Bu Beng kagum sekali melihat tenaga Hek Houw yang sudah maju sedemikian hebat.
Hek Houw dengan menyeringai mananti kedatangan mereka dan kembali berkata.
"Perahuku untuk aku sendiri.
Orang lain tak boleh naik." "Hek Houw, tapi aku gurumu!" kata Bu Beng.
"Guru? Ha ha! Guruku ia iblis pulau Ang Coat Ho! Kalian jangan ganggu aku, pergi! Sambil berkata demikian ia gunakan tangan kanannya mendorong Bu Beng.
Bu Beng segera menggunakan tangannya menangkis dorongan itu karena dari anginya ia tahu betapa kuat tenaga dorongan Hek Houw.
Dan ketika kedua tangan mereka beradu.
Bu Beng kena terdorong mundur beberapa tindak! Tapi Hek Houw sendiri terhuyung dan melepaskan perahunya yang jatuh bedebuk di atas pasir pantai.
"Hek Houw, ingatlah! Kenapakah kau ini?" "Kau orang jahat, orang jahat! Kau mau ganggu aku, murid raja siluman Ang Coat Ho?" dan menyeranglah ia dengan hebat.
Bu Beng mengelak cepat dan mereka segera bertempur dengan hebat.
Bu Beng harus berlaku hati-hati sekali, ternyata ilmu silat Hek Houw benar-benar aneh dan liar hingga beberapa kali hampir saja ia kena terpukul.
Kalau lawannya bukan Hek Houw dan kalau ia tidak sudah tahu bahwa ada terjadi sesuatu dengan pikiran dan bathin pemuda hitam itu, tentu Bu Beng sudah menggunakan pedangnya.
Ia tidak tega untuk menggunakan pedangnya terhadap Hek Houw, tapi dengan tangan kosong saja, rasanya tak mungkin ia bias menjatuhkannya! Gerakan-gerakan Hek Houw terlampau licin, sukar sekali dipukul, jangan kata hendak ditangkap! Tapi tiba-tiba Hek Houw meloncat ke belakang sambil berkata.
"Kau orang jahat, kau terlampau kuat.
Aku tiada waktu lagi, mau pulang.
Pulang ke kampung." Maka secepat kilat Hek Houw membungkuk dan sebelum tahu apa yang hendak dilakukan pemuda itu, Bu Beng tiba-tiba melihat pasir menyambar dari tangan Hek Houw menyerang mukanya.
Ternyata pemuda hitam itu menggunakan pasir sebagai senjata rahasia.
Biarpun hanya pasir, tapi karena dilepas dengan cara yang istimewa dan mengandung tenaga besar, pasir itu bukan tak berbahaya, lebih-lebih jika dapat mengenai mata! Bu Beng cepat mengelak dan ketika ia memandang lagi ke depan, ternyata Hek Houw sudah mengangkat perahunya dan lari ke laut.
"Kejar, koko!" teriak Cin Eng.
Tapi Bu Beng hanya menggelengkan kepala dan memungut sehelai kertas yang tadi melayang keluar dari saku baju Hek Houw ketika pemuda hitam itu membungkuk untuk mengangkat perahunya.
Ia bolak balikkan kertas itu dan tiba-tiba berkata.
"Eng moi, lihatlah ini!" suaranya gemetar.
Cin Eng lari menghampiri dan ternyata kerta itu adalah sobekan kulit sebuah kitab yang ada tulisannya demikian "Ang coa koai kunhwat ini diturunkan kepada dia yang menemukannya.
Dia boleh mempelajarinya dan menjagoi di seluruh daratan, tapi jika dia ceritakan hal ilmu silat ini kepada orang lain, dia terkutuk menjadi gila." Seperti juga bunyinya yang ngeri, tulisan itupun seperti cakar ayam dan kelihatan jelek sekali, tapi harus diakui bahwa yang menulisnya memiliki tenaga yang garang dan hebat.
Ketika Cin Eng memandang wajah tunangannya yang sedih dan kecewa, ia maklum bahwa Bu Beng menyesali diri sendiri mengapa telah mendesak Hek Houw untuk mengaku hingga mengakibatkan pemuda itu menjadi gila, terkena kutukan sumpah iblis pengarang dan pencipta ilmu silat siluman ini! Ia memegang lengan Bu Beng dengan halus dan berkata, "Koko, sudahlah jangan sedih.
