Istana Pulau Es Chapter 92

NIC

"Ha-ha-ha, jangan menyebut locianpwe. Kepandaianmu lebih hebat daripada sedikit ilmu yang kumiliki. Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang dara semuda engkau telah memiliki sin-kang yang sedemikian hebat. Siapakah gurumu?"

Siauw Bwee sudah mendapat pesan suhengnya bahwa mereka bertiga tidak boleh menyebut-nyebut nama Bu Kek Siansu, sesuai dengan pesan kakek manusia dewa itu. Maka dia menjawab menyimpang, "Guruku tidak boleh disebut namanya, aku hanya belajar dari suhengku yang bernama Kam Han Ki. Locianpwe jangan terlalu memuji dan membuatku menjadi bangga dan sombong."

Kembali kakek itu tertawa.

"Engkau benar-benar masih bocah. Eh, Nona yang baik, engkau selain lihai juga rendah hati, dan hatimu amat baik penuh budi dan welas asih. Engkau belum mengenal aku akan tetapi engkau berani mempertaruhkan nyawa untuk membelaku mati-matian."

Siauw Bwee tertawa manis dan dia berkata,

"Aihhh, Locianpwe membikin aku merasa malu saja. Aku tidaklah sebaik yang Locianpwe katakan. Tentu saja aku membela mati-matian kepada Locianpwe yang telah menolongku kemarin."

Mata kakek itu terbelalak.

"Menolongmu? Apa maksudmu, Nona?"

"Waah, Locianpwe pandai berpura-pura lagi. Siapakah yang kemarin menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit menyelamatkan aku dari serangan burung-buruhg gila? Kalau tidak ada pertolongan Locianpwe, agaknya aku akan mati di tengah rawa!"

"Ah, engkaukah orangnya? Aku tidak mengenal siapa orangnya karena dari jauh. Aku kebetulan berjalan-jalan di dekat rawa dan melihat orang dikeroyok burung elang. Kiranya engkaukah orangnya?"

Hati Siauw Bwee menjadi geli. Orang tidak mempunyai sebuah kaki pun, bagaimana bisa berjalan-jalan? Ingin dia menyaksikan bagaimana orang tak berkaki bisa berjalan.

"Akulah orangnya, Locianpwe. Dan aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu itu,"

Siauw Bwee menjura dengan hormat. Kakek itu tertawa bergelak dan sejenak wajahnya yang muram itu berseri gembira.

"Wah, pengakuanmu ini meningkatkan pandanganku terhadap dirimu, Nona. Di samping segala kebaikanmu, engkau jujur dan ingat budi pula! Engkaulah orangnya. Ya, engkaulah orangnya yang akan dapat menolong kedua kaum yang saling bermusuhan sehingga setiap tahun mengorbankan banyak nyawa manusia tidak berdosa. Aku mohon kepada-mu, Nona, sukakah engkau mewakili aku menyelamatkan mereka!"

Siauw Bwee mengerutkan alisnya. Sikap kakek itu benar-benar patut dikasihani. Dalam keadaan seperti itu masih mementingkan keselamatan orang lain, keselamatan kaum buntung kaki dan buntung lengan yang memperlakukannya dengan buruk.

"Apakah maksudmu, Locianpwe? Mereka itu saling bermusuhan dan kedua pihak amat lihai. Bagaimana aku dapat mencampuri dan betapa mungkin aku dapat menolong dua pihak yang saling bermusuhan?"

"Duduklah, Nona, dan dengarkan ceritaku."

Siauw Bwee memang tertarik sekali akan permusuhan kedua kaum yang cacat itu, yang sebagian sudah ia dengar dari Cia Cen Thok, maka ia lalu duduk di atas dipan bambu di sebelah kakek itu.

"Tahukah engkau mengapa kedua kaum yang bercacat itu saling bermusuhan, Nona?"

Siauw Bwee mengangguk.

