Sebagai jawaban, Siang Lan mencabut pedangnya dan berkata tajam. “Totiang, mengapa seorang pendeta seperti totiang masih mengandung hati yang amat kejamnya? Aku sendiri yang menjadi murid dari Pat-jiu kiam-ong, karena otak dan pikiran sehat tidak membalas dendam kepada Kim-gan- liong, mengapa totiang tidak mau mendengar alasan dan secara membuta hendak menjatuhkan tangan ganas terhadap anak murid sendiri?”
Tosu itu tertarik sekali mendengar ucapan ini dan ia lalu berkata. “Hm, jadi kau ini adalah murid dari Pat-jiu kiam-ong? Tentu kau yang disebut Hwe-thian Mo-li?”
“Benar, totiang.”
“Pinto berurusan dengan anak murid sendiri, mengapa kau ikut campur? Ada hubungan apakah kau dengan Tek Kun?”
Merahlah seluruh wajah gadis itu. “Tidak ada hubungan apa-apa, hanya aku tidak bisa melihat orang berlaku kejam tanpa alasan. Perbuatan itu tentu akan kuhalangi, tidak perduli siapa yang melakukannya terhadap, siapa pula diperbuatnya!” “Ha, ha, ha! Kau pintar bicara, anak muda! Hendak kulihat apakah kau benar-benar berani menghalangi perbuatanku menghukum anak murid sendiri!” Sambil berkata demikian, kembali tosu itu melangkah maju ke arah Tek Kun yang masih berlutut. Akan tetapi sekali menggerakkan tubuh, Siang Lan telah me lompat dan berdiri menghadang di depan pemuda itu sambil memegang pedangnya.
“Hwe-thian Mo-li, kau anak kecil benar-benar berani mati. Tahukah bahwa kau sedang berhadapan dengan ketua dari Kun-lun-pai? Gurumu sendiri belum tentu berani bersikap sekurang ajar ini.”
“Maaf, locianpwe, sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak perduli siapa saja yang melakukan perbuatan sewenang- wenang, pasti kulawan. Dari kebutan lengan baju locianpwe tadi saja aku sudah tahu bahwa aku bukanlah tandingan, akan tetapi apa boleh buat, terpaksa kulawan juga.”
“Untuk melindungi Tek Kun, kau bersedia mengorbankan nyawamu?”
“Untuk membela kebenaran dan melindungi orang yang tertindas, aku bersedia menghadapi kematian, totiang!”
Tiba-tiba tosu itu tertawa bergelak dan suara ketawanya nyaring sekali sampai menggema di empat penjuru. “Tek Kun, kau untung sekali. Kau telah dicinta oleh seorang gadis yang benar-benar setia dan gagah perkasa!” Setelah berkata demikian, kakek itu mengebutkan lengan bajunya dan tahu- tahu tubuhnya telah lenyap dari situ.
Tek Kun bangun berdiri dan menjura kepada Siang Lan. “Nona, aku telah berhutang budi kepadamu.”
Merahlah wajah Siang Lan mendengar ini, apalagi karena ucapan kakek tadi masih mendengung di telinganya. “Siapa yang berhutang budi? Kau mempunyai sucouw yang amat kasar!” Berkerutlah dahi pemuda itu mendengar ucapan ini. “Hwe- thian Mo-li, kau pandai mencela orang. Tidak tahukah kau bahwa kau sendiri adalah seorang gadis yang amat kasar? Aku ingin bersahabat denganmu karena kau adalah seorang gadis gagah perkasa yang mempunyai pribadi tinggi dan menjunjung keadilan. Akan tetapi berkali-kali kau bersikap kasar kepadaku dan sekarang bahkan kau berani melawan sucouwku dan mengatakan dia seorang kasar!”
“Aku tidak butuh menjadi sahabatmu!” sahut Siang Lan dengan cemberut.
