Jago Pedang Tak Bernama Chapter 28

NIC

Mari kita boleh coba-coba sebentar!" Pauw Hun Lin lalu meloncat ke ruangan yang agak lebar.

Bu Beng yang merasa marah sekali segera mengejar.

Mereka saling berhadapan dan memasang kuda-kuda ketika Lo Sam berseru, "Tahan!" Dengan sekali loncatan pengemis pendek itu sudah berada di antara kedua jago yang hendak mengukur tenaga masing-masing itu.

"Pauw Enghiong," kata Lo Sam, "Janganlah mendesak Bu Beng Taihiap.

Karena aku sendiri berani menanggung bahwa bukan Bu Beng Taihiap yang mengambil barang itu." "Hm, begitu? Tapi mengapa arca itu bias masuk ke dalam bungkusannya?" Tanya Pauw Hun Lin.

"Dalam hal ini pasti ada tukang fitnahnya!" jawab Lo Sam.

"Hm, kau sebagai tuan rumah ternyata berat sebelah.

Lo-Enghiong! biarlah, aku memang hendak mencoba kepandaian anak muda ini dan kalau bias mengajar adapt padanya." "Aku melarangnya.

Pauw Kauwsu.

Aku tuan rumah dan aku tak suka orang merusak pestaku ini!" "Kalau aku tetap hendak menghajarnya, kau mau apa?" Lo Sam agak marah mendengar ini.

"Pauw Kauwsu! Kau adalah tamu undanganku, dan aku tuan rumah tempat ini mengerti? Sebagai tamu kau harus tunduk kepada peraturanku.

Pendknya jangan berkelahi atau kalau tidak lebih baik kau keluar saja dan bawalah lagi pemberianmu itu!" Lo Sam benar-benar marah karena merasa dihina dan tak dihargai oleh kauwsu itu.

"Ha, ha agaknya kau dudah sekongkol dengan maling-maling itu.

Kau sendiri memerlukan hajaran pengemis rendah!" Mendengar ini, Lo Sam berseru marah dan ia segera menyerang! Maka bertempurlah kedua orang tua itu, Bu Beng tahu akan kepandaian Lo Sam, tapi ia terkejut sekali ketika melihat bahwa sebentar saja Lo Sam terdesak mundur oleh pukulan-pukulan Pauw Kauwsu yang benar-benar hebat! Tiba-tiba Lo Sam mloncat jauh ke sudut ruangan dan tahu-tahu ia sudah mengambil tongkatnya.

"Untuk memukul anjing aku harus menggunakan tongkatku!" katanya.

"Ha, ha, ha! bagus memang aku ingin sekali mencoba tongkat wasiatmu!" kata Pauw Kauwsu dengan sombong sambil mencabut pedang.

Bu Beng pernah bertempur melawan Lo Sam dan tahu bahwa ilmu permainan tongkat dari pengemis ini benar-benar hebat dan boleh dikatakan setingkat dengan permainan pedang yang ia pelajari dari Hun San Tojin, gurunya.

Maka ia berpikir kali ini Lo Sam pasti menang.

Tapi di luar dugaannya, orang she Pauw itu benar-benar hebat hingga pedangnya dapat melayani ilmu tongkat Lo Sam dengan baik sekali, bahkan agaknya lebih unggul! Lo Sam mengeluarkan ilmu tongkatnya Pat kwa mui yang gerakan-gerakannya sangat hebat serta berubah-ubah jurusannya dari delapan penjuru.

Tapi ilmu pedang Pauw Kauwsu tidak kalah hebatnya dan dapat mengatasi ilmu tongkat lawan.

Lama-lama Bu Beng tahu bahwa biarpun dalama permainan senjata LoSam tidak kalah banyak, namun pengemis kate ini kalah tenaga, maka menjadi terdesak mundur.

Bu Beng mencabutpedang dan menggerakkan pedang ular merah diantara kedua orang yang sedang bertempur itu.

Mereka melihat sebuah sinar merah panjang berkilat menyilaukan mata, maka masing-masing menarik senjata dan meloncat mundur.

Bu Beng menjuru kepada Lo Sam.

