Iblis dan Bidadari Chapter 30

NIC

Ia melakukan percobaan ini karena kalau gadis itu bukan Lian Hong, tentu lehernya akan terkena sambitan ini dan menjerit kesakitan. Akan tetapi, dengan gerakan seperti kebetulan dan tanpa disengaja, gadis bangsawan itu miringkan kepalanya dan sambitan itu mengenai tempat kosong.

Siang Lan menjadi girang. Tentu gadis itu Lian Hong adanya. Akan tetapi melihat betapa Lian Hong sama sekali tidak memperdulikannya, ia masih penasaran dan segera menghampiri puteri itu sebelum masuk ke dalam gedung. Ia menjura kepada Lian Hong sambil mengerahkan tenaga pada kedua tangannya dan dengan jalan itu ia menyerang Lian Hong dengan angin pukulannya sambil berkata, “Siocia, maafkan kalau aku mengganggumu. Bukankah kita pernah bertemu dan berkenalan?”

Para penjaga tentu saja merasa terkejut sekali melihat cucu Ciok-taijin ditegur oleh seorang gadis gagah perkasa yang membawa pedang pada pinggangnya. Juga Lian Hong merasa bingung juga, maka cepat ia membalas pengormatan Siang Lan sambil mengerahkan tenaga menolak angin pukulan itu, lalu berkata,

“Mungkin kita hanya saling bertemu dalam a lam mimpi dan dalam keadaan lain. Tak mungkin kita telah berkenalan. Harap kau jangan menggangguku.” Setelah berkata demikian, ia lalu pergi masuk ke dalam gedung tanpa menoleh lagi kepada Siang Lan.

Hwe-thian Mo-li ketika merasa betapa gadis bangsawan itu dapat menolak pukulannya, makin merasa yakin bahwa gadis ini tentulah penari yang dulu berhasil membunuh Liok Kong, ia teringat betapa gadis itu tidak mau mengaku tentang keadaan dirinya dan seakan-akan merahasiakan, dan teringat pula akan suhunya yang juga merahasiakan keadaan keluarganya.

Teringat akan hal ini ia tidak mau mendesak dan segera pergi dari situ, melanjutkan penyelidikannya tentang musuh besarnya, yakni Leng Kok Hosiang. Sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa hwes io itu berada di dalam gedung di mana ia melihat Lian Hong masuk.

Lian Hong disambut oleh para pelayan yang mengantarnya masuk ke dalam gedung. Di ruang tengah, gadis ini melihat Gan-siupi sedang bercakap-cakap dengan seorang hwesio dan berdebarlah hatinya ketika ia mengenal hwes io ini sebagai hwes io yang dulu pernah menyerang kong-kongnya, yakni Leng Kok Hosiang.

Ketika Gan-siupi melihat kedatangannya, pembesar itu lalu berdiri dan tersenyum kepadanya, sedangkan Lian Hong buru- buru memberi hormat. Sepasang mata Leng Kok Hosiang bercahaya ketika ia melihat gadis yang luar biasa cantiknya itu. Ia merasa seakan-akan melihat seorang bidadari turun dari kahyangan.

Ia sudah lupa lagi kepada Lian Hong karena dulu ketika ia menyerbu rumah Ciok-taijin, gadis ini masih belum sebesar sekarang. Betapapun juga, Leng Kok Hosiang masih mengenal kesopanan dan tidak mau bertanya sesuatu, hanya diam-diam ia menyimpan kecantikan wajah gadis itu di dalam hatinya yang busuk.

Sementara itu, sambil menahan gelora hatinya ketika melihat musuh besarnya ini, Lian Hong buru-buru masuk ke ruang belakang untuk menemui Gan-hujin dan Gan-Siocia. Gan-siocia yang sudah kenal baik dengan Lian Hong, lalu memeluknya dan membujuk-bujuknya untuk bermalam di situ.

Lian Hong pura-pura tidak mau, akan tetapi akhirnya ia menerima undangan ini dan seorang pelayan lalu disuruh pergi ke gedung Ciok-taijin untuk mengabarkan bahwa Ciok- siocia bermalam di gedung siupi. Memang untuk orang luar, Lian Hong selalu disebut Ciok-siocia (nona Ciok) karena kakeknya tidak mau ia menggunakan nama keturunan Ong.

