Maka setelah bertempur kurang lebih dua puluh jurus, tiba-tiba Kwee Ciang melayangkan tendangannya dan tepat mengenai dada Kwee Liang yang segera roboh dan pingsan! Kwee Ciang masih ada rasa kasihan kepada adik misannya maka ia tidak mau membunuhnya.
Dan karena perbuatan biadab dari Kwee Liang ini maka Kwee Ciang mengurungkan niatnya hendak membawa lari Cin Eng untuk minta uang tebusan kelak, bahkan ia merasa malu sekali.
Maka tanpa ragu-ragu lagi ia menggunakan goloknya memutuskan tali pengikat kaki dan tangan Cin Eng, lalu melemparkan sehelai baju luar kearah Cin Eng untuk dipakai menutupi sebagian tubuh atasnya yang robek.
Sebagai seorang laki-laki, Kwee Ciang berdiri membelakangi Cin Eng untuk memberi kesempatan kepada gadis itu memakai pakaian yang diberikannya itu.
Tapi sungguh tidak nyana, setelah mengenakan baju luar Cin Eng melompat ke depan, menyambar pedang Kwee Liang dan menggunakannya untuk menyabet leher Kwee Liang.
Dan kepala penjahat cabul itu menjadi terpisah dari lehernya.
Kwee Ciang kaget sekali dan mukanya menjadi pucat.
"Ah, kau keterlaluan nona." Cin Eng menuding kearah mayat Kwee Liang.
"Keterlaluan? Sudah sepatutnya binatang macam ini dibinasakan.
Kalau kau merasa sakit hati, belalah adikmu itu aku tidak takut." Kwee Ciang tak menjawab, tapi dengan bercucuran air mata ia berjongkok dan menyelimuti mayat adik misannya sambil berkata lemah, "Ah Kwee Liang, Kwee Liang...
mengapa kau tidak mau menurut nasehatku! Ah, sekarang kau terbunuh mati, aku malu kalau kelak berjumpa dengan paman di alam baka..." Cin Eng melihat keadaan pemuda itu menjadi kesima dan juga terharu.
Tiba-tiba dari luar berkelebat bayangan orang dan Bu Beng berdiri disitu dengan Hwee hong kiam di tangan.
Sikapnya galak dan gagah sekali.
Mukanya pucat tanda khawatir dan matanya menyinarkan cahaya menakutkan! Wajah yang pucat menjadi merah dan terdengar ia bernapas lega ketika melihat nona kekasihnya berdiri disitu dengan pedang berlumuran darah di tangan! Tapi ia heran melihat baju luar yang dipakai gadis itu.
Kemudian ia melihat Kwee Ciang yang sedang berjongkok.
"Bangsat tak tahu malu! Kau harus mampus!" seru Bu Beng dengan marah.
Kwee Ciang meloncat berdiri dan ketika Bu Beng menyerangnya, ia menangkis.
Tapi goloknya terlepas putus oleh Hwee hong kian! kwee Ciang menjadi pucat dan ia hanya memejamkan mata ketika Hwee hong kiam meluncur kearah lehernya.
Tiba-tiba Cin Eng meloncatdan menangkis Hwee hong kiam dengan kerasnya! Pedangnya menjadi putus.
Bu Beng kaget dan meloncat mundur sambil memandang kepada kekasihnya dengan heran.
"Sabar, koko," kata Cin Eng.
"Kau salah sangka.
Kwee Ciang bukanlah seorang jahat.
Bahkan ia telah menolong jiwaku." Kemudian dengan singkat ia menceritakan tentang kekurangajaran Kwee Liang dan betapa Kwee Ciang menolongnya hingga ia dibebaskan dan dapat membunuh Kwee Liang.
Bu Beng menjuru dan berkata.
"Maaf, tai ong.
Tak kusangka seorang kepala bajak seperti kau ini masih mempunyai sifat satria dan gagah." Kwee Ciang membalas hormat dan air matanya turun kembali membasahi pipinya.
"Taihiap, sungguh aku merasa malu.
Aku dengan saudara misanku telah tersesat menjadi kepala bajak, walaupun kami tak pernah berlaku sewenang-wenang, tapi betapapun juga, bajak tetap penjahat dan dikutuk orang.
