Jago Pedang Tak Bernama Chapter 25

NIC

Girang sekali hati Bu Beng mendapat pedang pusaka ini, lalu digantungkannya pedang itu di pinggang dan ia terus memeriksa keadaan kamar itu.

Di sudut kamar terdapat dua peti kecil.

Hatinyaberdebar.

Barang pusaka apa lagi yang berada disitu? Ia maju menghampiri dan membuka peti pertama.

Isinya hanya sebuah buku.

Ketika ia membolak balik lembaran kitab tua itu, ternyata bahwa yang dipegangnya adalah Ang Coa Kiamsut Pit kip yakni Kitab Rahasia Ilmu Pedang Ang Coa Kiam! Di dalam buku terdapat pelajaran ilmu pedang yang sangat aneh berikut lukisan tentang gerakan-gerakan yang harus dibuat.

Peti kedua ketika dibuka membuat mata Bu Beng menjadi silau.

Di dalamnya penuh dengan permata dan batu-batu giok yang indah dan tak ternilai harganya.

Ketika ia memeriksa, maka barang-barang itu merupakan perhiasan-perhiasan kuno yang pantasnya hanya dimiliki oleh seorang permaisuri atau keluarga raja.

Bu Beng membawa dua peti itu dan hendak keluar gua.

Tapi ketika ia memandang kearah rangka manusia itu, timbul rasa iba dalam hatinya.

Bukankah manusia yang kini tinggal rangkanya itu mungkin pemilik semua barang berharga yang terjatuh ke dalam tangannya? Sudah sepatutnya ia membalas budi demikian besar itu.

Maka ditaruhnya dua peti itu kembali, lalu ia mengumpulkan tulang-tulang rangka, diikat dengan saputangan.

Setelah semua tulang terkumpul lengkap, baru ia bawa semua barang itu keluar dari gua.

Untuk jalan keluar biarpun ia tidak menggunakan obor dan keadaan sangat gelap hingga tangan sendiri pun tak dapat terlihat, namun karena tidak ada keragu-raguan dan kekhawatiran lagi, ia dapat merayap dan meraba-raba menuju keluar.

Cin Eng girang sekali melihat Bu Beng keluar dengan selamat.

Ia tadinya sudah sangat khawatir dan kalau bukan Hek Houw yang menghidburnya dan melarangnya dengan alas an-alasan kuat, pasti ia tadi telah menyusul masuk! Alangkah senangnya mendengar tentang pusaka yang didapatkan Bu Beng.

Kemudian dengan khidmat dan hati-hati mengubur rangka manusia itu di luar gua.

Ketika Bu Beng memeriksa lagi kitab ilmu pedang itu, di bagian belakang terdapat tulisan yang indah kuat.

"Ilmu pedang ini hanya boleh dipelajari di atas pulau Ang Coat Ho sesudah dipelajari harus segera dijadikan abu." Bu Beng yang sangat tertarik akan isi kitab dan ia telah yakin bahwa ilmu pedang itu betul-betul hebat dan luar biasa sekali, segera mengajak Cin Eng turun bukit.

Tapi ketika ia menengok, Hek Houw telah lenyap dari situ! Berkali-kali Bu Beng memanggil-manggil, tapi Hek Houw tidak ada.

Bu Beng menjadi jengkel, dan terpaksa menunda maksudnya turun bukit.

Tadinya ia bermaksud tinggal di pondok dekat pantai itu dan mempelajari kita ilmu pedang itu di atas pulau, tapi tak sampai hatinya untuk meninggalkan Hek Houw turun gunung.

Maka bersama Cin Eng mereka lalu masuk ke dalam gua kecil sebelah kiri.

Bu Beng mulai membaca dan mempelajari Ang Coa Kiamsut, sedangkan Cin Eng pergi mencari buah-buahan sambil menikmati pemandangan indah pulau itu, sekalian mencari Hek Houw.

Setelah menanti setengah hari lebih dan hari sudah menjadi sore, ternyata Hek Houw belum juga kembali Bu Beng mulai khawatir kalau-kalau si dogol itu mendapat bencana.

Ia berkata kepada Cin Eng bahwa mereka terpaksa harus menanti sampai besok.

Cin Eng yang juga sayang kepada Hek Houw yang jujur dan setia, menyatakan persetujuannya.