Malam hari itu, ketika semua orang di dalam gedung Gan- siupi sudah tidur nyenyak, dua orang di dalam gedung itu masih belum tidur. Mereka ini adalah Lian Hong dan Leng Kok Hosiang.

Gadis ini sungguhpun sudah mendapat pesan kakeknya jangan turun tangan di dalam kota, namun melihat hwesio yang amat dibencinya itu, ia tidak dapat menahan sabarnya lagi. Ia mengganti pakaiannya yang mewah sebagai puteri bangsawan itu dengan pakaian yang ringkas, membawa kedua senjatanya yang tadinya disembunyikan dibalik pakaiannya, dan bersiap untuk menyelidiki keadaan musuh besarnya dan kalau ada kesempatan, turun tangan.

Adapun Leng Kok Hosiang, semenjak menyaksikan kecantikan wajah gadis bangsawan yang siang tadi memasuki gedung itu, hatinya selalu berdebar. Timbul nafsu jahatnya dan hwesio yang jahat dan cabul inipun mempunyai maksud untuk menyerbu ke dalam kamar gadis bangsawan itu dan mengganggunya. Memang Leng Kok Hosiang adalah seorang yang amat berani.

Menjelang tengah malam, ketika keadaan sudah sunyi betul, dua bayangan yang amat gesit gerakannya dengan hampir berbareng telah melompat ke atas genteng rumah gedung Gan-siupi. Kedua bayangan orang ini bertemu di bubungan rumah dan keduanya menjadi terkejut. Lebih-lebih Leng Kok Hosiang ketika melihat bahwa bayangan yang dapat bergerak dengan amat gesitnya itu bukan lain adalah gadis bangsawan yang tadinya hendak dijadikan korban. Ia hanya memandang dengan mata terbelalak kepada Lian Hong yang sudah mengeluarkan pedang dan selendang merahnya.

“Leng Kok Hosiang, jahanam gundul keparat. Sekaranglah saatnya kau harus melepaskan kepala gundulmu !” seru Lian Hong yang segera menyerang dengan pedangnya, menggunakan tipu gerakan Dewa Bumi Memetik Buah, menusukkan pedangnya ke arah kepala musuhnya.

Leng Kok Hosiang terkejut sekali melihat cara menyerang yang amat cepat dan lihai ini, maka iapun tidak berani main- main dan cepat mengelak sambil melangkah mundur.

“Nanti dulu, nona. Bukankah kau ini Ciok-siocia yang siang tadi datang di gedung ini? Mengapa tanpa sebab kau memusuhi aku? Apakah kesalahanku kepadamu?”

“Jahanam gundul, kau masih bertanya tentang dosamu? Ingatkah kau akan perbuatanmu yang pengecut dan curang terhadap Pat-jiu kiam-ong?”

Terkejut dan terheranlah hati hwes io ini mendengar disebutnya nama ini. “Apakah Pat-jiu kiam-ong juga mempunyai murid seorang gadis bangsawan?” tanyanya seperti kepada diri sendiri. Akan tetapi, Lian Hong tidak memberi kesempatan kepadanya untuk banyak berpikir. Gadis ini sudah maju lagi menyerang sambil membentak.

“Tak perlu kau tahu akan hal itu!” Lian Hong masih berlaku hati-hati dan tidak mau mengaku puteri Pat-jiu kiam-ong, bahkan kini ia menyerang dengan hebat, mempergunakan pedang dan selendangnya.

Leng Kok Hosiang menjadi marah sekali. Ia maklum bahwa gadis muda ini memiliki ilmu silat yang tak boleh dipandang ringan, apalagi setelah melihat gerakan selendang merah yang mengandung tenaga lweekang dan yang merupakan senjata penotok jalan darah yang cukup lihai. Lenyaplah niatnya untuk mengganggu gadis ini dan ia kini berniat hendak membunuh gadis yang berbahaya ini.

