dan adik Ceng Liong, sedang berlatih silat ketika muncul Ngo-bwe Sai-kong dan anak buahnya hendak membunuh kami bertiga. Nenek Lulu datang dan menghajar mereka. Nenek Lulu dikeroyok dan berhasil memukul mundur musuh, bahkan berhasil menewaskan Ngo-bwe Sai-kong yang lihai. Akan tetapi nenek Lulu.... ia sendiri terluka parah dan setelah dapat masuk ke dalam istana, ia.... ia meninggal dunia karena luka-lukanya....!
"Aihhh....!! Teng Siang In menahan jeritnya dan mukanya menjadi pucat, lalu berobah merah sekali karena marah. Sementara itu, Suma Kian Bu memejamkan matanya, wajahnya tidak menunjukkan sesuatu, hanya nampak dia menarik napas panjang.
"Lanjutkan.... lanjutkan....! katanya tanpa membuka matanya.
"Sisa para penyerbu itu dihajar oleh nenek Nirahai sehingga mereka lari cerai-berai meninggalkan pulau. Malamnya kami tiga orang anak melakukan penjagaan dan muncullah Cin Liong dalam keadaan luka-luka pula. Dia mendarat di Pulau Es dan hampir saja terjadi salah paham karena pada waktu itu kami bertiga tidak mengenal bahwa dia adalah keponakan kami.!
Suma Kian Bu mengangkat tangan dan membuka matanya, memandang kepada Cin Liong.
"Hentikan dulu ceritamu, Hui-ji, dan kau ceritakanlah bagaimana engkau dapat sampai ke Pulau Es dalam keadaan luka-luka, Cin Liong.!
Cin Liong lalu menceritakan pengalamannya secara singkat namun jelas sekali. Dia menceritakan betapa dia bertugas menyelidiki keadaan dan betapa dia mengikuti rombongan penjahat yang hendak menyerbu Pulau Es, dan betapa di tengah pelayaran dia ketahuan dan hampir saja tewas ketika dia terlempar ke dalam lautan, namun akhirnya dia berhasil juga mendarat di Pulau Es walaupun sedikit terlambat, yaitu rombongan pertama dari kaum sesat telah menyerang ke pulau yang mengakibatkan tewasnya nenek Lulu.
"Demikianlah, saya lalu dibawa menghadap kakek buyut Suma Han dan bersama dengan keluarga Pulau Es saya lalu ikut melakukan penjagaan.! Cin Liong mengakhiri ceritanya.
"Dialah yang banyak berjasa, paman. Kalau tidak ada dia, mungkin keadaan kami akan menjadi lebih parah lagi. Seperti yang telah diduga oleh nenek Nirahai, gerombolan penjahat itu datang lagi menyerbu, dipimpin oleh Hek-i Mo-ong dan tiga orang datuk lainnya. Kekuatan mereka berpuluh orang dan kami semua, kecuali kakek Suma Han yang tetap duduk bersila di dekat peti mati nenek Lulu, kami semua dipimpin oleh nenek Nirahai lalu mengadakan perlawanan mati-matian.
Namun, pihak musuh terlampau banyak. Walaupun kami sudah merobohkan banyak orang, tetap saja kami kalah kuat. Nenek Nirahai telah berhasil menewaskan Si Ulat Seribu, dan Cin Liong berhasil pula membunuh Eng-jiauw Siauw-ong yang lihai. Kemudian.... sesuai dengan perintah nenek Nirahai, Cin Liong membawa kami bertiga bersembunyi karena keadaan gawat....!
Suma Kian Bu dapat mengerti akan siasat ibu kandungnya.
"Hemm, tentu disuruh bersembunyi di ruangan bawah tanah, bukan?!
"Benar, paman. Aku sungguh tidak setuju sama sekali dan ingin aku mengamuk terus. Akan tetapi, Cin Liong mentaati perintah nenek Nirahai dan aku ditotoknya. Memang, kalau tidak disembunyikan, kami bertiga dan Cin Liong tentu telah tewas semua, akan tetapi sedikitnya dapat menambah jumlah kematian pihak musuh.!
"Lanjutkan, lanjutkan....!!
"Setelah kami keluar dari tempat persembunyian, ternyata musuh sudah pergi semua, bahkan mereka membawa pergi teman-teman yang tewas dan luka. Akan tetapi.... akan tetapi.... kami melihat nenek Nirahai telah tewas pula di samping peti mati nenek Lulu....! Sampai di sini Suma Hui tak dapat menahan tangisnya dan kembali ia terisak-isak lalu sesenggukan. Teng Siang In menggigit bibirnya. Wanita ini tidak menangis, artinya tidak mengeluarkan suara menangis walaupun air matanya bercucuran membasahi kedua pipinya. Juga Suma Kian Bu hanya termenung dengan muka tidak menunjukkan sesuatu. Semua ini terlihat oleh Cin Liong dan pemuda ini teringat akan kegagahan Ceng Liong dan menjadi kagum.
Melihat keadaan keponakannya itu, Suma Kian Bu menarik napas panjang. Dia tidak dapat menyalahkan keponakannya itu. Sebagai seorang gadis, Suma Hui cukup gagah dan pengalaman yang amat menyedihkan itu tentu saja mengguncang perasaan gadis itu.
"Cin Liong, sekarang engkau lah yang melanjutkan ceritanya,! katanya kepada pemuda itu.
Cin Liong memandang kepada Suma Hui yang masih sesenggukan dengan sinar mata penuh kasih sayang dan iba dan hal ini sama sekali tidak lewat begitu saja dari pengamatan Suma Kian Bu, akan tetapi pendekar ini diam saja.
"Ketika kami memasuki ruangan, kami melihat nenek buyut Nirahai telah tewas di dekat peti mati nenek buyut Lulu, sedangkan kakek buyut masih duduk bersila di tempat semula. Biarpun kami tidak melihat dan tidak tahu apa yang telah terjadi, akan tetapi melihat betapa semua musuh telah pergi dan kakek buyut masih duduk bersila, maka besar sekali kemungkinannya kakek buyut telah berhasil mengusir mereka, entah dengan cara bagaimana.
Kami semua melakukan penjagaan dan kemudian baru kami tahu, biarpun ada suara kakek buyut yang memesan agar jenazah mereka kami bakar di kamar sembahyang, dan agar kami semua cepat meninggalkan pulau senja hari itu juga dan kami diharuskan kembali ke rumah masing-masing, baru kami tahu bahwa sesungguhnya kakek buyut Suma Han juga telah meninggal dunia....!
"Ayah....!! Seruan ini pendek saja namun menggetarkan seluruh rumah itu dan Cin Liong merasa terkejut sekali.
"Ayaaahh.... ohh, ayaahhh....!! Teng Siang In menubruk suaminya, menyembunyikan mukanya di dada suaminya. Keduanya menangis tanpa suara!
Cin Liong menatap wajah Pendekar Siluman Kecil itu dan hatinya tergetar. Wajah yang gagah itu nampak menakutkan sekali. Dengan memberanikan diri diapun berkata lirih.