Siauw Bwee makin suka menggoda menyaksikan orang kasar itu.
"Dan biarpun engkau bukan harimau atau monyet, akan tetapi engkau adalah seekor burung tolol yang mudah dijerat, hi-hik!"
"Eh, bocah! Lepaskan aku! Jangan main-main kau. Apakah engkau ini bocah yang baru turun di dunia kang-ouw sehingga tidak mengenal julukanku Hui-eng yang sudah terkenal di seluruh jagad?"
Siauw Bwee tidak membenci orang itu. Sebaliknya malah, dia suka kepada orang yang kasar, jujur dan agaknya memiliki kepandaian lumayan ini dan berniat menolongnya. Kalau tadi ia menggodanya adalah karena tertarik melihat sikap orang itu. Akan tetapi, ketika ia berniat meloncat turun dan menolong membebaskan orang yang meronta-ronta dan berteriak-teriak itu, tiba-tiba telinganya mendengar gerakan banyak orang mendatangi dari jauh. Ia cepat memutar kudanya dan pergi dari situ.
"Heee! Siluman betina! Kau hendak pergi ke mana? Lepaskan dulu aku, baru boleh pergi. Kalau pergi dulu, siapa yang akan membebaskan aku? Aku.... aku ngeri melihat ke bawah....!"
Akan tetapi Siauw Bwee tidak peduli dan cepat membawa kudanya bersembunyi, lalu ia kembali ke tempat itu, menyelinap di antara pohon-pohon dan mengintai. Tak lama kemudian, di tempat itu telah datang serombongan orang yang membuat Siauw Bwee bengong keheranan memandang mereka. Mereka itu terdiri dari dua belas orang, sembilan laki-laki dan tiga orang wanita. Melihat sikap mereka membayangkan bahwa mereka memiliki kepandaian tinggi, dan pakaian mereka pun biasa saja.
Akan tetapi yang amat luar biasa adalah bahwa mereka semua hanya berkaki satu, alias buntung kaki kanan mereka! Sebagai pengganti kaki, mereka itu memakai tongkat bercagak yang mereka kempit di ketiak kanan. Biarpun mereka itu semua berkaki satu, namun mereka dapat melangkah cepat dan gerakan mereka sigap sekali, bahkan ketika mereka berdiri di bawah Hui-eng Liem Hok Sun yang tergantun di pohon, mereka bardiri tegak dengan sikap penuh wibawa. Liem Hok Sun Si Garuda Terbang juga memandang ke bawah dan kini mulailah dia mengerti bahwa agaknya bukan Si Dara Jelita tadi yang menjeratnya, melainkan orang-orang berkaki buntung ini. Dia memang kasar, akan tetapi tidak bodoh dan dia pun maklum bahwa orang-orang buntung itu lihai sekali. Karena tidak mempunyai permusuhan dengan mereka bahkan tidak mengenal mereka, dia diam menutup mulut dan menanti perkembangan selanjutnya.
"Susiok, kita kesalahan menjerat orang lain!"
Seorang di antara tiga wanita itu berkata kepada seorang kakek berusia lima puluh tahun yang agaknya menjadi pimpinan rombongan. Kakek itu memandang tajam penuh perhatian kepada Liem Hok Sun, kemudian mpngangguk-angguk dan menarik napas panjang.
"Sayang sekali bukan seorang anggauta mereka yang terjerat. Akan tetapi karena dia sudah berkeliaran di sini sampai terjerat, siapa tahu dia adalah bala bantuan dan mata-mata yang dikirim kaum tangan satu. Kita bawa dia menghadap Suhu."
Mendengar percakapan itu, Hok Sun berteriak-teriak,
"Hei, saudara-saudara yang di bawah, dengarlah! Aku Hui-eng Liem Hok Sun, selamanya tidak ada permusuhan dengan kalian, juga tidak tahu-menahu siapa itu golongan lengan satu dan kaki satu! Lepaskan aku dan biarkan aku pergi!"
"Pergilah kalau bisa!"
Seorang berkaki buntung yang kelihatannya juga kasar dan berwatak dogol berkata. Dalam persembunyiannya, Siauw Bwee menahan ketawanya. Nah ketemu batunya kau, orang kasar, pikirnya. Hok Sun melotot.