Baru menghadapi Hwe-thian Mo-li saja ia sudah merasa berat, apalagi kalau pihak anak murid Pat-jiu kiam-ong ditambah dengan gadis yang aneh ilmu silatnya ini. Leng Kok Hosiang lalu mencabut goloknya dan ia membalas menyerang dengan hebatnya. Goloknya berkelebat bagaikan seekor naga buas menyambar mangsanya. Serangan golok yang berbahaya ini masih ia seling dengan pukulan-pukulan Hek-coa-jiu yang dilakukan dengan tangan kirinya. Baiknya Lian Hong sudah maklum atas kelihaian ilmu pukulan yang pernah hampir merampas nyawa kakeknya ini, maka ia selalu berlaku hati-hati dan dapat mengelak dari pukulan lawan.

(Oo-dwkz-oO)

“Ah, tentu kau hendak membalas sakit hati karena kakekmu pernah kurobohkan dulu, bukan?” tanya hwesio itu sambil menangkis serangan lawannya. Kini ia teringat akan keadaan dulu ketika ia mencari Ong Han Cu di gedung Ciok- taijin. Hm, ilmu silatmu hampir sama dengan ilmu silat Ouwyang Sianjin, kau tentu muridnya, bukan?”

Lian Hong tidak menjawab dan terus menyerang. Ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat hwes io ini sekarang telah menjadi makin lihai saja. Memang, Leng Kok Hosiang yang maklum akan banyaknya dan lihainya musuh-musuh yang mencari untuk membalas dendam kepadanya, telah memperdalam kepandaiannya dan bahkan mempelajari ilmu golok yang cukup tinggi.

Kini setelah bertempur belasan jurus, dengan lega ia mendapat kenyataan bahwa betapapun juga, ia masih menang tenaga dan menang ulet. Ditambah lagi dengan pengalaman bertempur dan kematangan ilmu silatnya. Maka ia dapat melayani Lian Hong sambil melanjutkan jalan pikirannya yang kini mulai teringat akan pengalamannya dahulu.

“Hm, kau cucu Ciok-taijin ....ah, sekarang aku ingat, kau tentulah gadis cilik yang dulu pernah pula menempurku di depan rumah kakekmu! Ha, ..... kalau kau cucu Ciok-taijin, kau tentulah anak perempuan dari Pat-jiu kiam-ong !”

Lian Hong tidak menjawab dan terus menyerang bertubi- tubi dengan pengerahan seluruh tenaga dan kepandaiannya. Terpaksa Leng Kok Hosiang mencurahkan perhatiannya untuk melindungi diri karena serangan-serangan nona ini benar- benar berbahaya sekali. Ia juga merasa terkejut dan gentar ketika mengingatkan bahwa gadis ini adalah puteri Pat-jiu kiam-ong, karena sebagai puteri pendekar itu, tentu nona ini merasa sakit hati sekali dan nekad untuk membalas dendam.

Pertempuran berjalan seru dan seimbang. Lima puluh jurus telah lewat dan pertempuran mati-matian itu dilakukan tanpa ada yang mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Leng Kok Hosiang mengambil keputusan untuk membunuh anak perempuan musuhnya ini untuk menyingkirkan bahaya yang akan mengancam selalu. Ia mengerahkan seluruh kepandaiannya, mengeluarkan serangan-serangan yang paling berbahaya sehingga Lian Hong terpaksa terdesak mundur.

Pada saat itu, sesosok bayangan tubuh manusia bergerak cepat di atas genteng, berlari menghampiri tempat pertempuran itu. Setelah dekat, bayangan yang ternyata adalah seorang pemuda ini memandang sebentar, kemudian membentak nyaring,

“Leng Kok Hosiang manusia busuk! Agaknya di mana kau berada, tentu kau melakukan kejahatan yang terkutuk!” Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu melompat maju sambil mencabut pedangnya dan membantu Lian Hong menyerang hwesio itu.

Ketika mendengar bentakan ini dan melihat pemuda itu, Leng Kok Hosiang menjadi marah sekali.

“Kun-lun Siauwhiap! Berkali-kali tanpa sebab kau memusuhi aku! Awas, kali ini aku tidak akan mengampunkan jiwamu lagi!” Ia lalu memutar senjatanya lebih cepat lagi dan kini ia dikeroyok dua oleh Lian Hong dan Tek Kun, pemuda yang beberapa hari yang lalu telah membantu Siang Lan pula.

Posting Komentar