Ular itu mendesis dan dari lubang hidungnya keluar asap hitam menyambar.
Untung Cin Eng dan Bu Beng dapat berkelit jauh ke belakang.
Kemudian ular itu menggerak-gerakkan kepada dan matanya melirik kearah pedang Cin Eng yang masih menancap di lehernya dan ronce pedang warna merah itu melambai-lambai tertiup angin .
Ular itu menjadi marah sekali dan menggigit-gigit kearah gagang peadang di leher.
Tapi mulutnya tak dapat mencapainya.
Ia menjadi bagaikan gila dan mencebur ke dalam air terus berenang kesana kemari setelah menimbulkan gelombang besar dan kacau yang membuat perahu itu terayun-ayun, ia menyelam kedalam air dan lenyap dari pemandangan, hanya meninggalkan darah merah diatas perahu dan gelombang-gelombang kecil, akibat dari amukannya tadi.
Bu Beng menghela napas lega dan Hek Houw menelan ludah.
"Sungguh hebat dan berbahaya!" kata Hek Houw sambil menjulurkan lidah.
Tapi akhirnya pedang kouwnio tentu dapat membunuhnya." "Mengapa begitu?" Tanya Cin Eng yang masih berdebar-debar karena kaget tadi.
"Ular itu kebingungan tak dapat melepaskan pedang yang menancap di lehernya hingga ia akan sibuk menggigit-gigit kearah pedan dan lupa makan lupa tidur dan akhirnya ia tentu mati kelaparan!" Bu Beng dan Cin Eng tertawa mendengar obrolan ini.
"Untung kau tadi tidak menggunakan dayung ini untuk memukul lagi," kata Bu Beng, "Kalau dayung ini patah bagaimana kita bisa sampai ke pulau itu?" kemudian Bu Beng menggunakan dayung itu untuk mendayung sekuat tenaga agar mereka dapat sampai ke pulau yang dituju secepat mungkin.
Biarpun pulau itu dari situ tampak dekat saja, tapi setelah mendayung setengah hari baru mereka sampai di pantai pulau sebelah selatan.
Mereka segera mendarat dan Hek Houw menarik perahunya ke darat.
Mau tak mau Bu Beng merasa ngeri juga ketika memandang keatas pulau yang merupakan bukit dengan puncak yang meruncing keatas karena pulau itu ternyata penuh dengan hutan yang agaknya belum pernah didatangi orang dan masih sangat liar.
Karena pada waktu itu matahari telah bersembunyi di balik puncak dan cuaca telah mulai gelap, Bu Beng mengajak Cin Eng dan Hek Houw beristirahat di bawah pohon-pohon Siong yang besar.
Tapi Cin Eng berkata, "Dulu ayah menceritakan padaku bahwa ia ketika datang ke pulau itu telah membuat sebuah pondok kecil dari bamboo di tepi pantai sebelah selatan.
Mari kita cari pondok itu agar dapat mengaso dengan tenang." Maka mulailah mereka bertiga mencari pondok itu.
Dan benar saja, di tempat yang agak tinggi terdapat sebuah pondok dengan kaki bamboo panjang di empat sudut.
Dengan ringan Bu Beng dan Cin Eng dapat meloncat keatas, memasuki pondok diatas yang terbentang lebar.
Tapi Hek Houw yang belum tinggi kepandaiannya telah mencoba beberapa kali belum juga dapat berhasil mencapai pintu karena kaki pondok itu tingginya tak kurang dari dua tombak.
Terpaksa sambil tertawa Bu Beng mengulurkan tangannya dan ketika Hek Houw meloncat lagi, ia tangkap lengan Hek Houw dan menariknya keatas.
Malam itu mereka sukar untuk dapat tidur nyenyak karena setelah hari menjadi gelap, banyak sekali binatang-binatang buas turun dari bukit dan keluar dari hutan menuju ke pantai.
Binatang-binatang itu mengeluarkan suara hiruk-pikuk dan beberapa ekor diantara mereka bahkan jalan hilir mudik di bawah pondok.
Tapi setelah fajar menyingsing, semua binatang buas itu kembali keatas bukit memasuki hutan.
