Dengan mudah penjahat cakap itu terpental dan masuk ke dalam air.
Bu Beng melihat Hek Houw terkepung dan berteriak-teriak.
"Tolong, suhu tolong!" segera meloncat ke perahu itu dan dengan beberapa kali gerak tangan, semua bajak berjatuhan dan ada yang sebelum terpukul segera meloncat ke dalam air.
Bu Beng lalu mengajak Hek Houw kembali ke perahu mereka sendiri.
Tapi ketika menginjakkan kaki di perahu itu, tiba-tiba menjadi miring dan air masuk kedalamnya.
"Celaka mereka menggulingkan perahu dari bawah!" Teriak Hek Houw yang segera menyambar dayung dan menggunakannya untuk memukul sebuah kepala seorang bajak yang tampak muncul di pinggir perahu.
Orang itu berteriak kesakitan dan tenggelam.
Perahu makin bergoyang-goncang dan sebentar lagi tentu terbalik, Bu Beng memegang tangan Cin Eng dan mngajak gadis itu meloncat ke salah sebuah perahu yang terdekat dan kosong.
Hek Houw ikut meloncat tapi kurang jauh hingga ia tercebur ke dalam air,.
Untung ia pandai berenang dan segera naik ke perahu dimana Bu Beng dan Cin Eng telah berada dengan selamat.
Tapiusaha mereka ini tak banyak menolong, karena kawanan bajak bagaikan kura-kura berenang di bawah permukaan aira dan kini mencoba menggulingkan perahu itu.
"Loncat ke sana Eng moi!: kata Bu Beng dengan gugup karena perahu itu telah miring.
Dengan cepat Cin Eng meloncat ke perahu terdekat, tapi malang baginya, kakinya menginjak pinggiran perahu yang basah dan licin hingga ia terpeleset dan jauh ke air.
Hek Houw meloncat mengejar dan berenang hendak menolong, ia dihalang-halangi oleh seodrang bajak hingga sebentar kemudian mereka berdua bergulat dalam air.
Kepala penjahat yang muda itu segera menolong Cin Eng dan membawanya berenang.
Bu Beng menjadi bingung sekali, karena kalau ia menggunakan senjata rahasia menyambit kearah kepala bajak itu sampai mati, bagaimana nanti nasib Cin Eng? Ia sendiri tak pandai berenang.
Maka ia hanya dapat melihat dengan hati bingung dan khawatir lalau meloncat ke perahu sendiri yang telah ditinggalkan bajak.
Hek Houw yang dihalang halangi oleh seorang bajak bertubuh besar, menjadi marah sekali.
Lebih-lebih ketika dilihatnya betapa Cin Eng dibawa berenang oleh kepala bajak, ia makin marah.
Ia gunakan seluruh kepandaiannya di air dan mencekik leher bajak itu.
Tapi ternyata lawannya seorang yang kuat dan kedua tangannya menjambak rambut Hek Houw dengan keras.
Karena saling cekik dan saling jambak, keduanya tak dapat menggunakan kaki tangan mereka untuk berenang, dan kedua-duannya lalu tenggelam.
Mereka saling meronta-ronta hendak melepaskan pegangan lawan, tapi tak dapat.
Maka sudah beberapa kali mereka terpaksa membuka mulut untuk berenapas hingga banyak air sungai memasuki perut.
Hek Houw sudah merasa lemas.
Ia lalu mencari akal.
Ketika merasa bergulat menjadi seru dan mukanya berada dekat dengan perut lawan, ia gunakan mulutnya menggigit kulit perut yang gendut itu.
Karuan saja bajak itu merasa kesakitan sekali dan melepaskan pegangannya untuk menolong perutnya.
Saat itu digunakan oleh Hek Houw untuk muncul ke permukaan air dan mengambil napas dengan terengah-engah.
Ketika bajak itupun muncul juga di dekatnya, ia segera meukul kepalanya hingga bajak itu kembali tenggelam.
Tiap kali muncul, Hek Houw mengetuk kepalanya hingga lama-lama bajak itu menjadi lemas karena tak dapat bernapas.