Tapi tiba-tiba pada saat itu terdengar suara gemuruh dan mereka merasakan tanah bergoyang hebat! Setelah tanah seakan-akan berayun-ayun beberapa lama hingga Cin Eng menjadi takut dan memeganggi lengan Bu Beng dengan tubuh menggigil, maka goncangan menjadi reda dan tanah kini hanya tergetar saja.

Tapi suara gemuruh masih saja terdengar.

"Mungkin gunung ini hendak meletus," kata Bu Beng.

Ia bawa dua peti kecil itu dan menarik lengan Cin Eng.

"Mari kita tinggalkan tempat ini.

Berbahaya!" dan sambil berlari-lari di atas tanah yang bergetar-getar mereka berdua turun bukit., dikejar oleh suara gemuruh di belakang mereka.

Biarpun melalui tempat yang sudah mulai gelap, Tapi karena dikejar rasa takut mereka tak mempedulikannya sehingga akhirnya mereka dapat juga keluar dari hutan dan akhirnya sampai juga mereka di tepi laut dengan napas terengah-engah.

Mereka merasa ngeri.

Suara bergemuruh itu masih saja terdengar dari situ, tapi getaran tanah hanya terasa sedikit.

Mereka lalu menuju pondok buatan ayah Cin Eng dan naik, lalu beristirahat.

Demikianlah, hamper tiga bulan lamanya Bu Beng mempelajari ilmu pedan Ular Merah itu dengan tekun dan rajin.

Selama itu, Cin Eng tak mau mengganggunya, karena gadis inipun maklum betapa calon suaminya sedang mempelajari sebuah ilmu pedang yang ampuh.

Ia sendiripun ingin sekali mempelajarinya, tapi ia piker bahwa kalau iapun ikut belajar, maka tentu akan memakan waktu lebih lama lagi.

Mengapa terburu-buru? Masih banyak waktu baginya kelak untuk belajar dari Bu Beng! Maka dengan pikiran itu, Cin Eng hanya melatih kepandaian sendiri dan tiap hari mencari buah-buahan untuk makan mereka.

Yang mengganggu ikran mereka ialah Hek Houw.

Pemuda hitam itu sampai sekarang belum kembali! Mereka merasa pasti bahwa Hek Houw tentu sudah tewas.

Diam-diam Bu Beng merasa sedih mengingat nasib muridnya itu.

Kasihan pemuda itu yang telah mengangkat guru padanya dan telah membela dan mengantarnya sampai ke pulau Ular Merah sehingga berhasil yang diusahakannya.

Sedangkan sebagai balas budi, belum pernah ia mengajar silat kepada muridnya itu.

Setelah hafal betul semua pelajaran ilmu pedang di dalam kitab itu dan dapat menangkap dasar-dasarnya dengan sempurna, Bu Beng lalu membakar kitab itu.

Kemudia ia berkata kepada Cin Eng.

"Eng moi, kurasa sekarang sudah tiba waktunya bagi kita untuk pulang." Cin Eng mengangguk tapi wajahnya tampak sedih.

Bu Beng maklum apa yang mengganggu pikiran tunangannya.

"Apa boleh buat, Eng moi.

Hek Houw agaknya memang sudah ditakdirkan harus meninggal dunia di pulau ini.

Sudah cukup lama kita menanti disini." Cin Eng menghela napas.

"Yang kuherankan, koko, setelah kita kubur rangka di depan gua itu, tiba-tiba saja Hek Houw lenyap.

Kemanakah gerangan ia pergi?" Bu Beng mengangkat pundak.

"Bagaimana kalau aku pergi keatas mencarinya?" "Kurasa tiada gunanya dicari, kalau ia masih hidup tentu sudah lama ia datang kesini.

Tapi kurasa tiada salahnya kalau sebelum meninggalkan pulau ini, kita naik sekali lagi dan mencoba mencari jejaknya," kata Cin Eng.

Tapi pada saat itu tiba-tiba Bu Beng memagang lengan Cin Eng dan berkata kaget, "Eng moi, lihat!" Cin Eng menengok dan ia pegang lengan Bu Beng dengan hati bedebar-debar.

Dari atas bukit tampak seorang tinggi besar berlari secepat kilat.

Gerakan orang itu ringan dan cepat sekali hingga sebentar saja ia sudah berada di depat mereka dengan muka tertawa senang.

