Karena sikapnya yang tidak peduli sama sekali akan pendidikan moral murid-muridnya, dan di samping mengajarkan ilmu silat, Tang Hauw Lam hanya selalu tekun besamadhi, bekas pendekar ini tidak tahu akan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perhubungan kedua orang muridnya. Kekuasaan alam menguasai dua orang yang telah dewasa itu dan mulailah mereka itu saling tertarik. Masa kanak-kanak mereka lewat sudah dan menjelang kedewasaan mereka, masing-masing merupakan daya tarik yang luar biasa dan karena mereka hidup terasing, maka tanpa pengawasan terjadilah hal yang tidak aneh, yaitu kedua orang suheng dan sumoi ini mulai bermain dengan asmara! Barulah Tang Hauw Lam terkejut bukan main ketika pada suatu malam, secara tidak sengaja ia mendapatkan kedua orang muridnya itu sedang saling bermain cinta, saling bercumbu seperti kelakuan dua orang suami isteri!
"Ji Kun! Yan Hwa!"
Bentaknya dengan muka pucat sekali, matanya terbelalak lebar penuh kemarahan. Kedua orang muda itu terkejut, saling melepaskan pelukan dan menjatuhkan diri berlutut di depan suhu mereka yang marah. Sampai lama Tang Hauw Lam tak dapat berkata-kata, kemudian kemarahannya mereda dan jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya karena apa yang dilakukan kedua orang muridnya itu menimbulkan rindu yang makin hebat, mengingatkan ia akan isterinya yang telah tiada.
"Ahhh.... dua orang muridku....? Ahhh, betapa isteriku akan kecewa sekali.... aku...., aku telah gagal mendidik kalian...."
Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya, dengan terhuyung ia memasuki kamar di pondoknya dan bersila, memejamkan mata melawan kehancuran hatinya.
Pada keesokan harinya, Tang Hauw Lam dikejutkan suara ribut-ribut, beradunya pedang dan angin pukulan yangberdesir-desir. Ia menjadi kaget. Kalau berlatih, bukan seperti itu gerakan pedang kedua orang muridnya. Sekali ini, kedua pedang itu bergerak dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, gerakan orang bertempur mati-matian ia meloncat, tubuhnya terhuyung lemah karena pukulan batin yang diterimanya selama ini membuat tubuh bekas pendekar yang sudah lemah itu menjadl makin lemah. Ketika ia tiba di luar pondok, Tang Hauw Lam terkejut bukan main melihat kedua orang muridnya itu telah bertanding mati-matian dengan pedang di tangan. Sepasang pedang iblis itu mereka pergunakan untuk saling serang dengan hebat! Apakah yang telah terjadi dengan sepasang orang muda yang semalam saling melimpahkan kasih sayangnya satu sama lain?
Ternyata bahwa ketika gurunya mempergoki perbuatan mereka dan mengundurkan diri dengan penuh kemarahan dan kedukaan, dua orang ini lalu saling menyalahkan. Semalam suntuk mereka bercekcok, saling menuduh telah mulai dengan permainan cinta mereka, menuduh masing-masing lebih dulu mulai merayu dan memikat. Percekcokan menjadi makin sengit ketika masing-masing menyatakan bahwa ilmu pedangnya lebih lihai, pedang masing-masing lebih ampuh. Karena pertengkaran itu makin memuncak sehingga kemarahan mereka melampaui besarnya cinta kasih mereka, tak dapat dicegah lagi kedua orang muda yang masih berdarah panas ini lalu saling membuktikan keunggulan masing-masing dengan jalan mengadu ilmu secara matimatian!