“Hm, sikapmu ini mengingatkan aku akan ucapan sucouw tadi!” Mendengar ini, Siang Lan memandang dengan mata bersinar marah akan tetapi ia tidak dapat membuka mulutnya, bahkan bibirnya bergemetar menahan gelora hatinya. Akhirnya ia membalikkan tubuh dan melompat pergi menuju ke kota raja.
Tek Kun berdiri termenung. Ia tertarik kepada gadis ini akan tetapi tidak dapat mencinta seorang gadis yang menurut pandangannya terlalu kasar dan galak itu. Namun diam-diam ia kagum sekali melihat keberanian Hwe-thian Mo-li. Betapa gagahnya gadis ini ketika tadi menentang sucouwnya. Dan ia kini maklum juga bahwa sucouwnya tadi hanya mempermainkannya saja. Maklum bahwa sucouwnya yang sakti itu telah tahu akan kedatangan Hwe-thian Mo-li dan hendak mencoba watak gadis itu.
Kemudian ia menghela napas dan menyesalkan nasibnya mengapa ia ditunangkan dengan seorang gadis penari. Ia telah mendengar akan hal ini dari seorang sahabatnya, dan ia sedang bingung memikirkannya. Telah berkali-kali ia membantah kehendak orang tuanya yang hendak menikahkannya. Akan tetapi, kali ini orang tuanya telah mengambil keputusan tanpa bertanya dulu kepadanya.
Bagaimana ia dapat membantah? Namun ia merasa penasaran sekali. Ia tidak suka menikah dengan seorang gadis yang lemah, seorang gadis penari. Ah, ia kecewa sekali. Kalau saja Hwe-thian Mo-li tidak seganas dan segalak itu. Dan gadis itu menyinta padanya! Dengan pikiran melamun, pemuda inipun lalu berlari cepat menuju ke kota raja
(Oo-dwkz-oO)
Lian Hong merasa tidak puas akan usaha kakeknya membantunya mencari keterangan tentang musuh-musuh ayahnya. Sebetulnya ia ingin sekali keluar dari gedung Ciok- taijin untuk mencari sendiri musuh-musuh besarnya itu, akan tetapi ia se lalu dicegah oleh ibunya dan ia merasa tidak tega kepada ibunya.
Pada hari itu, kakeknya datang ke kamarnya dengan wajah muram.
“Lian Hong, terus terang saja kubertahukan kepadamu bahwa para penyelidik kita telah mendapat tahu tentang Leng Kok Hosiang musuh besar ayahmu itu. Dia adalah hwes io yang dulu pernah datang melukai aku dan kemudian dikalahkan oleh suhumu.”
Berserilah wajah Lian Hong yang cantik mendengar keterangan ini. “Dimana dia, kong-kong ? Di mana si jahanam itu?”
Kakeknya menghela napas. “Lian Hong, ketahuilah bahwa bukan hanya engkau yang ingin melihat kepala gundul itu mampus. Aku sendiri pernah terkena pukulannya yang keji dan kalau tidak ada suhumu, tentu aku telah tewas pula. Akan tetapi, sekarang dia mempunyai kedudukan yang amat penting sehingga sukar bagi kita untuk melanjutkan usaha balas dendam ini. Dia berada di kota raja sini, nak.”
Lian Hong melompat dari kursinya. “Biar aku mencari dia, kong-kong !” Cepat-cepat gadis ini lalu bersiap, membelitkan pedangnya pada pinggang dan mengambil selendang merahnya. “Nanti dulu, Lian Hong. Selain hwes io itu amat berbahay dan berkepandaian tinggi, juga kau harus tahu bahwa dia sekarang merupakan orang yang amat penting dan kalau kita mengganggunya, kita dapat berurusan dengan kaisar.”
Nona itu menjadi bengong dan heran. “apa maksudmu, kong-kong?”
“Dia datang sebagai utusan pemberontak di selatan, dan dia membawa pesanan dari pimpinan pemberontak kepada kaisar. Dengan demikian, kedudukannya penting sekali dan tentu saja tak boleh diganggu.”