"Lo-Enghiong, biarlah siauwte melawan orang sombong ini, karena sebenarnya siauwtelah yang ia kehendaki.

Siauwte tidak suka membiarkan Lo-Enghiong mewakili siauwte yang muda." "Bagus Bu Beng siauwcut, majulah!" Pauw Kauwsu menantang dan tanpa banyak kata lagi ia mengayunkan pedangnya menyerang! Bu Beng yang merasa marah sekali kepada orang she Pauw yang kasar itu, segera memutar Ang Coa Kiamnya dan melakukan serangan bertubi-tubi dengan menggunakan ilmu pedangnya yang baru dan luar biasa yaitu Ang Coa Kiamsut! Pedang Ang Coa Kiam adalah pedang mustika yang hebat sekali ketajamannya dan merupakan senjata ampuh, apalagi dimainkan dalam tangan Bu Beng yang memiliki kepandaian tinggi.

Untunglah Pauw Kauwsu juga menggunakan sebuah pedang pusaka, yaitu How kiam.

Tapi menghadapi permainan pedang Ang Coa Kiamsut yang belum pernah dilihat seumur hidupnya, bahkan belum pernah didengarnya, ia menjadi bingung sekali.

Pedang Bu Beng yang membentuk ular merah itu berkilat-kilat merupakan sinar merah menyambar-nyambar hingga menyilaukan mata.

Gerakan-gerakannya demikian aneh dan mempunyai tenaga mujijat.

Sebenarnya Ang Coa Kiamsut memang luar biasa.

Ilmu pedang ini mempunyai empat macam gerakan, memutar, menempel, mengait dan membabat.

Jika Bu Beng menggunakan gerakan dan tenaga memutar, maka pedangnya dapat terputar dan ujungnya seakan-akan merupakan ekor ular yang melilit pedang lawan hingga lawan merasakan tangannya tergetar dan pedangnya hampir terlepas dari pegangan.

Jika menempel, maka pedang ular merah itu seakan-akan besi sambrani yang menempel pedang lawan hingga lawan sukar menggerakkan atau menarik pedangnya.

Demikian juga pedang itu dapat digunakan untuk mengait atau mencongkel pedang lawan, karena dengan membalikkan telapak tangan dengan tiba-tiba, ujung Ang Coa Kiam dapat mengarah nadi orang dan menarik pedang lawan.

Sebaliknya digunakan untuk membabat, maka gerakan ini bukanlah asal membacok saja, tapi dapat diubah membacok terus menerus, membacok lagi dan selalu berubah-ubah tak terduga.

Pauw Hun Lin yang selama hidupnya belum pernah menghadapi permainan pedang macam ini, baru belasan jurus saja menjadi bingung dan pening.

Ia hanya dapat memutar-mutar pedangnya menutupi tubuh agar jangan sampai temakan oleh pedang ular merah itu, tapi sedikitpun ia tidak kuasa menyerang.! Bu Beng yang tak mempunyai permusuhan apa-apa dengan Pauw Kauwsu tidak ingin melukainya, hanya ingin mempermainkan dan mengajar adapt saja.

Tapi pemuda inipun merasa terkejut dan gembira sekali melihat betapa ilmu pedang baru yang dimilikinya itu bisa begitu hebat.

Sama sekali di luar dugaannya.

Semua tamu yang melihat kehebatan Bu Beng, diam-diam meuji dan kagum.

Juga Lo Sam sangat heran melihat permainan Bu Beng yang asing dan aneh.

"Ah, sungguh hebat anak muda ini, baru beberapa lama berpisah, telah memiliki kepandaian yang demikian hebat dan demikian pesat pula kemajuan yang dicapainya!" pikirnya.

Pada saat itu, Cin Eng yang sejak tadi heran melihat Kim Kong Tianglo tidak berada disitu lagi, tiba-tiba melihat suhengnya itu datang dari depan berlari-lari dan segera menghampiri mereka yang sedang bertempur.

"Sute, tahan pedangmu!" mendengar suara suhengnya.

Bu Beng menahan serangannya dan meloncat mundur.