Kita lakukan itu tidak dengan sengaja, siapa tahu bahwa Hek Houw telah mempelajari ilmu yang memakai syarat demikian gila?" Karena perahu satu-satunya telah dibawa minggat oleh Hek Houw terpaksa Bu Beng menebang sebatang pohon siong besar dan dari batang itu ia membuat sebuah perahu sederhana.
Tapi karena ia tidak mempunyai kapal dan hanya bekerja dengan menggunakan pedang, maka setelah memakan waktu lima hari barulah perahu buruk dan sederhana itu selesai.
Maka berlayarlah Bu Beng dan Cin Eng, kembali ke daratan Tiongkok.
Peti berisi harta pusaka itu dibungkus dan ditaruhnya dalam pauwhok (ransel) yang tergantung di punggungnya.
Setelah mencapai daratan Bu Beng membeli dua ekor kuda dan mereka meneruskan perjalanan pulang dengan jalan darat.
Bu Beng memberikan pedang Hwee hong kiamnya kepada Cin Eng dan ia sendiri menggantungkan Ang Coa Kiam di pinggangnya.
Kebetulan sekali perjalanan mereka melalui kampung Lok leng chung dimana Lo Sam di Pengemis Kecil Tongkat Wasiat tinggal.
Ketika itu musim Chun telah menjelang datang, maka teringatlah Bu Beng akan undangan Lo Sam untuk singgah di kapungnya dan ikut menghadiri pesta ulang tahun ketiga belas dari perserikatan pengemis.
Ketika tiba di kampung itu, mudah saja baginya mencari alamat Lo Sam karena Pengemis Kecil ini terkenal sekali.
Berbeda dengan sebutannya dan pakaiannya yang selalu penuh tambalan, tempat pusat perkumpulan itu merupakan rumah besar sekali, biarpun tak dapat disebut mewah.
Lo Sam menyambut Bu Beng dan Cin Eng dengan girang.
"Selamat datang, selamat datang!" si kate itu berulang-ulang berkata dengan wajah berseri-seri.
Disitu telah datang puluhan tamu yang terdiri dari orang-orang kang ouw ternama, karena nama Lo Sam cukup berpengaruh dan dihormati.
Melihat para tamu itu memberi barang-barang sumbangan atau tanda hormat yang diletakkan berjajar-jajar di atas meja, Bu Beng diam-diam mengeluarkan sebuah perhiasan rambut permata dari kotaknya dan menaruhnya diatas meja sambil berkata kepada Lo Sam.
"Lo-Enghiong, kami tak dapat memberi apa-apa, harap barang kecil tak berarti ini dianggap sebagai tanda hormat." Tapi Lo Sam dan beberapa orang tamu yang berada di dekat situ memandang perhiasan dengan mata terbelalak.
Permata-permata itu mengeluarkan cahaya gemerlapan yang warnanya macam-macam dan indah sekali, sungguh sebuah barang mustika yang jarang terlihat orang! "Tapi...
tapi...
Bu Tahiap, barang ini tak ternilai harganya, aku pengemis hina dan tua tak berani menerimanya," kata Lo Sam gugup.
Bu Beng tersenyum.
"Apakah barang ini terlampau kecil dan tak berharga hingga tak dapat diterima?" "Oh, tidak, tidak! ah...
serba susah, biarlah, kuterima Bu tahiap, terima kasih," akhirnya Lo Sam berkata sambil memegang dan memutar-mutar barang itu di tangannya dan berkali-kali mnghela napas.
Ia dapat menaksir bahwa barang itu sedikitnya berharga sepuluh ribu tail.
Makin lama makin banyaklah tamu-tamu yang datang.
Diantaranya tampak Kim Kong Tianglo yang segera memeluk sutenya dan mengobrol dengan gembira.
Bu Beng menceritakan pengalamannya dengan singkat kepada suhengnya tercinta itu.