"Hek Houw, kau??" teriak Bu Beng girang sekali sambil memegang pundak orang itu.

Tapi lagi-lagi ia terkejut ketika terasa olehnya betapa pundak Hek Houw terasa keras bagaikan besi dan mengandung tenaga tersembunyi yang kuat! "Eh, kau kemana saja selama ini, Hek Houw?" "Suhu...

aku, eh...

aku...

hem..." Hek Houw berkata gugup dan tak karuan.

"Hek twako, tenangkanlah dirimu.

Kami menanti sampai berbulan-bulan tapi mengapa kau tidak datang? Kemana sajakah kau, twako?" Tanya Cin Eng yang juga merasa gembira sekali dengan kembalinya Hek Houw.

"Kouwnio, aku girang sekali kalian selamat.

Aku...

telah...," kembali ia berhenti dengan bingung.

"Sudahlah, Hek Houw kalau kau tidak suka menceritakan, kamipun takkan memaksamu," kata Bu Beng dengan suara menghibur.

Mendengar kata-kata gurunya ini, wajah Hek Houw makin merah dan bingung.

Kemudian ia mengangkat dada dan berkata dengan tetap.

"Suhu sebetulnya teecu selama ini berada di dalam sebuah gua siluman." "Gua siluman??" Hek Houw mengangguk, "Letak gua itu tak jauh dari gua ular.

Ketika teecu melihat suhu mendapatkan pusaka dari dalam gua, saya lalu nekat memasuki gua yang seram itu.

Dan di dalamnya.

Selain setan-setan yang berkeliaran tanpa ujut, teecu dapatkan sejilid kitab pelajaran silat yang telah teecu pelajari sampai habis!" "lmu silat apakah Hek Houw? Tanya Bu Beng dengan girang dan ingin tahu.

Kembali Hek Houw ragu-ragu tapi sekali lagi pemuda hitam itu mengangkat dadanya yang lebar dan kuat.

"Ilmu silat Ang Coa Koat Kunhwat yang mempunyai tiga belas kali tiga belas gerakan!" sehabis berkata demikian Hek Houw menggerakkan tubuh dan dengan cepat sekali ia bersilat.

Gerakan-gerakannya aneh membingungkan, tapi tiap pukulannya mendatangkan suatu angin.

Sungguh ilmu silat yang jarang ada di dunia ini.

Bu Beng dan Cin Eng kagum sekali.

Dalam waktu tiga bulan saja pemuda hitam yang kasar dan bodoh ini telah dapat memiliki ilmu silat yang dalam keadaan biasa tak mungkin dapat ia pelajari selama sepuluh tahun.

Seperti ketika mulai, Hek Houw menghentikan permainan silatnya dengan tiba-tiba lalu ia tertawa gelak-gelak.

Seram sekali suara tawa ini hingga Bu Beng terpaksa memandang wajah muridnya dengan pandangan ganjil.

Juga Cin Eng tiba-tiba merasa takut melihat Hek Houw.

"Sudahlah, Hek Houw.

Aku ikut girang sekali melihat peruntunganmu.

Kurasa kini kepandaian silatmu tak kalah denganku.

Hayo kita berlayar dan pulang ke daratan Tiongkok." "Benar, Hek Houw.

Mari kita mengambil perahumu dan berlayar pulang," kata Cin Eng.

"Pulang? Perahuku? Ha ha! kalian mau pakai perahuku? Ha ha! perahuku bukan untuk orang lain.

Perahuku untukku sendiri.

Ha ha ha." Bu Beng dan Cin Eng saling pandang dan gadis itu merasa bulu tengkuknya berdiri.

Bu Beng memandang wajah Hek Houw dengan tajam dan ia merasa betapa sepasang mata Hek Houw telah berubah sinarnya, tidak seperti tadi lagi.

Mat itu kini terputar-putar dan melirik ke kanan kiri dan sinarnya ganjil sekali.

Juga bibir pemuda itu tertarik seakan-akan menyeringai dan mengejek.

"Hek Houw!" katanya tajam, tapi Hek Houw sudah mendahuluinya meloncat dan lari ke tempat dimana ia menambatkan perahunya.

Bu Beng dan Cin Eng mengejar.

Hek Houw yang sudah tiba disitu lebih dulu, menggunakan tangan kiri mengangkat perahunya.

Posting Komentar