"Permusuhan mereka ditanam oleh kedua orang saudara seperguruan yang bermusuhan dan dalam pertandingan, seorang kehilangan kaki kanan dan yang seorang lagi kehilangan lengan kiri."

"Benar, dan aku tadinya adalah seorang di antara kaum lengan buntung itu. Akan tetapi, sejak dahulu aku tidak menyetujui permusuhan antara saudara sendiri, karena kaum kaki buntung dan kaum lengan buntung sebenarnya adalah saudara-saudara seperguruan. Apalagi cara mereka menerima murid-murid yang harus dibuntungi kaki atau lengannya seperti kaum mereka, benar-benar merupakan perbuatan yang amat keji. Aku adalah suheng dari The Bian Le dan aku berusaha membujuk suteku yang menjadi ketua kaum lengan buntung sekarang untuk berdamai dengan pihak kaki buntung. Pada waktu itu akulah yang menjadi ketua kaum lengan buntung. Usul itu diterima dengan penuh kemarahan dan mereka memberontak. Aku yang menjadi ketua mereka malah mereka anggap pengkhianat sumpah leluhur dan aku dikeroyok, kemudian kaki kananku mereka buntungkan dan aku diusir dengan kata-kata menghina bahwa aku berpihak kepada kaum kaki buntung, maka kaki kananku dibuntungi dan aku diusir."

Kakek itu menundukkan mukanya dan menarik napas panjang, Siauw Bwee mengepal tangannya dan berkata,

"Betapa kejamnya!"

Kakek itu menggeleng kepala,

"Merceka patut dikasihani, Nona. Aku tidak menyesal karena kakiku dibuntungi sebelah, melainkan menyesal bahwa usahaku itu gagal sama sekali. Aku lalu pergi ke tempat kaum kaki buntung. Biarpun kaki kananku sudah buntung seperti lengan kiriku, aku tidak putus harapan dan berusaha menghubungi Liong Ki Bok, ketua mereka yang sebenarnya kalau diperhitungkan malah suteku sendiri pula. Akan tetapi, karena tadinya aku adalah ketua kaum lengan buntung, aku dicurigai dan malah di sana aku dikeroyok dan kaki kiriku dibuntungi pula."

"Ahhh....! Biadab! Jahat benar mereka itu!"

Kembali kakek itu menggeleng kepala.

"Mereka, kedua pihak telah dibikin mabok oleh dendam permusuhan. Akulah orangnya yang patut disesalkan karena berusaha mendamaikan mereka. Akan tetapi aku malah tetap penasaran dan aku takkan dapat mati dengan meram kalau belum berhasil mendamaikan mereka."

Kakek itu kelihatan berduka sekali dan diam-diam Siauw Bwee merasa terharu dan kasihan, juga kagum menyaksikan iktikad baik yang tak kunjung padam dari hati kakek yang tubuhnya sudah cacad seperti itu.

"Apa hubungannya semua itu dengan aku, Locianpwe? Kalau engkau sendiri yang tadinya adalah ketua kaum lengan buntung sama sekali tidak dapat mendamaikan mereka bahkan dianggap pengkhianat, bagalmana aku akan dapat mengusahakannya?"

"Dengan jalan lain pasti dapat, Khu-lihiap. Akan tetapi dengarlah dulu ceritaku. Aku terasing di antara mereka kedua pihak dan aku, dengan tekad untuk tetap hidup dan terus berusaha mendamaikan mereka, dapat menyeret tubuhku dengan hanya lengan kanan ini sampai ke tempat ini, terpencil dan terasing. Sepuluh tahun lamanya aku berdiam di sini, menggembleng diri dan terutama sekali mempelajari rahasia ilmu-ilmu kedua pihak yang sesungguhnya memang sesumber. Dan ketekunanku selama sepuluh tahun ini berhasil baik, Nona! Aku telah memecahkan kedua ilmu mereka, maksudku aku telah menemukan cara pemecahannya dan cara untuk menundukkan ilmu gerak tangan kilat dari kaum kaki buntung dan ilmu gerak kaki kilat dari kaum lengan buntung. Dengan ilmu ini mereka tentu akan dapat ditundukkan kalau perlu dengan kekerasan!"