"Sudah terang terjerat, mana bisa pergi? Totol amat kau! Coba lepaskan jerat ini, tentu aku akan dapat pergi!"
Orang kasar berkaki satu itu tertawa bergelak,
"Benarkah? Baru ada aku seorang saja di sini, engkau si goblok ini mana bisa pergi, apalagi di sini sekarang terdapat Sam-susiok! Coba kita lihat, bagaimana engkau akan pergi!"
Setelah berkata demikian, tubuh yang berkaki satu mencelat ke atas, tongkatnya membabat dan
"brettt!"
Tali yang menggantung tubuh Hok Sun putus dan tubuh Si Kasar itu melayang jatuh ke bawah. Akan tetapi, ternyata gin-kang Hok Sun sudah cukup tinggi sehingga dia tidak terbanting jatuh, melainkan turun dengan kedua kakinya ringan menyentuh tanah. Setelah membuang jerat dari tubuhnya, Hok Sun menggerakkan tubuh hendak meloncat pergi karena dia tidak ingin membalas kepada belasan orang yang ia tahu lihai itu. Akan tetapi, begitu meloncat, tampak sinar berkelebat dan tongkat kakek kaki buntung bergerak, tahu-tahu tubuh Hok Sun jatuh tersungkur! Si Kaki Buntung yang kasar tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha! Pergilah! Pergilah, hendak kulihat bagaimana engkau dapat pergi!"
Liem Hok Sun meloncat bangun, mukanya merah saking marahnya.
"Eh kalian ini orang-orang buntung kaki mengapa begini tidak tahu aturan? Apakah kalian mau menantang berkelahi?"
Kakek yang menjadi susiok rombongan itu manjawab, suaranya halus namun nadanya keren.
"Kami tidak ingin berkelahi, akan tetapi engkau harus ikut bersama kami, untuk sementara menjadi tawanan kami sebelum menerima keputusan ketua kami."
"Aku tidak peduli keputusan ketua kalian! Apa salahku kalian hendak menangkapku?"
Bantah Hok Sun.
"Kau sudah melanggar wilayah kami, masih pura-pura bodoh ataukah memang engkau ini bodoh melebihi kerbau?"
"Kalian sungguh tidak memandang aku Si Garuda Terbang!"
Bentak Hok Sun dan ia sudah menerjang Si Kaki Buntung yang kasar. Dari tempat persembunyiannya, Siauw Bwee mendapat kenyataan bahwa julukan si kasar itu bukanlah kosong belaka. Gerakannya tangkas penuh tenaga dan terjangannya memang seperti seekor garuda terbang, menyerang lawan dari atas. Dan memang orang kasar berjuluk garuda tebang ini adalah seorang murid pertapa di Go-bi-san yang lihai, wataknya kasar, dogol dan jujur, akan tetapi ilmu kepandaiannya juga tinggi.
Menghadapi serangan ini, Si Kaki Buntung yang juga sama kasarnya itu cepat menangkis dengan lengan kiri ke arah kaki Hok Sun yang menendang sedangkan tongkatnya sudah menotok ke arah leher. Namun Hok Sun benar-benar memiliki gin-kang yang hebat. Biarpun tubuhnya masih terapung di udara dan sekaligus lawannya menangkis sambil menyerang, namun dia tidak menjadi gugup. Tubuhnya sudah berjungkir balik dan dengan gerakan tangkas dia telah berhasil menangkap ujung tongkat yang menotok lehernya, kemudian sambil meluncur turun ia mengerahkan tenaganya menarik sehingga lawannya roboh tersungkur!
"Hemm, manusia bandel!"
Kakek yang menjadi pimpinan rombongan sudah mencelat ke depan. Siauw Bwee yang menyaksikan kecepatan gerakan kakek itu menjadi kagum.
