Tapi Pauw Hun Lin yang merasa malu karena sikap dan tindakannya yang tak menyenangkan tadi, segera menyatakan maaf kepada Lo Sam dan mengajak ANg Hwat Tojin meninggalkan tempat itu karena ia merasa betapa semua mata memandangnya dengan penuh penyesalan.
Kemudian Bu Beng dan Cin Eng diajak oleh Kim Kong Tianglo pergi ke Liong San.
Kim Kong Tianglo memberi nasehat kepada mereka untuk melangsungkan perkawinan disitu.
Mereka setuju dan perkawinan dirayakan dengan sederhana diatas gunung itu, dengan dikunjungi oleh para penduduk kampung yang dekat dengan tempat itu.
Sepasang pengantin yang saling mencina itu hidup dengan penuh kebahagiaan diatas bukit, tiap hari menikmati tamasya alam dan menghirup hawa pengunungan yang bersih dan segar.
Kim Kong Tianglo membujuk agar Bu Beng dan istrinya suka tinggal saja di Liong San dan menggantikan kedudukan suhu mereka, karena Kim Liong Pai sekarang tidak ada bengcunya kagi.
Suheng ini mengharap agar Bu Beng dapat menghidupkan cabang perguruan silat mereka kembali untuk menjunjung nama Kim Liong Pai sebagai pembalas jasa terhadap Hun San Tojin, guru mereka yang tercinta.
Kemudian Kim Kong Tianglo pergi untuk mengambil kedua muridnya, yaitu adaik dari Cin Eng, putera puteri dari Hun Gwat Go, Liu Cin Han dan Liu Cin Lan.
Kedua saudara ini tadinya dititipkan dalam sebuah kelenteng dimana seorang kawan Kim Kong Tianglo menjadi ketuanya.
Sudah tentu Cin Han dan Cin Lan girang sekali bertemu kembali dengan Cici mereka, Cin Eng, hingga mereka bertiga bepelukan sambil menangis karena terharu dan girang.
Kedua anak ini seterusnya tinggal bersama dengan Cici dan cihu mereka, dan mereka berdua belajar silat dengan rajinnya di bawah pimpinan Cin Eng dan Bu Beng.
Cin Eng sendiri mempelajari Ang Coa Kiamsut dari suaminya hingga tak lama kemudian ia juga paham sekali ilmu pedang yang luar biasa ini.
Dua tahun kemudian, Cin Eng melahirkan sepasang anak kembar laki perempuan yang diberi nama Kim Lian dan Kim San.
Demikianlah, Bu Beng anak yatim piatu yang di waktu kecilnya hidup sengsara dan penuh penderitaan itu, kini hidup beruntung dengan istrinya yang mencinta, kedua anaknya yang lucu dan mungil, serta kedua adik yang cerdik dan menurut semua petunjuknya.
Karena memenuhi pesan suhengnya yang pergi merantau.
Bu Beng menerima beberapa orang murid dan hidup sebagai petani diatas gunung Lion San dengan aman dan damai.
TAMAT