Akhirnya ia tenggelam lagi untuk tidak timbul kembali.
Dengan lemas Hek Houw berenang ke perahunya dan naik keatasnya.
Bu Beng telah berdiri disitu dengan termenung.
Pada waktu itu tak nampak lagi seorang bajakpun di air.
"Bagaimana kouwnio suhu?" Bu Beng hanya mengeleng-gelengkan kepada dan mereka lalu mendayung perahu ke seberang kanan sungai atas kehendak Bu Beng.
Karena keadaan agak gelap dengan tenggelamnya matahari, Bu Beng tak berdaya mengejar larinya penjahat.
Namun ia dapat melihat bahwa semua bajak lari kearah pantai kanan.
Kemudian ia memesan kepada Hek Houw agar menjaga perahu dan menanti disitu karena ia hendak menyusul dan mencari jejak para bajak sungai yang membawa lari Cin Eng.
Sedang keadaan Cin Eng sendiri sangat menyedihkan.
Karena tak pandai berenang, ia menjadi lemas dan pingsan dalam pondongan Kwee Ciang, kepala penjahat yang masih muda itu.
Kwee Ciang mengumpulkan anak buahnya dan beramai-ramai mereka lari kearah sarang mereka yang berada di tengah-tengah hutan.
Ketika sadar, Cin Eng mendapatkan dirinya terbaring diatas tempat tidur kayu dengan tangan dan kaki terikat.
Kwee Ciang dan seorang pemuda lain yang berpakaian menterang duduk tak jauh dari tempatnya.
Melihat Cin Eng sudah sadar.
Kwee Ciang berkata dengan senyum.
"Maaf nona kami terpaksa mengikat kau, karena kau ternyata pandai silat hingga berbahaya kalau tak diikat.
Jangan kau khawatir kami takkan mengganggumu.
Kau hanya kami tahan untuk menanti datangnya kawanmu itu yang harus menebusmu dengan barang-barang berharga.
Ketahuilah kami telah kehilangan banyak anggota, maka kau harus ditebus dengan mahal." "Hm, kalau dia datang, kamu semua tentu terbunuh mampus," Cin Eng berkata gemas.
"Ha ha ha sudah cantik, kalau marah bertambah manis," kata pemuda berbaju menterang itu sambil menyeringai.
"Kwee Liang! Jangan bicara sembrono!" tegur Kwee Ciang.
"Nona jangan marah.
Adikku hanya berkelakar saja.
Ketahuilah, aku adalah Kwee Ciang yang memimpin bajak di sini dan ini adalah Kwee Liang misanku." Tapi Cin Eng tak pedulikan perkataan itu dan memalingkan mukanya.
Tiba-tiba seorang bajak berlari masuk.
"Tai Ong orang tadi telah datang dan mengamuk!" Kwee Ciang mencabut goloknya dan berkata kepada Kwee Liang.
"Kau menjaga disini jangan sampai nona ini terlepas.
Biar kubereskan orang itu dan minta uang tebusan." Kepala bajak yang muda dan cakap itu segera lari keluar membawa goloknya, diikuti oleh bajak yang melaporkan tadi.
Kwee Ciang lari keluar dan melihat perkelahian yang hebat dan membuat hatinya berdbar penuh kekhawatiran.
Ia melihat betapa Bu Beng dengan tangan kosong dikeroyok bajak empat puluh orang lebih, tapi pemuda itu bagaikan seekor naga terlepas dari kurungan, mengamuk hebat sekali.
Dengan kedua tangan kosong ia menyambar kesana sini dan dimana tubuhnya berkelebat, tentu rebah seorang bajak dengan tak berkutik karena telah tertotok jalan darahnya! Tubuh para bajak bergelimpangan bertumpuk-tumpuk dan teriakan ngeri terdengar disana-sini! Kwee Ciang kaget sekali karena ia mnyangka kawan-kawannya yang roboh itu terbinasa, maka ia segera mengumpulkan kawan-kawannya yang pandai menggunakan senjata rahasia dan beramai-ramai menyambit pemuda itu dengan pisau, pelor besi dan anak panah! Tapi dengan berseru keras Bu Beng mencabut Hwee hong kiam dari punggung dan memutarnya hingga tampak sinarnya berkilau kilauan seperti perak.
