Istana Pulau Es Chapter 87

NIC

Setelah kakek itu melihat bahwa tubuh Siauw Bwee rebah di dalam peti mati kaca dengan baik, dia mengeluarkan sebuah botol dan menuangkan isi botol berupa benda cair berwarna kuning berbau harum ke atas tubuh Siauw Bwee.

"Jenazah orang seperti engkau patut diawetkan, Nona yang bernasib malang...."

Kemudian kakek itu meninggalkan ruangan jenazah setelah mengelus kepala biruang sambil berkata,

"Hek-mo, kaujagalah baik-baik pintu gerbang ruangan jenazah."

Mereka keluar dari ruangan itu dan menutupkan pintu besi. Agaknya biruang itu bertugas menjaga ruangan di luar pintu gerbang. Penjaga yang kuat! Siauw Bwee tidak segera bergerak karena khawatir kalau kakek itu kembali lagi. Dia rebah dan diam memperhatikan keadaan ruangan jenazah yang cukup luas itu.

Ketika matanya mengerling ke arah mayat tinggi besar yang tubuhnya juga tidak rusak, hanya memakai cawat dan kepalanya gundul, dia bergidik. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya gemetar, semua bulu di tubuhnya meremang dan matanya terbelalak ketika ia melihat mayat orang she Cia itu bergerak! Tadinya dia tidak percaya ketika melihat mata mayat itu berkedip-kedip, akan tetapi hampir saja ia lupa bahwa dia telah "mati"

Dan tidak semestinya bergerak dan hampir meloncat saking kaget dan ngerinya ketika melihat mayat itu menggerakkan kaki tangannya dan melangkah keluar dari dalam lubangnya! Mayat itu hidup kembali! Di dalam kamar jenazah yang penuh jenazah-jenazah tengkorak dan mayat-mayat kering melihat seorang "mayat hidup", tentu saja hal ini merupakan pemandangan yang terlalu berat menguji hati seorang gadis remaja,

Biarpun memiliki kesaktian seperti Siauw Bwee maka dara yang tadinya berpura-pura mati itu kini benar-benar menjadi pingsan! Setelah siuman kembali, hal pertama yang dilakukan Siauw Bwee adalah melirik ke arah lubang mayat she Cia itu dengan harapan akan melihat mayat itu masih di situ dan tak bergerak, dan bahwa yang dialaminya tadi hanyalah dalam mimpi. Akan tetapi lubang itu kosong! Dengan napas terengah saking ngeri dan takut, Siauw Bwee gadis perkasa yang kini ketakutan seperti kanakkanak melihat setan itu mengintai dari balik peti mati di mana ia direbahkan dan matanya melotot lebar ketika melihat mayat hidup itu bergerak cepat sekali, berkelebat datang dari sebelah belakang ruangan itu, tangan kanannya membawa sebuah panci besar terisi makanan.

Setelah tiba di ruangan itu, dia makan dengan lahapnya sambil berdiri saja, akan tetapi, tiba-tiba ia mengeluarkan suara gerengan seperti terkekeh, lalu ia menggerakkan kaki tangannya. Siauw Bwee menjadi makin ngeri, juga heran sekali menyaksikan bahwa mayat hidup itu memiliki kepandaian yang hebat. Ilmu silatnya luar biasa sekali, kedua tangan bergerak cepat dan tiba-tiba kedua tangan itu menyerang dengan gerakan menggunting dari atas kanan kiri disusul gerakan kaki menyapu dari bawah. Agaknya jurus ini merupakan jurus terakhir dan mayat hidup itu kini kelihatan girang bukan main. Begitu girangnya sampai terkekeh-kekeh dan berjingkrak-jingkrak menari, tangannya mengambil makanan dari panci yang tadi ia taruh di atas lantai ketika dia bersilat.

Ketika ia mengambil makanan itu dimasukkan ke mulut, Siauw Bwee memandang jelas dan tiba-tiba Siauw Bwee merasa hendak muntah karena melihat bahwa yang dimakan oleh mayat hidup itu adalah tikus-tikus kecil yang berkulit merah! Karena ingin muntah ini, Siauw Bwee mengeluarkan suara dari tenggorokannya dan tiba-tiba mayat hidup itu melesat seperti anak panah cepatnya dan tahu-tahu telah berdiri lagi di lubangnya seperti tadi. Akan tetapi, mungkin karena tergesa-gesa dan lupa, dia berdiri di tempatnya dengan panci di tangan kiri dan mulutnya masih menggigit seekor anak tikus yang buntutnya melambai ke bawah melalui bibirnya! Aksi Si Mayat Hidup ini mengusir semua rasa takut dari hati Siauw Bwee. Tidak mungkin di dunia ini ada setan atau mayat hidup yang bersikap seperti itu! Begitu panik dan kembali ke lubangnya secara menggelikan. Hal seperti itu hanya dapat dilakukan orang hidup yang sedang ketakutan atau panik.