“Bagaimanapun juga, aku harus menyelidiki keadaannya kong-kong. Kalau perlu, akan kuserang dia di luar kota.”
“Baiklah, akan tetapi hati-hatilah jangan kau turun tangan di dalam kota. Akan celaka kita semua kalau hal ini terjadi.”
Mereka lalu berunding dan karena mereka mendengar bahwa hwesio itu bermalam di rumah Gan-siupi, seorang pembesar she Gan dan bahwa hwes io itu diterima sebagai seorang tamu agung, maka Lian Hong lalu berkemas untuk mengunjungi gedung Gan-siupi. Ia telah kenal baik dengan Gan-hujin (nyonya Gan) dan Gan Siocia (nona Gan), maka mudahlah baginya untuk mengunjungi gedung itu. Tak lama kemudian, Lian Hong telah naik kendaraan tertutup menuju ke rumah gedung Gan-siupi.
Ketika kendaraannya tiba di jalan yang ramai, ia mendengar pengendara yang duduk di depan berkata perlahan.
“Aduh, alangkah cantik dan gagahnya!”
Lian Hong menjadi tertarik hatinya dan dia lalu menyingkap kain sutera yang menutup kendaraan itu. Dan terkejutlah ia ketika melihat siapa orangnya yang dipuji oleh kusirnya tadi. Ternyata bahwa di pinggir jalan itu seorang nona yang cantik dan gagah sekali sedang berjalan dan memandang ke arah kereta. Nona itu adalah Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan.
Lian Hong hendak cepat-cepat menutupkan “muili” kereta itu, akan tetapi mata Siang Lan yang tajam telah melihatnya. Juga Hwe-thian Mo-li menjadi terkejut, akan tetapi berbareng nona ini merasa heran dan ragu-ragu. Tak salah lagi, nona di dalam kereta itu pasti Lian Hong, gadis penari yang mengaku menjadi puteri suhunya. Akan tetapi mengapa ia berpakaian demikian mewah dan naik sebuah kendaraan yang jelas adalah kendaraan seorang bangsawan agung? Aku harus mengetahui baik-baik apakah dia benar Lian Hong atau orang lain yang sama mukanya.
Dengan hati amat penasaran, Siang Lan lalu mengikuti kereta itu. Sementara itu, Lian Hong yang berada di dalam kereta juga mengintai dari cela-cela muili dan tersenyum gelilah dia ketika melihat betapa Siang Lan mengikuti keretanya.
Ia memuji ketajaman mata Hwe-thian Mo-li, akan tetapi ia tidak boleh mengetahui keadaan siapa dirinya sebetulnya. Kalau ia melompat keluar dari kereta dan menjumpai gadis gagah itu sebagaimana yang amat diinginkannya, tentu semua orang akan menjadi terheran-heran bagaimana cucu Ciok- taijin mempunyai sahabat seorang gadis kang-ouw.
Biarpun hatinya penasaran dan menurut pandangan matanya ia hampir merasa yakin bahwa gadis puteri bangsawan yang berada di dalam kereta itu adalah Ong Lian Hong puteri suhunya, namun jalan pikirannya tidak membetulkan dugaan ini. Bagaimana bisa jadi puteri suhunya menjadi seorang gadis bangsawan tinggi? Bukankah dulu Lian Hong hanya seorang gadis penari? Demikianlah, sambil mengikuti kereta itu, Siang Lan tiada hentinya berpikir.
Ketika kereta berhenti di depan gedung besar, puteri bangsawan itu turun dan para penjaga di depan gedung itu memberi hormat. Siang Lan merasa makin penasaran dan ia mengambil sebuah batu kerikil kecil sekali. Tanpa diketahui oleh siapapun juga, ia lalu menyambitkan batu kecil itu ke arah leher puteri bangsawan itu.