' Ahhh !! Cin Liong mengepal tinju.
"
Ylereka itu orang - orang jahat. Aku akan mengerahkan pasukan untuk mencari dan mentbasnti mereka semua itu !!
"Akupun tidak akan berhenti sebelum menumpas mereka!! Suma Hui mengepal tinju, teringat akan kehancuran keluarga Pulau Es. Kemudian dipandanguya pemuda perkasa itu dan iapun bertanya.
"Bagaimana engkau dapat tiba di pondok itu dan menolongku, Cin Liong?!
"Hanya kebetulan saja, Hui-i. Baru kemarin aku mendarat dan memasuki kota. Setelah berganti pakaian dan memulihkan kekuatan, siang tadi aku mendatangi pantai di luar kota Ceng-to, untuk ntenyelidiki kalau-kalau ada di antara kalian bertiga yang selamat dan mendarat pula. Di dalam penyelidikan itulah, sore tadi, aku mendengar percakapan dua orang nelayan yang katanya melihat seorang kakek memondong tubuh seorang gadis yang pingsan dan katanya kakek itu berlari cepat menyelinap di antara pohon-pohon. Mendengar ini, aku lalu melakukan pengejaran dan akhirnya aku tiba di pondok itu. Ketika aku melihat Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng sedang makan minum di dalam pondok, akupun merasa yakin bahwa tentu dia yang dilihat dua orang nelayan itu dan gadis yang pingsan itu tentu engkau. Maka akupun masuk dan kebetulan sekali aku tiba pada saat yang tepat.!
"Cin Liong....! Suma Hui menelan ludah, sukar agaknya melanjutkan kata-katanya.
"Ya Hui-i?!
"Engkau.... engkau baik sekali, Cin Liong. Engkau telah membela kami, bahkan engkau telah berkali-kali menyelamatkan aku.!
"Ah, harap jangan berkata demikian, Hui-i. Bukankah sudah sepatutnya kalau aku membela keluarga Pulau Es? Bukan keluarga sekalipun tentu akan kubela, karena bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menentang kejahatan?!
"Ya, tapi.... tapi....!
"Tapi apa, Hui-i?!
Seperti tanpa disadarinya, Suma Hui memegang tangan pemuda itu yang terletak di atas meja pula dan ia meremas jari-jari tangan itu.
"Cin Liong.... berkali-kali aku terkenang akan hal itu.... engkau begini baik dan aku.... aku....!
Cin Liong merasa terharu bukan main ketika merasa betapa tangannya dipegang dan diremas-remas oleh gadis itu. Betapa lembutnya telapak tangan gadis itu, lembut hangat dan mengandung penuh getaran yang menggetarkan pula jantung Cin Liong.
"Engkau pun seoraug gadis yang amat baik, Hui-i, baik sekali....!
"Aku telah menamparmu berkali-kali....! Nah, itulah yang selalu terkenang olehku dengan hati perih, Cin Liong. Engkau hampir berkorban nyawa berkali-kali untuk membela kami, dan aku telah menghina dan menyakitimu. Maukah.... maukah engkau memaafkan aku, Cin Liong?! Di dalam suara itu terkandung isak.
Pemuda itu merasa semakin terharu dan diapun balas meremas tangan yang lembut itu sehingga jari-jari tangan mereka saling bertautan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Hui-i. Sudah sepatutnya engkau menamparku, karena memang aku telah menyakitkan hatimu. Bahkan sekarangpun aku bersedia andaikata engkau hendak menambah beberapa tamparan lagi.!
"Ih, jangan begitu, Cin Liong. Aku sungguh menyesal, dan aku minta maaf. Penyesalan itu selamanya akan mengganggu hatiku sebelum engkau memberikan maafmu.! Sambil berkata demikian, gadis itu memandang kepada wajah Cin Liong dengan sinar mata penuh permohonan.
Cin Liong tidak tega untuk membiarkan gadis itu tenggelam dalam penyesalan diri.
"Baiklah, kalau engkau menghendaki demikian. Aku maafkan semua perbuatanmu, Hui-i.!
Wajah yang cantik itu menjadi berseri dan tiba-tiba saja, seolah-olah baru melihat betapa tangannya saling cengkeram dengan tangan pemuda itu, perlahan-lahan Suma Hui menarik kembali tangannya.