Memang hebat sekali gerakannya, dan sekaligus, kakek buntung ini menggerakkan kedua lengannya, jarijari tangannya sudah mengirim serangan totokan bertubi-tubi dengan kecepatan yang membingungkan Hok Sun. Biarpun murid dari Go-bi-san ini berusaha menangkis dan mengelak namun ia kalah cepat, apalagi memang gerakan kedua tangan kakek yang menyerang sambil mengempit tongkatnya itu luar biasa anehnya sehingga tahu-tahu Hok Sun sudah tertotok dan roboh tak dapat berkutik lagi! "Curang! Kalian manusia-manusia curang. Main keroyokan!"
Liem Hok Sun berteriak-teriak, akan tetapi rombongan itu tidak mempedulikan. Dia digotong seperti seekor celeng (babi hutan) yang meraung-raung, dibawa pergi dari tempat itu.
Ada yang menarik dalam gerak-gerik para orang buntung itu dan yang membuat Siauw Bwee menahan keinginan hatinya untuk menolong si manusia kasar Hok Sun. Sikap para orang buntung itu bukan seperti sikap orang-orang jahat yang kejam melainkan seperti sikap anak buah perkumpulan yang berdisiplin. Pula, dia tertarik menyaksikan gerak tangan kakek buntung tadi, gerak silat yang amat aneh sehingga ingin dia lebih banyak mengetahui tentang orang-orang ini sebelum menolong Si Garuda Terbang. Maka ia tidak tergesa-gesa menolongnya, melainkan mengikuti rombongan yang menggotong tubuh Hok Sun itu dari jauh. Mereka menyeberangi hutan yang besar dan lebat sekali, kemudian memasuki hutan kecil yang menyambung hutan itu di kaki bukit.
Di tengah hutan kecil itu terdapat bangunan yang bentuknya aneh sekali. Hanya ada sebuah, tidak terlalu besar dan dari jauh kelihatan seperti bukit gundul setengah bundar. Ke arah bangunan inilah rombongan itu membawa Hok Sun. Siauw Bwee mengintai penuh perhatian, melihat betapa rombongan orang itu mendekati bangunan aneh, kemudian melompat dan lenyap! Kakek pimpinan rombongan mengempit tubuh Hok Sun, melompat lebih dulu dan lenyap pula. Setelah semua orang tidak tampak lagi, Siauw Bwee berindap menghampiri bangunan itu dan ia terheran-heran. Bangunan itu merupakan dinding batu yang amat tebal dan kuat, berbentuk bundar dan sama sekali tidak ada lubangnya! Namun, semua orang tadi begitu meloncat terus lenyap!
Siauw Bwee merasa penasaran sekali. Ia melayang ke atas bangunan, merayap sampai ke puncak, memeriksa seluruh permukaan yang setengah bundar, akan tetapi tetap saja dia tidak melihat adanya lubang sedikit pun! Ke manakah perginya rombongan orang kaki buntung tadi? Tentu ada pintu rahasianya, pikir Siauw Bwee. Akan tetapi, andaikata ada pintu rahasianya, bagaimana begitu banyak orang dapat masuk semua ke bangunan kecil ini! Tiba-tiba Siauw Bwee melayang turun dengan cepat, lalu mencari tempat sembunyi. Dari atas puncak bangunan itu dia tadi melihat serombongan orang berjalan cepat menghampiri bangunan. Ia menyelinap dan mengintai dan sekali ini Siauw Bwee benar-benar tak dapat menahan keheranan hatinya.
"Ohh...., tidak....! Mimpi burukkah aku....?"
Dia mencubit pahanya sendiri, terasa panas. Tidak, dia tidak mimpi. Akan tetapi, adakah yang lebih aneh daripada semua ini? Tadi ia melihat serombongan orang buntung sebelah kaki kanan, semua buntung dan begitu sama keadaannya seolah-olah kebuntungan mereka merupakan keseragaman! Dan orang-orang berkaki buntung itu mempunyai tempat yang begini aneh, begitu kecil tanpa lubang pintu atau jendela, namun dapat menampung begitu banyak orang! Dan sebelum semua keanehan itu terbuka rahasianya, kini ia menyaksikan lima orang, empat laki-laki dan seorang wanita, yang kesemuanya buntung lengan kirinya! Begitu sama keadaannya, lengan kiri buntung sebatas pundak, dengan lengan baju sebelah kiri kosong kempis tergantung lepas.