Siauw Bwee tertawa dan ia melangkah keluar dari dalam peti kaca. Ketika ia langsung melangkah menghampiri Si Mayat Hidup, dia menjadi makin geli hatinya melihat betapa "mayat hidup"

Itu matanya melotot memandang kepadanya kedua kaki mayat hidup itu menggigil. Siauw Bwee makin geli hatinya, maklum bahwa tentulah mayat hidup yang sebenarnya seorang manusia yang masih hidup itu kini menderita kengerian seperti dia tadi. Tentu orang ini mengira bahwa dialah yang kini menjadi mayat hidup! Terdorong oleh rasa geli dan kelegaan hatinya mendapat kenyataan bahwa mayat hidup itu hanyalah seorang manusia hidup, timbul kenakalan Siauw Bwee. Dia sengaja menyeringai untuk menakut-nakuti, setelah tiba di depan mayat hidup itu ia tertawa dengan suara mengerikan,

"He-he-hi-hi-hiiik! Bangkai ini masih baik, enak diganyang jantungnya!"

Dengan gerakan dibuat-buat, Siauw Bwee membentuk kedua tangannya seperti cakar setan dan melangkah maju.

"Hiiiihh!"

Kini "mayat hidup"

Itu tidak dapat menahan kengerian hatinya dan ia meloncat meninggalkan lubangnya, menjauhi Siauw Bwee dan berdiri dengan kedua kaki menggigil. Siauw Bwee tak dapat bersandiwara terus dan ia tertawa terpingkal-pingkal.

"Nah, kau tahu sekarang rasanya orang yang ketakutan menghadapi mayat hidup!"

Katanya.

"Orang she Cia, mengapa engkau pura-pura mati dan berada di tempat ini?"

Orang yang tadinya berdiri menggigil itu menjadi begitu lega hatinya sehingga jatuh terduduk.

"Aahhh..., sungguh mati. Aku hampir pingsan ketakutan!"

Katanya, suaranya besar dan agak parau, agaknya karena sudah lama tidak bicara.

"Aku sendiri tadi sampai pingsan saking takutku melihat engkau sebagai mayat hidup,"

Siauw Bwee berkata sambil tertawa geli. Orang itu meloncat bangun, gerakannya cepat sekali.

"Eh, engkau tadi dibawa si ketua Liong Ki Bok itu ke sini dalam keadaan mati. Orang mati mana bisa pingsan dan mana mungkin sekarang engkau hidup lagi?"

Siauw Bwee menjebirkan bibirnya.

"Tidak meraba kepalamu sendiri! Engkau pun masih hidup, mengapa berada di sini dan beraksi sebagai mayat?"

Sejenak laki-laki tinggi besar gundul itu memandang Siauw Bwee, kemudian menggeleng kepala dan menghela napas.

"Sukar dipercaya.... akan tetapi.... Liong Ki Bok tadi sudah mengatakan sendiri bahwa kepandaianmu melebihi aku. Hemm, Nona, dengan cara bagaimanakah engkau dapat mengakali Liong Ki Bok yang lihai sehingga engkau disangka mati dan dibawa ke sini?"

"Mudah saja. Dengan Pi-ki-hoan-hiat (Menutupi Hawa Memindahkan Jalan Darah) aku bisa menghentikan napas dan nemindahkan denyut perjalanan darah."

Mata orang itu terbelalak.

"Engkau? Semuda ini sudah pandai melakukan hal itu?"

"Jangan terlalu memuji, Sobat."

Siauw Bwee segera merasa suka kepada orang ini karena merasa "senasib".

"Engkau sendiri pun telah dapat mengakali Liong Ki Bok dan berpura-pura mati."

"Aku lain lagi. Aku memang hampir mati ketika dibawa ke sini.... eh, nanti dulu, Nona. Sebelum aku menceritakan rahasiaku, aku harus mengetahui lebih dulu siapakah Nona dan mengapa Nona menyelundup masuk seperti ini?"