Aku telah berlaku salah terhadap Taihiap maka tak lain mohon maaf dan semoga Taihiap juga sudi menyembuhkan semua kawan-kawanku yang menjadi korban karena aku.
Kalau Taihiap hendak menghukum, hukumlah aku yang menjadi kepala mereka, boleh aku kau bunuh atau kau serahkan kepada pembesar negri, tapi sembuhkan kawan-kawanku." Mendengar ucapan dan melihat sifat setia kawan dari kepala bajak itu, Bu Beng merasa terharu dan juga girang karena dari sikapnya itu Kwee Ciang menunjukkan kejantanannya dan bahwa hatinya belum rusak.
Maka Bu Beng segera menghampiri para bajak yang rebah tak bergerak karena totokan ketika mengamuk tadi dan sebentar saja tiga puluh orang lebih anak buah bajak telah dibebaskan dari pengaruh totokan.
"Saudara, Kwee Ciang," katanya kemudian kepada Kwee Ciang, "Tadi kau sanggup memikul semua tanggung jawab.
Nah, kuharap kau suka sadar akan kesesatan ini.
Kau masih muda dan memiliki kepandaian tinggi.
Buat apa menjadi bajak hingga membusukkan nama sendiri! Harimau mati meninggalkan kulit, manusia mati harus bisa meninggalkan nama baik! Selagi hidup mengapa kau tak gunakan kepandaianmu menolong sesame hidup dan melakukan kebajikan hingga hidupmu tidak kosong dan sia-sia? Kau bukan orang jahat, juga kau adalah seorang cerdik, kurasa kata-kataku ini sudah cukup kau mengerti.
Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, terserah kepada kebijaksanaanmu sendiri." Kwee Ciang merasa terharu dan menghaturkan terima kasih sambil berlinang air mata.
Kemudian Bu Beng mengajak Cin Eng ke tepi sungai dimana Hek Houw menanti dengan tidak sabar.
Tapi ketika melihat bahwa Cin Eng telah tertolong dan selamat, ia menjadi girang.
Mereka lalu berlayar lagi dengan cepat.
Kwee Ciang yang merasa berterima kasih dan kagum kepada Bu Beng, mengirim orang-orang berkuda dan mendahului Bu Beng untuk meberi kabar kepada kawan-kawan bajak agar mereka jangan mengganggu Bu Beng Kiam Hiap.
Demikianlah, dua minggu kemudian, setelah menikmati pelayaran di sepanjang sungai yang mempunyai tamasya, alam indah permai itu, mereka telah mendekati laut.
Air sungai menjadi liar dan buas.
Sungai menjadi lebar dan dalam dan alirannya cepat sekali hingga Cin Eng merasa ngeri.
Tapi karena Bu Beng bertenaga besar dibantu oleh Hek Houw yang setia, mereka dapat meluncurkan perahu mereka dengan selamat memasuki lautan.
Berbeda dengan air sungai, air laut tenang seakan-akan tak bergerak sama sekali.
Bu Beng dan Hek Houw yang tadinya tidak menggunakan tenaga sama sekali untuk mendayung perahu karena perahu telah laju terbawa aliran sungai hingga mereka hanya mengerahkan tenaga untuk menjaga keseimbangan dan tujuan perahu, kini merasa seakan-akan badan perahu berat sekali karena harus menempuh air diam.
Sebetulnya air laut tidak diam sama sekali bahkan dibawah permukaan air terdapat alunan gelombang, tapi permukaan laut karena luasnya tak tampak bergoyang.
Pula karena mata mereka yang diatas perahu tadinya menyaksikan air sungai yang berlomba dan dengan buasnya menyerbu kearah laut, kini melihat air laut biru luas itu menjadi berkunang-kunang.
Bu Beng dan Cin Eng menggunakan tangan melindungi mata karena matahari bersinar panas berkilauan, dan mencari-cari dimana letak pulau yang dicari itu.
Tiba-tiba Cin Eng menunjuk kearah timur laut.
"Koko, lihat itu!" cepat Bu Beng memandang dan nampaklah olehnya sebuah pulau panjang kecil yang berwarna hitam kehijauan.
