"Aku bukan seorang pengecut yang ingin selamat sendiri dan meninggalkan kau sendirian dikepung oleh para...."
Siauw Bwee menjadi gemas dan sambil menangkis tusukan tongkat seorang lawan wanita, ia sengaja menggerakkan pinggul.
"Auhhh....! Apakah pinggulmu dari baja, Nona?"
Hok Sun berteriak kesakitan ketika pinggulnya dihantam daribelakang. Ia menggosok-gosok pinggulnya sehingga tidak sempat menghindar ketika ada tongkat memukul kepalanya dari atas. Untung Siauw Bwee melihat atau lebih tepat mendengar gerakan itu, maka ia cepat mendorongkan tangan kirinya ke belakang.
"Aihhh....!"
Hok Sun terhuyung akan tetapi hantaman tongkat itu luput.
"Bagaimana sih engkau ini, Nona? Kawan ataukah lawan?"
"Bodoh!"
Siauw Bwee berbisik gemas.
"Kalau engkau sudah bebas, bagiku apa sih sukarnya melarikan diri? Awas, akan kulontarkan kau. Lekas lari!"
Tiba-tiba Hok Sun merasa tubuhnya terbang ke atas ketika Siauw Bwee mencengkeram punggung bajunya dan mendorong dengan tenaga yang hebat bukan main. Tubuh Hok Sun terlempar melalui atas kepala para pengeroyoknya dan ia terus melompat jauh untuk melarikan diri, diam-diam ia makin kagum bukan main terhadap Siauw Bwee. Setelah Si Dogol itu terbebas, Siauw Bwee bernapas lega, memutar pedangnya bagaikan kitiran cepatnya sehingga lenyaplah tubuh dara perkasa ini, yang tampak hanya gulungan sinar pedangnya dan dari dalam gulungan sinar pedang yang menangkis datangnya semua serangan tongkat itu, menyambar keluar tenaga dahsyat dari telapak tangan kirinya yang mengirim dorongan-dorongan.
Para pengeroyoknya banyak yang terjengkang, akan tetapi segera meloncat bangun lagi dan mengeroyok makin nekat. Ketika Siauw Bwee memandang ke arah larinya Hok Sun, ia melihat pemuda itu kembali sudah dikepung enam orang kaki buntung! Siauw Bwee gemas sekali. Tentu Si Dogol itu masih tetap keras kepala dan tidak rela lari meninggalkannya. Kalau begitu terus, Hok Sun bisa celaka, padahal kini jaraknya sudah jauh sehingga tak mungkin lagi dia dapat menolong jika Hok Sun terancam bahaya seperti tadi. Akan tetapi tiba-tiba enam orang pengeroyok Hok Sun itu cerai-berai ketika sesosok bayangan berkelebat dan Cia Cen Thok sudah membantu Hok Sun. Melihat laki-laki bercawat ini, terdengar teriakan-teriakan kaget dan para pengeroyok mereka berdiri terbelalak seperti arca dengan muka pucat.
Siauw Bwee tersenyum geli dan hatinya lega melihat Hok Sun dan Cia Cen Thok sudah berhasil melarikan diri, menggunakan kesempatan selagi para pengeroyok mereka terkejut dan diam tak bergerak. Tentu saja anak buah kaki buntung itu kaget setengah mati melihat dan mengenal orang yang telah tiga tahun menjadi mayat di kamar mayat, kini tahu-tahu telah hidup lagi dan mengamuk! Ketika melihat Siauw Bwee, mereka tidak begitu kaget dan heran karena mereka segera mengerti bahwa dara perkasa itu sebetulnya belum mati ketika tadi dimasukkan ke kamar jenazah. Akan tetapi berbeda lagi dengan Cia Cen Thok yang sudah tiga tahun menjadi mayat, dan dahulu mereka ikut pula mengeroyok dan membunuh orang ini.
Dan pakaian Cia Cen Thok yang hanya merupakan cawat itu menambah keseraman. Setelah melihat dua orang itu jauh dan lenyap bayangannya, Siauw Bwee tertawa nyaring, pedangnya dilempar ke atas tanah dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik beberapa kali dan selagi semua orang berdongak dan mengikuti gerakan luar biasa itu, tubuh Siauw Bwee telah lari jauh dan dia menyusul ke arah larinya Hok Sun dan Cia Cen Thok. Orang-orang berkaki buntung mengejar cepat, namun mereka itu bukanlah tandingan Siauw Bwee dalam hal ilmu berlari cepat sehingga sebentar saja tubuh dan bayangan Siauw Bwee telah lenyap dari pandang mata mereka. Tak lama kemudian Siauw Bwee telah dapat mengejar Hok Sun dan Cen Thok. Dia heran melihat dua orang itu berhenti dan kelihatan bingung.
"Kenapa kalian berhenti di sini?"
Siauw Bwee menegur.