Wajah Siauw Bwee berseri, dia ikut merasa gembira akan hasil kakek itu yang akan dapat memenuhi cita-cita hidupnya, yaitu menundukkan dan mendamaikan kedua kaum yang bersaudara akan tetapi permusuhan itu.

"Bagus sekali, Locianpwe. Kalau begitu, Locianpwe pergunakan saja ilmu itu untuk menghajar orang-orang keras kepala itu!"

Serunya.

"Nona, lihatlah keadaanku. Aku hanya mempunyai sebuah lengan dan aku.... karena terlalu tekun menggembleng diri dengan ilmu-ilmu itu, aku menderita sakit jantung yang hebat dan takkan terobati lagi. Biarpun semua teori silat mereka sudah berada di telapak tanganku kalau aku hanya mempunyai satu lengan saja, bagaimana mungkin aku dapat menghadapi mereka?"

"Ohhh....! Maafkan aku, Locianpwe,"

Siauw Bwee berkata dengan muka merah karena dalam kegembiraannya tadi ia sampai lupa bahwa kakek itu tubuhnya tidak lengkap lagi.

"Tidak apa, Nona. Bahkan akulah yang minta maaf kepadamu karena berani minta engkau seorang luar untuk mewakili aku...."

"Maksudmu....?"

"Ilmu kepandaianmu hebat, Nona. Baik Liong Ki Bok maupun The Bian Le, malah aku sendiri tidak akan dapat menandingimu. Engkau tentu murid seorang yang amat sakti. Akan tetapi, kalau engkau dikeroyok dan menghadapi ilmu silat gerak tangan sakti dan gerak kaki sakti, engkau yang masih kurang pengalaman tentu akan menjadi bingung sehingga keadaanmu akan berbahaya. Akan tetapi kalau engkau kuberi pelajaran rahasia tentang kedua ilmu itu dan pemecahannya, dengan mudah engkau akan dapat mengalahkan mereka. Nona, sudikah engkau memenuhi permintaan seorang tua yang sudah hampir mati dan sudikah engkau membiarkan aku mati dalam keadaan meram dan tenang karena menyaksikan kedua kaum itu telah dapat dipaksa berdamai?"

Kakek itu suaranya seperti orang akan menangis dan disambungnya dengan suara parau.

"Andaikata aku memiliki dua buah kaki, aku akan berlutut memohon kepadamu, Khu-lihiap!"

Siauw Bwee merasa terharu sekali. Dia memiliki watak yang halus dan perasa, penuh welas asih, bagaimana mungkin ia dapat menolak permintaan itu?

"Aihh, Locianpwe harap jangan terlalu sungkan. Aku sudah Locianpwe tolong dari ancaman maut dikeroyok burung-burung liar dan aku belum dapat membalas budi itu. Tentu saja aku akan berusaha untuk memenuhi permintaanmu."

"Terima kasih, Li-hiap! Semoga Tuhan memberkatimu! Dan jangan bicara tentang budi pertolongan dariku, karena aku tahu bahwa tanpa kunasihatkan untuk menyelam juga, burung-burung gila itu mana mungkin dapat menjatuhkan seorang seperti Li-hiap? Nah, marilah kita mulai dengan latihan ilmu-ilmu tangan kilat dan kaki kilat, Nona. Waktu untuk pibu (mengadu ilmu) di antara mereka tiga bulan lagi, cukup lama bagimu untuk menguasai kedua ilmu itu dan kelak, dalam pertandingan pibu Nona dapat maju dan mengalahkan mereka. Kalau ketua mereka kalah olehmu, tentu mereka tidak berani membantah dan akan memenuhi permintaan Li-hiap untuk berdamai dan bersumpah mengubur semua permusuhan di antara kedua kaum!"