"Tidak salah lagi, itulah Ang Coat Ho." Kata Bu Beng gembira ketika samara-samar ia melihat puncak sebuah bukit menjulang tinggi di pulau itu.
Tapi tiba-tiba air laut yang tadinya diam bergelombang hebat.
Anehnya yang bergelombang hanya air di depan mereka saja, seakan-akan air itu digerakkan dari bawah dan seperti ada apa-apa yang sengaja mencegat mereka! Bu Beng dan Cin Eng bersiap dengan pedang di tangan.
Gelombang makin membesar dan alangkah terkejut mereka ketika tiba-tiba dari permukaan air tersembul keluar sebuah kepala ular air yang berwarna hitam! Tapi kalau ular air di sungai paling besar hanya sepaha orang, ular air yang muncul ini sedikitnya tiga kali lebih besar dari yang biasa.
Ular air itu menyemburkan air dari mulutnya dan dengn lidah terjulur panjang, ia naik sampai sebatas leher sambil memandang kearah perahu dengan mata berkilat.
Kemudian ular itu menyelam kembali, tapi kini ekornya tampak makin mendekati perahu, tanda bahwa ia sedang berenang kearah perahu! Tiba-tiba ular itu membentur perahu hingga terputar-putar, kemudian ia mengeluarkan kepala yang mengerikan itu di samping perahu, siap untuk menelan penumpangnya.
Hek Houw mengangkat dayungnya dan dengan sekuat tenaga ia memukul kepala ular itu, tapi kulit ular itu licin dan keras sekali hingga dengan diiringi suara keras dayungnya patah bahkan gagangnya terlepas dari tangan karena ia merasakan telapak tangannya pedih dan panas.
Hek Houw adalah seorang pemuda berangasan dan tak kenal takut.
Kejadian ini tak membikin ia kapok bahkan ia mengulurkan tangan mengambil dayung yang tadi digunakan Bu Beng dan siap hendak memukul lagi, tapi Bu Beng yang teringat bahwa dayung itu adalah dayung terakhir yang akan membawa mereka ke pulau segera merebut dayung itu.
"Jangan pukul, kau mau menghancurkan dayung ini lagi?" Bentaknya.
Sementara itu, ular laut yang menerima pukulan dayung tadi seakan-akan tak merasa apa-apa, bahkan kini meletakkan kepada dan lehernya di pinggiran perahu hingga perahu menjadi miring! Binatang itu lalu bergerak hendak masuk ke dalam perahu.
Cin Eng berseru keras, lalu dengan cepat ia menyambar dan mengayunkan pedangnya membacok.
Tapi pedangnyapun terpental kembali, karena leher ular itu tertutup oleh sisik yang keras bertumpuk-tumpuk lagi sangat licin hingga mata pedangnya tidak dapat melukainya.
Tapi tenaga Cin Eng cukup membuat ular itu kaget dan bergerak cepat dengan mulut terbuka kearah Cin Eng, Bu Beng secepat kilat menyerang sambil berkata kepada Cin Eng.
"Jangan bacok, tusuk saja!" dan ia gunakan pokiamnya menusuk leher kanan ular itu dengan gerakan Panah Wasiat Menembus Baja.
Sementara itu Cin Eng yang tadinya hendak membacok pula, setelah mendengar nasehat Bu Beng segera merobah gerakannya dan menusuk dari kiri kearah leher ular itu.
Benar saja dugaan Bu Beng, ujung pedang yang tajam walaupun tak dapat menembus sisik yang sangat licin dan keras itu, tapi dapat menerobos diantara sisik dan menancap di kulit ular itu! Merasa betapa lehernya tertusuk dari kanan kiri hingga mengeluarkan darah dan sakit sekali, ular itu berontak dan menyentak-nyentakkan kepalanya ke kanan kiri.
Tenaganya besar sekali hingga dengan kaget Cin Eng terpaksa melepaskan pedangnya yang masih menancap di leher ular.
Tapi Bu Beng yang berkepandaian tinggi cepat menggunakan kegesitan dan tenaganya mencabut pedang yang merah karena darah ular.