"Kita harus berhati-hati nanti kalau naik bukit, tentu banyak pengganggu akan kita hadapi," kata Bu Beng yang bersiap-siap hendak mulai mencari obat untuk tunangannya.
Mereka bertiga mulai naik bukit dengan senjata siap di tangan.
Hek Houw membawa sebilah golok besar dan menggunakannya untuk membabat pohon-pohon kecil yang merintangi jalan.
Dua kali mereka diganggu binatang buas.
Pertama kali seekor harimau besar menyerang Hek Houw tapi harimau itu dengan mudah dapat dibunuh mati oleh Bu Beng.
Yang kedua kalinya seekor orang hutan hitam sebesar manusia mencoba menyerang mereka.
Tapi kembali binatang ini dapat ditewaskan.
Hampir saja mereka melawan mati-matian ketika kawan-kawan orang hutan itu sebanyak seratus ekor lebih datang menyerbu membela kematian kawannya.
Tapi tiba-tiba Hek Houw mendapat akal.
Ia membuat api dan dengan obor kayu-kayu kering di tangan ia berteriak-teriak keras sehinggga orang-orang hutan itu lari bercerai berai ketakutan.
Setelah melewati tiga buah hutan yang berbahaya dengan selamat akhirnya mereka sampai juga di tempat yang dituju.
Mereka mendengar suara air bergemuruh.
Ketika dicari, ternyata bunyi itu adalah sebuah air terjun yang curam dengan airnya yang putih bersih.
Dan di kanan air terjun itu, di kaki puncak bukit, tampaklah goa yang mereka cari-cari.
Hek Houw yang biasanya berhati tabah, menjadi ngeri dan seram juga ketika ia berdiri di depan goa itu.
Bu Beng memandang dengan penuh perhatian.
Goa itu lebarnya tiga kaki lebih, lubangnya bundar dan gelap.
Dinidng luar goa merupakan kepala ular besar dan lubang itu menjadi lubang mulutnya.
Batu cadas yang berbentuk kepala ular besar itu mungkin terjadi karena alam, Tapi bentuknya demikian sempurna seakan-akan ukiran seorangpemahat pandai atau seolah-olah memang tadinya seekor ular tulen yang telah berubah menjadi batu karena lamanya.
Ketika Bu Beng hendak masuk, dengan obor kayu kering di tangan, tiba-tiba ia mencium bau amis dan terdengar suara berkeresekan di dalam goa.
Ia cepat mundur kembali dan memungut beberapa butir batu lalu melemparkannya kuat-kuat ke dalam.
Terdengar batu-batu itu menghantam cadas tapi tidak terdengar suara lain.
Bu Beng lalu menyuruh Hek Houw mengumpulkan kayu kering dan membakarnya di mulut goa.
Ia kipas-kipas asapyang bergulung-gulung hingga masuk ke dalam goa.
Usahanya ini ternyata berhasil baik.
Karena terserang asap yang memedihkan mata dan menyesakkan napas itu, penghuni goa terpaksa keluar untuk mencari hawa baru yang segar.
Ketika penghuninya itu keluar dari lubang, terdengar suara mendesir-desir keras dan bau amis makin tajam menusuk hidung.
Bu Beng cepat menyuruh Cin Eng dan Hek Houw menyingkir jauh, sedangkan ia sendiri dengan pedang di tangan menanti di luar goa.
Tiba-tiba terdengar desis keras sekali dan asap kayu yang tadinya menyerang ke dalam goa, tiba-tiba berbalik dan buyar bagaikan tertiup angin dan kini bergulung-gulung ke atas di luar goa.
Maka tampaklah oleh Bu Beng makhluk yang dinanti-nantikannya itu.
Seekor ular sebesar batang pohon liu bergerak perlahan keluar goa.
Kulit ular itu indah sekali, berwarna merah dan merupakan kembang-kembang dengan bintik-bintik biru dan hitam.
Panjangnya tak kurang dari dua puluh kaki.
Kepalanya agak kecil tapi di tengah-tengah kepala itu tersembul sebuah tanduk daging yang dapat bergerak-gerak.
Melihat Bu Beng berdiri disitu dengan sikap menantang ular yang sedang marah mencari pengganggunya itu, memandangnya dengan mata tajam, sedangkan lidahnya yang hitam sebentar-sebentar menjilat bibir atas.