"Ah, engkau memang baik sekali, Cin Liong. Belum pernah selama hidup aku bertemu dengan seorang yang baik seperti engkau.!
"Jangan terlalu memuji, Hui-i. Engkau sendiripun seorang gadis yang teramat baik.!
Suma Hui tersenyum.
"Ucapanmu itu menunjukkan bahwa engkau rendah hati. Mana mungkin seorang gadis buruk watak seperti aku ini kau katakan baik?!
"Sungguh, Hui-i, aku bicara setulusnya, keluar dari dalam lubuk hatiku.!
Wajah yang manis itu menjadi semakin merah dan kini Suma Hui menunduk.
"Bagiku, engkau adalah oraug yang paling baik di dunia ini.!
"Bagiku, engkau pun demikian, Hui-i.!
"Ih, benarkah itu? Tidak ada lain gadis yang seperti aku?!
"Banyak gadis di dunia ini, akan tetapi tidak ada yang seperti engkau bagiku, Hui-i.!
Hening sejenak dan gadis itu menunduk, agaknya kini ia hampir tidak berani menentang pandang mata pemuda itu karena ia melihat sesuatu dalam pandang mata itu yang membuatnya menjadi malu dan bingung.
"Cin Liong....!
"Apa yang hendak kau katakan, Hui-i?!
"Kulihat engkau sndah lebih dari dewasa....!
"Usiaku sndah hampir tiga puluh tahun, Hui-i.!
"Kiranya sndah lebih diri cukup untuk.... menikah.!
"Sudah lebih dari cukup, terlambat malah.!
"Lalu kenapa sampai sekarang engkau belum menikah?! Kini gadis itu berani mengangkat muka memandang dan sebaliknya malah Cin Liong yang kini menundukkan mukanya dan beberapa kali pemuda ini menarik napas panjang. Pertanyaan itu seolah-olah merupakan serangan ujung tombak ke arah hatinya dan membuat dia mau tidak mau teringat kembali kepada Bu Ci Sian, gadis pertama yang pernah merampas hatinya akan tetapi kemudian gagal menjadi jodohnya (baca kisah Suling Emas dan Naga Siluman). Akan tetapi dengan cepat dia mengusir bayangan itu dari ingatannya karena Bu Ci Sian kini telah menjadi isteri orang lain, isteri Pendekar Suling Emas Kam Hong.
"Hui-i, tadinya aku mengambil keputusan untuk tidak menikah selamanya, akan tetapi setelah aku berjumpa denganmu....!
"Ya, bagaimana, Cin Liong?!
"Pendirianku lalu goyah....! Kini Cin Liong yang mengulur tangan dan memegang tangan Suma Hui di atas meja itu, dipegangnya dengan lembut seperti memegang seekor anak burung yang lemah.
"Semenjak bertemu denganmu, aku tahu bahwa aku ingin menikah.... aku ingin dapat hidup bersama denganmu selamanya, Hui-i....!
"Cin Liong....!! Tangan dalam genggaman Cin Liong itu menggelepar seperti anak burung ketakutan, akan tetapi tangan itu tidak ditarik seperti tadi dan gadis itu menunduk dengan muka merah sekali, lalu perlahan-lahan menjadi pucat dan dua titik air mata mengalir turun.
"Maafkanlah aku jika aku menyinggung perasaan hatimu, Hui-i,! kata Cin Liong, wajahnya agak pucat karena pemuda ini dilanda kekhawatiran kalau-kalau dia harus mengalami patah hati yang amat pahit untuk kedua kalinya setelah dahulu dia pernah patah hati karena cintanya ditolak oleh Bu Ci Sian.
"Tidak ada yang harus dimaafkan dan engkau tidak menyinggung, Cin Liong. Akan tetapi.... lupakah engkau bahwa.... bahwa aku ini bibimu dan engkau keponakanku? Ayahku, Suma Kian Lee dan ibumu, Yan Ceng, keduanya adalah putera dan cucu dari nenek Lulu. Setidaknya, kita berdua adalah darah dari mendiang nenek Lulu....!
"Itulah yang selama ini menjadi ganjalan hatiku, Hui-i. Kita adalah seorang pemuda dan seorang gadis, dan usiaku lebih tua darimu, akan tetapi.... kenapa engkau menjadi bibiku?!