Tubuhnya berkelojotan kesana kemari dan ia menjadi garang sekali.mulutnya berdesis-desis hebat dan ia menubruk Bu Beng dengan membabi buta.
Pemuda ini melihat perubahan gerak lawannya, segera berteriak.
"Hek Houw! Cin Eng! lekas membikin api sebanyak-banyaknya! serang ia dengan api!" Hek Houw girang sekali bahwa perbuatannya yang tak disengaja itu membuka rahasia kelemahan ular merah, maka cepat ia membuat api dan mengumpulkan kayu yang dibakar ujungnya dan dilontarkan kearah ular.
Benar saja, tiap kali kulitnya terjilat api ular itu meloncat-loncat bagaikan gila dan gerakan-gerakannya tak karuan lagi.
Tiba-tiba ia memutar tubuh dan menyerang kearah Cin Eng dan Hek Houw dengan satu lompatan jauh! Pada saat itu, Cin Eng dan Hek Houw tak bersenjata apa-apa selain dua batang kayu yang menyala ujungnya.
Melihat serangan nhebat ini, mereka menggunakan kayu itu untuk melawan.
Melihat api yang bernyala di ujung kayu, ular itu tak jadi menyambar dan turun kearah tanah, kemudian dengan merayap perlahan ia menghampiri Cin Eng dan Hek Houw yang berdiri menghadapinya dengan takut-takut.
Ular itu tampak marah sekali, tapi agaknya ia bukan marah kepada kedua orang itu, tapi marah kepada empat api merah yang menyala di ujung empat batang kayu itu.
Tiba-tiba ia maju dengan mulut ternganga lebar.
Ia serang ujung kayu di tangan kanan Hek Houw.
Mulutnya bertemu dengan api dan ular itu bagaikan disambar petir.
Ia mundur digores-goreskan bibirnya keatas tanah dan untuk menghilangkan rasa sakit di bibirnya.
Sementara itu api di ujung kayu itu menjadi padam.
Kini ular itu menyerang kembali, meluncur kearah api di ujung kayu di tangan kiri Hek Houw.
Karena serangannya keras, maka kali ini ia tidak hanya terjilat api, bahkan ujung kayu yang merah terbakar itu tepat bertemu dengan matanya.
Hebat sekali akibatnya.
Ular itu menggunakan ekornya menyabet-nyabet kesekelilingnya.
Ia mebanting-banting kepalanya keatas tanah dan menggunakan ujung ekor menyabet-nyabet kepalanya yang terasa panas dan sakit.
Sementara itu Hek Houw berdiri pucat bagaikan mayat.
Ia begitu takut dan bingung hingga ia hanya bisa berdiri diam sambil memandang dua batang kayu yang telah padam di kedua tangannya.
Bu Beng girang sekali melihat hasil ini meloncat dan manarik lengan Hek Houw dari situ.
Tepat sekali apa yang ia lakukan ini karena tiba-tiba ular itu menyerang kalang kabut kearah tempat Hek Houw tadi.
Kalau si hitam itu masih berada disitu, pasti ia takkan dapat melepaskan diri dari bencana hebat ini.
Bu Beng segera minta dua batang kayu masih menyala dan dipegang oleh Cin Eng, lalu ia sendiri maju menghadapi ular itu dengan senjata istimewa ini.
Karena ia dapat bertindak cepat dan gesit sekali, maka berkali-kali ujung kayu yang menyala itu bertemu dengan mata, muka, leher dan ekor ular itu, sehingga si ular makin lama makin tak berdaya.
Hanya ekornya saja masih bergerak perlahan dan lemah.
Bu Beng segera mencabut pedangnya dan dengan sepenuh tenaga membacok leher ular itu.
Sraatt! Dan putuslah leher ular merah yang dahsyat itu.
Setelah berhasil membunuh mati ular itu, Bu Beng menjatuhkan diri bersila diatas rumput dan memgumpulkan semangatnya untuk memulihkan tenaganya yang telah dikerahkan habis-habisan itu.
Demikian juga Cin Eng memandang tubuh ular yang kini tak bergerak lagi itu.
Setelah merasa tenaganya puluh kembali, Bu Beng dan Cin Eng mendekati kepala ular.
Ternyata ular itu memang luar biasa.