Baru sekali ini. mereka bertanding sungguh-sungguh, dan anehnya, begitu kedua pedang mereka saling bentrok, seolah-olah ada kekuasaan gaib yang membuat mereka menjadi makin penasaran dan tidak akan merasa puas sebelum memperoleh kemenangan. Seolah-olah mereka menjadi lebih marah dan lebih panas hatlnya, timbul keinginan untuk keluar sebagai pemenang tanpa memperhitungkan lagi bagaimana harus mengalahkan lawan, kalau perlu membunuhnya! Anehnya, setelah bertanding, seolah-olah lenyap semua cinta kasih di antara mereka, bahkan lenyap pula semua persoalan saling menyalahkan sehingga malam tadi mereka kepergok suhu mereka.
Kini yang ada hanyalah ingin menang! Ingin membuktikan bahwa ilmu pedangnya lebih tinggi dan pedang di tangannya, lebih ampuh! Sebagai seorang ahli, sekali pandang saja Tang Hauw Lam maklum bahwa kedua orang muridnya itu tidaklah sedang berlatih atau main-main, melainkan saling serang dengan dahsyat dan mati-matian. Pandang matanya berkunang, kepalanya pening karena apa yang di saksikannya ini merupakan pukulan batin ke dua yang hebat, yang menimbulkan kemarahan, kedukaan, penasaran dan kekecewaan. Juga dia terkejut bukan main karena dia seolah-olah tidak melihat kedua orang muridnya yang bertanding, melainkan Mahendra dan Nila Dewi, dua orang tokoh India yang membuat Sepasang Pedang Iblis itu! Wajah kedua orang muridnya itu mengeluarkan sinar yang sama, sinar mengerikan yang haus darah!
"Ji Kun! Yan Hwa! Berhenti bertanding....!"
Ia berseru sambil lari cepat menghampiri kedua orang muridnya. Akan tetapi, seruannya itu sekali ini tidak seperti biasa pengaruhnya. Biasanya, setiap seruannya tentu akan diperhatikan dan ditaati oleh kedua orang muridnya itu. Akan tetapi seruan dan perintahnya sekali ini sama sekali tidak dlgubris, tidak ditaati, bahkan kedua orang muridnya saling menyerang semakin dahsyat.
"Ji Kun! Yan Hwa! Kalian masih tidak mau berhenti?"
Tang Hauw Lam yang menjadi marah sekali ini meloncat ke depen dan menerjang maju. Ia melihat betapa kedua pedang muridnya itu membuat gerakan saling menusuk. Ia tidak peduli dan cepat menerjang di tengah-tengah antara mereka sambil mendorongkan kedua tangannya ke kanan kiri. Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa mengeluarkan pekik tertahan. Tubuh mereka terlempar ke belakang dan masing-masing memandang suhu mereka yang berdiri tegak, kedua tangan mendekap lambung kanan kiri yang masih menyemburkan darah melalui celah-celah jari tangan yang menutup kedua luka itu!
"Suhu....!"
Kedua orang muda yang agaknya seperti baru sadar dari mimpi itu menjerit berbareng dan keduanya menangis terisak-isak.
"Suhu.... harap Suhu bunuh saja teecu...."
Can Ji Kun meratap.
"Suhu, bunuhlah teecu yang berdosa....!"
Ok Yan Hwa juga berkata dengan suara merintih. Sepasang mata Tang Hauw Lam melotot memandang ke arah sepasang pedang di atas tanah. Pedang itu dilepas oleh kedua orang muridnya setengah dilempar seolah-olah mereka jijik menyaksikan pedang yang berlumuran darah suhu mereka dan sepasang pedang yang terjatuh dalam jarak berpisahan satu meter itu tiba-tiba sudah bergerak seperti saling tarik dan kini bagian gagang mereka saling melekat! Dia memang tahu akan sifat pedang-pedang itu, yaitu baglan mata pedang saling tolak akan tetapi bagian gagang saling tarik!
"Sepasang Pedang iblis! Pedang-pedang terkutuk.... aaahhhh....!"
"Suhu.... teecu berdosa....!"
Ji Kun berkata pula, penuh penyesalan.
"Suhu, bunuh saja teecu....!"