Tiba-tiba tubuh ular itu mengkerut menjadi oendek dan dengan loncatan kilat bagaikan anak panah besar meluncur dari busurnya, tahu-tahu ia menyerang Bu Beng! Hebat sekali serangan itu karena sambil menerjang mulutnya terbuka memperlihatkan taring-taring tajam dan dari dalam mlut keluar uap hitam yang berbau amis menimbulkan rasa muak.
Mak Bu Beng cepat berkelait dan meloncat ke samping.
Heran sekali, tubuh ular yang begitu besar ketika turun keatas tanah dapat diatur sedemikian rupa hingga seakan-akan tubuhnya itu ringan sekali.
Bu Beng tidak mau menyia-nyiakan waktu.
Sebelum ular dapat membalik, ia maju dan menyabetkan pedangnya.
Tapi ular aneh itu tanpa berpaling mengangkat ekornya dan menangkis pedang itu.
Tenaganya besar sekali hingga hampir saja pedang Bu Beng terlepas dari pegangannya! Bu Beng terkejut sekali.
Pantas saja ayah ibu Cin Eng tak dapat melawan ular ini, karena ia demikian hebat.
Bu Beng diam-diam mengakui bahwa tenaganya yang terlatih kalah jauh oleh ular merah ini! Maka ia berlaku hati-hati sekali.
Manusia dan binatang itu saling serang mati-matian.
Tubuh Bu Beng berkelit kesana kemari dan pedangnya berputar-putar secepat kilat menyambar.
Tapi ular merah tak kalah cepat.
Ia gunakan ekornya yang kuat untuk menangkis pedang dan serangan-serangannya selalu mematikan ditambah dengan taring beracun dan uap berbahaya yang selalu mengancam tubuh dan pernapasan Bu Beng! Cin Eng yang merasa khawatir melihat tunangannya belum juga dapat membinasakan ular itu, tak peduli akan segala bahaya segera memburu dan ikut mengeroyok.
Bu Beng berkali-kali menyuruh ia menjauhkan diri, tapi Cin Eng tak mau menurut.
Ia tak mungkin dapat berdiri berpeluk tangan dengan hati aman melihat Bu Beng berkelahi mati-matian.
Bu Beng menjadi bingung melihat gadis itu tak menurut.
Kini ia harus memecah tenaganya untuk melindungi gadis itu lagi! Dengan gemas Cin Eng menggunakan pedangnya menusuk leher ular itu dengan gerakan Tiang khing king thian atau pelangi panjang melengkung di langit.
Ular itu agaknya tak melihat serangan ini karena sedang sibuk menghindari bacokan Bu Beng.
Tapi ketika pedang Cin Eng sudah dekat dengan kulit lehernya, tiba-tiba ekornya menyambar kearah tangan Cin Eng yang memegang pedang! Merasa betapa sambaran ekor itu membawa angin dingin kearah tangannya, gadisitu terkejut dan menarik tangannya tapi pedangnya tetap terpukul oleh ekor dan ia merasa telapak tanganya menjadi perih dan sakit.
Terpaksa ia melepaskan pedangnya dan meloncat mundur jauh-jauh! Ia merasa belum puas.
Sepasang pedangnya yang biasanya dapat menghadapi beberapa belas orang jahat bersenjata dengan tak terkalahkan, kini kedua pedang itu telah dipaksa lawan terlepas dari tangannya.
Pedang pertama lenyap menancap di leher ular laut, sedangkan pedang kedua terlempar ke jurang oleh sabetan ekor ular itu.
Hampir-hampir ia menangis karena marah dan jengkel, juga karena khawatir melihat Bu Beng agaknya terdesak oleh ular itu.
Hek Houw juga merasa penasaran karena tak dapat membantu.
Ia menjadi marah sekali dan tiba-tiba ia memungut kayu yang dibakarnya untuk mengasapi goa itu, lalu dengan keras ia melontarkan kayu yang masih terbakar dan menyala itu kearah tubuh ular.
Tubuh ular bagian perut itu seakan-akan bermata karena ia tiba-tiba dapat menghindari lontaran itu, tapi api yang bernyala di kayu masih sempat menjilat kulit perutnya.
Ular itu tiba-tiba bergerak bagaikan gila.