Sisik di kepalanya berwarna merah kekuning-kuningan bagaikan emas.
"Biarlah kita berdo"a mudah-mudahan di kepala inilah adanya mustika penyembuh sakitmu itu," kata Bu Beng yang lalu menggunakan pedangnya membelah kepala ular itu.
Ternyata di dalam kepala itu terdapat benda bulat yang lembek tapi yang putih berkilauan bagaikan air perak.
"Inilah dia!" Cin Eng berbisik suaranya gemetar.
"Ayah dulu pernah menceritakan padaku bagaimana macamnya mustika ular itu.
Inilah dia! Kalau sudah kering benda ini akan mengeras bagaikan mutiara.
Lekas ambil jantungnya koko!" Bu Beng segera membelah perut ular dan mengambil jantungnya yang merah dan kecil.
Dengan bantuan Hek Houw mereka menyalakan api dan mencari air, lalu memasak jantung itu dengan campuran obat yang telah disediakan oleh Bu Beng menurut resep dari Lo Sam.
Kemudian tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, ia memberikan obat itu kepada Cin Eng yang terus meminumnya sambil memejamkan matanya.
Sebenarnya gadis ini merasa muak sekali, tapi karena terpaksa dan ingin sembuh, ia paksa menelan juga obat berbau amis itu.
Tapi alangkah kaget Bu Beng dan Hek Houw melihat keadaan Cin Eng setelah obat itu memasuki perutnya.
Gadis itu memegang-megang kepalanya seakan-akan merasa peningsekali dan kedua matanya tetap dipejamkan.
Lalu gadis itu berdiri dan sambil memegang kepala terhuyung-huyung hendak jatuh.
Bu Beng memburu cepat dan memeluk tunangannya.
Ia makin terkejut dan khawatir sekali ketika tangannya merasa betapa tubuh Cin Eng menjadi panas sekali seakan-akan terbakar.
"Engmoi...
moi-moi...
kau kenapa??" tapi Cin Eng tak dapat menjawab, bahkan tubuhnya menjadi lemas dan ia jatuh pingsan dipelukan Bu Beng.
"Eng moi...
Engmoi...
ah Hek Houw bagaimana ini?" Bu Beng kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa.
Hek Houw juga bingung, tapi ia tidak kehilangan akal.
Ia lihat bahwa selain goa ular itu, masih ada lagi dua buah goa kecil dan dekat situ.
Maka ia lalu menasehati Bu Beng supaya membawa Cin Eng yang masih pingsan ke dalam sebuah goa kecil, Bu Beng telah kehilangan akal, mendukung tubuh Cin Eng ke dalam goa itu dan meletakkan tubuh gadis itu diatas rumput kering yang disusul Hek Houw di dalam goa.
Bu Beng memegang nadi tangan Cin Eng dan hatinya agak lega ketika merasa bahwa denyut nadi gadis itu masih tetap dan biasa.
Tapi hawa panas yang memancar dari tubuh gadis itu membuat ia khawatir sekali.
Tapi apa daya? Ia hanya dapat menjaga dengan cemas di dekat tunangannya yang terlentang bagaikan sedang tidur nyenyak itu.
Hek Houw meninggalkan Bu Beng dan duduk mengaso di dalam goa kecil di sebelahnya.
Sampai semalam suntuk, Cin Eng belum juga siuman Bu Beng menjaga di sampingnya dengan tak bergerak-gerak.
Mereka berdua merupakan dua buah patung hidup, seorang telentang dan yang seorang pula duduk bersila, Hek Houw menyalakan api di luar kedua goa kecil untuk menolak gangguan binatang hutan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ketika Bu Beng mulai merasa sedih dan putus harapan, tiba-tiba Cin Eng bergerak dan mengeluh.
"Aduh...
perutku sakit sekali..." gadis itu mengaduh-aduh sambil memegangi perutnya.
Bu Beng menjadi girang melihat tunangannya siuman tapi serentak juga merasa bingung melihat betapa gadis itu merintih-rintih.
Tiba-tiba Cin Eng muntah-muntah dan dari perutnya keluar gumpalan-gumpalan hitam.
"Koko, keluarlah, pergilah dari sini!" Cin Eng berteriak kemalu-maluan mengusir Bu Beng.