Yan Hwa juga meratap lagi. Tang Hauw Lam menunduk, memandang kedua muridnya. Kemarahannya lenyap dan kini ia tersenyum!
"Tidak, kalian tidak sengaja.... dan.... dan terima kasih.... aku girang sekali.... akan dapat berjumpa dengan subo kalian.... akan tetapi kalian.... ahh, hati-hatilah.... pedang-pedang itu terkutuk.... aaaahhhh!"
Wajah yang berseri itu memucat, matanya memandang ke atas, lalu ia tersenyum lebar,
"Kwi Lan.... isteriku, engkau masih menunggu aku....? Ha-ha, tunggulah, kekasihku, aku datang....!"
Tubuhnya terguling. Kedua orang muridnya menubruk dan ternyata Tang Hauw Lam telah tewas, matanya terbuka mulutnya tersenyum dan tarikan wajahnya berseri penuh bahagia!
"Suhu....!"
Ok Yan Hwa terguling roboh pingsan dan Can Ji Kun hanya dapat menangis, sebentar memeluk mayat suhunya, kemudian bingung hendak menyadarkan sumoinya. Tiga hari kemudian setelah mengubur jenazah suhu mereka yang mereka bawa ke Bukit Merak di Khitan dan dikuburkan di sebelah makam Mutiara Hitam, kedua orang ini berpamit dari Gu Toan si bongkok yang menjaga kuburan keluarga itu dan yang membantu mereka mengubur jenazah Tang Hauw Lam sambil menghela napas penuh duka. Ji Kun dan Yan Hwa lalu berpisah, membawa pedang masing-masing.
"Sumoi, mengapa kita harus berpisah? Engkau tahu bahwa kalau kita berpisah, kita berdua akan menderita, akan saling merindukan...."
Can Ji Kun mencoba untuk membujuk sumoinya setelah berhari-hari ia membujuk dengan sia-sia. Yan Hwa menggeleng kepala dengan duka.
"Tidak, kita telah berdosa. Dosa yang timbul karena kita berkumpul menjadi satu. Kalau dekat denganmu, aku akan selalu teringat akan dosaku terhadap Suhu, Suheng. Sebaliknya kita berpisah."
Ucapan itu dikeluarkan dengan suara tegas, namun mengandung kedukaan.
"Sumoi, bukankah engkau cinta padaku seperti besarnya cintaku kepadamu?"
Yan Hwa mengangguk.
"Tidak kusangkal, akan tetapi cinta kita baru bersih dan membawa bahagia kalau engkau sudah mengakui keunggulan ilmu pedang dan po-kiamku (pedang pusakaku)."
Tiba-tiba sinar mata penuh kasih sayang lenyap dari mata pemuda itu, terganti sinar penasaran.
"Akan tetapi, Sumoi. Mana bisa itu? Jelas bahwa ilmuku lebih tinggi darimu, pedangku juga tidak kalah. Ingat, aku suhengmu, sudah semestinya lebih lihai darimu!"
"Hemm, kita lihat saja! Ingin bukti? Mau melanjutkan yang dahulu?"
Ji Kun bergidik, teringat betapa pertemuan di antara mereka mengorbankan nyawa suhu mereka. Sungguhpun hal itu tarjadi tanpa mereka sengaja karena keduanya sedang diamuk penasaran dan kemarahan den mereka juga tidak mengira bahwa suhu mereka demikian lemah dan lambat gerakannya sehingga termakan pedang mereka, namun peristiwa ini takkan pernah terlupa dan tetap akan menjadi tekanan batin dan perasaan berdosa.
"Cukuplah, Sumoi. Kalau engkau menghendaki perpisahan di antara kita, baiklah. Akan tetapi, kita akan menderita...."
"Aku akan kembali kepadamu setelah kuperdalam ilmuku, kembali untuk mengalahkan engkau dan setelah kau mengakui keunggulanku, baru aku suka menyambung kembali hubungan cinta kita."