Waktu tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar dan berarti bahwa perjalanan akan tertunda selama tiga bulan. Akan tetapi waktu itu tidak dibuang sia-sia, dan sebagai seorang ahli silat seperti Siauw Bwee, tentu saja akan girang sekali, menerima pelajaran dua macam ilmu yang demikian hebat. Apalagi kalau diingat bahwa dia sedang melakukan tugas yang mulia yaitu berusaha mendamaikan permusuhan semua saudara sehingga kalau berhasil berarti dia telah menyelamatkan entah berapa banyak nyawa yang setiap tahun pasti ada yang jatuh menjadi korban pibu. Demikianlah, mulai hari itu, Siauw Bwee menerima petunjuk-petunjuk kakek cacad itu melatih diri dengan ilmu gerak tangan kilat dan gerak kaki kilat dan karena dasar ilmu silatnya malah lebih tinggi tingkatnya daripada kedua ilmu itu dia dapat melatih diri dengan mudah dan hasilnya amat hebat, lebih hebat daripada kalau kedua ilmu itu dilatih oleh tubuh Si Kakek sendiri andaikata dia tidak bercacad!

Terpaksa kita tinggalkan dulu Siauw Bwee yang setiap hari tekun berlatih kedua macam ilmu silat istimewa itu dan sebaiknya kita mengikuti perjalanan Kam Han Ki, karena hal ini untuk memperlancar jalannya cerita. Telah kita ketahui betapa Kam Han Ki merana hatinya, seolah-olah kehilangan semangat dan gairah hidup ketika kedua orang sumoinya meninggalkan Istana Pulau Es sehingga dia tinggal seorang diri di Pulau Es. Karena tidak dapat menahan kesepian yang menggerogoti hatinya, juga karena khawatir akan keadaan kedua orang sumoinya, Han Ki lalu membuat sebuah perahu dan berlayarlah dia meninggalkan Pulau Es dengan maksud hendak mencari kedua orang sumoinya, atau setidaknya, seorang di antara mereka.

Setelah mendarat di tepi pantai daratan Tiongkok, pemuda ini menjadi bingung karena dia tidak tahu di sebelah mana kedua orang sumoinya mendarat dan ke mana pula mereka pergi. Akan tetapi, dia berjalan terus ke barat dan di sepanjang jalan dia berusaha menemukan jejak kedua orang sumoinya dengan bertanya-tanya kepada orang-orang yang dijumpainya di jalan. Akan tetapi, sampai berpekan-pekan ia melakukan perjalanan, belum juga ia mendapatkan jejak kedua orang sumoinya. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang ditanyainya pernah melihat dua orang gadis itu, sebaliknya, Han Ki mendengar akan keadaan kerajaan baru yang makin luas saja wilayahnya, yaitu Kerajaan Cin yang dibangun oleh bangsa Yucen.

Kini di daerah utara, hampir seluruh wilayah Kerajaan Sung telah terjatuh ke tangan Kerajaan Cin. Dari dia mendengar pula tentang pergolakan di Kerajaan Sung, tentang para pembesar yang memberontak dan berdiri sendiri-sendiri menguasai wilayah masing-masing. Mendengar pula akan pergerakan bangsa Mancu di samping bangsa Yucen. Ketika ia mendengar bahwa dia memasuki daerah yang telah dikuasai bangsa Yucen yang mulai mengangkat pejabat-pejabat daerah sebagai pegawai Kerajaan Cin, teringatlah Han Ki akan kekasihnya, Sung Hong Kwi yang dahulu akan dikawinkan dengan Raja Yucen. Timbul hasrat hatinya untuk mendengar berita tentang kekasihnya itu, dan kalau mungkin.... menjumpainya! Masih hidupkah Hong Kwi kekasihnya itu? Apakah kini telah menjadi seorang yang mulia di Kerajaan Cin? Ataukah hanya menjadi selir rendahan saja?

Posting Komentar