Tapi Bu Beng menggeleng-gelengkan kepala dan bahkan menggunakan ujung baju mengusap mulut Cin Eng yang telah berhenti muntah.
"Koko, keluarlah!" Cin Eng berkata marah karena ia merasa malu sekali.
"Dan tinggalkan baju luarmu!" terpaksa Bu Beng keluar mendengar ucapan yang mengandung paksaan ini.
Tapi ia girang sekali melihat wajah Cin Eng yang kemerah-merahan dan biarpun berpura-pura marah tapi gadis itu masih tak dapat menyembunyikan senyum bibirnya.
Ia menanti di luar gua dan segera memberitahu kepada Hek Houw yang masih mendengkur di gua sebelah.
"Hek Houw, Cin Eng sudah siuman dan sembuh." Hek Houw tersenyum girang.
"Sukurlah.
Ah, obat itu benar-benar terlalu manjur dan keras kerjanya hingga mengagetkan orang saja." Pada saat itu Cin Eng dengan memakai pakaian luar Bu Beng, lari keluar menuju ke sebuah anak sungai.
Bu Beng mengejar, tapi ia tersenyum dan kembali lagi ketika melihat bahwa gadis itu pergi ke sungai hanya untuk mencuci pakaiannya yang kotor.
Setelah yakin benar bahwa Cin Eng sudah sembuh, Bu Beng membuat obor dan sambil memegang obor menyala ia memasuki gua ular itu.
Cin Eng mencegah, tapi Bu Beng mengatakan ia hanya ingin melihat apakah isi gua itu.
Maka akhirnya Cin Eng menyetujui juga.
Sedang Hek Houw yang hendak ikut ditolaknya.
Dengan tangan kiri memegang obor dan tangan kanan memegang Hwee hong kiam, ia memasuki gua itu dengan membongkok.
Ternyata bahwa gua itu membelok ke kiri dan dalam sekali.
Bu Beng terus maju dan setelah membelok tiga kali ke kiri dan tiga kali ke kanan, tiba-tiba ada angin meniup dan obornya padam! Bu Beng kaget sekali.
Ia siap menjaga dengan pedangnya, tapi tidak ada apa-apa, hanya terdengar suara angin meniup dari depan tiada hentinya.
Dengan heran Bu Beng bertindak maju, ia dapat berjalan sambil berdiri lempang karena tempat itu makin melebar.
Kemudian setelah membelok sekali lagi ke kiri, ia lihat di depannya ada cahaya terang menyinari dari atas memasuki gua, diiringi dengan masuknya angin yang bertiup keras dan membuat obornya padam tadi.
Kini mengertilah ia bahwa gua itu merupakan sebuah sumur.
Dan tepat dimana sinar itu masuk, ia melihat sebuah pintu.
Ketika daun pintu ditolaknya, ternyata tidak terkunci.
Dengan hati hati Bu Beng memasuki kamar itu.
Pandangan pertma-tama yang menyambutnya membuat ia kaget dan hamper berteriak.
Sebuah kerangka ular yang besar sekali melingkar di situ dengan kepala menghadap ke pintu dengan mulut terbuka lebar seakan-akan hendak menggigitnya! Di dekat kerangka ular besar itu rebah sebuah kerangka manusia.
Dan sebuah pedang yagn aneh bentuknya tersangkut diantara tulang-tulang di leher ular itu.
Agaknya manusia yang kini sudah tinggal kerangkanya saja itu dulu telah membunuh ular ini dengan menggunakan pedang yang kini tersangkut di tulang leher ular.
Bu Beng mengambil pedang itu dan membolak-balikkannya.
Gagang dan pedangnya menjadi satu, gagang merupakan kepala ular dan ujungnya yang runcing merupakan ekornya.
Di bagian leher, pedang itu agak berlekuk-lekuk tapi dari batas perut sampai ke ekor lurus dan tajam kanan kiri.
Yang paling aneh, pedang itu berwarna merah.
Di bagian kepala, yaitu gagangnya ada ukiran kecil tiga huruf yang berbunyi "Ang Coa Kiam" atau pedang ular merah.
Ketika ia memandang kearah rangka manusia itu, ia dapatkan sebuah sarung pedang tergantung dengan tali di tulang pinggangnya.
Ia ambil sarung itu yang ternyata adalah sarung pedang istimewa untuk Ang Coa Kiam.