Pauw Kauwsu juga menghentikan putaran pedangnya dan memandang Kim Kong Tianglo dengan napas terengah-engah dan keringat membasahi jidat.

"Sute aku sudah tahu orang yang melakukan fitnah ini.

Pauw Kauwsu kau memang terburu napsu.

Orang telah berlaku curang dan sengaja mengadu kau dengan suteku," Kim Kong Tianglo lalu menarik tangan seorang anggota perkumpulan pengemis yang tadi ia ajak berlari kesitu.

"Coba ceritakan apa yang kau lihat tadi!" Dengan mata memandang kepalanya, anak buah itu berkata.

"Ketika semua orang keluar tadi untuk menonton pertempuran maka siauwte lihat kedua tuan ini mengambil arca dari atas meja.

Siauwte kaget sekali dan makin merasa heran ketika mereka memasukkan arca itu ke dalam bungkusan Bu Beng Kiam Hiap!" sambil berkata demikian ia menunjuk kearah Sim Boan Lip dan Sim Tek Hin yang berdiri dengan wajah pucat.

"Kau? Eh, mengapa...

bagaimana pula ini?" kata Pauw Kauwsu samil memandang wajah Sim Pangcu dan puteranya itu.

"Tak usah heran, Pauw Kauwsu," kata Bu Beng tersenyum, "Mereka ini pernah melakukan kejahatan tapi berhasil saya halag-halangi, dan mungkin kini hendak membalas dendam.

Ternyata mereka pengecut sekali dan tak berani membalas sendiri maka lalu menggunakan tanganmu hendak mencelakakan aku!" "Betulkah ini? Kalian yang melakukan perbuatan terkutuk ini?" bentak Pauw Kauwsu kepada Sim Boan Lip dan Sim Tek Hin.

Sim Pangcu diam saja tunduk, tapi SIm Tek Hin segera mengangkat dada dan berkata keras.

"Betul, memang kami ingin melihat Bu Beng yang sombong ini terjatuh dalam tangan Pauw Kauwsu.

Tapi kami keliru memilih jago!" kata-kata ini dianggap lucu dan terdengar suara tawa ditahan dari sana sini.

Pauw Hun Lin merasa marah sekali dan pedangnya segera berkilat menyerang ayah anak itu! Serangan ini tak terduga sama sekali, hingga Sim Boan Lip kena terbacok lehernya dan sekali berteriak ngeri orang tua itu jatuh mandi darah dan mati disaat itu juga! Sim Tek Hin berseru keras dan menggunakan pedangnya menyerang Pauw Kauwsu.

Tapi sekali bergerak Pauw Kauwsu dapat menendang pemuda itu hingga terlempar jauh dan Pauw Kauwsu yang sudah gemas dan marah itu meloncat mengejar dan mengayunkan pedangnya.

Tapi tiba-tiba pedangnya tertahan oleh pedang lain yang bersinar merah.

Ternyata Bu Beng yang mencegahnya.

"Pauw Kauwsu tak perlu ditambah dengan pembunuhan kedua! Ampuni saja Sim Tek Hin ini.

Ia masih muda masih banyak waktu baginya untuk mengubah wataknya yang buruk!" Pauw Kauwsu memandang kepada Tek Hin yagn sudah berdiri dengan meringis kesakitan, dan Pauw Kauwsu membentaknya dengan keras.

"Tidak minggat dari sini mau tunggu apa lagi?" Sim Tek Hin dengan air mata mengucur mengangkat mayat ayahnya dan pergi dari situ dengan kepala tunduk.

Dengan cegahannya ini ternyata Bu Beng seperti juga mencegah orangmembasmi seekor binatang buas dan ia mendatangkan bencana kepada diri sendiri, karena Sim Tek Hin ini merupakan bencana besar di hari kemudian bagi rumah tangganya.

Pauw Hun Lin segera menyatakan maafnya kepada Bu Beng dan memuji pemuda itu dengan kagum sekali.

Bu Beng merendahkan diri dan mereka lalu bicara dengan gembira sekali.

Semua tamu makan minum pula dengan gembira sampai jauh malam.

Posting Komentar