Semua senjata rahasia dapat dipukul jatuh dan berserakan kesana kemari.
Kemudian tubuh Bu Beng berkelebat kembali ia menggunakan tangan kirinya menotok tipa penjahat yang dapat terpukul olehnya.
Bu Beng benar-benar mengamuk hebat, tapi ia masih ingat akan perikemanusianan dan tak mau menjatuhkan tangan maut.
Hanya membuat bajak-bajak itu tak berdaya dan lumpuh dengan totokannya yang diwarisinya dari Hoa San Pai yang hebat.
Melihat kejadian hebat ini, Kwee Ciang putus asa dan tak berani melawan.
Ia segera kembali ke pondoknya untuk membawa lari Cin Eng.
Alangkah terkejutnya ketika ia mendengar jeritan seram dari arah pondoknya itu.
Buru-buru ia menolak daun pintu, tapi pintu terkunci dari dalam, ia gunakan kakinya menendang pintu, pintu terbuka dan pemandangan di dalam pondok membuat wajahnya menjadi merah karena marah.
Ternyata ketika ditinggalkan seorang diri untuk menjaga Cin Eng, Kwee Liang yang memang berwatak cabul dan jahat tertarik sekali akan kecantikan Cin Eng dan timbullah maksud buruk hendak mengganggunya.
Didekatinya nona itu dan ia mengulurkan tangan.
Cin Eng menjerit tapi Kwee Liang segera menekap mulut nona itu dan menyumbatnya.
Cin Eng meronta-ronta, tali ikatan kaki tangannya sangat kuat.
Nona itu takut sekali, air matanya mengalir dan ia bertekat lebih baik mati daripada terganggu oleh binatang berwajah manusia ini.
dengan beringas Kwee Liang memegang baju Cin Eng dan merenggutkannya dengan sekali sentakan.
Baju nona itu robek dan tampaklah pundaknya yang berkulit putih halus Cin Eng makin marah dan memberontak keras, dan Kwee Liang makin gila nampaknya.
Pemuda bermoral bejat itu segera menuju ke pintu dan menguncinya.
"Nona jangan takut, aku takkan berlaku kasar padamu," katanya menyeringai.
Kemudian ia maju menghampiri.
Tapi, belum ia bertindak lebih jauh yang melanggar batas-batas perikesopanan dan kesusilaan tiba-tiba pintu ditendang dari luar dan Kwee Ciang berdiri di ambang pintu dengan golok di tangan dan wajah merah sekali.
Kwee Liang tersenyum.
"Twako, jangan ganggu aku.
Berlakukah baik kali ini dan biarlah aku mendapatkan nona itu.
Aku cinta padanya, twako." "Bangsat rendah! Kau membikin malu aku, membikin malu abu leluhur kita! Biarpun menjadi bajak, tak pernah nenek moyangku menjalankan perbuatan terkutuk itu.
Hayo keluar." Kwee Liang menjadi marah.
"Twako, bagus bener sikapmu ini! Kau selalu hendak menang sendiri dan aku selalu harus tunduk kepadamu.
Tapi kali ini tidak! pendeknya aku harus mendapatkan nona ini, tak peduli kau melarangnya atau tidak.
Aku mau keluar kalau tubuhku sudah terbaring diatas lantai ini." "Binatang kau!" "Habis, kau mau apa?" kata Kwee Liang dan mencabut pedangnya yang ditaruh diatas meja.
Kwee Ciang menjadi marah dan meloncat menyerang.
Kwee Liang menangkis dan mereka berkelahi dengan sengit.
Sebenarnya dalam hal kepandaian, Kwee Ciang menang setingkat kalau dibandingkan dengan Kwee Liang.
Lebih-lebih karena Kwee Liang jarang melatih diri.