Siauw Bwee maklum bahwa tentu orang ini mempunyai rahasia besar dan mungkin ia akan dapat menyelidiki keadaan kaum kaki buntung dengan mendengar keterangan orang ini tanpa melakukan penyelidikan sendiri.

"Namaku Khu Siauw Bwee dan aku menyelundup ke sini karena hendak menolong seorang bernama Liem Hok Sun yang ditawan oleh orang-orang kaki buntung itu karena dianggap melanggar wilayah mereka."

Orang itu mengangguk-angguk.

"Engkau benar-benar memiliki keberanian luar biasa, Nona. Nah, dengarlah ceritaku. Seratus tahun lebih yang lalu, nenek moyang tiga empat keturunan dari kaum kaki satu dan lengan satu adalah dua orang saudara seperguruan yang berilmu tinggi. Entah mengapa, kedua saudara seperguruan itu bercekcok sehingga terjadilah pertempuran antara mereka berdua. Pertempuran hebat yang mengakibatkan seorang buntung kaki kanannya dan yang seorang lagi buntung lengan kirinya. Dendam antara kedua orang ini amat hebat. Mereka lalu mengasingkan diri melatih ilmu, juga masing-masing mengambil murid-murid, kemudian mereka berjanji untuk mengadu ilmu setiap tahun, untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka. Karena makin lama jumlah mereka makin banyak, maka permusuhan itu menjadi berlarut-larut dan setiap tahun tentu diadakan pertandingan mengadu ilmu. Demikianlah, keturunan kedua orang itu melanjutkan permusuhan aneh ini dan terbentuklah kaum kaki buntung dan kaum lengan buntung yang saling bermusuhan."

"Akan tetapi, mengapa mereka itu masing-masing dapat mengumpulkan orang-orang kaki buntung dan orang-orang lengan buntung sebanyak itu?"

Siauw Bwee bertanya heran.

"Bukan dikumpulkan, Nona. Melainkan dibuat, sengaja dibikin buntung!"

Mata Siauw Bwee terbelalak lebar.

"Apa? Murid-murid mereka dibuntungi sebelah kaki atau lengannya?"

Orang itu mengangguk.

"Begitulah. Syarat pertama menjadi murid kedua kaum ini haruslah dibuntungi kaki atau lengannya."

"Apakah mereka gila? Mengapa mau saja dibuntungi kaki atau lengan agar bisa menjadi murid mereka?"

"Memang banyak orang gila di dunia ini, Nona. Ilmu kaum kaki buntung dan lengan buntung amat terkenal, maka banyak yang tergila-gila dan rela menjadi seorang berkaki buntung atau berlengan buntung asal diterima menjadi murid mereka. Kaum berkaki buntung tinggal di dalam istana bawah tanah ini sedangkan kaum lengan buntung tinggal di balik gunung, di dalam guha-guha batu karang. Kaum kaki buntung ini diketuai oleh Liong Ki Bok, keturunan ke tiga atau empat dari seorang di antara kedua saudara seperguruan yang bermusuhan itu, tentu saja yang menjadi buntung kakinya dalam pertandingan itu. Adapun kaum lengan buntung diketuai oleh The Bian Le, seorang kakek yang sama lihainya dengan Liong Ki Bok dan juga keturunan dari tokoh yang seorang lagi. Sampai sekarang mereka tetap bermusuhan dan setiap tahun selalu diadakan pertandingan antara mereka."

Siauw Bwee mengangguk-angguk, kemudian memandang orang itu.

"Dan engkau sendiri, kulihat kaki dan tanganmu lengkap, tidak ada yang buntung. Mengapa engkau sampai bermusuhan dengan kaum kaki buntung dan berada di sini?"

"Aku bernama Cia Cen Thok, dan aku adalah kakak ipar ketua kaum lengan buntung. Isteri The Bian Le adalah adik perempuanku. Karena percaya akan kepandaianku, iparku minta tolong kepadaku untuk menyelidiki dan mempelajari ilmu silat gerak tangan kilat kaum kaki buntung. Karena hanya dengan mengetahui rahasia ilmu silat gerak tangan kilat, maka kaum lengan buntung akan dapat menundukkan musuh keturunan mereka ini."

"Hemm, apakah kaum lengan buntung kalah lihai oleh kaum kaki buntung?"

Cia Cen Thok menghela napas panjang.

Posting Komentar