Juga hadir disitu Sim Boan Lin dan Sim Tek Hin, Lui Im dan Ang Hwat Tojin! Sim Boan Lip dan puteranya memberi hormat kepada Bu Beng, agaknya mereka sudah mengubah adapt hingga diam-diam Bu Beng merasa girang.
Lui Im merasa gembira sekali dapat bertemu kembali dengan Bu Beng.
Sedangkan Ang Hwat Tojin yang datang bersama susioknya yang usianya hampir sebaya dengan ia sendiri agaknya tak suka memandang kepada Bu Beng.
Ia rupa-rupanya merasa sombong karena ditemani susioknya yang terkenal bernama Pauw Hun Lin dengan julukan Naga Ekor Sepuluh! Pauw Hun Lin adalah seorang saudagar kaya raya dank arena ilmu silatnya tinggi, maka ia terkenal di kalangan kang ouw hingga menerima undangan dari Lo Sam pula.
Kini Pauw Kauwsu ini datang membawa sumbangan berupa arca Budha dari batu giok yagn indah dan mahal.
Dulu sebelum menjadi guru silat, hingga orang-orang memanggil dia Pauw Kauwsu.
Pauw Kauwsu duduk semeja dengan Ang Hwat Tojin, Sim Boan Lip dan Sim Tek Hin.
Sedangkan Bu Beng dan Cin Eng ditemani Kim Kong Tianglo dan Lui Im.
Lo Sam sendiri sebagai tuan rumah melayani para tamu kesana kemari, mengisi arak dan menawarkan hidangan, kadang-kadang keluar menyambut datangnya tamu-tamu baru.
Para pelayan semua terdiri dari pemuda-pemuda tegap berbaju baru.
Tapi baju mereka ini semua penuh tambalan! Karena hidangan yang dikeluarkan serba mewah dan nikmat, maka keadaan disitu agak ganjil, yakni jembel dan mewah bercampur aduk.
Tiba-tiba datang tamu baru terdiri dari lima orang.
Banyak tamu yang melihat mereka masuk segera berdiri dan memberi hormat, Lo Sam sendiri menyambut mereka dengan hormat sekali, bahkan semua orang-orang di meja Ang Hwat Tojin bangun berdiri dan Pauw Hun Lin segera menghampiri tamu baru itu dan memberi hormat yang dibalas oleh kelima orang itu dengan hormat pula.
Melihat banyak orang menyambut kedatangan mereka, kelima orang itu mengangkat dada dengan sikap jumawa sekali, kemudian yang tertua diantara mereka mengeluarkan beberapa potong emas dan memberikannya kepada Lo Sam sebagai sumbangan.
Bu Beng sejak tadi memperhatikan mereka dengan hati tertarik dan menduga-duga siapakah kelima orang yang berpengaruh itu.
Tiba-tiba Cin Eng memegang lengan kirinya dengan keras dari bawah meja.
Pun Kim Kong Tianglo tampak terkejut dan segera berbisik padanya.
"Merekalah Ngo Houw dari Tiang-San." Sementara Cin Eng berbisik.
"Koko, mereka inilah pembunuh-pembunuh ayah ibuku!" suara Cin Eng bercampur isak dan kedua matanya mengeluarkan sinar marah.
Gadis itu tak dapat menahan hatinya dan hendak mencabut Hwee hong kiamnya.
Tapi baru saja ia meraba gagang pedangnya, Bu Beng memegang tangannya dan berkata.
"Eng moi, sabarlah.
Kita harus menghormati Lo Sam Lo-Enghiong dan jangan membikin kacau pestanya yang berarti menghinanya.
Masih banyak waktu membalas dendam di luar tempat ini." Mendengar alas an kekasihnya yang penuh cengli ini terpaksa Cin Eng duduk kembali dan menahan perasaan marahnya.
Ia hanya memandang kearah Lima Harimau dari Tiang-An itu dengan mata menyala.
Kim Kong Tianglo membenarkan pandangan Bu Beng dan ikut membujuk agar gadis itu bersabar.
Sementara itu, karena ajakan Pauw Hun Lin, Lima Hariamau dari Tiang-An itu duduk semeja dengan mereka.
Sebentar saja di meja mereka terdengar suara tertawa gembira dan mereka makan minum penuh kegembiraan.